Showing posts with label Philosophy. Show all posts
Showing posts with label Philosophy. Show all posts

Saturday, January 7, 2017

A Lifetime Goal

Yeay! New years finally here!
I don’t know whether it’s my good mood or a new spirit influenced by the new year’s stuffs, or is it just me who’s trying to keep the positive vibes alive?

Well, hello there!

I wish you happy new year, may you have a very pleasant years full of grace, bless and of course happiness. Well, since we’re still in the beginning of this New Year, people may love to write down their resolutions for this whole year. Mine is just trying to keep up the good work from the previous year, even I also have some additional resolutions to do in this year. Sounds less-motivated? Not really, it was me, trying to be more realistic.
One of those resolutions I always write in the beginning of the year, is that “I’m going to write more this year” or something like “what about writing once per week to the Blog? My God that sounds so challenging, I’m going to do it!” and lately I know, I can’t make time for it. At least that’s what actually happened in 2 or 3 previous years before I make this posts. Pathetic, I know.

In this 2017, I’m welcoming myself in my last –supposedly, semester. Finally, after doing some long terms project for the assignments, I can start to do my last project which happen to be a SKRIPSI –even I haven’t started any single words for it when I write this.  Nice, Anin. You know, I’ve ever been a jerk junior students in my faculty I think, to think that “it’s SKRIPSI, you don’t have to worry about it, Just do it”. Lol, now in the middle of the projects that I want to do in this years, I feel like breathe easy and sigh “Just do it my A**!”

It’s not as dramatic as I write, actually. But suddenly, something come from the closest part of my life. We named it, pressure. And it’s correlating to life standard.

If we’re talking about life standard, the nearest question would be, “what kind of thing that could make you happy?” when your happiness measured by where your house is, what you drive, how much your money, where you go to travel to, to whom you talk to, what brand you use, all those standards that media spread just somehow makes people…..I don’t know, obsessed? The condition I had 7 years ago, taught me a lot about how material thing or physical thing actually don’t matter.
That’s the life goal I put in every years after 7 years ago. To put up my happiness standard not on physical thing, material thing, even human, because they can somehow disappoint you. Well, even sometimes I failed it too. You know I’m not as wise as Prophet Muhammad SAW or any other figure. I’m still learning, right? Even somehow, I feel like tired or wanting myself to stop doing whatever I’m doing. But, I think that’s normal, since it’s a human thing. We’re tired. We stop. We fall. We get up again. And run. That’s why, never ever put any of those I mentioned as life standards, cause, it’s going to be like running in inner wheel. It’s not going to stop, soon or later, it will change you to be obsessed, disgraced, full of anger, loser. So just let go of all those things.


And be happy
Cause this will be
this year’s goal,
Or even a lifetime’s goal.





Thursday, July 16, 2015

Memilih Kapal

Bismillahirrahmanirrahim

Malam ke 30, malam terakhir di bulan Ramadhan.
Sebelum Mama saya kembali menyuruh membereskan ruang tamu, ada sedikit cerita(dari imajinasi saya sendiri) yang ingin saya bagikan di halaman ini.

Katakanlah, di suatu samudera, ada sebuah kapal yang tengah berlayar. Melaju dengan cepat. Lengkap dengan kompas, dan jaket keselamatan yang cukup untuk semua awak kapal yang ikut melaut. Satu-satunya tantangan yang mereka temui adalah cuaca yang mungkin bisa berubah dalam sekedip mata, atau batuan karang yang bisa membuat kapal mereka karam. Tapi tenang, awak-awak ini sudah terlatih, sudah diajak belajar mengenai lautan, dan siap untuk terjun kapanpun ke laut jika suatu hal darurat terjadi.

Di samudera lainnya, ada lagi sebuah kapal yang  ingin melaju, tapi ia tak punya kompas, jaket keselamatannya hanya tersedia beberapa saja, tidak cukup untuk semua awak yang ada di atas kapal tersebut. Awaknya pun bukan berasal dari sekolah kelautan atau lembaga lainnya yang mampu mendidik mereka untuk benar-benar terjun ke laut. Tapi tenang, kapal ini masih tetap melaju walau pelan-pelan, sangat pelan-pelan. Yang membuat kapal ini terus melaju walau pelan-pelan adalah karena awak-awaknya beberapa kali belajar dari orang-orang, ya walau tidak terus menerus diterapkan. Tantangan mereka tidak hanya cuaca dan batuan karang, tetapi melaut itu sendiri karena selama ini kurang begitu mengenal bagaimana harus bertahan di laut.

Kemudian cerita itu berhenti di situ saja, tak ada akhir. Tapi dua penggal paragraf itu menghasilkan sebuah kata tanya dalam otak saya, “Jika, disuruh memilih, kapal mana yang mau kamu tumpangi?”

Kau bisa saja memilih kapal yang pertama, kau justru bisa belajar banyak dari orang-orang yang sudah memiliki banyak pengalaman untuk melaut, kau juga bisa berlayar dengan aman, terang saja, kau punya kompas, kau punya jaket pelampung, secara kasat mata kau akan aman, Sobat.

Tapi, juga bukan suatu kesalahan atau kutukan ketika kau harus ditempatkan di kapal kedua. Walau memang tak cukup jaket pelampung untuk semua awak, dan mungkin kau adalah satu-satunya yang tak kebagian, tapi kau bisa mengajarkan semua awak untuk berenang, sehingga hidup kalian tak hanya digantungkan pada jaket pelampung. Tapi kau tak punya kompas? Lupakah kau, kalau kau sedang ada di laut, di mana polusi cahaya ditemukan paling sedikit kemungkinan bisa terjadi di tengah laut lepas? Di mana kau bisa melihat banyak bintang dan membaca arahnya untuk menuntunmu ke tujuanmu. Lagi pula, hal itu sudah pernah dilakukan oleh para pelaut terdahulu. Walau lebih banyak tantangannya, bukan tidak mungkin kau juga akan bertemu dengan mereka dari kapal pertama dengan menumpang di kapal kedua, Sobat.

Percayalah, Allah tidak pernah salah menempatkan kita di suatu tempat. Karena Dia tahu kapasitas hingga batas kemampuan kita.

Saat suatu tempat dilihat terlalu gelap untuk ditinggali,
mungkin saat itu Dia ingin kita yang menjadi awal dari cahaya abadi.


Taqabbal Allahu minna wa minkum

Happy Eid Mubarak 1436H





Sunday, July 12, 2015

Bunga Ramadhan

Foto ini diambil di rumah salah satu narasumber saat sedang melakukan liputan untuk salah satu program acara di UNS Tv


Salah satu kata-kata mutiara atau berlian atau perhiasan indah lainnya yang hari ini saya baca berbunyi, “Jangan sampai Ramadhan pergi tanpa meninggalkan bekas.”

Hari ini sudah menginjak malam ke 25 Ramadhan di tahun 1436 Hijriah. Jika kita ingin menghitung nikmat yang Allah beri, tentu akan kurang seluruh satuan angka yang ada di bumi, jika kita ingin menuliskannya, bisa gundul semua pohon yang ada di bumi karena kertas yang dibutuhkan akan sangat banyak sekali, jika kita ingin membicarakan seluruh nikmatNya, bisa mati kelelahan kita, karena tidak akan pernah ada hentinya berucap. Allahu Akbar.

Sering saya mengatakan sangat istimewa dan misterius bagaimana cara Allah mengajarkan umatNya, termasuk dalam pos kali ini. Segala puji bagi Allah, yang telah membukakan kesempatan-kesempatan yang tak terduga untuk saya di bulan Ramadhan. Setelah selama 1 semester saya “dianggurin” baik di jurusan saya yang entah kenapa kelewat santai, atau di organisasi saya yang bisa dibilang sedang vakum, bulan Ramadhan ini justru menjadi titik di mana saya bisa merasa lelah lagi. Allah maha baik yang telah mengabulkan doa saya, “Ya, Allah, Anin mau capek lagi kayak dulu.”

Orang lain meminta untuk tidak merasa lelah, dan saya berdoa sebaliknya? Tidak, ini bukan karena ada yang salah dengan otak saya. Saya secara sadar dan meminta itu kepadaNya. Kenapa?
Singkat cerita, saya tidak(merasa)memiliki kesibukan apapun, saat bahkan saya tidak merasa lelah, merasa terhimpit dengan waktu, saya merasa diri saya menjadi lebih santai dan kurang termotivasi. Tidak hanya dalam hal melakukan tugas-tugas baik kuliah maupun tugas-tugas di organisasi, termasuk juga dalam hal ibadah. Astagfirullah. Iya, kemarin saya sempat merasa seperti itu, kenapa? Karena saya merasa masih banyak waktu untuk melakukannya, perilaku buruk seperti menunda-nunda pekerjaan pun akhirnya menjadi suatu hal yang sering saya lakukan. Tapi, di tengah rutinitas yang seperti itu, saya rindu merasa lelah. Saya rindu terus berpindah dari satu sekre ke sekre lainnya, rapat satu ke rapat lainnya, buku satu ke buku lainnya. Saya juga rindu tekanan untuk bisa mendisiplinkan diri saya dengan membagi 24 jam waktu yang saya miliki, dan menyeimbangkannya antara urusan akhirat dan dunia. Saya juga rindu segarnya air wudhu saat membasahi wajah saya di tengah segala kesibukkan yang ada, di mana ibadah menjadi sebuah oase di padang kehidupan, karena saat itu, ibadah wajib terasa hanya seperti ritual, atau tilawah menjadi sebuah momen di mana saya bisa benar-benar kabur dari dunia, tapi saat itu, justru hanya terasa seperti mengejar targetan semata. Oh, jadi ini namanya futur. Saya benar-benar rindu merasa Lelah untuk Lillah. Lalu suatu hari, kakak saya mengatakan, “Memang amanah itu bisa menjaga kita.” Kata-kata yang terus terngiang hingga hari ini saya mengetikkan pos ini, dan membuat saya pada saat itu berspekulasi untuk pulang menjelang akhir bulan Ramadhan agar saya bisa beraktivitas di kampus. Pede betul saya kala itu, yang pengangguran, dan berharap punya kerjaan saat Ramadhan di kampus setelah satu semester bisa dibilang “vakum”.
Allah Maha Baik, Dia menjawab doa saya, dengan memberikan saya beberapa amanah yang harus saya selesaikan selama bulan Ramadhan di kota rantau. Tidur selama 2 jam karena harus mengerjakan beberapa deadline dan juga targetan Ramadhan dalam satu hari terasa ringan. Sangat berbeda dengan 11 bulan lainnya di mana waktu-waktu karena harus mengerjakan tugas sampai pagi dan hanya punya kesempatan untuk tidur selama 2 jam membuat saya mengeluh dan uring-uringan seharian. Dengan memaksimalkan waktu yang ada untuk ibadah dan beraktivitas seperti biasa, walau waktu terlihat pendek akan terasa panjang dan cukup, dan yang paling penting dengan meniatkan segalanya hanya untuk Allah. In shaa Allah, waktu kita akan semakin berkah di bulan Ramadhan ini.

And one thing that I take from all of these things, when we make time, I meant, we do really make time for Allah, not just spare our time, Allah will broaden the time that we had, and in that moment, we will feel nothing but grateful and blessed, besides, what are we looking for in a life full of misery aside of His blessings?

Layaknya bunga, Ramadhan seperti bunga yang mulai mekar, dan mati begitu saja sesaat kita akan memetiknya. Pastikan wanginya masih semerbak menempel di badan kita dan bertahan terus hingga kita diberi kesempatan untuk melihat bunga serupa di tahun setelahnya oleh Dia Si Pemilik Taman.




Salam bahagia,



Sunday, April 26, 2015

Romantisme Kopi dalam Filosofi



What friend do you choose to through the times to stop and think?

Sudah lama ingin menuliskan tentang ini sejak 9 April 2015, tanggal dirilisnya film bertajuk Filosofi Kopi di seluruh bioskop di Indonesia, walau pada kenyataannya di hari itu baru satu bioskop yang memutarkannya di Solo.


Karena saya bukan kritikus film, jadi saya hanya akan menuliskan sedikit tentang film ini. Apa yang bisa saya bilang tentang film ini mungkin, punya sinematografi yang bagus dan beda dari yang lain, kreatif tentang bagaimana kopi dijadikan latar belakang cerita, dikaitkan dengan sumber masalah dan penyelesaian masalahnya. Nice acting dari dua tokoh utamanya, di luar fakor ketampanan ke duanya, tapi saya cukup amazed dengan kemampuan ke duanya beradu akting, walau saya juga masih menyayangkan kehadiran tokoh perempuan sebagai pihak ketiga yang menurut saya kurang maksimal. Filosofi kopi memanjakan mata saya dengan sinematografinya yang cukup baik, walau di awal sempat “goyang” dan saya tidak paham apa itu memang suatu kesengajaan atau memang kesalahan, dengan pengambilan gambar proses pembuatan kopi dari yang tradisional hingga yang sangat shopisticated. Nilai yang ingin disampaikan juga berhasil sampai ke otak saya, dan membuat saya berpikir tentang sebuah pijakan di antara sisi realisme dan idealisme saya sepanjang jalan pulang setelah menonton. Saya menghadiahkan 4 bintang untuk Filosofi Kopi untuk itu semua.

Kopi Indonesia dalam Angka
Sejak pertengahan tahun 2014 saya mulai merasa kopi perlahan menjadi sebuah tren di kalangan anak muda. Hal ini dilihat dari mulai meningkatnya varian kopi instan maupun kopi siap minum yang hadir di tengah masyarakat dan memang ditargetkan untuk anak muda. Dilanjutkan dengan promosi film Filosofi Kopi yang dimulai di awal-awal tahun 2015, dan terus berlanjut hingga saat ini, seiring dengan dirilisnya film tersebut di bioskop-bioskop Indonesia.

Ini bisa jadi baik, peningkatan minat terhadap kopi oleh kalangan muda-mudi bisa berdampak baik terhadap para petani kopi. Salah satu target pertanian kopi di tahun 2014 kemarin adalah dengan meningkatkan produksi dan ekspor kopi ke mancanegara. Produksi kopi di Indonesia ditargetkan meningkat 2,9% dibandingkan tahun 2013, atau sebanyak 711.000 ton biji kopi, target tersebut diharapkan mampu melampaui hasil produksi sebelumnya, yakni 691.000 ton. Sementara itu, Indonesia sebagai negara produsen kopi tebesar ketiga di dunia ditargetkan meningkatkan hasil ekspor kopinya hingga ke angka 575.000 ton di tahun 2014 dibandingkan di tahun sebelumnya yang baru mencapai 540.000 ton. Namun pada kenyataannya, Hutama Sugandhi selaku Ketua Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI) menyatakan bahwa ekspor kopi secara nasional turun 20% hingga 25%. Hal tersebut disebabkan oleh anomali cuaca di Indonesia yang cukup memukul angka produksi juga turun sebesar 20%-25%. Adanya cuaca kemarau panjang di Brasil menjadi peluang tersendiri untuk Indonesia untuk kemudian mengejar ketinggalan untuk setidaknya ada di angka normal seperti pada tahun 2013 di tahun ini.

Hal lain yang juga disayangkan dari pertanian kopi di Indonesia adalah kopi yang diproduksi di Indonesia masih sekitar 85 persennya adalah kopi robusta, sementara kebutuhan kopi di dunia 60 persennya adalah kopi arabika. Infrastruktur masih menjadi salah satu alasan mengapa kemudian penggenjotan pertanian kopi arabika di Indonesia masih lesu. Sementara untuk lahan sendiri, Indonesia masih memiliki banyak lahan untuk ditanami kopi jenis arabika, target pemerintah sendiri pada tahun 2014 adalah dengan mengekstensifikasi lahan hingga 2.000 hektare untuk penanaman kopi jenis arabika.

Indonesia telah memiliki peringkat yang cukup memuaskan sebagai negara penghasil kopi terbanyak di dunia, bersaing dengan Vietnam diurutan kedua dan Brazil di urutan pertama. Selain pengembangan infrastruktur demi kemudahan penanaman kopi di Indonesia, sudah semestinya pemerintah juga mensejahterakan kehidupan para petaninya. Salah satu caranya adalah dengan memberikan penyuluhan atau sosialisasi terkait penanaman kopi yang baik agar menghasilkan kopi yang berkualitas, karena kopi yang berkualitas tentu akan meningkatkan harga jual dari kopi itu sendiri dan akan berimbas pada kehidupan petani. Tentu kita tidak ingin, kejadian yang terjadi pada tahun 90-an terulang lagi di mana, pasar dunia dipenuhi kopi-kopi yang berkualitas rendah sehingga harga kopi pun merosot jauh.

Di sisi lain, sedih rasanya saat harus membaca cerita-cerita tentang petani kopi di negeri ini. Bagaimana tidak? Kopi, salah satu komoditas yang membawa Indonesia bertengger di posisi nomor 3 sebagai negara dengan produksi kopi terbanyak justru harus mendapati petani kopinya merasa, tidak imbang antara apa yang mereka dapat (dalam hal ini uang) dengan hasil produksi dan lahan yang mereka miliki. Pembenahan mutu dan kualitas kopi lokal sudah seharusnya menjadi salah satu fokus pemerintah maupun pemodal-pemodal dalam semangat untuk mensejahterakan hidup petani kopi di Indonesia.

Tren Dahulu dan Tren Kini
Tentu masih hangat dalam ingatan kita di tahun 2012 lalu juga dirilis film yang meledak di kalangan muda-mudi, kaya akan nilai persahabatan dan filosofi. 5 Cm, sebuah film yang juga diadaptasi dari novel best seller karya Dhonny Dhirgantoro, tidak hanya meledak di bioskop-bioskop di Indonesia, film ini juga melahirkan suatu tren atau gaya hidup baru di kalangan muda-mudi, naik gunung. Setelah sebelumnya mungkin tren naik gunung ini baru ada di kalangan anak-anak Pecinta Alam setelah dipopulerkan oleh Soe Hok Gie, aktivis pergerakan mahasiswa yang juga anak Pecinta Alam. Setelah film itu keluar, gunung-gunung di Indonesia pun menjadi sangat populer di kalangan muda-mudi, hingga pada akhirnya sampailah kita ke titik di mana tidak hanya yang manusia yang sampai ke puncak gunung, tapi juga sampahnya. Tidak hanya sampai di situ, kasus kebakaran di Kawasan Hutan Lindung Gunung Lawu pun terbakar di tahun 2014, hal tersebut dikarenakan ada salah satu pendaki yang lupa mematikan api unggun di kawasan tersebut, kelalaian ini cukup disorot (dan dikutuk) tidak hanya oleh para pecinta alam yang sering mendaki gunung, tetapi juga dari para pemerhati lingkungan. Inikah salah satu akibat dari “mengikuti tren” tanpa adanya rasa cinta dan tanggung jawab?

Lalu apa hubungannya dengan filosofi kopi dan kopi? Kopi sendiri belum jelas apakah memang tradisi dari Indonesia atau bukan. Bahkan orang Gayo pun pertama kali menanam kopi sebagai tanaman pagar dan hanya mengonsumsi daunnya untuk dijadikan teh, baru setelah orang-orang Belanda datang ke Gayo, mereka mengonsumsi buah kopinya, itu pun tidak menjadikan kopi sebagai tanaman satu-satunya yang mereka tanam, kopi masih dijadikan tanaman sampingan. Beda lagi dengan Italia, bolehkan saya bilang ini negara asal Kakek Buyut Kopi? Di mana pagi mereka meminum kopi, mengobrol memesan kopi, pulang kantor juga ngopi. Lalu tiba-tiba entah tren yang bermula dari mana, apakah tren ini ada sebelum film ini rilis ataupun sebaliknya, yang jelas menurut saya, adanya film Filosofi Kopi bisa saja menguatkan budaya ngopi di kalangan muda-mudi.

Pertama kali saya mencoba kopi saat saya masih kelas 5 SD, saat itu saya menyeruput kopi yang dibuat Bapak saya, dan saat itu juga saya dimarahi, karena katanya, saya masih kecil. Tapi lambat laun, saat saya menginjak kelas 8 SMP, Bapak malah menjadi teman ngopi saya saat sedang menonton pertandingan Liverpool FC. Sampai saat ini saya juga masih mngonsumsi kopi, saya mengonsumsi kopi dengan menyesuaikan mood dan jam, itu artinya saya juga masih suka kok minum teh, karena seringkali beberapa teman saya bilang “Jangan ngopi terus lah...”. Di sini, saya belum melihat bahwa ngopi adalah sebuah budaya di tempat saya tinggal, entah itu di Jakarta, di Yogyakarta atau di Surakarta. Beda cerita saat kita bilang Wedangan. Wedang sendiri berarti minuman dalam bahasa jawa. Aktivitas yang dilakukan saat wedangan bisa berupa mengobrol, makan makanan kecil atau minum. Namun aktivitas minum minuman saat Wedangan pun tidak hanya dibatasi dengan meminum kopi saja, toh di lapangan banyak juga yang meminum Teh Hangat, Jahe Hangat, Susu Jahe, bahkan Es Teh pun masih dibilang sedang Wedangan.

Poin yang saya soroti selanjutnya adalah bagaimana penggambaran Kafe Filosofi Kopi di bilangan Melawai seperti pada cerita. Secara implisit, film tersebut memberikan apa yang kemudian diinginkan anak muda untuk menjadi teman ngopi. Seperti, adanya Pendingin ruangan dan Wifi Hotspot sebagai instrumen pendukung saat muda-mudi sedang ngopi. Ditambah lagi dengan desain interior kafe yang tidak bisa saya pungkiri terlihat nyaman. Apakah Filosofi Kopi mencoba memberikan standar ngopi dengan nyaman lewat film ini? Hanya sutradaranya yang tahu.

Lalu apa yang terjadi jika kopi tidak dihidangkan dalam ruangan-ruangan ber-AC dan ber-wifi? Apa yang terjadi jika kopi dihidangkan secara sederhana di pinggir jalan, di bawah terpal dengan cahaya yang berasal dari lilin dan lampu petromaks? Jika tidak didampingi oleh croissant atau sandwich, tetapi satu dua bungkus kacang goreng? Akankah kemudian kopi masih menjadi tren di kalangan muda-mudi?

Berfilosofi dengan Kopi

Sederhanakah dia seperti kelihatannya?

Kopi Tubruk itu sederhana, tapi sangat memikat kalau kita mengenalnya lebih dalam.Ben (dalam Filosofi Kopi)
Kalimat di atas adalah salah satu filosofi Kopi Tubruk yang diungkapkan Ben dalam salah satu scene di Filosofi Kopi. Namun begitukah? Setujukah anda? Saya sendiri sejujurnya memikirkan hal lain. Bagaimana jika Kopi Tubruk adalah ungkapan idealisme akan kemurnian seseorang. Saking murninya, iya hanya ingin kopi tanpa sentuhan apapun, karena menganggap itu akan mengubah cita rasa asli dari kopi. Karena menurutnya, kesempurnaan itu adalah saat dia menemukan sesuatu yang asli tanpa banyak polesan atau topping, apakah idealisme yang sedemikian itu mengungkapkan sebuah kesederhanaan? Atau justru menggambarkan keegoisan?

Kopi dan filosofi, saya tidak terlalu memusingkan soal ini, toh memang tidak ada pakemnya sama sekali. Seperti halnya, Ben(atau Dee sebagai pencipta karakter Ben) bisa mengatakan demikian, tapi saya justru berkata lain. Hampir setiap saya menulis, paling tidak selalu ada secangkir kopi yang menemani saya, tapi sudah dua hari menulis, saya tidak ditemani satu gelas pun. Setelah sekian lama, saya percaya bahwa kopi adalah sumber inspirasi untuk menulis. Sepertinya kegelisahan tentang bagaimana orang akan mencintai kopi setelah menonton film atau mengikuti budaya pop yang berkembang lebih besar daripada menulis sambil menyesap kopi−sebagai sumber inspirasi, yang saya buat seperti yang saya lakukan dahulu.

Toh pada akhirnya, kita dibawa kopi dari awal yang belum tentu sama, ke pengalaman-pengalaman yang berbeda, dan akhir perjalanan yang entah akan seperti apa. Namun, akan sangat disayangkan jika kemudian minum kopi hanya bagian dari pop culture belaka. Sementara negara sendiri masuk ke jajaran produsen kopi terbesar di dunia. Saya tidak meminta semua orang untuk kemudian mengonsumsi kopi sih, toh Mama saya pun sudah divonis tidak bisa mengonsumsi kopi sedikit pun. Tapi, saya lebih ingin menghindarkan ngopi menjadi bagian dari budaya pop, karena jika iya, maka akan mudah juga perginya kopi dari benak dan standar rasa masyarakat.

Di luar fakta rasa suka saya terhadap kopi, mungkin hanya ini yang bisa saya lakukan untuk mengapresiasi karya petani di negeri yang kaya kopi ini. Semoga pertanian kopi Indonesia semakin menjadi yang terdepan, dan mampu melampaui Brasil yang sudah menguasai 45% perdagangan kopi di dunia, dan pertanian kopi mampu menyejahterakan petani kopi di penjuru negeri.



Selamat Ngopi!




Saturday, April 25, 2015

Mahasiswa Riwayatmu Kini

Banyak yang menggantungkan harapannya pada mahasiswa, sadarkah?
Sabtu siang ini, Solo masih diselimuti awan mendung. 26oC cukuplah untuk membuat mood berada di level sendu dan ingin membenamkan diri di bawah selimut sambil menonton drama Korea dan secangkir teh hangat. Siang ini, saya malah ada di sebuah warung makan, sehabis membeli obat untuk Si Mbah dan beberapa makanan yang beliau pesan. Di tengah-tengah makan, tiba-tiba terbesit sebuah pertanyaan,
"Udah ngapain aja lu jadi mahasiswa?”

Sial. Pertanyaan seperti itu hadir di tengah-tengah makan, dan sukses membuat saya berhenti untuk berpikir dan sirna sudah keinginan untuk pulang ke rumah cepat-cepat. Udah ngapain aja lu jadi mahasiswa? Terus terngiang di telinga saya. Hal ini langsung membawa saya ke beberapa momen di mana kondisi mahasiswa saat ini tidak seperti bagaimana otak saya pernah memimpikannya. Otak ini membawa saya kembali ke momen di mana ada ‘adu chat’ (karena memang terjadi di grup messenger) di mana mahasiswa saling serang mahasiswa lainnya, bahkan juga mengebiri gerakan mahasiswa lainnya. Atau satir-satir yang bertebaran di lini masa media sosial maupun media cetak tentang pergerakan organisasi mahasiswa saat ini. Saya yang melihat hanya mampu berdecak sambil sesekali memberikan komentar tapi berusaha untuk tidak masuk ke dalam perdebatan manapun.

Miris
Sedih jika harus mengomparasi perjuangan pergerakan mahasiswa di zaman dahulu dengan yang terjadi hari ini. Jika melihat ke belakang, teman-teman mahasiswa pada masa itu saling bersatu, bahu membahu untuk menyempurnakan kemerdekaan yang dulu pernah digaungkan. Melawan tirani yang nyata, bisa dikatakan, musuh mereka terlihat dan idealisme mahasiswa pada zaman itu belum diusik dengan pengaruh-pengaruh kehidupan yang individualis.
Hari ini, saya masih melihat bagaimana kemudian mahasiswa yang bergerak di lini satu mencederai gerakan mahasiswa lainnya. Mengatakan gerakannya lah yang lebih efektif, atau gerakan yang dilakukan oleh teman-teman lainnya adalah gerakan yang sia-sia dan buang-buang tenaga. Sudah tidak ditemukan lagi tokoh-tokoh seperti Tan Malaka yang dekat dengan Soekarno, karena saat ini, mahasiswa dengan gerakannya sudah terkotak-kotak dengan jas alamaternya, jaket gerakan eksternal kampusnya, bahkan ke ideologinya. Sehingga akhirnya, saat masing-masing dari mereka turun aksi(baik demonstrasi atau dalam bentuk lain) yang timbul justru saling mencederai dan menghakimi. Mahasiswa terkenal kuat dengan idealisme yang dipegangnya, namun apakah kemudian ini yang membuat mereka jadi sedemikian keras dan tidak menerima gerakan saudara-saudara seperjuangannya, wahai mahasiswa?

Pertanyaan
Kemudian pertanyaan lainnya muncul. Sering sekali saya membaca beberapa respon dari teman-teman baik yang mahasiswa maupun yang bukan, mengenai bagaimana seharusnya mahasiswa bergerak dalam mengkritisi dan merealisasikan Indonesia yang lebih baik? Di antaranya menjawab, “work through passion” , “serius kuliah dulu deh, yang bener, nanti kalo udah lulus baru deh ubah sistem dengan masuk ke jajaran pemerintahan” atau jawaban lainnya seperti “Screw it! I don’t believe in our Government or media, it’s all bullshit!
Katakanlah saya saat ini mengambil dua jawaban yang pertama, saat kita benar-benar bekerja sesuai dengan passion kita, sudahkah kita menuliskan “Untuk Indonesia yang lebih baik” dalam hati kita sebagai semangat dan cita-cita? Atau hanya berdasarkan keinginan atau bahkan ketakutan terpenjara dalam sesuatu yang kita lakukan? Lalu untuk jawaban nomor dua, masihkah kita memegang kalimat itu saat kita lulus kuliah nanti? Mampukah hati kita berjanji demikian? Di mana satu-satunya kemewahan yang saat ini kita, para mahasiswa, miliki adalah idealisme yang ada di dalam otak dan hati kita masing-masing, setidaknya begitu kata Tan Malaka. Padahal, saat setelah lulus nanti, kita dihadapkan dengan kehidupan yang lebih nyata di mana, kita harus bertahan, even earn something for a living, bisakah idealisme yang dahulu dimiliki di bangku universitas diterapkan di realitas setelah keluar dari gerbang universitas? “Kalo masih fresh graduate entar mah, kudu berpikir realistis biar  nggak  terpenjara idealisme diri sendiri” ada juga loh yang mengatakan demikian. Jadi, untuk mengantisipasi ide-ide yang mungkin akan sulit terealisasikan karena faktor lingkungan di masa depan, kenapa harus menunggu nanti saat kita bisa bergerak dan mengusahakannya di lini kita untuk Indonesia saat ini juga?

Harapan
Mahasiswa telah menjadi harapan bagi masyarakat, karena bagaimanapun juga negara ini akan dilanjutkan oleh para mahasiswa sebagai agen perubahan, pengendali sosial dan fungsi-fungsi lainnya yang ada di pundak mahasiswa. Posisi mahasiswa saat ini sesungguhnya ada di tataran Middle Leader. Bukan posisi yang tanggung, justru menguntungkan, karena di posisi ini mahasiswa bisa lebih dekat dengan masyarakat, akademisi maupun pemerintah. Sehingga dalam mentransformasikan ide yang ada di kepala untuk menjadi aksi-aksi nyata pun perlu dibagi target atau sasarannya ke tiga pihak tersebut, masayarakat, akademisi dan pemerintah. Ada yang mengkritisi, mengadvokasi dan memberi usulan solusi ke pemerintah, ada yang membuat riset, membuat inovasi untuk penyelesaian masalah di masyarakat dan ada pula yang melayani masyarakat. Ketiga lini ini harus bergerak sinergis untuk mewujudkan cita-cita bersama. Tak perlu mencederai, yang ada memang harus saling support dan saling ingin mendenggarkan dan memperbaiki diri jika memang yang dilakukan kurang pas oleh mahasiswa lainnya yang tidak tergabung dalam gerakan itu. Bergerak di lini masing-masing itu sangat perlu, jika kita ingin negara ini kemudian maju di banyak sektornya, bukan hanya satu atau dua saja.
Terakhir, selain menyertakan cita-cita “Untuk Indonesia yang lebih baik” di hati dalam bergerak, sertakan pula Allah dalam setiap langkah. Saya yakin, sumber semangat yang tidak akan habis adalah sesuatu yang datang dari sisi rohani seseorang lewat percaya dan menyertakan Tuhan dalam setiap langkah.
Dan dasar pergerakan adalah nurani yang bernyala dan hati yang ikhlas, yang bersih dari ambisi pribadi dan kepentingan dunia, yang tidak mengharap sorot lampu popularitas dan riuhan tepuk tangan. –M. Yoga Permana


Populis ataupun strategis, gerakan mahasiswa sudah sepatutnya sinergis. 
Selamat siang.





Monday, March 9, 2015

Akhir Adalah Sebuah Awal.

Katanya sih begitu. Iya, kata orang-orang akhir dari sesuatu adalah awal dari sesuatu lainnya. Boleh jadi itu memang sebuah kebenaran tapi bisa adalah sebuah optimisme spiritual yang dikonstruksi oleh sebagian orang dan diamini sebagai kebenaran mayoritas oleh masyarakat yang katanya menganut sistem demokrasi ini.
Tapi di luar perdebatan apakah “akhir adalah sebuah awal” adalah sebuah kebenaran atau bukan, saya memilih untuk percaya bahwa ia memang sebuah kebenaran. Diawali dengan kenyataan bahwa saya dan rekan-rekan saya tidak bisa membawa proyek kami ke negeri Sakura, belom rejeki istilahnya, ternyata membawa kami pada manfaat-manfaat lain yang membuat kami lebih mencintaiNya. Ini bukan sekedar optimisme spiritual seperti kata seorang teman, ini adalah sebuah tanda seorang umat percaya dan meyakini Tuhannya.

Katakanlah benda berbentuk lingkaran ini adalah kehidupan, maka bagian mana yang kamu sebut nikmat? Bagian saat kamu berada di atas atau sisi sebaliknya?


Syukur
Syukur. /syu:kur/ (n) Rasa terima kasih kepada Allah.
Syukur adalah salah satu sikap berprasangka baik kepadaNya dalam kondisi apapun. Ada 3 cara Allah mengabulkan doa-doa hambaNya, yang pertama dengan langsung mengabulkan doa mereka, yang kedua dengan menahan dulu untuk melihat bagaimana usaha kita selanjutnya, dan yang ketiga adalah mengabulkan doa mereka dengan mengganti nikmat lain yang umatNya butuhkan. Butuhkan. Dari ketiga cara Allah mengabulkan doa umatNya, yang ketiga inilah yang kali ini membuat jantung saya berdegup lebih cepat saat menuliskannya di tengah perjalanan saya menuju ke tanah rantau, Solo.
Awalnya, pergi ke negeri Samurai itu memang tidak pernah ada dalam daftar mimpi atau cita-cita, atau proposal hidup atau apalah setelah hampir dua dekade saya hidup. Tapi ketiga sahabat saya yang juga peduli akan perfilman dan pertelevisian ramah anak membuat saya ikut ke sebuah proyek yang membuat kami berjalan sejauh ini.
Suatu sore kami berbincang tentang apa tujuan masing-masing dari kami menghabiskan waktu dengan melakukan pemutaran film, produksi film pendek, kajian hearing sana-sini.
“Aku mau jadi agen Muslim dan melihat bagaimana agama Allah di negeri Sakura”
“Aku mau jadi inspirasi buat teman-teman  karena aku bisa bikin film anak, dan juga inspirasi buat Keluargaku.”
“Aku mau jadi inspirasi buat adik-adikku dan bisa jadi orang yang ikut bantuin nyoret Jepang dari daftar mimpi kalian.”
Kira-kira begitu mimpi kami pribadi tentang proyek ini, selain memang mimpi kami bersama adalah menyebarluaskan ide Bioskop Keliling Anak dan dapat diadaptasi di berbagai tempat, pokoknya ini untuk anak-anak dan media. Melipat gandakan kebaikan kalau kata Mentor kami.

Pernah suatu hari kami juga mengatakan untuk masing-masing dari kami,
“Pokoknya Jepang itu bonus, proyek ini orientasinya tetap bagaimana agar ini bisa terus berlanjut, dan nggak sampai di sini.”
Tapi kemudian, saya harus meralat pernyataan yang pernah saya ungkapkan itu, karena sejatinya Jepang tidak akan pernah bisa menjadi bonus dari perjalanan pendek sarat akan pelajaran dan makna ini. Lagi, Allah mengajarkan kami dengan cara yang sangat luar biasa. Perjalanan 3 sampai 4 hari di Jepang yang mungkin tadinya akan kami nikmati akhir Maret ini belum tentu sepadan dengan bagaimana tiga bulan ini kami dikejar deadline menggarap penelitian dan paper yang tanpa kita sadari tanpa kami sadari makin mempererat ukhuwah yang terjalin. Tawa kami esok hari di bawah rinai salju atau wangi Sakura yang tertiup angin juga tidak mampu menggantikan tawa kami bersama Tasya, Petra dan Tegar yang terus mengulang-ulang scene  “Kok dijipuk to?” Atau tepuk tangan, riuh rendah setelah presentasi proyek kami di Universitas Hokkaido besok juga mungkin tak akan sepadan dengan hujan doa dari orang-orang yang senantiasa membantu kami tak kuat dan tak kurang semangat.

Jika memang pergi ke Kota di Utara Jepang itu adalah sebuah bonus, maka itu tidak pernah sepadan dengan makna dan ilmu yang Dia berikan kepada kami di perjalanan ini.
La in syakartum laa adzidanakum (Bersyukurlah maka Allah akan menambah nikmatmu) (Q.S Ibrahim:7)
Syukur membuat kita melihat dari sudut pandang lain. Syukur pula yang membuat kita lebih mencintaiNya. Karena dari syukur pula, kita dapat menangkap nikmat-nikmat lain dibalik satu hal yang sebelumnya kita anggap sebuah nikmat.


Rezeki
Rezeki /re:ze:ki/ (n) 1. segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan (yang diberikan oleh Tuhan); makanan (sehari-hari) 2. (ki) penghidupan; pendapatan (uang, dsb untuk memelihara kehidupan); keuntungan, kesempatan mendapat makan.

Setelah sekian lama pikiran ini dikonstruksi oleh media dan stereotype yang ada di tengah masyarakat tentang kata rezeki yang divisualisasikan menjadi uang, rumah yang nyaman, kendaraan yang nyaman, keadaan saat “roda” kita berada di atas, segala hal yang membuat kita merasa bahagia, akhirnya momen itu tiba di mana rezeki punya arti lain bagi kami.

Lewat tangis haru masing-masing dari kami, Allah membawa kami pada suatu titik di mana kami menyimpulkan bahwa rezeki bukan hanya hal-hal fisikal yang mampu dilihat dengan mata seperti yang selalu diperlihatkan sinetron-sinetron yang mengoyak sisi melankolis setiap penontonnya di mana rezeki selalu divisualisasikan dengan kondisi yang minimal cukup dibandingkan dengan kondisi yang serba kurang. Dari perjalanan ini kami menyimpulkan bahwa rezeki dapat berwujud sahabat yang selalu ada di samping kita, rezeki dapat berupa kemampuan untuk bersabar, kuat, atau berlapang dada, karena yang kesemuanya itu adalah nikmat-nikmat yang tidak mampu digantikan dengan benda-benda yang ditawarkan dunia.

Bahkan keadaan terhimpit pun adalah sebuah rezeki. Lalu mungkin kita bertanya di mana nikmatnya dalam keadaan terhimpit? Jawabannya adalah di saat-saat kita berdoa dan berbincang dengan Allah, momen-momen di mana kita dapat mendekatkan diri dengan Sang Khalik. Momen di mana mungkin sebelumnya tanpa sadari kita selangkah menjauh dariNya. Adalah sebuah nikmat tersendiri di mana Dia masih menginginkan kita untuk bersujud dan melafadzkan dzikir menyebut namaNya.
Ada banyak orang yang ingat Tuhannya saat ada di posisi terbawah dalam hidupnya, meminta untuk dikeluarkan dari segala kesulitan, tapi ada berapa yang lantas minta dikeluarkan dari ujian nikmat saat iya ada di masa-masa keemasan dalam hidupnya saat sesungguhnya kondisi itu adalah sebuah ujian baginya?
Terakhir, semoga kita senantiasa ditundukkan pandangannya di atas segala nikmat, agar terhindar dari riya’ ataupun sombong. Dan ini menjadi titik baru di mana kita menjadi manusia yang lebih bersyukur. Aamiin.






Saturday, July 12, 2014

Lembayung Lagi

"Kopi Jahe deh, Mas..."
Lagi, setelah 5 bulan berpisah akhirnya kami dipertemukan kembali di bawah sebuah kedai dengan suasana syahdu di temani hawa dingin semberibit Yogyakarta sehabis disiram hujan sore tadi.

Kami bersebelas duduk di meja yang sama dengan beberapa gelas kopi tubruk yang hanya tinggal sisa ampasnya, piring roti bakar, beberapa gelas tinggi yang memesan kopi 'kontemporer' macam capuccino atau latte, korek dan bungkus rokok, tapi dengan kesibukkan yang berbeda. Satunya sibuk mendengarkan musik lewat headsetnya setelah frustrasi menunggu orang di meja depan yang tak kunjung selesai meminjam gitar, dua orang yang matanya terpaku pada layar laptop dan jemarinya yang lincah menari di stick, main PES, dua yang lain ngobrol soal kota baru tempat menuntut ilmu di mulai dari karakteristik orang, harga barang hingga ke peluang usaha, tiga yang lain membantu mendesain Poster teman yang PKMnya lolos sambil sesekali melihat palet warna dari tab sebelah, satu lainnya pamit pulang dulu untuk mengaji, dan aku multitasking antara membalas chat, melihat timeline dan bersyukur, pada hari ini kami masih dipertemukan dalam keadaan sehat walafiat.

Tidak begitu mengerti apa yang aku ingin ceritakan. Antara rasa bersalah dan bersyukur kembali lagi ke halaman ini, setelah perjalanan jauh dan melelahkan mencoba bertahan dari segala macam deadline, hingga hampir saja aku lupa pulang ke halaman ini.
Setiap tempat punya cerita. Setiap sesap kopi mengandung banyak arti
−Anindya Roswita
Jika ditanya, what keeps you going so far? Maka aku akan menjawab, my faith to God, my spirit for Mom, my optimism for my nation and my sincerity for my religion. Lanjut pertanyaan selanjutnya, "what makes you going?" Then I'll answer it, short and crystal clear, "coffee".


...


Pukul 11.48 Waktu Indonesia bagian Barat. Sebenarnya masih di bawah pengaruh kopi jahe yang aku pesan semalam. Kopi yang ampas kopinya bahkan hampir setengah gelasnya, ditambah beberapa potong jahe yang ditumbuk. Cukup untuk membuat siapa saja yang menegaknya terjaga hingga pukul lima. Semacam uji nyali untukku yang punya maag  dan meminum kopi dicampur jahe, efek hangat yang jika maagku kambuh juga akan terasa efek "membakar"nya di lambung. Tapi, nikmat itu memang tidak bisa dibohongi, saat disodori list menu di daftar kopi aku seakan tidak memiliki pilihan lain untuk meminum kopi macam lainnya. Sudah cinta sepertinya.

Kopi dan sahabat mereka sama halnya dengan rumah. Tempat kita pulang dan beristirahat saat kita sudah pergi terlalu jauh. Saat kita mulai hilang arah. Sebagai pengingat akan mimpi-mimpi yang pernah tertuang di cangkir kopi kita masing-masing. Sebagai cambuk yang tak segan menampar kita saat kita sudah tersasar terlalu jauh. Sebagai cermin diri di mana kita tak akan ragu menjadi manusia merdeka seutuhnya.

Sesederhana kopi tubruk. Sehangat jahe tumbuk. Itulah sahabat. Tak perlu kriteria A-Z untuk mendapatkan sahabat seperti kesepuluh orang yang tadi malam duduk di depanku. Orang-orang yang selalu menerima kita dengan hangat dengan tawa renyah dan ramah sejauh dan selama apapun kita pergi. Lembayung sekali lagi membuatku berfilosofi dalam tawa sahabat, dalam iringan musik yang tumben nggak genah, dalam dinginnya Kota Yogyakarta malam itu.


Lembayung, nanti aku datang lagi
Masih dengan Kopi Jahe untuk yang kesekian kali






Saturday, June 21, 2014

Berbagi Rasa

Hujan. Malam itu hujan gerimis mengguyur Kota Solo.
Dingin. Hangatnya Solo tak terasa, entah pergi ke mana.
Rapat. Kurapatkan lagi sweater yang kupakai, memanjangkan lengannya hingga menutupi jemariku.

Tapi, di sini berbeda dengan di luar.
Di mana ratusan orang berdiri berhimpitan, memandang satu panggung yang bermandikan cahaya lampu sorot berwarna-warni.
Ada yang berdiri, tertawa haha-hihi dengan sahabat sejawat.
Ada pula yang menikmati romantisme konser kecil, bergandengan tangan walau tidak ingin menyebrang dengan kekasih tercinta.
Ada lagi yang berdiri sendirian di tengah keramaian, gegap gempita, suara riuh rendah, menikmati setiap bait lirik yang dinyanyikan, menyelami dirinya sendiri, bahagia sendirian.



Tak perlu tertawa atau menangis
Pada gunung dan laut
Karena gunung dan laut
Tak punya rasa

Bukan lagu pertama yang dimulai malam itu. Bukan lagu yang dinyanyikan paling keras juga pada malam itu. Bukan lagu yang paling terkenal juga saya rasa, mengingat single pertama yang dikeluarkan adalah “Angin Pujaan Hujan”, yang menurut penilaian pribadi, adalah lagu yang dinyanyikan paling keras malam itu.

Cerita Tentang Gunung dan Laut mengingatkanku dengan teman-teman, tidak-tidak, hanya diriku sendiri. Seringkali saat aku bersedih, merasa bahagia, bersemangat, atau merasa penat dengan segala rutinitas yang selama ini membelenggu, yang ingin aku lakukan adalah pergi ke manapun, asal jauh dari tempat di mana aku melakukan segala kegiatanku, laut misalnya(hanya ke laut, karena sampai detik ini Mama belum juga memberikan izin untuk pergi ke gunung).  

Di sana di bibir pantai, kadang aku hanya duduk saja memandang laut, memandang langit, memandang anak-anak kecil yang asik bermain pasir. Di sana di bibir pantai kadang aku hanya bermain di pinggir pantai, membiarkan jilatan-jilatan ombak menggelitik permukaan kulit kakiku, melangkah dari karang ke karang hingga tanpa kusadari, aku telah jauh dari bibir pantai kemudian kembali ke tempat awal. Di sana di bibir pantai, kadang aku hanya mengambil beberapa foto, foto pasir, foto kerang, foto pecahan karang yang terbawa ke pasir pantai, foto sandal, foto orang , foto langit, foto selfie...

Tapi, biarlah, abaikan apa-apa yang aku lakukan, toh setiap orang pasti punya cara-caranya masing-masing untuk menikmati tempat-tempat terbaiknya. Payung Teduh dengan lagunya yang malam itu menggema ke penjuru Gor Manahan membawaku ke sebuah pertanyaan, 

“Mengapa kita harus susah-suah pergi ke suatu tempat yang jauh dari kehidupan kita, ke gunung atau ke laut untuk melepaskan apa yang selama ini membebani?”

Sebelumnya, inilah hasil interpretasiku soal lagu, kalau memang dangkal atau bahkan salah kaprah, tulis apa dan bagaimana seharusnya di kolom komentar, ajari aku. Kritik atau hina juga boleh, yang penting jangan biarkan aku salah berlama-lama.

Malam itu, “Cerita Tentang Gunung dan Laut” membuat pertanyaan yang tadi sudah aku lontarkan tadi bergema berkali-kali di pikiranku.

“Mengapa kita harus susah-suah pergi ke suatu tempat yang jauh dari kehidupan kita, ke gunung atau ke laut untuk melepaskan apa yang selama ini membebani?”

 Aku mempertanyakan kebiasaanku atau kita atau bolehlah hanya aku saja, yang suka sekali berlari ke tempat-tempat itu, untuk bercerita. Kita menangis, kita tertawa, kita menjerit, kita terbahak-bahak seakan mereka punya rasa, seakan mereka tahu bagaimana rasanya menjadi kita kala itu.

Aku mempertanyakan kebiasaanku atau kita atau bolehlah hanya aku saja, yang senang sekali menyampaikan apa-apa yang kita rasa, menceritakan soal rasa, mengutukki rasa, semua soal rasa, kepada sesuatu yang tak punya rasa.

            Gunung dan laut mereka tak punya rasa, tetapi kenapa kita masih saja mendatanginya untuk berbagi rasa? Aku berpikir, apakah kala itu kita lupa bahwa tak perlu jauh-jauh hingga ribuan meter di atas permukaan laut atau berkilo-kilometer ke pelosok negeri, mencari hingga dibalik perbukitan untuk menemukan ujung dari sebuah daratan dan bercerita, karena sesungguhnya ada di sana, selembar sajadah yang hanya terhitung 3 langkah dari di mana aku menulis pos ini, yang siap menjadi alas sujudku saat berbagi rasa kepada Dia yang menciptakan rasa, yang mengendalikan rasa, yang menghapus rasa. Kenapa harus berkilo-kilometer jauhnya untuk merasakan kedekatan spiritual tertinggi saat sesungguhnya Dia berada sangat dekat, lebih dekat daripada urat nadi kita sendiri?

Aku tak pernah melihat gunung menangis
Biarpun matahari membakar tubuhnya
Aku tak pernah melihat laut tertawa
Biarpun kesejukkan bersama tariannya

Malam itu ditutup dengan sepotong tahu bacem, setengah gelas kopi hitam dan rasa syukur kepadaNya atas makna yang selama ini aku tangkap di waktu-waktu yang tak pernah bisa aku duga. Dia memang selalu saja punya cara-cara istimewa untuk mengingatkan hambaNya.






Monday, March 24, 2014

Setelah Berpindah-Pindah

Buku catatan di tangan telah dipenuhi dengan rangkaian kata tegak bersambung semaunya, di tengah malam ini, sepertinya waktu juga telah mengizinkanku untuk menyambangi Ms. Word lagi untuk sekedar cipika-cipiki berbagi cerita tentang apa saja yang sudah aku lewatkan selama ini saat meninggalkannya.

Sambil membersihkan sarang laba-laba yang hinggap di pojok-pojok blog, aku berpikir tentang ke mana saja aku pergi selama ini. Hingga akhirnya jurnal ini terbengkalai. Teman, selama ini aku pergi ke tempat-tempat di mana amanah dititipkan di tangan ini, kaki ini, mata ini, diri ini-lah. Akhir-akhir ini aku baru merasakan yang namanya hidup sebagai sebuah kumpulan perpindahan. Iya, kumpulan perpindahan. Karena di dalamnya kita tidak akan pernah bisa tinggal di satu rumah, di satu tempat. Kita terus menerus melakukan perpindahan untuk menjalani hidup itu sendiri, tak pernah berhenti. Proses yang ada membuat kita terus berpindah, sampai proses itu dihentikan oleh Yang Punya Hidup itu sendiri. Hidup pada akhirnya tentang bagaimana perpindahan-perpindahan itu mampu membentuk pribadi kita saat ini. Saat seseorang menjadi baik, saat seseorang menjadi jahat, jangan tanyakan apakah dia saat itu, tanyakan bagaimana prosesnya dalam berpindah selama ini.

Tak perlu jauh-jauh sampai harus pindah rumah, keluar dari zona nyaman. Karena, perpindahan bahkan terjadi di dalam zona-zona nyaman kita sendiri. Sebagai contoh, cukup dengan keberadaan kita di dalam sebuah kelompok-kelompok terdekat yang kita ikuti, yang notabene memiliki karakter berbeda antara satu sama lain.

Saya ingat beberapa waktu lalu saya mengikuti grand opening sebuah program asistensi keagamaan, hampir semua orang dalam kegiatan tersebut sepakat mengatakan bahwa tempat yang baik adalah tempat yang memang terkondisikan baik, tempat di mana kita bersama mereka yang akan membersamai kita mewujudkan impian kita bersama, masuk syurga(aamiin). Tetapi otak ini seakan punya antitesis untuk pernyataan tersebut. Eh, tidak se-ekstrim kedengarannya, intinya otak ini seperti ingin mengatakan sesuatu yang lain dari konsep itu. Suatu konsep yang jika diungkapkan mungkin aku akan dipencelengi seisi ruangan saat itu. Tetapi, selama hak untuk mengeluarkan pendapat masih tercantum di Undang-Undang, akhirnya otak ini mendapatkan apa yang ia mau, saat ini.

Kita semua setuju bukan bahwa baik dan buruk adalah suatu hal yang sangat relatif. “Baik”, kata itu memiliki kriterianya masing-masing di benak kita masing-masing. Orang baik adalah orang yang tidak mencontek, orang yang baik adalah orang yang selalu menebar senyum, orang yang baik adalah blablabla dan lain sebagainya. Lalu jika dikaitkan dengan tempat yang baik, apakah tempat yang baik itu?
Tempat yang baik adalah tempat yang senantiasa membuat kita belajarAnindya Roswita

Dunia yang kita tempati ini, harus kita akui bahwa tidak semua orang yang menempatinya adalah orang-orang yang baik. Karena kenyataannya orang yang(katanya) tidak baik pun banyak, ada dinamikanya-lah. Sementara itu, dari umur masih sebesar pithik(bukan secara harfiah) dan ternyata sampai kita duduk di bangku kuliah, kita masih terus diajarkan bahwa untuk belajar itu harus kepada orang-orang (yang menurut masyarakat) baik, dengan segala kriteria yang ada. Nah ini salah satu poin yang akan membuatku dipencelengi bahkan sama ibu sendiri, bukan berarti kita harus terus berkumpul dengan orang-orang yang baik untuk terus belajar. Karena toh, tanpa adanya nilai keburukan tentu tidak ada nilai kebaikan. Nilai keburukkan ada sebagai pembanding sebagai penyeimbang, seperti Ying dan Yang. Mereka yang kita pandang buruk, bukan berarti tidak bisa dijadikan tempat tujuan untuk berpindah, siapa bilang dari sana kita tidak bisa belajar? Siapa bilang belajar harus terus menerus dari sekumpulan orang yang berada di dalam mushola atau kepada bapak ibu dosen di dalam kelas. Sesungguhnya teman, belajar bisa dilakukan di mana saja, bahkan dari orang yang terburuk sekalipun(walau saya yakin, tidak ada orang terburuk, karena Tuhan telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk). Kenapa tidak kita belajar dari preman pasar? Dari mereka kita belajar mengapa mereka bisa menjadi demikian, bagaimana untuk tidak ikut-ikutan, dan yang paling penting, bagaimana caranya menanamkan nilai-nilai kebaikan pada sesuatu yang sudah diberi label buruk oleh masyarakat. Tidak ada sesuatu pun yang mutlak di dunia ini, setidaknya itu yang aku percayai. Tidak ada yang mutlak buruk, karena pasti masih ada kebaikan dalam diri seseorang walau hanya setitik.
Saya pernah mendiskusikan ini dengan Presiden BEM yang pada hari itu juga memberikan sepatah dua patah kata untuk acara grand opening asistensi tersebut. Beliau mengatakan, tentang anjuran untuk berkumpul dengan orang-orang baik yang juga ada di kitab suci Al-Quran, juga menganalogikan tentang wangi tubuh kita yang berkaitan langsung dengan kepada siapa kita berteman, apakah tukang parfum atau tukang ikan?

Aku memiliki suatu pandangan yang berbeda tentang hal ini, iya kalian boleh mencelengiku lagi. Menurutku, tentang bagaimana aroma tubuh kita adalah soal persepsi. Ya, lagi-lagi soal persepsi. Baik dan buruk adalah soal judgement, relatif. Dan disukai atau tidak, kita hidup berdasarkan judgement-judgement yang diberikan orang-orang di sekitar kita. Hanya saja, judgement telah diartikan sebagi sesuatu yang berkonotasi negatif, padahal saat seseorang memberikan pujian tentang kebaya yang kita pakai pun juga merupakan bagian judgement yang bersifat positif. Dan pada akhirnya, bukan soal bagaimana kita membuat tubuh kita sewangi mungkin dengan berkawan dengan tukang parfum, tetapi bagaimana kita bisa menyerap manfaat sebanyak-banyaknya dari tukang ikan juga tukang parfum.
 Pada diskusi kala itu, aku menemukan kalimat yang menjadi semangat untuk terus meelakukan apa yang aku kerjakan, untuk bekerja sesuai dengan passion dan menyerap manfaat dari tempat-tempat aku berpindah dan menebarkan inspirasi sebisa dan semampuku.
Jadilah seperti ikan, mereka bisa menyerap apa-apa saja yang mereka terima, mengambil sebanyak-banyaknya manfaat dan membuang setiap hal buruk yang ada pada suatu tempat−Siswandi

Pada akhirnya, apa-apa yang kita lakukan saat ini bukanlah untuk sebuah jabatan, kekayaan, pangkat atau prestige yang mungkin akan didapat, melainkan untuk mendapatkan ridho Allah. Setiap jalan hidup yang bersilangan dengan jalan hidup yang kita tapakki saat ini pasti bagian dari rencanaNya, termasuk saat ternyata kita harus berada di tempat yang kata orang merupakan tempat yang tidak baik itu. Justru disitulah kita diuji keistiqomahan kita dalam mengemban suatu amanah, suatu tanggung jawab. Apa yang aku yakini adalah, Allah tidak akan menguji manusia yang ingin menjadi dermawan dengan kelimpahan harta, namun dengan segala kekurangan.
Belajar bukan hanya saat kita menerima, tetapi juga saat kita memberi−Titis Sekti Wijayanti

Kadang orang lupa, karena mereka fokus ingin menerima saja atau tahunya memang seperti itulah belajar. Padahal tidak, saat kita memberi dan memberi kita ikut belajar tentang hal-hal sekitar tentang pendapat-pendapat lain yang muncul saat kita sedang memberi, tentang bagaimana kita harus tetap berpikiran terbuka dengan segala kemungkinan yang ada.

Aku menulis untuk berbagi, karena aku rasa otakku akan overloaded saat pikiran-pikiran macam ini tidak dituangkan. Aku tidak meminta teman-teman lantas langsung berpendapat sama seperti apa yang aku pikirkan, toh setiap orang memiliki ruangnya masing-masing. Aku hanya mencoba melihat suatu keburukkan dari kacamata yang berbeda. Sebenarnya apa yang membuat beberapa orang diberi label buruk? Apakah karena mereka berbeda dengan pribadi kita sendiri? Apakah kita sudah cukup baik untuk mengatakan orang lain tidak baik?

Mari berproses J




Monday, February 17, 2014

Kelud, Kami Bergerak!

Kamis, 13 Februari 2014
Pukul 22.49 WIB
Sebuah gunung berapi dengan ketinggian 1.731mdpl yang terletak di Provinsi Jawa Timur, seakan bangun dari tidurnya. Gunung Kelud. Berada di perbatasan Kabupaten Blitar, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Malang. Ia akhirnya memuntahkan material-material yang selama ini dikandungnya. Luka saudara-saudara di Sinabung belum juga mengering, kini Kelud menggores bagian lain tubuh Ibu Pertiwi. Negeri ini terhenyak.

Kelud dan Sapu.
Malam itu terdengar bunyi gemuruh dari arah timur yang tak berkesudahan. "Mungkin malam ini akan hujan." Setidaknya itulah yang aku pikirkan sebelum melihat info di lini masa Twitter tentang telah meletusnya Gunung Kelud. Diikuti dengan kepanikan-kepanikan orang-orang yang mendengar bunyi gemuruh tadi, yang mendapati kaca bahkan tanah yang mereka pijak bergetar. Belum lagi perasaan takut dan tidak aman lainnya yang menghinggapi siapa saja, sambil menerka-nerka seberapa dahsyat letusan Gunung Kelud di daerah Blitar, Kediri atau Malang, karena bahkan untuk kawasan macam Purwokerto, Surakarta dan Yogyakarta pun masih mendengar suara gemuruhnya. 
Kelud yang sering ditulis "Kelut" dalam bahasa Jawa berarti Sapu. Seperti yang kita tahu, sapu sendiri adalah salah satu alat yang digunakan untuk berbenah, membersihkan lantai, dinding atau langit-langit dari kotoran dan debu. Kelud dan sapu. Lalu aku mulai berpikir, sekaligus menerka-nerka, mengandai-andai, apakah mungkin ini cara Allah menyapu kebathilan yang ada di Pulau Jawa. Eh, bukan menyapu. Tapi lebih ke menyuruh kita, orang-orang bodoh yang kadang lupa diri, merasa sok pintar akan suatu keahlian hingga lupa masih ada langit di atas langit, dan masih ada lapisan batuan lain di bawah tanah yang kita pijak. Mungkin ini cara Allah mengingatkan diri untuk segera menyapu, berbenah, melakukan bersih diri dari segala kekhilafan yang kita lakukan saat nyawa masih ada di dalam badan. Mungkin ini caranya Allah mengingatkan kita bahwa tidak ada yang abadi, segalanya dapat berubah sesuai dengan keinginanNya. Mungkin ini caraNya mengingatkan kita yang sering lupa.

Minggu, 16 Februari 2014
@ Car Free Day Slamet Riyadi, Surakarta
Pukul 06.00-09.00 WIB
Pagi-pagi sekali kami berkumpul, di depan Taman Sriwedari. Dengan harapan dan semangat. Dengan senyuman dan kepedulian. Dengan rasa cinta dan kasih kepada sesama. Berbalut jas almamater Biru Ndog Asin, memegang kotak bertuliskan "Gerakan Mahasiswa se-UNS Peduli Bencana" kami mendatangi satu per satu pengunjung Car Free Day hari Minggu itu. Menanggalkan rasa gengsi ataupun malu, kami ingin saudara-saudara kami di sana dapat tersenyum seperti dulu. Matahari pagi senantiasa menemani langkah kami, menembus kerumunan, tersenyum kepada siapa saja sambil menyodorkan kotak kami, siapa tau mereka ingin membagikan rezekinya untuk saudara mereka yang kini sedang kelaparan karena makan pagi belum datang dari posko pengungsian. 
Seribu, dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu... semua kami terima, membalas mereka, baik yang membagikan rezeki mereka maupun yang tidak, dengan senyuman dan doa, semoga keberkahan selalu diberikan kepada mereka. Namun, tidak semuanya mulus, baik-baik saja, tanpa kendala. Ada pula saat di mana kami bertemu dengan mereka yang sibuk dengan gadget mereka, mengacuhkan kami, mengatakan "tidak" untuk membantu saudara mereka yang mungkin saat ini sedang kesusahan mencari sehelai masker. 
Sebegitu tak pedulinyakah? Namun, apa daya kami? Ini adalah gerakan yang mengajak siapapun untuk berkontribusi dari hati, tidak ada satu orang pun yang memaksa. Ini adalah gerakan dari hati untuk negeri. Sehingga mendapat perlakuan seperti itu, tidak membuat kami patah arang, kami terus bergerak, terus berjalan, mengetuk pintu hati orang satu per satu, membuka mata hati mereka, menyadarkan mereka yang tengah disibukkan dengan dunia, memperlihatkan bahwa ada banyak saudara kita yang hari ini kehilangan lahan untuk bertani atau mendapati hewan ternaknya mati. 
Ternyata benar juga,perjuangan kami tidak sia-sia. Dengan usaha yang dilakukan semaksimalkan mungkin, hasil yang kami peroleh juga rupanya tidak mengecewakan, justru membahagiakan. Terima kasih tak lupa diucapkan untuk Allah Yang Maha Esa yang masih menyelipkan orang-orang baik di antara ratusan manusia yang mengunjungi CFD pagi itu. 

Semangat Berkontribusi.
Kontribusi. Kontribusi memang bisa dilakukan dengan banyak hal. Doa juga merupakan salah satu kontribusi yang tidak boleh dilupakan. Namun, apa doa saja cukup? Doa perlu didukung dengan usaha. Begitu juga saat kita memutuskan untuk ikut berkontribusi dalam suatu pergerakkan. Dibutuhkan doa yang tak putus-putusnya, juga usaha yang tak henti-hentinya.
God counts every efforts that you make― Anindya Roswita
Allah selalu menghitung segala usaha yang kita lakukan. Prof. Sukonto Legowo, seorang dosen pembimbing untuk mahasiswanya yang tak kunjung lulus, Ian. Salah satu tokoh yang ada di dalam novel "5cm" karangan Dhonny Dirgantoro. Sangat menginspirasiku selama 1,5 tahun belakangan ini. Pemikirannya tentang pengandaian adanya bejana di atas sana, yang akan terisi dengan setiap usaha dan doa yang kita lakukan, sungguh brilian menurutku. Tentang bagaimana bejana yang penuh dengan doa dan usaha itu akan diturunkan olehNya melalui keberkahan dan hikmah-hikmah Allah lainnya. Analogi itu cukup membuatku terdiam saat aku gagal, mencoba tidak mengutukki keadaan saat aku gagal dan melihat ke dalam diri dan bertanya, "udah maksimal belom ya usaha gue?" "terus, ibadah gue udah bener belom ya?" Dan mendapatkan aku menertawai diri sendiri saat menyadari ada di antara dua hal tadi yang tidak maksimal."
"... Bersinergi dengan aksi.."

―Anis Chaerunisa
Bahwa dalam setiap ucapan dan harapan, harus kita sinergikan dengan aksi-aksi yang proaktif dan solutif. Jangan sampai menjadi anak muda(apalagi mahasiswa) yang punya banyak harapan, ambisi atau wacana, memiliki idealisme setinggi langit Zeus, namun tidak pernah ambil bagian untuk menjadikannya menjadi suatu hal yang nyata. Hanya puas hidup di dalam pikiran-pikiran imajinatif akan sebuah negeri yang aman, damai dan tenteram saat tanpa disadari justru terkungkung di dalam sangkar emas buatannya sendiri. Ucapan harus disinergikan dengan Aksi. Sama seperti doa yang juga harus bersinergi dengan usaha. Agar Allah senantiasa meridhoi setiap apa yang kita lakukan dan kita pun terus berada di jalanNya.

Buka hati, mata dan telinga, bangkit dan berkontribusi dengan cinta, bantu mereka yang tengah lara menghapus air mata, mengembalikan tawa yang dulu mereka punya...