Wednesday, December 30, 2015

What I've Done

Time run fast and suddenly it hits you hard with that question,


"What have you done in 2015?"


It all started from my conversation with some of my friends in the canteen and internship things are still on the top of the list of everyone's conversation. But that afternoon was different, we were flashing back  from the beginning of this year until the day we were sitting together.

It started with this question.

"What have you done in 2015?"

Then, all the people are like laughing ha-ha and stop and thinking for what have they done to this year, no, to themselves. Some of us told about the achievement they have reached, the failures the got, the things that they've been doing for so long, unpredictable moments, and else.

Now,

"What have you done in 2015?"

this question is spinning around my head and no, I can't resist. What-Have-I-done?!
This year is another learning phase for me. The fact that I still faced some same problems like what I faced in some years before now, was disappointing actually. But eventually, it dragged me to the fact that it's just one of those ways God try to reminds me how unsuccessful I am for finishing the latest "level". So, here I am, facing the same old probs, trying to make up my mind, and doing my remedial test. No, it's not a refusal for what I got cause, ya, you don't know how thankful I am to get this chance to make it up again.

And,
"What have you done in 2015?"

Well yes, I prepared to-do list in the beginning of the year, what competition I wanted to join, the community I wanted to rise, the things that I wanted to put my concern to, etc. LOL, some things are just too naive to be true, but that's just how it's supposed to be, isn't it? We put our dreams way up high, to the highest cloud in the sky, if it must, so if maybe our feet slipped and we fell, there will be another cloud that will catch us and toss us higher. It was just yesterday that I crossed out my to-do-list and unconsciously find out that my dreams has been reached one by one. Again, I said, God has some kind of mysteries for answering  people's wishes or dreams.

So,
"What have you done in 2015?"


I feel like I get more acquainted with myself. Knowing the bad and the good of myself and deal with it. I guess? lol. Even sometimes I may lose myself, but I try, right? Huh, another excuse.




So can we start that bullshit we hear in every year?
New year, new me? Really?




A hopeless Joke teller,



Thursday, November 12, 2015

2 Telur Asin

“Nin, mbah titip nanti kalo pulang bawakke telor asin 2”

Begitu sms dari Mbah. Di usianya yang hampir menginjak kepala 7, beliau masih suka smsan, telponan, bahkan gonta-ganti ringtone hp sampai dua kali dalam satu hari.
Malam itu, Mbah menyuruhku membeli 2 telor asin. Mbah memang suka nitip ini-itu saat aku berada di luar.Tak apalah nitip beli makan dari pada nitip dibawakan calon suami (untukku). Malam itu aku hanya cukup bersyukur Mbah hanya menitip 2 telor asin, karena tandanya aku tidak perlu melepas helm saat membelinya, yang artinya tidak perlu waktu lama untuk membelinya, dan akhirnya aku bisa pulang sesegera mungkin, maklum akhir-akhir ini waktu tidurku maju jadi jam 10 malam, macam anak SD yang besok piket kelas.
“Pak, telor asin 2” 
Tanpa kata dijawab dengan bapak yang segera mengambil plastik. Sambil menunggu Si Bapak, aku mendengar obrolan bapak-bapak yang sedang ngopi sambil makan gorengan tentang Habibie dan Orde Baru. Tak banyak yang aku dengar, dan tak paham pula karena tak tahu arah pembicaraannya pergi ke mana sedari tadi sebelum aku datang. Si Bapak segera memberi telur asin dan uang kembalian, sehingga tak ada lagi alasan agar aku bisa berlama-lama di angkringan, lebih tepatnya menguping pembicaraan bapak-bapak ini.

Di sisa perjalanan menuju rumah, aku jadi merasa rindu ke angkringan (yang bukan berada di sekitaran kampus). Anak muda yang ke angkringan di sekitar kampus cenderung membicarakan hal yang sama. Iya, organisasi(mereka). Bukannya jelek, tapi cukup membosankan.
Aku rindu saat berjalan atau naik motor ke angkringan Pak Lodhang. Pesan kopi atau teh anget tawar, dan dua atau tiga tahu bacem yang dibakar lagi. Duduk manis, makan dengan nikmat dan hikmat. Mendengarkan ibu-ibu atau bapak-bapak yang ngobrol tentang banyak hal. Ada yang mulai dengan hal-hal remeh temeh seperti cara menghilangkan bau daging sampai ke perbandingan harga gas LPG 3kg dari warung etan dan warung kulon. Ada juga yang lebih serius, ngomongin kebijakan pemerintah dan tren apa yang sedang dikembangkan Syahrini. Eits, itu juga penting, sebagai prediksi, kata-kata hits apa yang akan ditiru masyarakat 1 bulan mendatang. Angkringan yang jauh dari kampus itu menurutku lebih nyata dibandingkan dengan yang ada di sekitar kampus. Nggak hanya tempat untuk bertemu wajah, tapi temu pikiran dan permasalahan yang lebih real. Apa saja, dari Rukun Tetangga sampai Rumah Tangga bisa dibicarakan di sini. Coba saat ke kampus, mana ada anak muda ngumpul-ngumpul untuk rembugan soal RT-nya di sana?
Ah gara-gara telur asin aku jadi rindu angkringan gini.