Tuesday, October 7, 2014

Mengingat Jakarta

sumber : images


“Sounding like another cliche...”

Langit Solo sore ini sudah tak lagi sebiru tadi siang, warnanya... jingga? Nila? Orange? Ah entah namanya. Segelas jus mangga dengan warna senada dengan Si Langit mantap berdiri di samping laptop, berkali-kali menggoda perhatian saya yang mencoba fokus ke tulisan ini. Di waktu yang bersamaan semua orang terlihat berbicara dalam diam di hadapan saya, suara mereka redam dan digantikan oleh suara Danny O’ Donnough yang menyanyikan No Words dan menambah kesyahduan versi saya sore ini. Kau tau apa ini? Indah.

Indah. Itu juga yang saya tau saat beberapa waktu lalu saya ada di tengah kemacetan di kota Jakarta di jalan Melawai menuju rumah Bunda, atau sore lainnya di Mampang di tengah kemacetan menuju rumah Tante, suara musik dari headset yang saya kenakan saat itu beradu dengan suara pengamen dengan ketipung atau gitarnya yang bersahut-sahutan dari kursi ketiga pintu depan dan kursi kedua pintu belakang, masih ditambah dengan bapak-bapak yang membawa kantung plastik penuh dengan bungkusan tissue, atau bapak lainnya yang membawa ember sambil teriak “mijon mijon, mijon!” Belum lagi bapak yang menggantikan bapak yang lain, dengan strategi marketing yang dipelajari secara otodidak, menawarkan barang mulai dari alat menjahit portabel, buku resep, sampai jepit rambut. Atau dua orang yang tengah kasmaran, si wanita menyandarkan kepalanya di pundak si laki-laki, tanpa malu tanpa ragu memamerkan kemesraan, sepertinya memang benar ungkapan “saat jatuh cinta, dunia milik mereka berdua, yang lain cuma ngontrak.” Indah memang melihat mozaik-mozaik kehidupan orang Jakarta lewat bus kota, karena selalu ada saja yang bisa dipetik untuk menjadi cerita di sebuah postingan blog.


Indah juga saat aku terjebak di dalam 7-Eleven menikmati segelas machiatto, dengan buku catatan kecil souvenir  pernikahan entah siapa, dan memperhatikan anak kecil di seberang meja dengan umm.. sepertinya segelas coklat panas bersama ayahnya yang sesekali sibuk dengan laptopnya. Hujan tak kunjung reda hingga gelas kedua, Coklat panas. Indah memang, Jakarta selalu punya tempat untuk menyepi di tengah hiruk pikuknya.

Sedih tapi tetap indah juga, saat melihat anak-anak kecil dengan payung-payung besar, bermain di bawah hujan lebat, tak takut dengan suara guntur yang terdengar sesekali, menjemput satu per satu ibu-ibu kantor dari satu sisi ke sisi lainnya, lumayan, goceng kalau beruntung ceban. Kedinginan, tapi tetap senang juga mereka, melihat tawa mereka itu ummm menyenangkan tapi menghadirkan rasa getir juga di hati, harusnya mereka ada di dalam rumah, membaca buku atau bobok siang.                                                                                                                           

Indah juga saat iseng naik Transjakarta ke mana saja untuk membunuh kebosanan. Kemudian berbagi tempat duduk untuk ibu hamil atau ibu yang membawa anak kecil, melihat seulas senyum darinya, tidak perlu kenal, tidak perlu lebih banyak percakapan, hanya senyum saja cukup, sudah terasa indah dan meneduhkan.

Atau di Metromini 610 jurusan Blok M-Pondok Labu, bertemu dengan sekumpulan anak punk di jalan Melawai yang meminta uang dengan sebelummnya mengutarakan One Minute Talk tentang bagaimana mereka meminta uang tanpa harus ada yang kena jambret dll, secara halus, untuk pertama kalinya saya berpikir “ih ngancem-ngamncem tapi minta duit, kerja kali bang”.  Indahnya perbedaan dan perihnya kesenjangan kalau saya bisa bilang.

Saya pernah dengar, beberapa teman yang tidak suka Jakarta, terlalu bising, terlalu tidak produktif, terlalu tidak kondusif, dan terlalu-terlalu lainnya yang mengarah pada hal-hal negatif. Dalam pos ini, saya ingin mengingat Jakarta lagi, lewat memori saya saat ada di dalam bis, di dalam Transjakarta, menikmati langit sore Jakarta. Jakarta tidak seburuk itu bagi saya. Jakarta yang katanya kejam itu, selalu punya tempat untuk siapa saja yang ingin berusaha. Jakarta yang katanya keras itu, punya orang-orang yang tahan banting dengan daya survival yang tinggi. Jakarta yang katanya tidak kondusif itu selalu memberikan pelajaran di setiap tempatnya. Setiap orang di dalamnya punya cara yang berbeda untuk mencintai kota ini, kota megapolitan atau megapolutan? Ini masih PR untuk siapa saja yang menginjakkan kakinya di tanah Ibu Kota.

Jakarta yang indah, seindah saat saya tiba-tiba teringat tentang dirinya di belahan dunia lain, menatap langit yang sama, entah tengah bertabur bintang atau diterpa sinar matahari terbit atau juga langit sore yang menyamankan seperti langit sore Jakarta kala itu.

Jakarta, saya rindu.






Sunday, October 5, 2014

Be Yourself?

This post contents too many rude words, don't read it before it's too late.










Kalau kata bang Azhar Nurun Ala, penulis buku Ja(t)uh, Tuhan Maha Romantis dan Seribu Wajah Ayah, menulis adalah ritual untuk menasihati diri sendiri. Bagi saya, menulis itu seperti menciptakan panggung sendiri untuk melepaskan beban-beban yang selama ini menggumpal di sudut-sudut otak dan minta di keluarkan, berekpresi, berkontemplasi, apalah nanti akhirnya yang jelas, pada akhirnya yang ditemukan dalam tulisan saya adalah saya sendiri.

            Seruwet itukah urusan tulis menulis? Ah tidak juga, mungkin memang hanya saya yang mematok standard tinggi untuk sebuah aspek “kepenulisan”, karena banyak di antara kita entah di sudut bumi sebelah mana yang menjadikan dirinya pelacur tulisan, iya, pelacur. Menulis untuk sesuatu yang sebenarnya bukan dirinya, tetapi untuk suatu kebutuhan entah ekonomi atau citra, tetap juga dilakukan.

            Jadi pelacur itu bukan hanya untuk mereka yang menjajakan tubuhnya di tempat-tempat prostitusi? Ah menurut saya tidak juga, untuk mereka yang tidak bisa menjadi dirinya sendiri atas nama citra juga sama halnya dengan mereka, hanya saja dalam bentuk lain.

...

Haha sudah-sudah misuh-misuhnya. Sebenarnya itu tadi bentuk kekesalan saya yang sudah naik ke tahun ke-2 di masa perkuliahan, lihat betapa cepatnya waktu berlari, entah seberapa cepat kita mencoba menyamakan kecepatan dengannya seolah terus saja kita ada di belakangnya. Bukan kesal pada waktu, tapi kesal pada respon orang dalam menyikapi kenaikan tingkat itu sendiri.
            “Udah semester 3 lho... udah punya adik..”
Kemudian dilanjutkan dengan kalimat ini,
            “Harus bersikap, harus jaga image, behave dong...” dan lain sebagainya dan yang lebih parah,
            “Boleh sikap kayak gitu, tapi kalo di depan adik-adiknya jangan kayak gitu...”
Bukannya saya menolak untuk melakukan itu semua, toh memang sangat diperlukan, tetapi, untuk apa membangun citra diri bahwa kita adalah orang yang dewasa saat otak dan hatinya bahkan belum sampai ke sana. Katanya setiap orang punya prosesnya masing-masing? Katanya disuruh menikmati proses? Katanya jadi dirimu sendiri? Lha kok ini malah dilimit?

Bukankah alangkah lebih baik jika kita mengenalkan diri kita sebagai diri kita  sendiri? Mengenalkan diri sebagai sesama teman yang masih berproses dan sama-sama dibetulkan jika salah? Karena akan sangat aneh, saat kita tahu seseorang dengan wibawa dan bijaksananya, kemudian kita tahu bagaimana aslinya saat bukan di muka umum, dan memunculkan statement,
“Oh, kayak gitu aslinya...”

Ada lagi yang bilang ke saya “Kamu masih suka nonton *mention film anak-anak*?” saya jawab “suka..” dijawab “ya harus dikurangin, nanti nggak dewasa-dewasa.” Sedikit jengah sih, tapi saya tanya lagi, “Emang dewasa itu gimana?” dijwabnya, “Ya dikurang-kurangin yang seperti itu, kan pikiran kita dikontruksi oleh buku yang kita baca, film yang kita tonton, musik yang kita dengar, ...” Pernyataan tersebut memang benar, saya pun setuju tapi, what is grown up actually? Is it something that you can see only by the look? Or what? Cause for me, maturity is on your mind, and is about experience you’ve taken, not about the way you dress, the way you laugh or talk(I talked about “the way” not “something you brought in your words”), cause everyone fake it these days, and maturity doesn’t define it.

Jadi ya gitu, saya biasa diperlakukan sebagai teman bukan sesuatu yang ada tingkatannya even my mother, and father, and the whole family treat me so, except for some important cases. No wonder, saya memperlakukan adik-adik saya juga selayaknya saya berteman dengan mereka, kami sebaya dan lain sebagainya, akan terasa bedanya, saat adik kita misalnya, mengerjakan sesuatu saat kita meminta bantuan atas dasar “patuh” atau “dengan senang hati membantu temannya.”

Kembali ke dunia kampus, saat saya dengan bercanda bilang “hahaha gue gagal branding”, saya jadi berpikir sekarang, sebenarnya apa yang saya ingin mereka lihat tentang saya? AHA! Sekarang saya punya jawabannya, saya ingin teman-teman saya melihat saya sebagai diri saya, bukan orang lain, sebagai anak rantau yang juga sedang berproses, yang kadang masih salah, kadang juga benar karena nggak selamanya kan orang salah terus atau benar terus, tapi tetap terus belajar, sebagai amphibi di dunia pergerakkan mahasiswa, dakwah dan dunia seni, sebagai orang yang nggak malu jadi dirinya sendiri, karena di dunia perkuliahan saat bahkan kita tidak menentukan di mana kita berpijak, habislah kita tenggelam kena hempasan ombak entah pergaulan atau ideologi.


PS. Jangan bilang-bilang ya saya buat tulisan ini.