Monday, December 17, 2012

Anak yang Lahir dari Keadaan

Senin ini bener-bener bukan Senin yang diharapkan. Badan yang masih capek ketemu sama rasa males buat masuk sekolah, sukses sekali bikin gue berangkat sekolah dengan "muka bantal" alias muka dengan kriteria: mata yang males-malesan melek, tas yang isinnya cuma gadget, dompet dan novel, langkah yang diseret, dan males buat berinteraksi sama orang. Super sekali!

Tapi, kayak apa yang selalu gue percayai, yang buruk itu nggak selamanya buruk. Kayak hari Senin ini, walau package-nya udah malesin banger, tapi hari ini bener bener bermakna buat gue. Baru kerasa bermaknanya setelah gue diskusi sama salah satu teman gue tentang banyak hal. Salah satunya adalah tentang kondisi gue selama 3 tahun terakhir.

Setelah bokap meninggal, emang banyak banget keputusan-keputusan krusial yang harus gue buat, nggak hanya untuk gue, tapi untuk nyokap sama adek, nggak hanya untuk hari ini tapi untuk besok, lusa, tahun-tahun sesudahnya. 3 tahun yang lalu, gue yang baru lulus SMP, yang nggak pernah ngerasain "the bottom of living a life" harus bener-bener di tarik dari "comfort zome" ke suatu tempat yang bener-bener belom pernah gue jamah. Tempat di sini maksudnya kondisi gue saat itu, juga lokasi. Gue akuin, 6 bulan-1 tahun pertama dengan kondisi "timpang" itu sulit. Sulit-sesulitnya hidup. Tiap hari gue rasanya mau teriak, nangis, mengutuk Allah yang ngasih gue hidup, mengutuk semua orang yang deketin gue, mengutuk waktu, mengutuk takdir, mengutuk keadaan, mengutuk semuanya yang tersisa di gue.

Jaman SMP itu jamannya gue nggak peduli sama hal-hal yang nggak berhubungan langsung sama gue. Yang gue pikirin cuma seneng-seneng, kongko bareng temen, seneng-seneng, pacaran, seneng-seneng. Nggak peduli gimana lingkungan sekitar gue, yang gue pikirin waktu itu, cuma "gue seneng-seneng asal gu tetep bisa baik sama orang lain kan" selesai. Dan perginya bokap plus harus tinggal jauh dari nyokap dan adek di waktu yang bersamaan, kayak tamparan tersediri gue buat gue. Gue tiba-tiba harus buka mata, ngeliat semuanya dengan sudut pandang yang beda, nyadarin diri kalo ternyata semua nggak seindah keliatannya. Dan saat gue sadar itu, oke, kondisi gue udah beda.

Pelan-pelan gue nyusun material buat "bangun" gue yang baru, berusaha lagi buat mahamin detail-detail yang dulu pernah gue lewatin. Nggak lupa, berharap semoga Allah masih mau kasih gue waktu untuk berubah jadi yang lebih baik. Proyek "Reformasi" untuk diri gue sendiri akhirnya berusaha gue jalanin. Dan sampe detik ini, jadilah gue yang kayak sekarang ini, walaupun ini juga, kalo telor ya, masih setengah mateng, tapi semoga aja bisa terus memperbaiki diri jadi yang lebih lebih lebih baik lagi.

Dan waktu itu, sempet berbincang sedikit sama temen,
D: Kalo diliat ya, aku tuh lebih ikut ke bapak deh nin, dari pikiran-pikiran gitu udah keliatan banget soalnya, beda sama ibu
G: hmmm gitu ya, gue nggak tau deh ya gue itu ikut ke siapa
D: Kok bisa?
G: SMP, aku emang deket sama ortu tapi nggak untuk urusan mendalam sampe karakter gitu, masuk SMA? udah pisah tempat tinggal  sama dua-duanya, sama budhe sekarang juga nggak deket, jadi malah kayak berdiri sendiri
D: *diem*
G: *diem* OH AKU TAU KARAKTERKU LEBIH DOMINAN KE MANA!
D: dari mana?
G: Karakterku kebentuk dari responku sama setiap kondisi yang aku dapet
Waktu itu juga gue yang tersadar gitu, "oh gini ya rasanya, being an orphan and live far away from the only family you have" Semua yang mau lo lakuin itu seutuhnya keputusan lo sendiri, nggak ada tuh campur tagan dari mereka, kalo pun ada itu cuma beberapa persen aja. Dan gue inget kata guru sosiologi gue, proses pengenalan, proses mengetahui atau biasa disebut sosialisasi itu adalah proses seumur hidup, proses yang akan terus terjadi selama seseorang itu hidup. Proses sosialisasi itu juga masih dibagi 2, yang primer sama yang sekunder, primer itu kalo sama keluarga, dan sekunder itu sama lingkungan, pendidikan, media massa dll. Dan mungkin sosialisasi sekunder gue jadi lebih mendominasi daripada yang primer.

Dan untuk mereka yang tinggal tanpa atau jauh dari orang tua, bahkan dari kecil, nggak usah sedih, nggak usah minder. Every things happen for a reason. Bukan berarti kalian yang dididik tanpa orang tua itu bakal jadi orang yang nggak berkarakter. Karakter itu bakal muncul dari dalam diri seiring dengan berjalannya waktu, dan yakin aja, waktunya juga pasti tepat :)

Wednesday, December 12, 2012

12/12/12

Setelah sekian lamaaaaaaaaa!
Akhirnya bisa juga melatih ketangkasan jari-jari bikin post di sini lagi, setelah sekitar beberapa minggu yang lalu, sibuk sama ulangan harian dan ulangan umum, akhirnya Allah kasih juga waktu-waktu senggang kayak gini. Ya begitulah nasib part-time blogger level beginner :')

Alhamdulillah sekali ulangan umum gue udah selesai dengan melahirkan banyak nilai nilai remedial yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus diterima. Maka dari itu, seminggu ini, tujuan masuk sekolah ya, khusus untuk melaksanakan tugas negara-remedial.

Hari rabu ini, tanggal 12 Desember 2012, gue masuk sekolah untuk mengikuti remedial pelajaran akuntansi... Bentar-bentar, apa tadi gue bilang? Remedial pelajaran akuntansi? bukan, bukan yang itu. Tanggal 12 Desember 2012? Coba deh semua diganti dengan angka bakal jadi: 12-12-'12! Wih Triple 12!

Dan banyak aja orang-orang yang ngebahas "12/12/12" bahkan sampe jadi TT di Twitter


Dan bener aja, seharian ini, banyak banget orang yang ngupdate status di jejaring sosial tentang 12/12/12. Kayak di Twitter, #BeMyDay121212 jadi Trending Topic World Wide saking banyak banget orang yang ngomongin soal ini. Status-statusnya juga isinya rata-rata soal harapan-harapan. Kenapa harapan? Karena rata-rata orang nganngep hari ini tuh punya tanggal yang cantik dan ya mungkin once in a lifetime gitu kali ya, jadi orang-orang berlomba-lomba buat bikin sejarah atau suatu memori yang bener-bener akan ngebekas di benak mereka untuk tahun-tahun setelah tanggal 12-12-12. Jadi, nggak heran kalo hari ini, banyak yang melangsungkan pernikahan, jadian sama orang yang bertahun-tahun di gebet, operasi sesar buat ibu-ibu hamil biar anaknya punya tanggal lahir cantik, atau mungkin ada yang putus gitu biar nggak terlalu mainstream?

Ya, sah-sah aja sih selama itu emang bisa diakomodasi sama si orang itu dan nggak menentang norma dan nilai sekitar. Tapi, coba deh dipikirin lagi, soal "mengistimewakan" tanggal 12-12-12. jujur, gue sendiri termasuk orang yang biasa aja dengan adanya tanggal 12-12-12. It's just another day, sama halnya dengan tangan 12-7-05 atau apalah yang lain. Cantik atau tidaknya suatu tanggal itu relatif kan bagi tiap-tiap orang.

Hal-hal seperti tanggal cantik, nasib baik, hari buruk, atau apalah itu, di era globalisasi kayak gini, udah bukan suatu hal yang perlu ddikasih tempat banyak banyak di otak. Karena, cuma percaya kalo hari ini adalah hari yang bertanggal cantik aja nggak cukup untuk ngubah nasib kamu di hari ini jadi secantik tanggalnya. Semuanya tentu perlu kemauan dan usaha kita untuk mengubah nasib kita. Jadi, Hari cantik itu nggak hanya ada di 12-12-12, tapi SETIAP HARI kalau kita punya kemauan dan mau berusaha :)