Showing posts with label Opinion. Show all posts
Showing posts with label Opinion. Show all posts

Thursday, October 18, 2018

Bahagia Itu (Tidak) Sederhana

Terhitung kurang lebih 5 bulan sudah aku pulang.
Setelah bingung-bingung bertanya apa itu “pulang”, akhirnya aku memutuskan, untuk saat ini, definisi “pulang” adalah berada di tempat di mana ibu dan adik tinggal. Sebenarnya nggak bisa janji juga definisi ini akan bertahan lama, nanti pada saatnya pasti akan berubah lagi.

5 bulan ini mulai merasakan lagi naik turunnya “bianglala” seperti dulu, seperti yang kata Ibu pernah Ayah rasa. 5 bulan ini aku belajar, tapi sepertinya masih banyak yang remedial, tanda harus mengambil ulang beberapa SKS, sampai nanti benar-benar lulus.


Kali ini, aku mau “ngecipris” tentang kebahagiaan, biar selalu ingat, biar tidak lupa untuk bahagia. Beberapa hari yang lalu, tepat saat aku sedang bersiap ke kantor menjalani rutinitas seperti biasa, tiba-tiba otakku diganggu pikiran yang mengucap “emang bahagia itu sederhana?” Iya, pertanyaannya seperti itu, terus berulang sampai saat sarapanpun aku masih memikirkannya. Cukup sebal sih, kalau ada hal-hal yang tiba-tiba minta perhatian buat dipikirin kayak gini, padahal mungkin sebenarnya nggak penting-penting banget. Tapi, aku cukup bersyukur aku punya waktu buat memikirkannya waktu itu.

“Emang bahagia itu sederhana?”

Pasti kamu udah sering mendengar ungkapan “bahagia itu sederhana”. Biasanya ungkapan ini akan muncul saat seseorang merasakan suatu nikmat yang berasal dari suatu hal yang selama ini dianggap sebagai hal kecil.

“bahagia itu sederhana, seperti saat kamu berkumpul dengan keluarga misalnya”
“bahagia sederhana, seperti saat kamu dapat semangat dari sahabat misalnya”
“bahagia itu sederhana, seperti saat kamu dapat senyuman dari orang asing misalnya”

Pagi itu, pikiranku menolak setuju dengan ungkapan “bahagia itu sederhana.”

Allah dan alam semesta punya caranya sendiri dalam membuat kita berada di dalam suatu proses yang kompleks yang akhirnya membuat kita bisa merasakan kebahagiaan. Kesempatan untuk merasa bahagia dari segala jenis proses yang dilalui ini, yang nggak bisa dirasakan sama semaua orang.

Kalau memang bahagia itu sederhana, apakah kita sudah merasa bahagia saat bisa membedakan kiri dan kanan? Apa kita sudah merasa bahagia saat bisa menjalani rutinitas yang selama ini terlihat membosankan? Kalau memang suatu hal itu sederhana, bukankah seharusnya hal itu juga menjadi sumber kebahagiaan? Atau jangan-jangan karena hal ini sudah terlalu biasa dan melekat dalam diri, kita juga jadi lupa menganggap ini sebagai sumber kebahagiaan juga?

Otak pendekku ini berpikir, jangan-jangan selama ini kita dikelabuhi, kita secara tanpa sadar mengukur kebahagiaan secara materiil lewat suatu hal yang bisa dirasakan dari segi fisiknya, diukur nilai besarannya, atau bahkan memang karena kitanya aja yang nggak peka dalam menyadari kebahagiaan-kebahagiaan di sekitar kita.

bahagia itu sederhana, bisa berkumpul dengan keluarga misalnya” tapi dikatakan oleh seorang perantau yang waktu pulangnya mungkin 1 hingga 2 tahun sekali, maka berkumpul dengan keluarga bukan suatu hal yang sederhana. Jangan lupakan proses rumit yang bisa mengantarkan diri duduk bersebelahan dengan keluarga.

“bahagia itu sederhana, dapet snack sebagai penyemangat dari teman” dikatakan oleh dia yang selama ini diacuhkan. Butuh banyak tahap yang dilewati hingga bisa mengantarkan snack murah itu sampai ke mejamu, sobat. Kebahagiaan yang kamu dapat itu, bukanlah kebahagiaan yang sederhana.  
Pagi itu aku mulai berpikir, jika ada suatu hal yang bisa membuatku bahagia, maka hal itu bukan hal yang sederhana. Pasti ada proses-proses yang terjadi hasil konspirasi Allah dan alam semesta hingga menghadirkan suatu proses, dan yang pasti mengizinkan aku untuk merasakannya.

Suatu hal bisa dianggap sebagai suatu hal yang sederhana, bisa jadi karena selama ini kita secara tidak sadar mulai menaruh besaran nilai untuk suatu hal yang sifatnya tidak terhitung. Atau memang kita saja yang suka menyederhanakan nilai dari sebuah proses bahkan hal-hal besar?



Jangan lupa bahagia,

Sunday, August 19, 2018

Body Shaming: When Cheap-Talks Gone Wrong


What a powerful message tho!

Source: Instagram

Sebenernya, aku udah pernah buat postingan tentang body shaming  di blog ini juga, kamu bisa baca di sini. Tapi, di tulisan itu, aku masih mengulasnya dengan pandangan yang lebih umum dan mungkin kurang detil, karena aku juga membahas tentang body authority. Tapi, kali ini, aku rasa aku harus lebih fokus untuk hanya membahas tentang body shaming. Here we go!

Untuk yang belum tau, apa itu body shaming dan apa aja lingkupnya, kita bisa mulai dari sini.
Body shaming adalah istilah yang digunakan untuk kegiatan (baik dengan mengomentari atau mencela) seseorang karena penampilan fisiknya. Ruang lingkupnya bisa dengan mengomentari bagaimana kondisi tubuh kita (berat badan, tinggi badan, warna kulit, bahkan sampai ke kemampuan fisik seseorang).”

Nah, paragraf di atas harus kamu ingat sampai waktu-waktu setelah kamu membaca tulisan ini ya.
Saat kita bahas tentang body shaming, yang ada di bayangan kita mungkin bagaimana seseorang di-bully, dicela, direndahkan ­karena penampilan, like we all ever saw on TV. Tapi, faktanya adalah, body shaming ini gak hanya bisa terjadi lewat celaan yang merendahkan seseorang. Since we live in Indonesia, pasti yang namanya acara ngumpul, reuni atau acara-acara pesta lainnya, yang menuntut kita bertemu dengan orang baru atau orang lama yang baru ketemu lagi membuat kita jadi lebih sering dan mudah dalam berbasa-basi. Yang namanya basa-basi alias membuka percakapan dengan orang alias mengakrabkan diri sebenarnya gak pernah salah. Tapi pernahkah kamu mendengar pertanyaan atau pernyataan seperti saat udah lama nggak ketemu orang, dan begitu ketemu justru pertanyaan-pertanyaan kayak gini yang kamu dengar atau kamu sendiri yang megucapkannya,

“Wah kamu kurusan deh! Udah bagus gini aja!” yang diucapkan dengan ketidaktahuan bahwa si lawan bicara mengidap anoreksia? bulimia? stres?
“Kamu sih makan terus, sekarang jadinya gemuk kan”
“kamu kerjaanya apa sih? Kok item banget sekarang?”
“Kamu perawatan kulit gitu loh, biar gak dekil, biar ada yang naksir”
“Muka kamu sekarang jerawatannya gitu ya? Cantikkan yang dulu.” yang diucapkan dengan ketidaktahuan bahwa si lawan bicara ternyata sudah mencoba berbagai cara untuk melenyapkan jerawat-jerawat itu.
Dll.

Pertanyaan atau pernyataan seperti tadi gampang banget buat ditemukan di dalam masyarakat kita. Bahkan, sangking seringnya, basa-basi kayak gini udah dianggap biasa sama sebagian besar masyarakat kita. Guys and Girls out there, I'm not being sensitive. But I think, it's the right thing to do. Kalau menurut aku, ini jadi salah satu kebiasaan masyarakat yang seharusnya ditinggalkan, dan diganti dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih menggugah sisi simpati dan empati kita. Misal seperti,

“Gimana di sana? Kamu betah kan?”
“Yang penting kamu seneng kan?”
“Kamu sehat kan?”
Atau sesederhana “Gimana kabarmu?”

Pertanyaan-pertanyaan kayak gini menurutku lebih menunjukkan bagaimana kamu sebenarnya ingin terlibat dalam percakapan yang lebih dalam dan benar-benar ingin menanyakan kabar sama teman yang udah lama gak ketemu. Kita gak mau kan berusaha akrab dengan basa-basi seperti “kamu kurusan deh, udah kayak gini aja, lebih cantik” ke teman kita yang ternyata penyebab kurusnya adalah stres atau anoreksia/bulimia? 

Sebenarnya body shaming ini gak hanya terjadi di antara orang-orang yang udah lama gak ketemu kemudian bertemu pada suatu kesempatan. Tetapi juga sering terjadi di antara hubungan pertemanan yang deket, they called it "sahabat" as the form of friendship in the higher level rather than "just friend". Sayangnya, banyak orang yang akhirnya mengiyakan aja, 
"yaudahlah, dia kan temen gue",
"dia yang paling kenal gue, gapapa lah",
"gue udah biasa banget". 

Guys, pernah gak denger ungkapan "sesuatu hal yang  dilakukan berulang kali walau itu salah, lama-lama akan diterima". Never meant to preach you all guys, but, let me ask, "mungkinkah ini bagian dari 'kita yang mulai terbiasa?'." 

Teman-teman, body shaming ini kaitannya dengan citra tubuh seseorang. Apa itu citra tubuh? Citra tubuh ini adalah bagaimana seseorang memiliki tanggapan terhadap dirinya sendiri. Hal-hal yang berkaitan dengan citra tubuh ini berkaitan juga dengan, gimana kamu melihat dirimu, seberapa nyaman kamu dengan dirimu sampai ke seberapa percaya diri kamu terhadap dirimu. Selain memang berkaitan dengan bagaimana seseorang memperlakukan dirinya, citra tubuh juga dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Try to imagine, how does it feel to be bullied for 8 years, listening to the same freaking thing about you being fat? Kalau aku dihadapkan dengan situasi seperti itu, pilihannya mungkin ada tiga, satu aku akan terbiasa hingga aku jadi orang yang gak peduli dengan badanku dan gak sayang dengan badanku, dua aku akan jadi orang yang rendah diri dengan badan yang aku punya, tiga aku mungkin akan jadi orang yang terobsesi punya badan kurus hanya untuk membuktikan aku bisa kurus dengan cara apapun. Iya, apapun

Aku paham sih, setiap orang pasti punya standar cantiknya masing-masing. Aku percaya itu. Sayangnya, hal ini jadi bias karena media yang bikin standar cantik kita harus seragam seperti harus yang berambut panjang, tinggi semampai, langsing atau kulit putih mulus tanpa cela. dengan standar kecantikan yang sudah diatur sedemikian rupa, akhirnya kita berlomba-lomba menjadikannya sebagai parameter cantik untuk menilai sudah secantik apa diri kita atau sudah secantik apa orang lain. This might be where all the body shaming stuff started. Body standard yang terus dibentuk media yang berusaha dicapai beramai-ramai oleh para manusia yang terpapar sama setiap informasi yang mereka terima.

Tapi, jujur, aku juga mulai bersyukur, karena sedikit-sedikit produk-produk beauty dan skincare mulai punya campaign untuk menunjukkan sisi kecantikan yang beragam sih. Baik yang produk rambut, produk kulit, bahkan produk makeup sekalipun.

Nah, balik lagi ke kebiasaan kita dalam berbasa-basi yang ternyata juga termasuk ke dalam perilaku body shaming, baik itu dari nanya kabar yang justru berakhir mengomentari bentuk fisik lawan bicara kita, atau menjadikan bentuk tubuh lawan biacara kita sebagai bahan bercandaan hanya karena dia sahabat kita dan dekat banget sama kita sehingga kita percaya dia tidak akan sakit hati atau melakukan hal-hal negatif karena candaan kita yang ternyata celaan. Dunia ini luas, ada 7 milyar lebih orang di dalamnya, ratusan spesies, dan kamu punya jutaan topik lainnya untuk dibicarakan dengan lawan bicaramu selain dengan bentuk tubuhnya.

Dan teruntuk kamu yang menerima body shaming atau fat shaming atau segala macam bentuk shaming hari ini, aku percaya, orang-orang yang mengatakan hal-hal ini bakal selalu ada, they won’t be gone in a minute, and their words were craved for hundred years maybe. Tapi, kita selalu bisa memilih untuk kasih pertahanan terbaik yang kita bisa. Kita bisa kasih reaksi langsung saat mereka melakukan body shaming ke kita, kasih penjelasan panjang lebar kayak tulisan ini, atau, senyumin aja.

Tapi, sebelum kamu milih, aku juga percaya, bahwa energi positif itu juga datang dari dalam tubuh dan jiwa kita. Perihal penerimaan diri kita terhadap apapun yang Allah kasih pada tubuh kita juga harus sudah selesai di bab ini nih. Kenapa? Karena dengan begini, dengan cara apapun kamu merespon body shaming, kamu bisa menghadapinya dengan cara yang lebih tenang dan positif. Satu hal lagi yang perlu kamu ingat, God has made you beautiful with everything you have now, embrace it. Jangan biarin kata orang atau media bikin kamu mengingkari nikmat yang udah Allah kasih. caranya dengan bersyukur dan merawat dengan baik apa yang sudah diberi.

Love yourself, by taking care every single thing in your body.
Now, have you love yourself today?


with love,



Wednesday, February 14, 2018

5 Things to Feel Grateful For

Jadi, di tengah huru-hara pengesahan pasal MD3 dan segala jenis religiosity hates ke umat beragama manapun, I’m well aware about all those things, but let’s talk about another topic.

What’s the last thing that could ever happen to you that makes you feel so much grateful for whatever God gave you? When did you feel it? Was it just this morning? Or yesterday? 2 days ago? Or you’ve never felt this way before?

This past few years somehow brought me to another point of life. I knew maybe that’s just not (yet) a lifetime achievement, cause in fact I’m still digging for it. I knew my life would not be just as beautiful or interesting as it seems through Instagram stories, like, as I get up and pray and make my coffee and listen to a mood-boosting songs and through the day with that big white smiles and end the day with a tired happy face to bed. So beautiful it’s naïve. Sometimes, I have to wake up with deadlines, sleep with my watch still in my wrist just to get myself unpleasant sleep so I could wake up earlier, skip lunch just for economizing and drink more coffee. And end the day with an anxious mind to bed.

Social media somehow blur all those struggles. I ever got this statement spoken by my close friend “lo mah, santai banget sih, idupnya main mulu” I was like “hehe, ya kali, tau dari mana?” and she said, “gue liat di story instagram lo”.

Since when social media could really describe what you’ve been through?

Now it became an iceberg, a super serious iceberg. People tend to only see the success without the hard works, the money without the sleepless night, the beauty without the insecurity and the happy smiles of a couple without the fights and the compromises. However, what matters are what come before the good stuff. Things, people think it’s shouldn’t have to be shared. That’s normal, we all tend to share those happy feeling instead of the sad ones, right? That’s why, some people don’t share their sad emotions to social media (of course, unless you’re attention whore or drama queen), and that’s never could conclude that somebody is always having a great time in their entire life.

And from those things that surround me, I found it, “maybe, the hardest thing that we have to do is feeling grateful and husnudzan to God’s plan”. It may seems so simple, but the fact it’s not. Theoretically yes, you just have to focus on the good side and let go, but practically, human’s emotion is way more complicated that makes it somehow…hard. At least for me. But for me, it’s something you can learn and with more and more trainings, you will.

Since, to write is to keep, I’m going to write down a list to sum up of what makes me feel grateful, even I know, He has grant me so many things I could’ve never imagine before that maybe I couldn’t mention them all. So here we go.

  • I could still open my eyes after a few hours of sleep. Sleeping is a half way to die, so to wake up in another day means another chance to be better. I feel blessed. Chance to be better. Cause sometimes, things I broke yesterday is something I couldn’t fix tomorrow, so I just go on, and promise to myself to be better and try not to repeat the same mistakes.
  • Mother’s prayer. I think I would never be in this point of life, if my mom never spend her times to pray for me. I feel like, all the success or the failure I feel is related to three things; the quality of my prayers to God, my mom’s prayers and of course, my effort to make things happen.
  • Friends to Jannah. To be one of those shalih and shalihah who’s invited to be in Jannah is surely Allah’s prerogative rights. And for me, to make friends or have friends who’s also wanting it is one of ikhtiar that I as human can do. Because, it’s quite rare in this moment to have friends who would encourage you to be better, not only to human but also to Allah, in the world full of people saying “urusan ibadah, biar jadi urusan gue dan Tuhan gue”. The most grateful feeling is when you have friends not only in your good or bad times, as how quotation nowadays describe how friendship goals is, but to be mentioned in their prayers in 2.00am in her very private time with Allah, where they could ask for million things about them but still, they mention your name for good in their prayers. That’s friendship goals.
  • The blessing in disguise, they said. I could never be bored to repeat this. But the moment when my father passed away was the moment, I though, Allah has wake me up from a unrealistic dream. I remember that day my uncle said “sekarang, anin penggantinya buat kuatin mama” I was like, a highest tree, an arrogant highest tree struck by a lightning. I broke down. But that’s just the moment when all the things actually began. It’s just somehow amazed me how Allah actually taught me, that this life is temporary. I was thinking that I was too young to face this, I was just a junior high schooler. But it’s all set. No one is late. And no one is too early for everything, including death. And that’s just the time that has been set. So I must be ready. Well, the world keeps moving right, whether I think, I’m ready or not.
  • Live far away from home, somehow blur the definition of home itself. Have moved to 2 places since high school. From Jakarta-Tangerang to Gunung Kidul (that’s in Yogyakarta) now I’m in Surakarta (Solo). It was hard as a new comer of “anak rantau” in high school, but lately I know that it’s addictive. I spend my life with mostly orang Betawi, orang Jawa, and others, with different cultures, religions and characters and somehow it could widen our point of view to see things. I know I’m a bad talkers in front of someone I just met (unless, we know each other long enough), but I like to observe lol it sounds so psycho, no, somehow by observing, I could analyze thing and know thing. And that’s just the thing I found out I like after living in three different places. I wish for another chance to live in another place, please. Hehe.
A poem by Atticus. Idk either it's related or not to this post. But I kinda like it

Those 5 things, are the basic things I feel grateful for that will be followed up by another million small or big things in my life. I feel grateful for what happened, and can’t wait for what’s more to come. And one of those things I could highlight is,

The struggle is real. The ups and downs. The roller coaster feeling.
And the road is never been easy.
But every milestones you pass, it all will worth the fight.
And yes, it’s only a matter of from where you see a disaster to become a grace.


Have a wonderful day,
 

Thursday, February 8, 2018

Thoughts of PDA



Kayak yang saya bilangdi postingan sebelumnya, obrolan di umur 23 ini salah satunya nggak jauh-jauh dari tema pernikahan. Dari yang model nanya kapan nikah, dengan mode terhalus seperti kapan menyegerakan sampai yang mode kasar kayak kapan kawin.

Dan hal ini nggak tau kenapa juga ternyata makin kerasa nggak hanya di ruang-ruang obrolan tatap muka yang bahas-bahas soal pernikahan. Tetapi juga sampai ke ranah media sosial. Oiya, sebelum baca lebih lanjut, saya ingatkan bahwa tulisan ini saya tulis berdasarkan kacamata saya aja, jadi kalau misal nggak bisa diterima waktu tengah-tengah baca mending berhenti aja, dan cari bacaan lain yang mungkin akan menyenangkan hati kamu. Oke lanjut.
Akhir-akhir ini tema pernikahan ini kerasa makin dekat dengan saya. Ya bukan hal yang mengagetkan sih, karena orang-orang yang saya ikuti di media sosial juga orang-orang yang seumuran saya, paling tua juga tiga sampai empat tahun di atas saya, ini di luar seleb-seleb yang saya ikuti di media sosial ya. Dengan umur-umur usia nikah gini jadi wajar banget nggak sih kalo misal teman-teman kita yang kita ikuti di media sosial ini tadi juga mulai bergerak fase hidupnya dari fase melajang ke fase pernikahan. Dan fase itu semua terlihat semua di media sosial, ya gimana nggak ya, disukai atau tidak, diterima atau tidak banyak orang yang menjadikan media sosial sebagai sarana aktualisasi dirinya. Dari yang biasanya posting lagi nongkrong di kafe A sama temen-temennya, atau liburan ke X sama temen-temennya jadi yang tiba-tiba posting pre-wedding, wedding, pos-wedding sampai ke kehidupan sehari-hari setelah menikah macam bagaimana hikmah-hikmah dari mahligai pernikahannya dinarasikan dalam caption panjang sarat akan makna. Saya sejauh ini masih merasa biasa aja sih, paling ketawa-ketawa aja kalo misal liat temen yang dulu kelakuannya kayak apa lagi posting manis-manis sama bininya, tapi ya udah, buat saya posting macam itu lewat begitu saja, saya sebagai netijen hanya menjadi penonton yang urun “like” kalo nemu postingannya, atau ini karena saya nggak punya orientasi untuk nikah secepatnya kali ya, makanya liat pos manis-manis gitu juga masih lempeng-lempeng aja.

Terus beberapa waktu yang lalu waktu lagi ngumpul sama beberapa teman, kita gak sengaja sampai ke topik PDA waktu kami lagi ngobrol. Istilah PDA ini udah saya denger dari jaman SMP, nggak nyangka sekarang PDA jadi topik yang sering diperbincangkan di teman-teman saya hehe. PDA atau Public Display Affection punya artinya kurang lebih intinya mempertontonkan kemesraan di ranah publik, singkatnya pamer kemesraan.

Saya sendiri punya dua kelakuan yang tergolong PDA, sekali lagi menurut saya, kamu boleh sepakat, nggak juga gapapa, belum tentu ngubah pandangan saya juga.
·         Pertama, kalo The Married Couple (TMC) mulai posting kontak fisip di area-area yang sebenernya bisa bangeeet kalo nggak diupload atau dipamerkan ke ranah publik.
·         Kedua, kalo tadi secara fisik, karena kita mainnya sosmed, maka nggak mungkin kalo nggak ada PDA-PDA terselubung lewat verbal. Menurut saya, kalo TMC mulai poating macam panggilan-panggilan khusus gitu nggak perlu sih jadi konsumsi publik, toh tanpa itu pun followersnya udah pada tau kalo bininya adalah miliknya, moreover macam gombalan, rayuan, yang aduh udahlah, rasanya bikin saya pengen bilang “mending kalian pm”, tapi nggak tau kenapa, saya masih bisa sih tolerir pujian. Eh ini kamu yang baca bisa bedain kan mana pujian dan mana rayuan/gombalan?

Dari obrolan sama teman-teman memang ada beberapa yang saya sepakati ada ada juga yang tidak. Seperti misalnya, posting foto atau video lagi makan atau pergi bareng. Kalau menurut saya itu sama sekali bukan PDA. Posting foto anaknya dengan segala perkembangannya, dan ilmu-ilmu yang bisa diambil, apalagi itu, nggak ada PDA-PDAnya, jadi kalo sampe ada yang ngomong “ih postingannya si A masa tentang si B mulu” paling yaudah saya liatin aja, sambil nyinyirin dalam hati. Wkwkwk.

Gini ya, logikanya adalah, saat sebelumnya si A belum menikah, media sosial memang digunakan oleh si A, siapapun itu, untuk memposting hal-hal yang ada di dalam hidupnya, yang berkaitan dengan dirinya, jadi pertanyaannya, apa itu juga menjadi suatu hal yang aneh jika suatu saat si A baru menikah dan memposting sesuatu yang berkaitan dengan dirinya seumur hidup yang dalam kasus ini adalah bininya? Jadi kalau misal ada orang yang sebelum menikah hobi makan, ke mana-mana foodgram foto makanan, eh setelah menikah posting lagi makanan-makanan tapi sama bininya, ya itu bukan PDA lah, foodgram adalah habitnya dia di masa lampau sampai sekarang, kemudian ditemukan dengan orang baru yang mana adalah bininya dan ditemukan dengan kebiasannya itu. Selesai di situ. Menurut saya itu hal yang wajar, karena setiap orang punya tendensi buat menunjukkan apa-apa yang dia suka, ya kalau dalam kasus tadi berarti membagikan makanan dalam foto di Instagram (misal) dan bininya adalah hal yang disuka. Selesai di situ sih sebenernya. Ditambah kita idup di jaman yang kadang kuota aja rasnya bisa lebih murah dari pada harga cabe, karena kebutuhan untuk mainan media sosial emang setinggi itu, sarana untuk aktualisasi diri makin gampang diakses, kecenderungan untuk menunjukkan apa yang disukai juga makin tinggi. Tapi, ya ini cuma saya yang fakir ilmu dengan segala analogi keledai.

Karena saya yakin, untuk tidak menunjukkan kesukaan kita itu sulit nona dan tuan, ya coba aja dilihat lagi, apa kesukaan kita yang sering kita publikasikan saat ini, saat nanti tiba masanya giliran kita, saat hal-hal yang kita suka itu ada dalam satu bingkai kamera dan biasa dipublikaskan (di luar dua poin tadi yang saya sebutkan) kemudian bergabung dengan hal-hal yang berkaitan dengan bini kita nanti. Entah yang suka share nongki di mana, besok jadi posting sama bininya, yang suka masak besok jadi suka posting bekal buat bininya atau masakan sehari-hari. Mungkin kita juga bilang “entar captionku nggak yang menye-menye gitu”, mungkin juga pada saat itu kita juga ingin membagikan hikmah-hikmah dalam bentuk narasi-narasi panjang di caption yang lanjut di komentar, tapi ya mungkin juga nanti akan muncul juga orang-orang yang walaupun kita udah usaha buat posting sebiasa mungkin, kita tetap dibilang PDA. Well, the ugly truth is, we can’t please everyone, even a clown has bunch of people who have phobia of him.

Definisi-definisi soal PDA berdasarkan tadi jadi tak lebih dari sebuah kecemburuan saja untuk segera ingin ada di titik yang sama. Menurut saya, jika TMC belum melanggar dua hal yang tadi saya sebutkan, saya masih bisa terima. Lagi pula, kadang menurut saya, bukan mereka yang sudah biasa-biasa banget ini yang harus mengubah postingan hanya karena ada konten bermuatan bini-bininya, tetapi netijen budiman yang memang harus lebih bijak lagi dalam menghadapi postingan. Tetapi saya juga berpikir, ini salah satu efek dari pertemuan nilai baru dan nilai lama, dari sebuah kebiasaan yang dimasuki nilai baru. Awalnya pasti ada ketidak cocokan, tapi lama-lama juga bisa menyatu. Fakta dari salah satu teman yang tadinya belum menikah dengan segala kesehariannya, kemudian menikah dan punya rutinitas baru. Jadilah followers merasa bertumbukkan dengan nilai baru juga. Tapi tak apalah, kan kata Tan Malaka, terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk. Tetapi kalau masih tidak kuat, cukup unfollow saja. Selesai.



(mencoba) menjadi netijen budiman.