Showing posts with label 30daysPlaylistChallenge. Show all posts
Showing posts with label 30daysPlaylistChallenge. Show all posts

Wednesday, February 5, 2014

Lights

Playlist #3 Lights-Ellie Goulding
Solo malam ini seperti malam-malam biasanya, indah dan berkharisma. Pernah aku tulis juga beberapa patah kata keindahan tentang Solo di sini. Solo malam hari, yang makin larut justru makin hidup, banyak anak muda berjajar di depan gedung BI, sekedar bersenda gurau, menikmati bakso bakar atau bisa juga memotret satu atau dua foto untuk dijadikan display image di media sosial. Ada juga yang berjajar di sepanjang Jalan Slamet Riyadi dengan motor yang sudah dimodifikasi, ajang unjuk kreativitas atau......lupakan.
You show the lights that stop me turn to stoneYou shine it when I'm alone
 Ellie Goulding mulai menghentakkkan telingaku, bertepatan dengan motorku yang mulai melaju di kawasan Pasar Gede. Perfect moment didn't come twice. Seperti lagu ini yang disambut dengan warna merah menyala dari lampion-lampion yang bergantungan menyeberangi satu bangunan dengan bangunan yang lainnya. Kulambatkan laju motor matic yang telah menematiku kurang-lebih sleama 3 tahun, untuk sekedar menikmati suasana di bawah sinar-sinar yang terpancar dari lampion merah. Mendadak aku tidak ingin cepat pulang.

Keluar dari kawasan Pasar Gede, aku memasuki kawasan Gladak. Suasana merah menyala tadi langsung berubah drastis dengan warna kuning keemasan yang terpantul dari lampu jalan, dan lampu-lampu kendaraan yang lalu lalang di jalan tersebut.

Cause they're calling, calling, calling me home
Calling, calling, calling home
Berulang kali aku mendengar Ellie menyebut kata home tapi semakin aku tidak ingin cepat sampai di rumah. Aku ingin berada di dalamnya, menikmatinya sampai pagi saat semua lampu-lampu yang mempercantik kota dimatikan, digantikan sinar abadi dari Sang Surya.

Selain musik, kopi, dan hujan, aku juga suka cahaya. Cahaya dengan hingar-bingarnya, kesan kuat, glamor, mungkin juga arogan, tetapi aku masih menemukan keindahan yang tak tergantikan di dalamnya. Cahaya, seringkali diijadikan sebagai analogi tentang suatu petunjuk, kebenaran dan banyak hal lainnya.

Bagiku, cahaya adalah suatu ketenangan. Entah bagaimana bisa kusebut dengan ketenangan, namun, aku yakin hal ini memang sudah ada, tertanam jauh dan hanya diketahui bagi mereka yang menginginkannya. Ketenangan yang sama aku temukan pada kegelapan. Kegelapan dalam arti sebenarnya. Seperti halnya saat dalam gelap kita bisa lebih tenang dan tertidur dengan lebih nyenyak atau saat kita bisa berpikir lebih banyak di dalamnya.

Kini kalian tahu, cahaya memiliki konten yang sama dengan kegelapan. Ketenangan. Suatu hal yang dapat ditemukan bagi mereka yang berpikir jauh ke dalamnya. Light is now like an open book, you know it if you read it.
Cahaya dan kegelapan adalah hal yang sama, hanya dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Lihat saja sekarang, tak sedikit orang yang merasa dirinya sudah menjadi 'penerang' walau sebenarnya tak beranjak sedikitpun dari kegelapan.  Anindya Roswita
Solo malam hari, indahnya tak akan mungkin bisa dipungkiri, sekali lagi Ellie menyanyikan bait terakhir dari lagu yang menemani sedari tadi.

You show the lights that stop me turn to stone
You shine it when I'm alone


Tuesday, February 4, 2014

The Time

Baiklah kita tepati janji yang kemarin telah terucap.
Playlist #2 Live Like We're Dying-The Script
24 derajat Celcius. Bukan suhu udara yang membuat badanmu menggigil atau gigimu bergemerutuk, namun sangat cukup untuk membuatmu merasa nyaman tidak melakukan apapun kecuali membungkus tubuhmu dengan selimut dan membaca novel favorit yang sejak minggu kemarin belum juga selesai kau baca.

Kini aku pasrahkan moodku seluruhnya diatur oleh sebuah aplikasi musik di telepon genggamku. Mereka bilang musik juga seperti hujan, mereka suka membawamu kepada kenangan sedih maupun bahagia lewat bait-bait liriknya. Namun, tidak hanya itu, musik juga memberikan kita optimisme, semangat baru dan kekuatan untuk menghadapi tantangan-tantangan di hadapan kita. Akan terdengar sangat berlebihan, namun itulah kekuatan musik, suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar.

Aku ingat intro lagu ini, hentakkan drum, dan petikan gitar yang bergabung membentuk suatu irama yang membuat siapa saja yang mendengarnya mengusir rasa kantuk atau rasa sendu mereka.
Sometimes we fall down, can't get back up
Danny menyanyikan lirik pada bait pertamanya, dengan suara khas yang selalu membuatku heran, suatu keheranan kepada setiap mereka orang Inggris sebenarnya, karena saat mereka bernyanyi aku tak lagi mendengar aksen kental mereka yang menurut banyak orang sangat seksi itu. Tapi, sudahlah, aku tidak ingin membahas aksen mereka di sini.

Live Like We're Dying.
Apa yang kau pikirkan saat mendengar kata-kata tersebut? Aku pribadi merasakan sebuah optimisme yang coba ditularkan oleh si penyanyi kepada siapapun yang mendengarnya. Aku pikir ini lagu yang sangat cocok untuk mereka yang baru saja ingin memulai suatu langkah, besar atau kecil. Lagu yang juga sangat tepat untuk mereka yang berpikir bahwa  hidup mereka sia-sia, dan lupa akan setiap detail syukur yang telah diberikan olehNya.
We gotta startLooking at the hands of the time we've been givenIf this is all we got and we gotta start thinkingIf every second counts on a clock that's tickingGotta live like we're dying
Sudah berapa detikkah kita lupa akan waktu singkat yang diberikanNya sementara kita terus menyia-nyiakannya, membiarkannya terbuang tanpa arti dan manfaat?
Sudah berapa lama detik yang kita buang untuk membenci segala hal yang kita punya?
Sudah berapa lama detik yang kita buang dengan tidak bersyukur?

Lagu ini telah menjadi pengingat tentang bagaimana kita seharusnya memperlakukan waktu. Bagaimana waktu yang telah terbuang tidak akan mungkin kembali. Bagaimana terkadang kita lupa bahwa hal yang paling jauh dari diri kita adalah waktu.


Live like we're dying
Live like it's your latest second for a living
Live like it's your last chance for loving
Live like it's your time to make things better and never regret a thing





Monday, February 3, 2014

Setulus Menanti Hujan

Playlist #1 You Make It Real-James Morrison

Angin dingin berdesir, meniupkan helaian rambutku. Kembali kurapatkan jaket berwarna hijau gelap, hangatnya masih setia melindungiku sejak tiga tahun lalu. Kiranya, selama itu pula aku menanti.
            
Tepat hari ini, tiga tahun yang lalu. Saat itu hujan deras mengguyur kota Bandung. Secangkir teh hangat dan beberapa potong kue tape buatanku tadi pagi mempercantik meja teras siang itu. Engkau tengah mengenakan sepatu hitam yang telah kau semir hingga mengkilat, lalu kau ikat talinya erat-erat. Terlalu sibuknya dirimu dengan kedua utas tali itu hingga tak sadar aku tengah berdiri di situ membawakan jaket hitam dengan lambang Timnas Perancis dan tulisan terbordir rapi di bagian punggungnya, “FRANCE” begitulah bunyinya, seperti yang kausukai.
            Aku tak pernah membenci hujan. Kau pun tidak—setidaknya itu yang aku ketahui. Aku ingat bagaimana kita menyukai hujan, menikmati teh atau kopi dengan beberapa cemilan kapanpun saat kau di rumah, berfilosofi tentang setiap tetesannya yang jatuh ke tanah, atau sesekali berdansa seperti orang gila dengan lagu kesukaanmu mengalun lewat stereo yang kau putar keras-keras.
            Tapi siang itu, hujan nampaknya ingin memberitahukan kepada kita tentang kekuatannya yang tak hanya dapat memberikan kita kebahagiaan, tetapi juga kesedihan. Seperti perpisahan kita siang itu. Aku ingat siang itu bagaimana aku membantumu mengenakan jaket hitam kesukaanmu perlahan sambil menghirup wangi parfummu—Hugo Boss edisi Musim Panas. Aku ingat bagaimana kau tidak menyukai wewangian, tetapi tidak untuk yang ini.
            Siang itu, kau menyuruhku duduk di sampingmu. Aku tak akan pernah lupa bagaimana kau terus memegang tanganku, seakan tak pernah ingin melepaskannya. Lalu kau mengeluarkan sesuatu berbentuk persegi panjang dengan warna metalik dan seutas kabel putih kecil yang melingkari permukaannya. Beno, begitulah kau memanggil iPod yang telah menemanimu selama bertahun-tahun itu. Kau pasangkan satu ujung headsetnya di telinga kirimu, dan memberikan ujung yang lain kepadaku. Kupasangkan ujung headsetnya ke telingaku, saat itu suara derasnya hujan masih terdengar  jelas. Kali ini wajahmu beralih ke iPod kecil di tanganmu—jangan, tolong jangan alihkan pandanganmu. Sekarang kau tampak sibuk, mencari lagu untuk didengarkan bersama di tengah hujan yang tak kunjung reda.
There's so much craziness surrounding me
Aku tahu kau akan memutarkan lagu ini, lagu kesukaanmu, lagu yang selalu kau pakai untuk berdansa di ruang tengah, dan anehnya aku selalu menikmati kekonyolan-kekonyolan yang kau buat tanpa pernah bosan.
When my head is strong, but my heart is weak,
I'm full of arrogance and uncertainty
When I can't find the words, you teach my heart to speak,
You make it real for me
James Morrison terus menyanyikan bait demi bait lagunya. Aku yakin, dia bahkan tak sadar musiknya telah membuat kami larut dalam kesedihan. Bukan kesedihan yang tercipta karena cerita pada lagu yang ia nyanyikan. Namun, kepada kenangan-kenangan yang telah kami ukir di tiap-tiap baitnya. Kali ini matamu terpejam dengan senyum penuh kedamaian yang tergambar jelas di wajahmu dan jemarimu yang semakin erat menggenggam tanganku. Sementara aku terus saja menatapmu dari tempatku duduk. Aku ingin terus menatapnya, memandanginya, bahkan aku tidak ingin mengedipkan mata walau hanya sepersekian detik. Karena siapa yang tahu, akan ada waktu seperti ini lagi di masa depan.
James Morrison telah menyelesaikan tembangnya. Saat itulah kau membuka mata dan jemarimu merenggangkan genggamanmu. Kala itu kau tersenyum, bukan senyum yang seperti biasanya. Jika saja aku bisa berkata lebih banyak, aku ingin kau tidak tersenyum, aku ingin kau menangis saja, setidaknya itu lebih baik daripada kau berlindung dibalik sebuah senyum kepalsuan. Namun itulah kau, selalu saja berusaha menyenangkan orang lain, hingga kadang lupa akan dirimu sendiri.
Kau lihat jam hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirimu, berdiri tegap setelahnya. Memandangku, tepat di bola mataku. Jenis tatapan yang dalam, kuat namun juga rapuh.
“Kau tahu, aku pasti pulang.”
Lidahku kelu, aku tak mampu berkata apa-apa.
“Namun, jika aku tidak pulang, kau tahu apa yang harus kau lakukan.”
Tenggorokanku tercekat mendengar kata-katamu. Tak mampu aku membalasnya, bahkan untuk sekedar bergumam pun aku tak mampu. Aku tak mampu lagi menahannya, bulir demi bulir air mata pun jatuh, membasahi pipi.
Siang itu, kau tinggalkan aku dengan sebuah kecupan di kening dan pelukan hangat yang tak ingin aku lepaskan. Siang itu, aku memulai masa penantianku, dengan harapan dan doa yang tak henti aku ucapkan di setiap siang dan malamnya.
Selama tiga tahun, teh atau kue tape yang aku buat tak lagi ada rasanya di lidahku. Selama tiga tahun, James Morrison tak terasa bernyanyi seperti dulu lagi saat kita berdansa bersama. Selama tiga tahun pula, hujan tak lagi menjadi hal yang aku suka, dinginnya justru membakar perasaanku dengan rindu. Aku menunggu hujan dengan rasa yang sama seperti kala itu saat kau ada di sini. Aku menunggu hujan yang itu, setulus aku menunggumu.
Kini, tiga tahun sudah aku menanti. Hari ini, aku menantimu di teras rumah dengan teh hangat dan beberapa potong kue tape kesukaanmu. Dengan headset yang terpasang rapi dan James Morrison yang menyanyikan lagunya, laguku dan lagumu.
Mobil hitam mengkilat memasuki pelataran. Di awali dengan beberapa penjaga yang keluar dari mobil mereka, hendak melakukan pengawalan. Kau datang. Namun, yang terlihat justru orang tua dengan kepala hampir botak dengan stelan necis menghampiri tempatku berdiri.
“......
“Di sini kami ingin memberi kabar duka atas meninggalnya Bapak Sony di medan perang. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di tenda darurat setempat akibat parahnya luka tembak yang beliau terima dari tentara lawan.”
Satu-satunya yang kuingat setelah itu adalah James Morrison menyanyikan bait terakhirnya di telingaku.
And I am running to you baby,
'Cause you are the only one who saves me
That's why I've been missing you lately,
'Cause you make it real for me
You make it real for me

Kemudian semuanya gelap.