Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts

Thursday, January 12, 2017

Day I : Where the Journey Begins

Balitong, January 12, 2017
11.10 am

Today is the second day after touching down here in Belitung or people may call it, Balitong. A land where Andrea Hirata –one of my favorite author, the writer of Laskar Pelangi Tetralogy, ‘s story taken place in the book. In the second day, actually I haven’t really gone out to somewhere, except to the nearest traditional market to buy the logistics for today and having a little chit chat with the local people. Plus, got surprised of the food’s price lol, even I’ve been warned by the eldest about the price, it shocked me still. But we’re okay.
I believe that not every trip count as a journey. Because some trips has passing us by, but when we say it as journey, there’s a lot more experience, learnings, inspirations or else you can unpredictably find on the way. By that I’m going to try to tell it to you –if I have enough time to write and post. About what I got here in the land of coffee, Balitong.

My journey starts in the Purwosari Station. We go from Solo to Jakarta first and continue our trip to Belitung by plane from Soekarno Hatta International Airport to Tanjung Pandan, Balitong. For me, who was a lone-traveler, it’s both quite exciting and tiring. For heaven sake, I could use the 2-2 seat and sit nearby the window and sleep, yesterday I sit in 3-3 seat in between my 2 friends, lol pray for my backbone and neck. But then I try to remember, when was the last time I could play poker on the train and share about how the crocheting goes with my friend? I think I remember none. I even use Antimo –a meds for those who’s having “a hard time” in the transportation, to sleep. We arrived at Jakarta at 00.45 am, and found one spot to rest because, my other friend was late and our luggage for logistics was left in the station, luckily she got the ticket to go to Jakarta. The funniest thing about waiting yesterday is when we’re craving for food and we found this lucky little guy, a street vendor who sell fried rice. We bought it 12 packs, and my friend said,

            “Kalo nggak ada piring, berarti kita bayarnya Rp. 11.000,- aja ya, Bang!”

Lol, it was my first time to buy bargained fried rice, haha. I remember how his face want red when my friend said that. But then he said, okay anyway. We waited until 5.00am then we went to the airport. Shit happened we over-ordered the online taxi, sadly, my ears were having a bad vibe to hear the grumbling from the taxi driver in the early morning, sorry Sir.
We took off at 9.50am something, the airplane was a bit late, just a bit. But you’re forgiven, Lion Air. Thanks to the excitement that has saved my mood. After arriving in Tanjung Pandan, we continue our trip to Desa Lalang Jaya, that’s the place where we’re going to arranged all the things before we do our KKN lyf for 45 days ahead.

Truth to be told, I lost my excitement from 2 days before I go to Belitong. I don’t know, I feel like making such as empowerment to people is not enough only with this living in the area, making some programs in 45 days. And leave it for 3-4 months without any controlling tools until the next groups come in the next semester. Even I know, KKN is so promising for some university to make people realize its existence.

But after all those bad vibes, I know, this could be something for me. Because, there must be so much to learn, not just about the people but about myself too you know, living with 22 people in the same area, sleep with the 13 girls under the same roof must be something.

Cause some say,
Open your heart,
For making more things,
to come along.


PS.
Hati-hati baper.


Tuesday, October 7, 2014

Mengingat Jakarta

sumber : images


“Sounding like another cliche...”

Langit Solo sore ini sudah tak lagi sebiru tadi siang, warnanya... jingga? Nila? Orange? Ah entah namanya. Segelas jus mangga dengan warna senada dengan Si Langit mantap berdiri di samping laptop, berkali-kali menggoda perhatian saya yang mencoba fokus ke tulisan ini. Di waktu yang bersamaan semua orang terlihat berbicara dalam diam di hadapan saya, suara mereka redam dan digantikan oleh suara Danny O’ Donnough yang menyanyikan No Words dan menambah kesyahduan versi saya sore ini. Kau tau apa ini? Indah.

Indah. Itu juga yang saya tau saat beberapa waktu lalu saya ada di tengah kemacetan di kota Jakarta di jalan Melawai menuju rumah Bunda, atau sore lainnya di Mampang di tengah kemacetan menuju rumah Tante, suara musik dari headset yang saya kenakan saat itu beradu dengan suara pengamen dengan ketipung atau gitarnya yang bersahut-sahutan dari kursi ketiga pintu depan dan kursi kedua pintu belakang, masih ditambah dengan bapak-bapak yang membawa kantung plastik penuh dengan bungkusan tissue, atau bapak lainnya yang membawa ember sambil teriak “mijon mijon, mijon!” Belum lagi bapak yang menggantikan bapak yang lain, dengan strategi marketing yang dipelajari secara otodidak, menawarkan barang mulai dari alat menjahit portabel, buku resep, sampai jepit rambut. Atau dua orang yang tengah kasmaran, si wanita menyandarkan kepalanya di pundak si laki-laki, tanpa malu tanpa ragu memamerkan kemesraan, sepertinya memang benar ungkapan “saat jatuh cinta, dunia milik mereka berdua, yang lain cuma ngontrak.” Indah memang melihat mozaik-mozaik kehidupan orang Jakarta lewat bus kota, karena selalu ada saja yang bisa dipetik untuk menjadi cerita di sebuah postingan blog.


Indah juga saat aku terjebak di dalam 7-Eleven menikmati segelas machiatto, dengan buku catatan kecil souvenir  pernikahan entah siapa, dan memperhatikan anak kecil di seberang meja dengan umm.. sepertinya segelas coklat panas bersama ayahnya yang sesekali sibuk dengan laptopnya. Hujan tak kunjung reda hingga gelas kedua, Coklat panas. Indah memang, Jakarta selalu punya tempat untuk menyepi di tengah hiruk pikuknya.

Sedih tapi tetap indah juga, saat melihat anak-anak kecil dengan payung-payung besar, bermain di bawah hujan lebat, tak takut dengan suara guntur yang terdengar sesekali, menjemput satu per satu ibu-ibu kantor dari satu sisi ke sisi lainnya, lumayan, goceng kalau beruntung ceban. Kedinginan, tapi tetap senang juga mereka, melihat tawa mereka itu ummm menyenangkan tapi menghadirkan rasa getir juga di hati, harusnya mereka ada di dalam rumah, membaca buku atau bobok siang.                                                                                                                           

Indah juga saat iseng naik Transjakarta ke mana saja untuk membunuh kebosanan. Kemudian berbagi tempat duduk untuk ibu hamil atau ibu yang membawa anak kecil, melihat seulas senyum darinya, tidak perlu kenal, tidak perlu lebih banyak percakapan, hanya senyum saja cukup, sudah terasa indah dan meneduhkan.

Atau di Metromini 610 jurusan Blok M-Pondok Labu, bertemu dengan sekumpulan anak punk di jalan Melawai yang meminta uang dengan sebelummnya mengutarakan One Minute Talk tentang bagaimana mereka meminta uang tanpa harus ada yang kena jambret dll, secara halus, untuk pertama kalinya saya berpikir “ih ngancem-ngamncem tapi minta duit, kerja kali bang”.  Indahnya perbedaan dan perihnya kesenjangan kalau saya bisa bilang.

Saya pernah dengar, beberapa teman yang tidak suka Jakarta, terlalu bising, terlalu tidak produktif, terlalu tidak kondusif, dan terlalu-terlalu lainnya yang mengarah pada hal-hal negatif. Dalam pos ini, saya ingin mengingat Jakarta lagi, lewat memori saya saat ada di dalam bis, di dalam Transjakarta, menikmati langit sore Jakarta. Jakarta tidak seburuk itu bagi saya. Jakarta yang katanya kejam itu, selalu punya tempat untuk siapa saja yang ingin berusaha. Jakarta yang katanya keras itu, punya orang-orang yang tahan banting dengan daya survival yang tinggi. Jakarta yang katanya tidak kondusif itu selalu memberikan pelajaran di setiap tempatnya. Setiap orang di dalamnya punya cara yang berbeda untuk mencintai kota ini, kota megapolitan atau megapolutan? Ini masih PR untuk siapa saja yang menginjakkan kakinya di tanah Ibu Kota.

Jakarta yang indah, seindah saat saya tiba-tiba teringat tentang dirinya di belahan dunia lain, menatap langit yang sama, entah tengah bertabur bintang atau diterpa sinar matahari terbit atau juga langit sore yang menyamankan seperti langit sore Jakarta kala itu.

Jakarta, saya rindu.






Friday, May 16, 2014

Angkringan Bercerita


Sebuah tenda kecil, mampu menampung sekitar 5-10 orang, menjual bermacam-macam nasi bungkus dengan ukuran kecil yang tak cukup jika hanya memakan satu. Ada yang lauknya sambal teri, bandeng, ada juga yang oseng-oseng. Ditambah satu atau dua tahu bacem atau sate keong yang dibakar lagi, teh hangat tawar atau jahe hangat, satu kenikmatan dunia lagi. Makin lengkap karena semuanya hanya berharga kurang dari tujuh ribu rupiah, mujur kalau hanya lima ribu, yang ini bisa karena lauk yang diambil tidak terlalu banyak atau memang sudah kenal dengan pedagangnya.

Siapa tak kenal dengan angkringan? Solo punya cerita sendiri untuk salah satu tempat makan rakyat yang satu ini. HIK. Kira-kira begitu namanya sering digaungkan oleh Wong Solo. Singkatan dari Hidangan Istimewa Kampung, atau ada juga yang menyebutnya Hidangan Istimewa Keluarga. Terserah apa namanya, tetapi HIK punya kesan tersendiri untuk saya.

Makanannya murah? Mungkin iya. Tetapi lebih dari itu. Bagi saya, angkringan adalah tempat sederhana yang mempersilahkan siapa saja untuk masuk ke sana. Tidak peduli apakah anda anak jenderal atau anak bakul nasi kepal, apakah anda orang dengan penghasilan puluhan juta per bulannya atau orang dengan penghasilan yang “iya-iya nggak”. Semuanya diterima dengan baik di HIK. Dari pecinta wedang jahe atau pecinta kopi, bahkan untuk mereka yang datang untuk sekedar minum wedang sambil menghisap satu atau dua batang rokok.

Selain tempat makan dan menjadi tempat meleburnya masyarakat kita tanpa memandang status sosial, suku atau agama, Angkringan juga merupakan salah satu tempat yang baik untuk mendengar lebih baik apa yang selama ini dihadapi warga di kehidupan nyata dengan segala regulasi yang telah dibuat oleh Pemerintah. Dari angkringan, kritik-kritik sosial, perdebatan tentang siapa capres terbaik, bahkan negosiasi-negosiasi mengenai pilihan capres pun bisa terjadi di angkringan. Saya jadi ragu untuk mengatakan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang apatis yang hanya peduli dengan kepentingannya sendiri dan tidak peduli akan negara. Lagi-lagi pemikiran tersebut memunculkan pertanyaan dalam benak saya, sebenarnya rakyat yang mana yang dimaksud? Bohong saat kita mengatakan diskusi belum menjadi budaya kita. Padahal faktanya, orang-orang Indonesia adalah orang-orang yang jago basa-basi, budaya kita memang budaya yang suka ngobrol, lebih parah lagi, dalam versi kebablasannya suka nggosip. Entah mindset yang ditanamkan dari mana tapi sepertinya perbedaan kata ngobrol dan diskusi sudah jelas-jelas membuat kita minder duluan. Padahal diskusi dan ngobrol itu sendiri masih sama saja artinya, kegiatan di mana kita bia mengutarakan pendapat dan menjelantrahkan fakta. Yang membedakan hanyalah ngobrol adalah bahasa pergaulan, sedang diskusi adalah bahasa yang lebih formil. Disadari atau tidak, dari Angkringan bahkan, kita bisa melihat bagaimana kualitas masyarakat kita dari bahan obrolannya. Jika mau membanding-bandingkan, baiklah saya coba bandingkan, apakah mereka yang berada di balik dinding-dinding kaca tebal dengan kopi merk cafe terkenal asal Negeri Paman Sam itu membicarakan soal payahnya birokrasi untuk mengurus BPJS sementara mereka yang duduk lesehan di pinggir jalan tengah berdebat apa BPJS menguntungkan bagi mereka atau lebih baik kembali ke JAMKESMAS? Apakah mereka yang duduk di ruangan ber-AC dan tengah menikmati kue croissant juga sedang membicarakan tentang naiknya harga telur dan sembilan bahan pokok lainnya?

Berpergianlah, betemulah dengan banyak orang, sesungguhnya pelajaran datang dari tempat-tempat yang tidak pernah kita dugaAnindya Roswita

Saya pernah mengatakan bahwa naik kereta ekonomi sendirian, duduk di sebelah orang yang tidak kita kenal adalah awal yang baik untuk belajar. Belajar tentang budaya, belajar tentang memahami karakter orang, dan belajar mengambil hikmah dari perjalanan yang kita. Setelah kemarin untuk keberapa kalinya saya makan di angkringan dengan seorang teman, akhirnya saya mengerti, tak perlu jauh-jauh hingga ke ujung-ujung Timur atau Barat, kalau ternyata kita sendiri belum bisa memetik pelajaran-pelajaran yang tersebar di lingkungan di sekitar kita. Seperti di Angkringan sebelah rumah misalnya.

Bangsa kita memang terkenal, selain terkenal akan budayanya yang ratusan banyaknya, potensi alamnya yang seakan tak pernah habis, juga.......meri. Meri dalam Bahasa Jawa  berarti pengenan(aduh, saya mulai menjelaskan bahasa Jawa dengan bahawa Jawa). Alias, ikut-ikutan. Banyak dari kita ternyata belum bisa membedakan mana itu Modernisasi dan mana itu Westernisasi. Seringkali menganggap modernisasi adalah westernisasi. Padahal keduanya adalah hal yang berbeda. Saya ingat pelajaran Sosiologi tentang masyarakat multikultural di bangku SMA kelas XII, Guru sosiologi saya mengatakan bahwa westernisasi adalah pola atau gaya hidup yang ke-barat-baratan, sedangkan Modernisasi adalah gaya hidup di mana teknologi sudah mulai diikutsertakan dalam setiap segi kehidupan masyarakat. Sayangnya, hal ini terjadi juga dalam dunia peng-angkringan-an. Angkringan yang lahir dari keuletan dan kreativitas pribumi ternyata tak luput dari gerusan zaman. Beberapa orang lebih memilih cafe karena cafe  yang sebenarnya berasal dari Paris itu memiliki prestige yang lebih tinggi. Cafe berasal dari kata Coffee yang berarti kopi, sebagai bentuk dari kedai kopi. Lalu mulai menyebar ke Italia dan semakin booming dengan sebutan Cafe. Eksistensinya terus menyebar ke seluruh penjuru dunia, tak luput Indonesia. Fenomenanya semakin ironis, saat anak muda kita tidak ingin ngopi-ngopi di warung kopi atau angkringan dengan alasan kopinya tidak original karena hanya kopi instan, tetapi lebih memilih ke Kedai Kopi terkenal asal Paman Sam dengan lambang perempuan berwarna hijau itu yang menyatakan bahwa kopi terlaris di kedai tersebut adalah kopi yang berasal dari Sumatera, Indonesia. Boleh tertawa getir jika anda ingin.

Angkringan memang punya cerita sendiri. Angkringan telah menjadi simbol dari kuatnya keinginan beberapa orang untuk mencari penghasilan yang tanpa disadari juga sekaligus mempertahankan budaya ngangkring di tengah gerusan budaya kongkow di cafe-cafe yang mulai menjamur.

Yuk Ngangkring!

Tempat ngangkring saya biasanya di: 
  •  0 kilometer(saya nggak paham kenapa disebut 0 kilometer), di sini nasi bakarnya enak, dan lauknya beragam, sekalap-kalapnya pilih lauk, paling mahal cuma bayar sepuluh ribu rupiah saja.
  • Angkringan Pak No. Di sini nasinya lebih banyak, sambal terinya juga enak, ada di belakang ISI. Saya beberapa kali ke sini kalau ada project sampai malam dan kelaparan sama anak KMF.
  • Angkringan kulon West Bro’s. Yang ini, saya memang baru sekali ke sana, ada di depan markas Solo Blues Festival. Saya tahu tempat ini dari teman, dan saya langsung jatuh hati dengan tahu bacemnya yang enak sekali apalagi jika dibakar lagi. Di sini juga ada wedang ronde, saya harus ke sana lagi.






Friday, January 10, 2014

Get Lost II : Tilik Museum

Follow my blog with Bloglovin
#latepost

Sedikit sedih karena post ini harus ditunda selama 1 malam. Terima kasih serangan migrain dan radang tenggorokkan akibat kebodohan sendiri meminum softdrink dingin di hari yang panas. Jalan-jalan kemarin disponsori oleh kegabutan mahasiswa di tengah liburannya. Begini ceritanya...

Pukul 7 pagi, saya masih di rumah, menerka-nerka kegiatan apa saja yang mungkin bisa saya lakukan hari ini, yang pasti tidak akan seperti kemarin, akibat jogging tanpa pemanasan sebelumnya, jadilah kaki dan badan sakit semua—I’m wondering when was the last time I do this kind of activity, alhasil hanya membunuh waktu dengan membaca novel, online, membaca novel di kamar—persis seperti babi.

Pukul 8 pagi, selesai mandi, sarapan, ngelenong, dan aktivitas tak terduuga lainnya, seperti mencari headset dan buku catatan. Yang terakhir saya harus berterima kasih kepada adik tercinta yang meminjamnya dan entah ditaruh di mana setelahnya. 8.15 WIB saya baru meninggalakan rumah, berbekal handphone plus headset Sang ibu, dompet, novel yang sedang saya baca, buku catatan, pulpen, payung, dompet recehan—kita tidak akan pernah tau kan berapa banyak pengamen di Metro Mini nanti, dan last but not least  mukenah—jangan sampai jalan-jalan yang maksudnya ingin memuji kebesaran Yang Menciptakan justru membuat kita lupa absen denganNya.

Perjalanan pertama dimulai dengan menaiki Angkutan Kota berupa Minkrolet atau biasa disebut dengan Angkot dari gang depan rumah sampai ke Jalan Raya Ciledug. 8.30 WIB, asar Kreo masih saja ramai pengunjung, ibu-ibu yang keluar masuk pasar dengan teng-tengan kanan-kiri dan peluh yang menetes di dahi mereka, tetap tidak menghentikan langkah mereka untuk belanja kebutuhan hari ini, mungkin juga besok.

15 menit menunggu datangnya Metro Mini 69 yang akan membawa saya hingga Terminal Blok M. Jarang sekali, perbandingannya1:10 untuk mendengarkan kata, “silahkan mbak yang duduk” kecuali di situasi tertentu, seperti saat modus misalnya, dari seorang laki-laki yang duduk di bangku penumpang menawarkan tempat duduknya untuk wanita di depannya yang berdiri. Beruntung saya masih mendapat tempat duduk di bari belakang, walau bukan barisan favorit. Saya duduk dengan seorang laki-laki berumur sekitar 50an. Scanning. Saya rindu naik bis di jalanan Jogja sampai Solo yang biasa saya lakukan saat saya ingin ke jogja atau sebaliknya. Di mana, saya masih bisa bertegur sapa dengan penumpang lainnya, di sini semua orang seakan memasang plang dengan tulisan besar-besar “JANGAN GANGGU AKU” dengan telinga yang tersumpal headset mereka masing-masing, entah musik apa. Oh, mungkin begini memang wajah ibukota, kata saya sambil memasang headset, The Temper Trap menyemarakkan imajinasi dengan Sweet Disposition-nya.

Sesaknya Metro Mini pagi ini.
No matter you're a female or male, when you don't get a seat. It means you DON'T get a seat.

Terminal Blok M, pukul 9.00 WIB. Dan saya masih belum tahu harus ke mana. Ikuti saja ke mana kakimu melangkah, katanya Si Hati. Masuk ke terminal bawah tanahnya, saya membeli tiket Transjakarta. Perjalanan pun di mulai. Sedikitmerasa bersyukur, karena setidaknya kaki saya tidak melangkah keluar terminal untuk menuggu Bis P.125, Jakarta pagi ini macet, seperti biasa. Sedikit tips, jika anda ingin berjalan-jalan di Jakarta, asumsikan anda sedang berada di kota di mana jalur transportasinya tidak hanya macet tetapi macet banget, sehingga anda akan memulai perjalanan lebih pagi lagi.

Halte Masjid Agung, terlihat beberapa pekerja proyek yang sedang menggali tanah untuk proyek besar Bapak Gubernur untuk mengeluarkan warga Ibukota dari masalah macet. Semoga bisa cepat rampung dan nggak hanya sampai tiang-tiang bernilai miliaran yang tidak genah apa fungsinya akibat mandeknya proyek tersebut. Transjakarta memang alat transportasi umum bebas macet, jelas karena angkutan umum ini memiliki jalan khusus bebas hambatan, belum lagi alat transportasi ini sudah terintegrasi dengan bis-bis dari luar-dalam kota, semakin mudahlah akses warga Ibukota, rasanya sudah tidak ada lagi alasan untuk menggunakan kendaraan pribadi, stuck di tengah macet berjam-jam untuk sampai ke tempat tujuan. Kalau kita naik angkutan umum, kita juga bisa mengurangi kemacetan kan? Udah 2014 nih, udah nggak jaman lagi, kita mikir naik mobil bakal keliatan mentereng dll. Karena akan percuma saat kita menuntut Pemerintah untuk mengurangi kemacetan tetapi dari warganya sendiri nggak bersinergi dengan regulasi yang dikeluarkan pemerintah.

Balik lagi ke cerita.
15 menit kemudian Transjakarta telah sampai di halte Monumen Nasional. Saya turun di sana, setelah duduk sebentar, dan membuka aplikasi Google Maps, melihat tempat-tempat menarik terdekat yang dapat saya sambangi. Ada Museum Nasional dan Monumen Nasional, akhirnya pilihan jatuh di Museum Nasional. Lampu hijau untuk pejalan kaki sudah menyala, dengan buru-buru saya melintasi zebra cross, namun masih saja ada pengendara yang menyerobot lampu merah saat lampu hijau pejalan kaki belum juga berganti merah.

10.30 WIB, dengan hanya merogoh kocek sebesar Rp 5000,- saya sudah dapat berkeliling Museum Nasional. Museum yang lahir pada tanggal 24 April 1778 ini memiliki koleksi Arca, hasil-hasil kebudayaan dari suku-suku yang ada Indonesia dari Barat hingga ke Timur, melihat hasil kerajinan tekstil, keramik, dan lain sebagainya.

Interior dan isi dari Museum Nasional ini emang keren banget. Di dalam juga tempatnya adem, nyaman pula dan yang paling penting, benar-benar bikin saya bangga dengan Indonesia akan hasil kebudayaan, keberagaman dan keunikan masing-masing suku yang benar-benar menggambarkan Indonesia adalah negeri yang kaya akan budaya.

Saat itu saya sedang berada di tempat kebudayaan Suku Asmat. Tiba-tiba ada serombongan pengunjung warga negara asing yang datang dengan didampingi oleh pemandu wisata. Saat itu juga saya sadar, sedari tadi hanya saya satu-satunya pribumi yang ada di ruangan saat itu, sedang 3 orang lain pribumi lainnya baru saja keluar ruangan. Dan lainnya adalah warga negara asing. Bahkan kemirisan negeri dapat dilihat dari Museum. Entah sudah berapa banyak uang yang dikeluarkan pemerintah untuk membagun, memperbaiki dan mempercantik Museum agar diminati oleh setiap masyarakat. Miris saat melihat ternyata warga negara asing lebih mengapresiasi benda-benda yang ada di Museum, selain itu secara tidak langsung pemerintah hanya menggelontorkan dana miliaran rupiah hanya untuk menyenangkan para turis saja. Ke mana para pribumi? Apa kita sudah sangat percaya diri akan segala budaya yang kita miliki? Tetapi jika kita bahkan tidak mengenalnya, bagaimana cara kita mengapresiasinya? Sekarang menjadi wajar saat ada kasus pencurian barang-barang berharga Museum, mungkin saat itu pencurinya berpikir, “Jika saya mencuri ini, mereka juga tidak akan tau. Mereka kan tidak peduli, jadi tidak akan ada bedanya antar ada dan tidak adanya barang ini.”

Dan ini beberapa yang bisa saya tangkap dari kamera telepon genggam sederhana saya

Deretan Arca yang ada di depan Taman Musium Nasional

Sepanjang lorong ini diisi dengan peninggalan arca-arca dari jaman kerajaan Hindu dan Budha

Beberapa koleksi Arca lainnya

Salah satu relief yang ada di Museum Nasional

Taman di Museum Nasional

Seperangkat Gamelan Bali

Kalung Gigi, hasil kebudayan masyarakat Dayak

Ayo berkunjung ke Museum!

11.30 WIB saya keluar dari Museum Nasional. Duduk di halte sebentar untuk memikirkan lagi ke mana lagi saya akan pergi. Terima kasih atas segala pelajaran yang tersampaikan lewat bahasa bisu, semoga bisa jadi bekal untuk diturunkan ke anak cucu.


Kaki, ke mana lagi sekarang? Saya belum ingin pulang.




Wednesday, January 8, 2014

Get Lost I: MeRaya ke Jakarta

Setelah 1 semester pertama akhirnya terselesaikan juga pergulatan tahap 1 dengan para dosen, mata kuliah, jadwal yang saling bertubrukan dan tugas-tugas yang berkembang biak bagai Amoeba. Akhirnya aku meRaya ke Jakarta. Ibu, aku pulang. Ke tempat penuh sesak, ramai, di mana kesenjangan sosial sangat terlihat jelas, dengan Gubernur baru yang tengah membenahi sistem dan infrastrukturnya dengan kekompleksan warganya, namun tetap saja aku panggil tempat ini rumah. Jakarta adalah sebuah rumah, bagiku dan bagi 9,6 juta manusia lainnya. 

Kali ini aku tidak sendiri. Tidak-tidak, maksudku bukan hanya dengan musik, atau cemilan atau air mineral atau imajinasi, tetapi benar-benar dengan seseorang. Nenek atau Eyang atau Simbah tolong jangan hilangkan H-nya. Beliau yang kali ini menemani perjalananku. Sedikit ralat, kali ini aku yang menemani perjalanannya. Pertama kalinya, aku harus berpergian jauh dengan orang tua yang notabene berumur puluhan tahun dan hanya berdua. Ini merupakan sesuatu yang baru bagiku. 

Jujur saja, aku sedikit menggerundel dalam hati saat melihat atau mendengar bagaimana sikap beliau. Baik saat persiapan--Beliau ingin membawa segala barang untuk oleh-oleh anak tersayang katanya. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan beliau, entah tentang kekhawatirannya tentang bagaimana jika nanti di Jalan akan ada A atau B atau C atau abjad-abjad lainnya. Juga pertanyaan-pertanyaan retoris beliau yang selalu hadir di setiap menit perjalanan.

Butuh waktu sekitar seperempat perjalanan di atas bis Raya yang terus melaju di jalanan Solo menuju Semarang untuk memahami ini. Aku tipikal orang yang tidak ingin diganggu saat sedang memasang headset, mendengarkan White Shoes And The Couples Company dan membaca buku di sepanjang perjalanan, tiba-tiba harus menjawab pertanyaan-pertanyaan retoris yang, jika beliau berumuran sebaya sepertiku, aku mungkin akan menjawabnya dengan, "Yaelah Sob, gitu aja ditanyain."

Siang itu juga, aku sempat mengirim sms untuk Ibu di Jakarta, mengabarkan kami sudah dalam perjalanan sekaligus bilang kegusaranku atas ini. Namun, jawaban Ibu kali ini berbeda, dengan tawa renyahnya iya bilang, "Kamu jangan gitu... Nanti juga ngerasain, jalanin aja, berbakti sama Simbah..."

Sederhana memang, tetapi cukup membuatku terdiam sejenak dan berpikir tentang apa yang aku pikirkan selama ini. Kata-kata Ibu "nanti juga ngerasain..." awalnya aku telan mentah dan sukses mendapat respon dari otak "Idih ogah amat jadi kayak gitu..." Tetapi soal situasi di depan sana, siapa yang tahu, masih ada waktu yang kapan saja bisa merubah, dan ada Dia yang dapat membolak-balikkan segala keadaan.

Aku jadi berpikir, mungkin memang begitu siklusnya, menjadi seorang bayi yang baru dilahirkan, menjalani proses sosialisasi, menerima bantuan entah berjalan atau makan atau buang air kecil dan besar, menjadi balita, anak-anak, tumbuh menjadi seoarang remaja, menjadi orang dewasa dan setelahnya waktu berhasil mengubahmu menjadi manusia tua dengan uban dan keriput, mungkin juga tongkat atau alat bantu lainnya. Mungkin memang begitu prosesnya, semakin kita tua, tanpa kita sadari kita kembali menjadi anak-anak, raga yang sebelumnya gagah, kuat, independen kembali lagi menjadi raga layaknya bayi saat kita tua nanti, rapuh, renta, tergantung kepada bantuan orang lain(atau alat lain).

Perjalanan kali ini mengajak aku berpikir kembali tentang bagaimana seharusnya kita memperlakukan dan berpikir tentang orang tua. Karena bagaimanapun juga, mereka(orang tua) yang berjalan lambat di depan kita dengan tongkat, rambut yang memutih, kulit yang keriput dan tubuh yang menggelambir, mungkin adalah gambaran dari kehidupan masa tua kita nanti. Who knows.




Sunday, December 15, 2013

Solo Malam Itu...


Jalanan belum juga kering setalah diguyur hujan deras sesore ini. Solo masih diselimuti hawa dingin yang cukup untuk membuat tengkuk bergidik dan menenggelamkan tangan di saku-saku jaket atau di balik lengan panjang yang dipakai masing-masing manusianya.

Solo. Kota kecil dengan segunung budaya, komunitas, perkumpulan, dan beragam karakter manusianya, memang selalu aku anggap (re: setidaknya selama kurang dari 6 bulan terakhir) sebagai kota yang kharismanya muncul saat matahari sudah menempatkan diri di peraduannya, saat lampu-lampu di jalan mulai dinyalakan, saat satu per satu pedagang makanan Hidangan Istimewa Kampung atau yang lebih dikenal dengan HIK(re: he') membuka lapak mereka, dan saat itulah aku melintasi jalanan di tengah aktivitas-aktivitas kecil itu. Syahdu.

Malam ini, Pakde Iwan Fals dengan setia menemaniku dalam perjalanan kembali ke Makam Haji dari Kentingan menyanyikan Yang Terlewatkan. Waktu menunjukkan 23:15 WIB tadi, saat aku melintasi Jalan Slamet Riyadi, yang mana adalah akses jalan yang aku anggap paling vital yang ada di Solo ini. 23:15 WIB, saat di mana Mama dan Simbah mulai setiap 10 menit sekali menelpon dan menanyakan keberadaanku, dan setiap 10 menit sekali juga, aku harus menjawab pertanyaan yang sama. Sehabis hujan, di bawah sinar lampu jalan dan dingin yang terus merasuk ke dalam tulang, tulang rusuk, tulang punggung, dan tulang-tulang lainnya. Bayangan akan alergi dingin yang mungkin bisa kapan saja kambuh juga ikut menghantui. 

Solo malam ini seperti Solo di hari biasanya, selalu memberikan inspirasi di setiap sudut kotanya, di setiap sinar yang terpancar dari lampu-lampu jalannya, selalu indah dan nyaman untuk dinikmati. Hampir saja lupa, sudah hampir tengah malam dan aku belum juga pulang. Tetapi tetap saja tidak ada keinginan untuk mencari jalan terdekat atau setidaknya mempercepat laju motor yang kukendarai. Solo malam itu sukses menghipnotis kedua bola mata ini dan insan yang memilikinya.

Solo malam ini  dengan langit yang mendung, hawa yang dingin, jalan protokol yang mulai menyepi, tetap saja tak mengurangi sedikitpun kharisma dan keindahannya. Syahdu sekali berada di dalamnya, bersama wong-wong Solo yang terkenal aluse ra jiaamak itu. Membuat wewangian memori dari masa lampau akan sebuah Minggu yang menyenangkan bersama Bapak, adik dan ibu di sebuah rumah kecil yang berada di gang kecil di salah satu sudut di pinggiran kota Tangerang Selatan dan Jakarta itu kembali menguar, menyenangkan dan menyesakkan. Keluarga kecil yang bahagia itu mengajarkanku akan sebuah nilai kebahagian, yang sebenarnya adalah sebuah hal yang sangat sederhana. Tak perlu mendhagak sampai leher kaku untuk merasakan bahagia. 

Bagi Si Bapak, bahagia berarti berkumpul dengan keluarganya, di tengah hujan deras, dengan ibu yang memasak cemilan di dapur dan dirinya yang bermain Monopoli dengan kedua anak perempuannya. Bagi Si Ibu, bahagia berarti masih bisa memasak dan melihat ekspresi puas dari penikmat hidangan setianya. Itulah salah satu life-achievement yang tak akan terlupa bagi seorang ibu. Bagi Si Adik kala itu, kala itu bahagianya adalah bisa membuat satu putaran tanpa masuk penjara atau harus bayar denda lainnya dari  kartu Kesempatan atau Dana Umum, dan tidak bermalam di hotel siapapun saat itu, kalau bisa berharap sedikit ada yang akan singgah sebentar di hotel atau rumahnya yang tersebar di berbagai negara itu. Bagi Si Kakak kala itu, bahagia berarti bisa mengakali Adiknya, bisa bayar hutang ke Si Bapak dan dapat paling banyak kue Ketawa-nya Si Ibu.  

If I could only throw back time, I wanna go back to that time where I think that happiness is such as simple thing. That I don't have to worry about the consequences, the bad or the good stuffs, the possibility that I might get.  I just do what I want to do when it seems so interesting to me. I am the boss of my own self, my own life. 

And there goes the time.
It changed thing's around me. Happiness is not like the way I saw it, at that moment. Since I don't play monopoly anymore. But the way my Daddy think that "Happiness is simple" stick with my brain. I could stay the whole day, with Daniel Sahuleka play his songs on and on, coffee, and some books and never get bored. And that's just what I called happiness. 

But, the time..
It's like the time comes to deny what we think about the life supposed to be.
Like it comes to wake us up from our dream and remind us to be just realistic.
Like it comes to refuse all the thoughts we think that we might get back to our old life.
Like it comes to say "It's time to grow up..." 

If you ever wonder, why do often talk about happiness, it's because that's just one of those way to say, "Thank God for grant me a life that is unpredictably beautiful, amazing, that I shouldn't ask for more." And, maybe there's someone out there, feeling confuse for what happiness supposed to be, well this post is about how I made my own happiness, now since to made happiness is a must, then how's yours?




Thursday, November 21, 2013

Solo Sore Itu

Waktu menunjukkan pukul 17.35 WIB Adzan maghrib sudah berkumandang sekitar 5 menit yang lalu. Sedangkan aku masih mandeg di salah satu perempatan--yang aku tak tau apa nama daerahnya, di salah satu sudut kota Solo. Banyak kompetisi di jalan sore itu, berlomba dengan waktu--ingin cepat sampai di rumah untuk absen dengan Allah, dan bertemu keluarga di rumah, atau sekedar menikmati teh sore hari sambil menertawakan kebobrokan aparat negeri; berlomba dengan mobil dan motor lainnya--salip-salipan untuk jadi yang terdepan atau sekedar menghindar asap knalpot dari mobil berbahan bakar solar atau mesin 2 stroke; berlomba dengan lampu merah--dulu-duluan jangan sampai lampu hijaunya berganti merah saat akan melintas.

Solo dengan segala hiruk-pikuk di sore harinya, adalah suatu keindahan bagiku. Aku selalu menikmatinya. Ada saja yang unik untuk diperhatikan, entah orang yang slonong-boy menyebrang di jalan dan habis dipisuhi pengendara di jalan(memang banyak sekali yang suka mak sliwer di Solo), atau bapak-bapak penjual bakso bakar yang ngipasin arang di depan Gedung MTA. 

Di bawah langit ungu ke biruan dan lampu jalan Slamet Riyadi yang mulai menyala, sayang sekali tak sempat aku abadikan(lagi). 60km//jam kupacu honda beat putih yang sudah menamaniku selama 3 tahun terakhir. Tapi cerita hari ini tidak hanya tentang Solo sore hari nan indah ini.

Solo hari ini adalah tentang anak-anak dari sebuah desa kecil di Sangkrah. Desa kecil di pinggir sebuah bendungan besar. Desa kecil yang banyak di antara pencaharian warganya adalah sebagai pemulung. Desa kecil di mana harapan tumbuh subur di benak masing-masing anak di sana.

Sore ini, aku dan beberapa teman mengajar membaca, menulis dan beberapa pelajaran lainnya di sana. Semacam memberi tambahan jam belajar untuk anak-anak yang masih kesulitan untuk mencerna materidi sekolah. Namanya Galang, usianya 7 tahun, anak yang cerdas dan suka sekali dengan matematika; lalu ada Nenden, kelas 2 SMP, perempuan manis berkulit sawo matang dengan perangai tomboy ini adalah seorang penggebuk drum handal; kemudian Nela, kelas 4 SD, pecinta Angry Birds, terlihat dari kalung dan anting yang ia kenakan, anaknya pemalu sekali; yang terakhir Tina, kelas 6 SD, semangatnya untuk sekolah sangat besar, impiannya tidak muluk-muluk, hanya dapat nilai bagus agar bisa melanjutkan ke SMP Negeri, ia terancam putus sekolah jika harus meneruskan pendidikannya di sekolah swasta. Begitupun yang lainnya.

Jika dahulu pahlawan mengangkat bambu runcing, berperang, melakukan gerilya, untuk sesuatu bernama "Kemerdekaan", yang mana adalah sebuah hak bagi segala bangsa--setidaknya itu yang dikatakan para Founding Fathers kita di UUD 1945. Agar nanti, anak cucunya mampu merasakan apa yang dirasakan penjajah pada masa itu; kesejahteraan, kemakmuran, hasil alam yang melimpah, termasuk pendidikan yang terbaik. Kali ini, di era reformasi yang kebablasan, di depan mataku sendiri, pendidikan yang katanya adalah sebuah hak yang harus diterima oleh setiap bangsa, menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan. Walaupun memang hak adalah suatu perjuangan yang kita tuai dari kewajiban-kewajiban yang kita lakukan, namun sudah semestinya untuk hal seperti pendidikan, setiap warga negara di negeri ini merasa yakin dan percaya diri bahwa dirinya pasti dan akan mendapat pendidikan baik itu formal maupun informal. Namun sekarang kenyataannya, kalau memang pendidikan adalah sebuah hak, mengapa ada warga yang masih khawatir, tidak bisa melanjutkan sekolah bahkan sudah mendeklarasikan dirinya untuk tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi jika memang harus melanjutkan ke sekolah swasta, apalagi kalau pada akhirnya soal biayalah yang dipermasalahkan. Ke mana perginya negara? Ke mana perginya pemimpin negeri? Di titik ini, aku merasa, 'kami' telah lama jauh dengan sosok yang paham akan kondisi ini. Banyak di antara warga ini yang bahkan menomor duakan pendidikan. "wis nduk, timbange sekolah, mending ngrewangi ibuk wae...raketang gur resik-resik omah." Ini 2013 dan masih ada yang punya mindset seperti ini. Masih ada.

Hal-hal yang aku jabarkan barusan itu nyata. Mereka yang mengamen saat lampu merah di depan Showroom Panggung itu juga nyata. Sampai kapan ingin menutup mata? Kita lihat dari sektor akademisi. Apa yang mereka lakukan? Sibuk dengan sekat-sekat jurusan. "Itu ranahnya orang keguruan" "Itu ranahnya orang sosial" kata mereka yang saling tunjuk. Terlepas dari apa jurusan yang kita ambil, entah di bangku sekolah atau kuliah, masa depan bangsa adalah sebuah tanggung jawab bersama. Kalau kita terus menerus berpikir, "Soal negara udah ada yang ngurus kali, tuh! (nunjuk orang-orang yang molor di DPR)" Lalu jika telah sampai masanya mereka meninggalkan kursi kehormatan, siapa yang akan mengatur negeri agar tetap pada haluannya?

Galang, sore ini di kelas membaca dan menulis. 

Setidaknya melihat Galang(dan anak-anak lainnya) sungguh-sungguh belajar, menjadi semangat baru untukku dan teman-teman yang lain. Jika dilihat lagi, mungkin yang aku ajarkan memang hanya sekedar baca dan tulis, hanya sekedar A-I-U-E-O, Ba-Bi-Bu-Be-Bo, perkara mudah untuk mereka yang duduk di perguruan tinggi. Namun, jika kita tetap menjadi mereka yang hanya fokus mengkritisi pendidikan. siapa yang mulai turun tangan? Karena setinggi apapun kita menempuh pendidikan, kepada masyarakatlah kita akhirnya mengabdi.

Langit Solo sore yang indah itu, beberapa klakson mobil dan motor itu, angin dingin yang mulai menelisik sweater dan kemeja itu, menjadi saksi akan sebuah janji seoarang pemudi untuk sebuah perubahan pada negeri.





Sunday, November 3, 2013

We Should've Loved it


Siang itu posisi matahari tergak lurus dengan bumi Solo. Terik. Sangat terik. 28 derajat Celcius tapi sudah terasa di padang pasir, ya terima kasih padatnya lalu lintas, minimnya ruang terbuka hijau, terima kasih karenanya Solo menjadi berkali lipat panasnya. 

Sementara itu, aku berlari-lari dengan tas punggung orange yang sudah menemaniku hampir 5 tahun terakhir menuju ruang tunggu Stasiun Balapan untuk menemui Yanna yang sudah menanti dengan dua tiket yang sebelumnya sudah ia beli.

"Anin! Akhirnya dateng juga, nih tiketnya, keretanya udah dateng, masuk yuk." Katanya sambil memberikan selembar tiket Kerete Prameks jurusan Solo-Jogja dengan keberangkatan pukul 13.00 WIB, tepat 10 menit sebelum keberangkatan.

Naik ke gerbong kereta, sempat celingak-celinguk mencari tempat duduk yang mungkin masih kosong, benar saja, semua tempat telah terisi. 

"Yah, bener nggak ada tempat duduk nih."
"Yaudahnanti kalo udah jalan kita duduk aja."
"Beneran?"
"Iya beneran, nanti malah bisa selonjor haha"

Singkat cerita, Kereta kami akhirnya melaju, jugijagijugijagijug jangan bayangkan kereta tercepat di Jepang, karena Prameks...yah sangat jauh dari kereta yang itu, namun setidaknya dengan ini, aku bisa lebih memperhatikan hal-hal di sekitarku. Melihat pemandangan, hamparan sawah luas, siluet Gunung (entah gunung apa) di kejauhan, rumah warga yang tersusun agak berantakan di pinggir pinggir rel, lewat kaca lebar kereta ini.

Stasiun Klaten sudah dilewati, aku mulai bosan. Perjalanan kali ini sungguh berbeda dengan perjalananku yang biasanya. Orang-orang di kereta ini tampak lebih sibuk dengan gadget mereka masing-masing, ada yang main game, mendengarkan musik, bahkan salah seorang penumpang di sebelahku yang juga mahasiswa, membaca materi untuk UTS dari tabnya. Mungkin karena penumpangnya yang mayoritas adalah anak muda sehingga tidak heran jika dari awal masuk ke gorbang yang ingin ditemukan adalah "Me-Time", Berbeda halnya dengan orang-orang tua yang aku temui, mereka cenderung lebih responsif dan kepo dengan orang-orang yang baru saja mereka kenal. Pada saat itu, untuk pertama kali aku rindu naik bis. Karena tak ada lagi yang bisa dilakukan, akhirnya aku memasang headset, dan mulai menshuffle playlist yang ada di telepon genggam kecil ku ini, Nokia 101/ HP Cawetrangers.

  My head is stuck in the clouds
  She begs me to come down
  Says, "Boy, quit foolin' around"
  I told her, "I love the view from up here
  Warm sun and wind in my ear
  We'll watch the world from above
  As it turns to the rhythm of love"


Perlahan, dengan mantap suara Tom Higgenson mulai menyanyikan Rhythm of Love. Angin berdesir dari jendela kecil di atas kepalaku. Rumah-rumah warga yang ada di depan pandanganku seakan berlomba, berkejaran dengan kereta yang aku naiki siang itu. Syahdu.

"PRAAAAAAK!"

Tiba-tiba ada bunyi memekakkan telinga di bagian lain tempat duduk, di gerbong yang sama yang aku naiki. Seketika itu pula, para penumpang berdiri, ekspresi kaget terlihat dari setiap penumpang. Aku juga merasakan hal yang sama. Masih mencari sumber suara, pihak keamanan kereta pun datang ke gerbongku. Rupanya ada yang melempari kereta kami dengan batu. 

"Oh, dilempar batu, biasanya anak-anak sih kayak gitu." Kata penumpang di sebelahku yang menanggapainya seakan itu merupakan hal yang sudah sangat biasa terjadi,lalu kembali ke tab dan materi UTSnya.

Kini Tom tak lagi terdengar di telinga. Otak ini sibuk merekonstruksi kejadian yang baru saja terjadi. Seorang anak memang mungkin saja melakukan hal itu, namun, apa motifnya? Iseng? Penasaran? Entah apa motifnya, aku pribadi menyimpulkan ini bukan saja tentang keisengan anak-anak untuk melakukan pengrusakkan atas fasilitas umum, namun lebih karena tidak adanya kesadaran dalam diri anak-anak untuk menjaga fasilitas umum, tidak adanya kesadaran bahwa fasilitas ini adalah milik bersama, untuk kepentingan bersama yang harus dijaga bersama. Terlepas darisiapa yang bersalah atas kejadian ini, kembali ke lembaga-lembaga di masyarakat terkait yang bertanggung jawab atas perkembangan anak-anak untuk dapat menanamkan rasa kecintaan dan kesadaran akan fasilitas-fasilitas umum, bukankah akan indah jika setiap orang menjaga, merawat dan mencintai fasilitas umum seperti mereka memperlakukan itu kepada diri mereka sendiri?

Kemudian petugas keamanan menyapu pecahan kaca, dan setiap orang kembali duduk ke tempat semula. Kembali memasang heaadset mereka, mendengarkan musik mereka, memasang sekat tinggi dan sulit dipanjatb atau diruntuhkan, kembali masuk ke dalam dunia mereka masing-masing. Sampai tiba di stasium istimewa, Stasiun Tugu.



Thursday, October 24, 2013

Sebongkah Senyum di Jalan Jogja-Solo

Waktu menunjukkan pukul 16.45 WIB. Bukannya berada di dalam gerbong kereta yang akan membawaku ke Kota Istimewa itu, aku masih duduk di lobi Stasiun Purwosari, mencoba menelpon Ibu di Ibukota. Kertas HVS ukuran A4 yang bertuliskan "Kereta Jurusan Solo-Jogja berangkat pukul 20.30 Tiket Dijual pukul 20.00" masih merekat erat di depan tempat penjualan tiket, sementara di dalamnya tidak ada satu orang petugaspun  yang muncul untuk dimintai konfirmasi.

"Ah gagal naik kereta" Ujarku.

Sekelompok anak muda dengan membawa tas punggung yang penuh, dengan dandanan khas macam traveler, celana kulot, tees, kacamata hitam, topi, sandal gunung, ada di baris bangku lain, bersenda gurau, tertawa keras seakan mereka adalah pemilik alam. Di depan mereka duduk seorang ibu dengan dandanan menor, dengan travel bag dan kardus yang entah berisi apa namun terlihat penuh tersusun rapi di sebelah kakinya. Di depan dan di belakangku sangat terlihat dari pakaian yang mereka kenakan, pegawai kantoran, berusia sekitar 30an, dengan wajah kecewa, menunduk dan memainkan handphone mereka. "Nggak ada tiket mbak", kata laki-laki yang duduk di depanku, wajahnya masam, kekecewaan jelas sekali terlihat.

Setelah beberapa kali menelpon dengan ibu dan beberapa sahabat, aku mantapkan pilihan untuk melanjutkan perjalanan ke Jogja, baiklah kali ini aku akan naik bis saja. Dengan menaiki ojek aku sampai di shelter bis di depan Solo Square, kali ini waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB.

"Ajeng teng pundi mbak?"
"kula badhe teng Yogya, Pak"
"Wah bisnya lagi wae jalan mbak, yowis ditunggu mawon mbak"
Sial...
"Oh, nggeh pak"

Angin dingin mulai bertiap, entah kenapa matahari meninggalkan panggungnya begitu cepat, digantikan mereka awan-awan hitam. Langit makin gelap, dan bis jurusan Yogya-Solo belum juga datang.

"Kayaknya bakal ujan" Batinku.

Benar saja, tak lama kemudian, hujan deras mengguyur kota Solo senja itu, diiringi dengan petir yang menyambar-nyambar belum lagi angin yang berderu kencang. Aku masih di shelter bus, menunggu giliran bisku datang dan mengantarku ke kota pelajar itu. Orang-orang di sekitarku mulai berhimpit ke tengah shelter, mencoba melindungi diri dari tampias air hujan menutupi tas, wajah, atau buku-buku sebisanya. Namun ada juga yang masih asik dengan telepon genggamnya, entah memperbarui status atau mengabarkan keluarga di rumah. Wajah yang aku lihat di stasiun kereta tadi berkali-kali lipat lebih banyak di shelter bus ini. wajah-wajah kecewa, wajah dongkol, wajah kesal.

"Nikmati momennya... Nimati momennya... Nikmati momennya...." Kataku berulang-ulang di dalam hati, berusaha untuk tidak terpengaruh emosi yang ada di sekitarku. Aku pun menunduk mencoba merasakan setiap titik air yang terciprat ke wajahku, merasakan dinginnya dan berdoa agar paling tidak hujan ini cepat mereda.

18.00 WIB akhirnya bisku tiba. Dengan tertib para penumpang masuk ke bis yang akan mengantar mereka ke kota gudeg itu. Aku duduk di baris kursi nomer 5 dari kursi supir. Setelah menyamankan diri tiba-tiba seorang suara wanita di sebelahku menyapa.

"Kamu UNS juga?"
"Eh... iya hehe, kamu juga?"
"Iya, hehe, kamu dari fakultas apa?"
"Aku FISIP, kamu apa?"
"Aku FKIP."

Dan begitulah akhirnya kami berkenalan. Kami bercerita tentang mimpi kami yang akhirnya harus pupus, bagaimana kami harus bangkit lagi, berusaha optimis di jalan yang sudah di Desain oleh Sang Maha Arsitektur kehidupan. Obrolan kami suungguh asik hingga aku tak sadar kalau langit-langit tepat di atas kepalaku bocor. Setelah melihat akhirnya aku memutuskan untuk berdiri saja hingga menemukan tempat kosong yang lain. Sedih sekali harus mengakhiri pembicaraan dengan Ayu, si teman baru dari FKIP, UNS.

AHA! Ada tempat kosong rupanya di sebelah bapak paruh baya itu, saat aku ingin menghampirinya, sayang sekali, rupanya tempat yang tidak diduduki itu juga bocor, baiklah, sebentar lagi pasti  ada yang turun, berdiri sebenetar nggak apa-apa kok, kataku dalam hati berusaha untuk menaikkan mood sendiri dengan berpositive thinking. Baru saja berusaha untuk menyeimbangkan badan di bis, seorang bapak yang duduk di sebelahku berkata,

"Di sini aja, Mbak"
"Oh, ndak apa-apa Pak"
"Lha ya nggak papa, di sini aja"
"Lha nanti Bapak gimana?"
"Saya nggak papa"

Serta merta Si Bapak berdiri, dan mempersilahkan aku untuk duduk di tempat duduknya.

"Subhanallah, baiknya..."

Bapak itu berdiri di jalan sempit di sebelahku, satu sisi aku merasa bersyukur atas hati nurani si bapak ini yang masih tergerak namun di sisi lain aku prihatin akan nurani entah berapa puluh orang yang ada di bis ini yang mungkin saja mempersilahkan aku duduk di tempatnya duduk namun nyatanya tidak mereka lakukan. Terima kasih tak lupa kepada Tuhan atas rahmatNya yang telah menyelipkan orang-orang baik di tengah krisis moral dan nurani di negeri ini. Di sebelahku duduk seorang laki-laki warga negara asing bersama teman wanitanya, mereka mengobrol asik tentang apa saja, film, musik, segala obrolan standard khas orang baru berkenalan, aku rasa. Tiba-tiba si wanita di sebelah pria bule itu menepuk tanganku.

"Mbak mau ke Jogja juga?"
"Iya"
"Oh, mau turun di mana?"
"Di Prambanan mungkin"
"Oh kalau Maguwo itu setelah prambanan kan ya Mbak?"
"Iya, nanti juda kernetnya bilang kok kalo udah di Maguwo"
"Oh yaudah, makasih ya Mbak"

Cukup untuk hari ini. Aku ingin menggunakan waktu sempitku sebentar untuk menikmati me-time. Aku rogoh headset dan handphone dari dalam tasku. Lantas kumainkan playlist yang ada. Perlahan musik mulai mengalun, Ronan Keating mulai menyanyikan bait demi bait lagu yang berhasil mereka cover dari The goo Goo Dolls berjudul Iris. Di tengah hujan yang mulai mereda entah di sebelah mananya Klaten aku berada, aku merasa syahdu.

"... And I don't want the world to see me...
Cause I don't think that they understand...
When everything's made to be broken...
I just want you to know who I am..."

Aneh. Aku merasa ada mata yang tengah memperhatikanku. Lalu aku menengok ke kanan dan kiri. Benar saja, kedua bola mata bapak tadi memang tengah memperhatikanku lewat lirikkannya. Senyum hanya itu yang bisa aku lakukan.

"Mbak mau ke Jogja?"
"Iya pak, bapak juga?"
"Oh nggak mbak, saya cuma sampai Waru"
"Oh gitu, Jogja masih lama ya pak?"
"Ya mungkin nyampai sana sekitar jam 7.30 mbak, lha mbak mau ke mana?"
"Saya mau ke Gunungkidul, Pak"
"Oh, tapi sekolah di Solo? Di mana mbak?"
"Udah kuliah, Pak, hehe. Saya kuliah di UNS"
...........

Lalu secara otomatis percakapan kami mengalir begitu saja, Si Bapak bercerita tentang dirinya, tentang keluarganya, tentang anak-anaknya, tentang Klaten dan tak lupa tentang cuaca. Kami bercengkrama dengan sangat akrab kala itu, persis seperti seorang keponakan dengan pamannya.

Singkat cerita si Bapak turun setelah sebelumnya sempat mengucapkan doa semoga aku sampai dengan selamat di rumah, diikuti bebeberapa penumpang lainnya. Bis yang aku tumpangi makin sedikit penumpangnya., akhirnya ada juga dua bangku kosong untukku duduk. Duduk di pinggir kaca, sambil melihat titik-titik air sisa hujan tadi, kembali dengan headset dan playlist dari handphoneku, kali ini giliran Hayley Williams yang mengguncang telingaku dengan Pressure-nya.

"...I can feel the pressure
It's getting closer now
We're better off without you..."

Lalu ada seorang ibu yang tengah kesulitan untuk menempatkan dirinya untuk duduk.

"Mari Bu..." Sambil menyingkirkan tasku dari kursi di sebelah
"Makasih mbak, aduh saya nunggu bisa udah hampir sejam baru deh dateng ini, hujan deres banget tadi di sini...."

Kata Si Ibu dengan antusiasnya cerita. Diam-diam aku mencopot headsetku dan mulai mendengarkan ceritanya. Kali ini aku sempat berkenalan dengannya, namanya Ibu Angelika. Dia bercerita lebih banyak, tentang kehidupannya, tentang pekerjaannya, anak-anaknya, dan bagaimana ia harus bolak-balik setiap hari dari Jogja ke Klaten untuk mengurus keluarga, bekerja di rumah sakit dan mengurus ibunya. Ia juga bertanya tentang bagaimana latar belakangku, di mana sekolahku, dari mana asalku, dan........sukakah aku tinggal di Jogja? atau Betahkah aku tinggal di Solo. Segala pertanyaan yang mungkin akan dianggap orang sebagai pertanyaan yang tidak penting dan terlalu banyak basa-basi, namun, ya itulah kami malam itu, kami bertukar cerita, bertukar pandangan tentang tempat yang membuat kami nyaman dan merasakan sensasi dari hidup yang tak hanya sekedar bernafas untuk bertahan, tetapi juga menikmatinya.

Dari Ibu Angelika, malam itu saya belajar bahwa yang kita butuhkan untuk terus melanjutkan hidup adalah menjalaninya. Tak perlu banyak berteori, apalagi ketakutan-ketakutan akan apa yang bahkan belum kita temukan.

"Iya Mbak Anin, jalani aja, nanti juga nggak kerasa kok, yang penting tetep ngelakuin yang terbaik"

Sepenggal kata dari Ibu Angelika yang akan selalu kuingta. Juga ekspresinya saat mengatakan kalimat itu, sebongkah senyum di bibirnya dipoles gincu merah merekah, terlihat kerut-kerut di wajahnya, menandakan usianya sudah tak lagi muda, namun tetap indah. Juga doanya, agar aku lancar di dalam prosesku menempuh pendidikan tinggi dan sukses untukku di kemudian hari.

"...aamiin"


Hari itu akhirnya aku melakukan perjalan lagi dengan angkutan umum. Malam itu aku punya cerita baru tentang orang-orang baru yang mewarnai jalan panjangku. Malam itu aku membuktikan kepada kalian semua yang membaca ini, bahwa berpergian sendirian tidak seburuk itu. Dan karena malam itu, sekarang aku berseru kepada kalian yang membaca ini, jangan takut untuk berpergian sendiri dengan bus kota. Jika kalian sudah melakukannya, buka mata, buka telinga dan buka hati kalian, ada banyak cerita yang bisa kau ukir di sana, di dalam bus kota.



Tuesday, August 27, 2013

Happy.

After a very long time, finally I could write some more here. I've told you right that my laptop was broken so, sometimes I should just borrowed my brother's, well overall that's why I didn't post anything here for a couple of weeks, but just because I didn't post anything, didn't mean I stopped writing, cause I still do. I write, I meant literally write in a note book that I brought everywhere I go.

Well, another life phase has come, finally I should just leave my High School era(wutt). Leave the era that has made me who I am now. The laughter, the struggles, the tears, the desperation, the screams, the sickness, those stuffs that I ever laugh and cry off, are stuffs that I would never forget till those times when I got my hair turns to grey, my feet becomes weak, wrinkles on my face, and that day when I should just sleep.

And then, I should move to another town, uumm I actually got a bit confused to call this city cause it's not that big to call it as a town or a city, but to call it a village, all of those modernization has been injected to the culture and the people. It's Solo or Surakarta, the place that I live in now.

Solo. Just don't bother the name of this city. If you're a single man/woman, it doesn't make you any better just to find the city's name is the same as your status, cause the fact is it would make feel MORE alone. Why? In my point of view, Solo is a little city with the Javanese culture that rules every part of people's living here. Like the norms, the politeness, the language, and the rituals that some people still do. Solo itself has its own slogan, "Solo The Central of Java" it assigned that here in Solo you can find everything, culture, education, local wisdom, culinary, fashion, lifestyle, everything, because this city is where it all come from. And why did I said that Solo will make you feel more alone when you're single? because there's just so much beautiful places you can explore here, and that's just hmmm a bit pathetic when you're doing it alone. BUT, who says you can't call off all of your friends to explore this city? Call them off and just go ride from the West to the East and from the North to the South. And for me, Solo is a perfect place for those who love to do Culinary Traveling. Trust me. You can find so much cafe, street vendor, Angkringan that would give you the best culinary from Solo, and the most important is, they're cheap! So if you love to eat, you would not regret anything for coming here. Oh and, don't wear any belt ;)

But still, I love Yogyakarta more. I know everything takes time for the process, but I don't think that I would love this city as much as I love Yogyakarta. Something magically has made me love that city, I wish I could come back there, build a house in a country side, far from the crowded road, there's just me and my future hubby, spending time together till the death separate us. Ok, that would be just princesses' story, and I'm not one of them. 

The fact is I'm not feeling that sad like the first time I move to Gunungkidul, now is different. I think I've grown up? I don't exactly know why, but it's just something makes me believe, something's buried deep inside my heart, saying that everything's gonna be okay and I can get through this. And something like confidence, remind me that it's not my first time to move to another city without parents follow me yet I could still do that, So, I'm gonna do this for the next 4 years(or less? aamiin). The question that my mom always asked whenever she felt doubt of me, "Are you happy?"

At times, yes I answered that I'm happy, just to make my mom feels relief. But one week, two weeks, the time pass me by, I'm finding my own definition about happy.
  1. Being happy is not about with whom I live with in a house, but feeling complete because of those people who live right in my heart and I'm sure that they'd never leave.
  2. Being happy is about feeling grateful for what God has planned, has given, has made for me.
  3. Being happy is when I looked at my wallet, I think I've had enough, no matter how many the bucks.
  4. Being happy is when I'm releasing my emotions through writings, music, songs, or movies.
  5. Being happy is about the choice, and the choice is always be mine to choose whether I choose to be happy or not to be.
  6. Being happy is a right, but it's not just something you get pricelessly, I just gotta work for it.
So, are you happy? What's your definition for "HAPPY"?




Friday, May 24, 2013

Aku dan Perjalanan (Metromini 69 Ciledug-Blok M)

07.30 WIB
“Good morning universe :)” Tweet Sent. Kegiatan pertama yang aku lakukan saat bangun tidur. Duduk di ujung tempat tidur, berusaha mengumpulkan nyawa-nyawa yang masih berterbangan di langit-langit kamar. Keluar kamar dengan mata yang masih setengah terbuka dan meminum 2 gelas air putih. Seorang wanita keluar dari dapur dan memulai nyanyian paginya, lagunya pagi ini berjudul “Wanita dan Fajar”. Lagu ini bercerita tentang wanita yang memiliki kewajiban untuk bangun saat waktu fajar dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah
dan lain-lain, dan lain-lain. Aku tetap berkilah dengan alasan sedang haid dan lain-lain, dan lain-lain, tapi ya, dalam hati kecilku berkata “Kau harus ingat dengan
siapa kau berkata, sejauh ini wanita di depanmu itu memang selalu benar
bukan?”
08.00 WIB
“Ann! Jangan nyanyi di kamar mandi!!!” Kata wanita itu sambil menggedor-gedor-aku tahu “menggedor” adalah kata yang
sangat berlebihan, tapi begitulah adanya, pintu kamar mandi kami. Aku diam sejenak. Langkahnya menjauh, dan aku meneruskan bait lagu yang tadi terpotong. Kali ini, dia tidak menghentikan aku, entah ia pergi keluar rumah atau lelah mengingatkan.
09.00 WIB
“Astaga baru jam 09.00 pagi dan panasnya seperti jam 12.00?!” Ah sudahlah, tak ada gunanya mengkritik langit, terlalu bising di
bawah sini, dia tak mendengar. Pelembab, sedikit sapuan bedak, eyeliner agar mata ini tidak terlihat seprti orang yang
mengantuk-warisan dari bapak yang juga bermata sayu, sedikit pulasan untuk bibir berwarna pastel. Klasik. Aku mulai memilah baju mana yang akan aku pakai, pilihanku jatuh di baju berbahan
chiffon hitam, celana skinny hitam dan shawl hitam bercorak merah muda untuk perjalanan hari ini. Aku tau, aku bodoh, memakai baju serba hitam di hari yang super panas ini merupakan keputusan
terbodoh yang pernah dibuat,tapi…..sudahlah. toh, aku tetap saja
nyaman.
10.15 WIB
Setelah pamit dengan wanita yang
sekarang tengah sibuk dengan
masakannya, aku segera bergegas
meninggalkan rumah. Mobil Suzuki Carry yang di kaca depannya dihiasi tempelan kode trayek C.12-yang bangkunya sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga penumpangnya duduk berhadapan, yang duduk persis dibelakang supir harus terdiri dari 6 orang, dan dihadapannya 4 orang, kalau tidak angkutan ini tidak akan jalan, akhirnya melintas. “Bayoran, Neng!” kata si Supir saat mobilnya berhenti di hadapanku. Aku masuk dan menempati tempat yang masih tersisa. Ada 8 orang
wanita di dalamnya termasuk aku, 2 diantaranya masih muda, dan lainnya adalah ibu-ibu berumur sekitar 30an ke atas. Tidak ada percakapan, seperti biasanya, semua orang sbuk di dunia mereka masing-masing. Sementara aku memilihi memperhatikan mereka yang sibuk dengan dunianya dan tidak tahu jika
sedang diperhatikan.
10.30 WIB
Harusnya sekarang aku ada di Metromini 69 jurusan Ciledug-Blok M, tapi di sinilah aku sekarang, berdiri di depan coffee machine(lagi) di sebuah minimarket. “Capuccino oke juga.” Pikirku. Kopi untuk pagi menjelang siang ini, Capuccino, sampai terminal Blok M.
10.35 WIB
Akhirnya masuk juga aku di kendaraan yang supirnya selalu menyetir seakan mereka yang memilki jalanan. Kali ini aku
tidak duduk di bangku favoritku, barisan ke-2 belakang supir. Ada bapak tua yang sudah duduk di sana, akhirnya aku duduk di baris ke-4 yang kedua bangkunya masih
kosong, aku memilih duduk di samping jendela. Di belakangku duduk seoarang pria, umur sekitar 30an tahun, memakai gelang berwarna emas, berkumis dengan
kaos Polo hitam bergaris putih di bagian dadanya. Ia tengah sibuk dengan telepon genggamnya. Namun aku lebih memilih menikmati segelas Capuccino yang ada di tanganku sambil memasang headset dan mendengarkan musik. Suara Rihanna yang menyanyikan Take A Bow seakan memenuhi metromini 69 ini, dan entah ilusi macam apa, tapi cuaca tidak terasa
sepanas sebelumnya.
10.45 WIB
10 menit berlalu. Aku dikejar waktu. Tapi Metromini ini malah berhenti di depan sebuah pertigaan, padahal tidak ada lampu merah di situ. 5 menit, tapi belum juga melaju. Aku berusaha acuh, dan bersabar sedikit lagi. Setidaknya itu juga yang berusaha dilakukan orang-orang di dalam
sini. Tapi ternyata aku salah, tiba-tiba bapak yang tadi duduk di belakangku memukul kursi di sebelahku sangat keras, dan berteriak “WOY! JALAN UDAH, NGGAK ADA PENUMPANG LAGI JUGA!” Seketika itu juga setiap penumpang tertuju pada bapak itu, ada yang menatapnya dengan takut, tapi ada juga yang jengah. Dan tak lama setelah itu, Metromini kembali melaju. Terminal Blok M. Sepanjang sisa perjalanan aku terus berpikir tentang apa yang baru saja dilakukan bapak ini. Harus diakui,
tindakannya memang sangat berani. Aku tidak yakin, jika bapak tadi tidak beraku demikian, mungkin Metromini itu akan berhenti lebih lama di tempat tadi. Dan memang itulah yang seharusnya dilakukan kebanyakan orang agar aspirasinya ikut dijadikan bahan pertimbangan, yaitu dengan mulai berbicara. Dengan etika yang baik tentunya, agar pada akhirnya tatapan-tatapan yang diterima bapak itu
tidak terulang lagi pada kita yang berani berbicara.
11.15 WIB
Metromini 610 Blok M-Pondok Labu sudah menanti di depan sana, aku setengah berlari dan di sinilah aku sekarang, duduk
di barisan kedua, di depan pintu.



Wednesday, May 15, 2013

Aku dan Perjalanan: Kopaja 616

Matahari bersinar dengan gagahnya di langit biru sana. Mengamati setiap kegiatan manusia yang hiruk-pikuk, lalu-lalang di bawahnya. Deretan panjang kendaraan beroda empat(atau lebih) yang seakan tak ada putusnya mengisi setiap jalan-jalan ibu kota. Belum lagi puluhan motor yang menyeinap celah demi celah yang tersisa, menyalip ke kanan, banting ke kiri, putar lagi ke kanan, begitu terus hingga mereka sampai di tujuan. Ada juga beberapa pedagang asongan yang menyerbu kendaraan yang berhenti di lampu merah, mereka yang beroda dua menutup helm rapat-rapat, mereka yang beroda empat, menutup kacanya tanpa celah sedikitpun, mungkin menganggap mereka yang berpanas-panas di luarnya itu tidak ada.

Aku? Aku sibuk mengamati makhluk-makhluk Tuhan ini dari dalam balok oranye yang diberi roda, mesin rongsok yang jika dinyalakan akan mengeluarkan bunyi yang maha dahsyat dan asap hitam tebal, bertuliskan "Metromini". Ya, disitulah aku, duduk di barisan kedua di belakang Pak Supir, yang berkalung handuk putih "Good Morning" di lehernya. Syukurlah aku duduk di dekat jendela, jendela besar yang berlapis entah berapa centimeter debu ini seperti sumber kehidupan untuk para penumpang di dalamnya.

10 menit sebelum aku menaiki kendaraan sejuta umat ini, aku sempatkan kakiku melangkah ke dalam ruko yang disulap menjadi sebuah minimarket yang di dalamnya menjual banyak makanan kecil hingga besar, minuman, dan perlengkapan lainnya. Aku sengaja berlama-lama di dalamnya, ah sejuk sekali di sini, andai jalanan bisa sesejuk ruangan ini. Menit setelahnya aku sudah berdiri di depan Espresso Machine. Mataku mulai terpaku kepada kolom tulisan yang ada di atas mesinnya. Kopi apa yang akan aku minum ya, Kopi Hitam, Kopi Susu, Cappuccino, Macchiato, Coffee Latte, atau malah beralih ke mesin satunya di mana aku bisa mengambil satu cup coklat panas? Tapi tidak, ternyata mataku menangkap mesin yang ada di sebelah mesin coklat, ya, pilihanku jatuh kepada Choco Latte. Bungkus.

Akhirnya, di sinilah aku. Duduk di dekat jendela dengan satu cup choco latte di tangan kananku, dan headset yang terpasang sempurna di kupingku yang tertutup hijab bermotif tribal pemberian tante. 16 kilometer lagi, menurut Google Maps, aku bisa mencapai tujuanku selama 30 menit, tapi.....Ya, ini Jakarta, kota di mana kamu hanya bisa mengenderai kendaraanmu sampai 10-20 km/jam. Ajaib.




Thursday, August 9, 2012

Hello Thailand! PART III

Oke, untuk part ketiga emang baru bisa gue tulis sekarang hehe. Langsung aja ya...

Gue masih dengan rasa senang gue disapa dengan "Assalamualaikum" sama orang yang bahkan nggak gue kenal. Mungkin, orang lain bakal mikir itu biasa atau norak atau hal yang sepele. Tapi, gue memaknai itu lebih dalam lagi,  Karena nggak mungkin mereka nyapa gue dengan salam yang kayak gitu, kalo gue nggak pake hijab. Dan disitu, sekali lagi gue ngerasa, Hijab itu yang mengistimewakan kaum hawa :')

Oke balik ke Bangkok, setelah makan gue dan anak-anak yang lain langsung istirahat, mandi dll. Nggak kerasa banget di sana, sempet sering mandi sekitar jam 7malem gitu soalnya jam 6 sampe jam 7 itu langit masih terang banget. Malem itu, kita cuma jalan ke taman(Yak, gue lupa lagi namanya apa) kawasan sekolah gitu, ngelewatin kampung Islam di sana yang kebanyakan dihuni sama pribumi alias orang Thailand dan imigran dari Malaysia. Malem itu makan nasi rames yang...............bumbunya sih jujur nggak sesuai sama lidah gue, walau gue gak suka makanan pedes, cuma kayak masih ada yang kurang gitu sama makanannya, tapi ya Alhamdulillah sih, akhirnya bisa makan selain McD dan udah jelas halalnya. Habis makan, gue dan keluarga lanjutin jalan kaki ke taman yang ada di pinggi Chao Phraya River, yang ditengahnya juga ada semacam benteng gitu, cuma sayang, kita nggak boleh masuk ke benteng itu huhu. Terus sempet gitu nemuin anak B-Boy do sana, kocik deh hahaha. Dan di taman itu, batas kunjungan sampe jam 9.00pm, kalo udah jam segitu, lampu taman bakal dikurangin dan diikuti dengan kehadiran satpam-satpam yang bawel yang bakal ngusirin tiap pengunjung. Apadaya, kita diusirin oleh satpam-satpam dan okelah balik lagi ke hotel dan siap lagi packing untuk lanjutin perjalanan besok paginya ke Phuket.

Balik lagi ke Suvarnabhumi airport, ternyata antara terminal domestic dan internationalnya nggak ada perbedaan lias sama. Sama di sini maksudnya, sama-sama bagus, nggak ada tuh kayak di terminal 2 dan 3 di Soetta yang beda banget sama Terminal domesticnya. Sekitar 1,5jam akhirnya sampe juga di Phuket. Nah di sini, gue bilang bandaranya tuh emang luas, tapi agak timpang aja gitu antara bagian keberangkatan sama kedatangannya, mending Adisucipto lah, hehe opini pribadi loh ya :p Mulai resek nih, yang jemput gue dan keluarga ngaret z.z tapi okelah sabar-sabarin. setelah nunggu stengah jam, akhirnya datanglah sang penjemput dari hotel. untuk 5km pertama okelah ya, gue mulai terbiasa dengan gaya nyupirnya supir Thailand, semuanya dihantam aja rasanya, rem mobil rasanya fungsinya kalo cuma buat rem dadakan, bisa bayangin dong. nah, pas udah mulai masuk kawasan Phuket deket-deket Bangla Road, nih, pertama kita harus ngelewatin jalanan yang emang naikin, nikung, turunin gunung. Dan, supir-supir ini tetep aja dengan kecepatan yang mungkin cuma dikurangin beberapa kmph tapi tetep nggak kerasa-_-walaupun itu tikungan tajam. Badai. Dan gue inget kata-kata salah satu kurcaci gue
"Buset, ini mah bukan ke Phuket kali nih, tapi ke Gunungkidul" rrrrr-_-
 Kalo Bangkok mungkin jadi kayak tempat transitnya backpacker, terus tujuan selanjutnya ke Phuket, hmmm mungkin. Di sini, biasanya mulai banyak lah itu bule-bule yang emang mau nikmatin pantai-pantai di Phuket yang emang harus gue akuin bagus banget. Selain pantai-pantai di Gunungkidul, baru di sini juga gue nemuin pantai yang bagus. Gue emang belom pernah ke Bali ataupun ke Senggigi atau Pink Beach yang katanya nggak kalah bagus juga, but Someday, I will.

Balikl lagi ke Phuket. Untuk pariwisata, ya tipe-tipe promosi masih sama kayak yang ada di Bangkok terus juga Nightlife juga salah satu point yang ditawarkan Phuket selain dari pantai-pantainya yang emang bagus itu. Ya siapa sih yang nggak tau Bangla Road, gue sempet sih ngelewatin situ, dan ngeliat atraksi sulap di jalan itu, hehehe-_-v Masya Allah Thailand niat banget ya bikin satu spot yang isinya dikhususkan untuk club doang, ckckck.

Besoknya, gue ke Phi-phi Island. Pulau yang dijadiin lokasi shooting The Beach yang pemeran utamanya Leonardo Di Caprio sama James Bond yang apa ya, kalo gak salah "Man with the Golden Gun" atau apa ya hehe bukan pengikut film James Bond sih, *comment aja kalo salah, nanti gue benerin* Saking bangganya mereka sama pulau ini, introduction mereka tentang pulau ini di kapal pun sampe nyeritain tentang dijadikannya film ini sebagai lokasi shooting kedua film itu di bagian historynya. Tapi, emang bagus sih, pake banget loh ya, soalnya warna lautnya sendiri bukan biru, tapi turqoise, dan bening banget, sampe kalo lo liat ke bawah lo bisa liat ikan-ikan yang lagi berenang. Apalagi kalo lo bawa roti kyaaaaaa langsung deh dikerubutin sama gak tau deh berapa puluh ikan hias yang emang lucu-lucu banget. Pas berenti di spot snorkeling, sayang banget kalo sampe nggak snorkeling, akhirnya gue snorkling, tapi bodohnya, gue lupa bawa roti yang tujuannya untuk si ikan-ikan unyu ini, akhirnya setelah sekitar satu jam ngabisin waktu di air, dan naik dengan tangan yang udah keriput, gue bilas dan ganti baju lagi, terus makan roti buat si ikan-_-" semoga roti itu juga diproduksi untuk manusia, kalopun nggak, gue jadi tau kalo makanan ikan itu sama enaknya sama makanan manusia-__-

Terus kita mampir ke pulau apa gitu seperti paragraf-paragraf di atas gue lupa lagi namanya apa hahaha-_-" kita makan siang di sana dan di kasih free time selama kurang lebih 1 jam, habis makan dan gue beserta ketiga kurcaci gue nggak tau mau ngapain lagi makan juga nggak mungkin orang udah habis dan kenyang juga kita ahaha-_-" akhirnya kita main suatu permainan yang sebenernya itu mainan super jahat sedunia, ya untunglah kita ada di negara orang yang nggak pake bahasa indonesia sebagai bahasa pengantarnya haha. Jadi gini permainannya, di situ, kita nyari orang yang warna bajunya sama kayak apa yang kita pake dan imagine that man or woman will be our husband or wife. Dan bayangin aja, setiap habis nunjuk orang kita langsung ketawa cekakan yang nggak tau tempat gitu, Masya Allah, maafkan kami :| Terus nggak tau kenapa gitu ya, hari itu gue sering banget dapet orang India-______--" Oiya di situ juga ada satu rombongan orang India gitu yang terdiri dari 79 orang, dan pakde gue bilang, "Nih kamu orang ke 80 nin" rrrrrr.

Balik dari Phi-Phi Island gue mabuk laut, nggak muntah-muntah yang lebay gitu sih, tapi yang migrain nggak ilang-ilang gitu ckckck. In short, akhirnya gue balik ke Indonesia dari bandara Phuket right to Soetta. It scheduled at 7.30 on my ticket, but it's delayed!!!!! yeah, mulai lagi kan budaya Indonesianya,pas take off sama landing pun juga mulai kasar, nggak kayak flight-flight sebelumnya, yak welcome back to Indonesia-_-"
Oiya, hampir lupa! Waktu gue di Bandara Phuket, satu lagi yang membuat gue kagum sama masyarakat Thailand tentang kecintaan mereka sama rajanya. Bahkan di Bandara, tepat di atas dinding depan kita waktu kita masuk, di situ diputer video-video raja mereka waktu berkunjung ke  masyarakatnya, dan di situ ada watermark, LONG LIVE THE KING. Di jalan-jalan juga dipasang tuh Bendera Thailand dan lambang kerajaan mereka. Nggak kayak kita yang masang Bedera Merah Putih cuma kalo Bulan Agustus aja dan dilepas tepat sesudah 17 Agustus. Rasa kebanggaan kita terhadap negara sebagai bangsa pun mulai dipertanyakan.

Dan point di mana bule harus menutupi bagian tubuhnya yang terlihat waktu memasuki area ibadah pun juga patut diperhitungkan loh guys. Kenapa? Coba deh lihat, banyak kan yang dateng ke masjid dengan hanya pake celana pendek, menghormati nggak tuh?


Itu aja deh yang bisa gue share, semoga yang baca ini tetep bisa ngambil point yang baiknya dan bisa ngeimplementasiinnya ke Negara kita sendiri. Cao!

Oiya!!! AYAM GORENG THAILAND ITU SUPER ENAK DAN HALAL!!!! :9