Sunday, May 21, 2017

Being A-Happy-Lone-Wolf

A few days ago, I was riding my Pegasus ( re: my motorbike, that’s just how I named her), with my friend behind me, and we were cheap talking about what I’m doing lately. Being alone. Actually, I already did this since…. Only-God-knows-when, and it became a refreshment for me. I fell addicted to it, and now whenever I started to think my head or my heart is overload, I always take time only for myself, build a high walls, and keep myself away from people. And some other time when one of my friends were looking for me, I said, “I was going to bookstore.” And she asked if I’m with someone, no I said. I was alone. And she was like………” how could?” like it’s the strangest thing she ever heard. Or any other time I got this as a response for what I’m doing, “Jomblo banget?”

I don’t know what is happening to our society when being alone is somewhat strange and so unusual to people. Despite the fact of we’re a social creature or we used to be live in groups long before the century, but does it enough to make a judgement for those who likes to be alone? I know it’s an #IntrovertPerks lol.

Well, being alone is sometimes the last thing that I could do to escape, no, to make time for myself, to manage it all over again, then start again. When for my expectation, maybe I wanted to go on some vacations, go to some beaches –ya, I like beaches more than mountains, thanks to my allergic, have some tents to build, camp for a night is actually enough, then lay myself on the ground, stay awake for hours just to see a sky full of stars –Orion or if I’m lucky enough milky way and shooting stars, reading The Holy Quran to priest God for all these beautiful nature He create, even sometimes I found myself crying to realize how tiny winy bity I am compare to all these, masya Allah, and in the morning I would chase after the waves –such a stress relieve just to make my feet wet, since I’m not a good swimmer, sunbathing because I love to stand or sit and let its rays running through my skin(actually face and my hands only, haha), looking for some good shape of clams just to put it back when I leave. Beautiful, isn’t it? But when reality hits me, the deadline is tight, can’t go out of town for a few days, so “menyepi” is the answer.

In my humble opinion, sekarang kita hidup di zaman di mana masyarakatnya lebih mudah ngasih judgement dari pada susah-susah cari tau, kalau gak bisa kasih data empirik paling nggak baca artikel dulu yang banyak baru kemudian kasih judgement. Walau nggak usah naif juga sih, thinking to live in this world without judgement is truly wasting time. Karena memang nggak mungkin. We were born to make value. Bedanya ada yang disampaikan ada yang nggak. Yang disampaikan jadinya yang kayak teman-teman yang kasih respon demikian tadi, yang nggak ya paling dilirikan aja waktu bawa makanan ke tempat duduk, baca novel sambil makan atau minum for hours terus pulang.

Being alone is not that bad. I’m not saying that it’s an independency of being women thing either. It’s just you being you. Selesai. Karena nggak perempuan, nggak laki-laki banyak banget ternyata yang masih punya pikiran it’s pathetic to go outside alone. Well misses and misters, just because you’re alone, doesn’t mean you’re lonely.

Saya sendiri merasa lebih peka saat sendirian. Karena nggak jarang saat kita pergi sama grup kita, kita bakal lebih fokus sama grup kita aja, ketawa-ketiwi dengan joke internal grup kita aja, atau bahas-bahas topik yang ada di lingkaran internal kita, kemudian orang-orang kita di sekitarnya cuma jadi out group aja udah, selesai. Meanwhile, when you go outside alone –eh nggak tau sih, ini kamu yang suka pergi sendirian ngerasa gini juga atau kamu yang bakal pergi sendirian juga bakal ngerasa gini juga atau nggak, you’re open up to another circle, nggak jarang obrolan-obrolan tercipta dari sekedar minta geser sambal atau kecap. Atau yang kemarin saya lihat obrolan justru tercipta saat ada orang yang mau makan nambah porsi ke si penjual. That’s maybe the perks of living in Indonesia sih. Tapi di situ seninya. Rasanya bisa ngobrol sama orang yang nggak dikenal dan mengalir gitu aja sampai soto semangkuk dan es teh habis itu menyenangkan. Rasanya saya yang beberapa kali ikut aksi kenaikan bahan bakar minyak jadi semakin semangat buat benar-benar turun ke jalan (kita di sini sudah sepakat ya setiap orang punya caranya masing-masing untuk berjuang, bisa lihat di tulisan saya berbulan-bulan sebelum ini, buka aja halaman jurnal saya) waktu dengar ibu-ibu atau bapak-bapak ini yang ujug-ujug (re: tiba-tiba) cerita kalo mereka merasa kesulitan dengan naiknya bahan bakar yang kata beberapa orang cuma seribu. Setiap ketemu sama hal-hal seperti ini saat menyendiri saya jadi tersadar lagi, “It’s real. The problem is real. Wake up.”

And another impact that I feel is that we depend ourselves so much to someone. I would go there if she go there. I would do it if he do it, etc. Why don’t you decide it only for your own? Yes, our life sometimes relate to someone’s life, but that shouldn’t make you depend yourself on someone. You know where to depend yourself only to, God. Ini bukan karena iri saya nggak punya kekasih atau apa ya, tapi jujur, I feel annoyed to those who depend their crucial decision to their girlfriend/boyfriend, for heaven’s sake they don’t even married, beda cerita ya kalau udah nikah, apalagi dari perempuan ke laki-laki, ya nurut atuhlah sama kepala keluarga.

Saya lupa sejak kapan jadi punya pikiran semacam ini. Mungkin sejak SMA? Itu pun karena satu dan dua hal yang akhirnya mengharuskan saya untuk bener-bener pindah dan hidup jauh dari orang tua, even basically I still lived with my aunties, kurang lebih mengubah cara pandang saya tentang menjadi sendiri itu tadi. Maybe in the next chapter of our life, only-God-knows-when, we would be in a time when there’s nothing to hold on but your God. You find no friends, your parents were too far and holding on to them is the same as adding some more grudges. That’s when I found my heart and my mind was overload. And meeting people was not helping. That’s when I decided to keep myself in my room, curhat sama yang memegang hati-hati ciptaanNya, yang pada intinya menata road map buat berjalan lagi, menjeda dari dunia luar, untuk kemudian berlari lagi. Sejak saat itu, me time jadi kegiatan rutin minimal sekali dalam dua minggu, tergantung seberapa tahan saya untuk nggak me time.

And someone ever asked me, “Anin kalau me time ngapain?” Saya biasanya ngamar aja seharian di rumah, beberes kamar, ngatur ulang tata letak kamar, mencuci atau masak. Coba gaya-gaya desain baru, baca novel chicklit di wattpad, sharing thoughts kayak gini, atau bahkan memutuskan untuk nggak ngapa-ngapain alias tidur seharian, haha. Atau seing juga naik motor keliling-keliling jajan aneh-aneh, ke toko benang jahit, makan ke tempat lucu atau warung-warung makan sederhana atau fan girling buku-buku baru habis baca sinopsisnya di toko buku just to put it back in the shelf karena keinget ada beberapa buku di rumah yang belum dibaca, all by myself –iyalah, namanya juga me time.
But just don’t judge me wrong, this piece of thought is not made to make you feel like you don’t need anybody or push you to be single for your whole life. Indeed, we still need people in society or someone we decide to spend our life with or later to chase for the afterlife, hand in hand for a better version of us. I made this post because I’m done hearing people “Jomblo ya…” or thinking that it’s weird to go alone somewhere. Well, no it’s not. Now, have a try.


Kalau di film Galih dan Ratna kasih mixtape buat ungkapin rasa,
Here I give you my playlist to make you feel okay :)







A happy lone wolf,




Sunday, April 30, 2017

Menjadi Kartini Millenial

Menunggu Kereta di stasiun Tanah Abang

Akhirnya kita tiba di masa di mana buku catatan, digital atau bukan, terasa lebih baik dari pada indera pendengaran. Karena setiap rasa yang diubah menjadi satu kata saja, dapat dihujani ribuan penghakiman. Dan detik ini menulis rasanya terasa lebih menenangkan daripada harus mempertukarkan buah pikir. Hari ini setiap topik rasanya sangat rawan memancing adu pelipis. Tapi, saya menulis hari ini sebagai bentuk kerinduan saya untuk duduk tenang, berbagi cerita, berbagi keresahan, berbagi segala jenis kegundahan ataupun idealisme saya yang sering bertabrakan dengan realita di lapangan, ditemani segelas coklat panas –bagian ini sungguh terdengar seperti novel picisan, padahal realitanya paling ditemani dengan es teh atau paling banter es kampul, hanya dengan dia –laptop saya.

21 April kemarin segenap masyarakat Indonesia yang budiman terkhusus para perempuannya tengah memperingati Hari Kartini. Seorang tokoh emansipasi yang berani mendobrak budaya patriarki yang sangat kental di lingkungan budaya Jawa pada masa itu. Beliau menuntut untuk adanya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, sehingga perempuan juga dapat mengecap manisnya pendidikan layaknya laki-laki. Menurut Ibu, pendidikan dan tercukupinya pelajaran untuk kaum perempuan pada masa itu akan membawa kesejahteraan, bahkan tidak hanya untuk kaum perempuan itu sendiri. Ibu Kartini berharap agar kaum perempuan dapat dididik baik, bahkan untuk pendidikan mengenai kebutuhannya sendiri. Kesetaraan untuk menerima hak pendidikan bagi kaum perempuan ini menjadi sebuah trigger yang wajib kita ingat sepanjang masa Indonesia merdeka karena beliau menjadi salah satu pelopor untuk hak istimewa ini.
Semangat emansipasi ini sesungguhnya betul adanya. Imam Syafi’I sendiri yang hidup jauh sebelum Ibu Kartini menulis surat-suratnya untuk Ny. Van Kool pernah mengatakan “lebih baik merasakan pahitnya pendidikan daripada harus mengecap perihnya kebodohan.” Satu kalimat tadi juga cukup menggambarkan bagaimana pendidikan itu sangat penting tanpa memandang perbedaan gender di dalamnya. Hal tersebut menegaskan bahwa pendidikan adalah suatu hal yang penting bagi setiap umat manusia tak terkecuali wanita. Terlebih untuk wanita, bagaimanapun wanitalah yang akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Kesetaraan vs Persamaan
Ide besar yang digagas oleh Kartini, di mana perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama dalam mengecap manisnya pendidikan. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk kesetaraan itu mulai dijalankan. Saya sejauh ini memaknai kesetaraan dengan menempatkan suatu hal pada porsinya masing-masing secara pas, tidak kurang dan tidak lebih. Karena setara berarti adil. Adil berarti tidak berat sebelah. Apanya yang tidak berat sebelah? Hak dan kewajibannya sebagai wanita. Namun seiring dengan berjalannya waktu, semangat emansipasi yang selama ini terus diestafetkan dari generasi ke generasi oleh para perempuan justru bergeser maknanya ke arah isu persamaan. Padahal, Kartini dulu berupaya untuk memperjuangkan hak dalam mengenyam pendidikan yang setara dengan laki-laki bukan status yang setara dengan laki-laki, di mana perempuan dan laki-laki dianggap sama, baik dari kewajiban maupun haknya. Padahal, mau dilihat dari sudut pandang manapun laki-laki dan perempuan sudah berbeda. Bukan hanya dilihat dari sisi biologisnya saja, tetapi juga tanggung jawab yang dibawa oleh keduanya. Karena pada hakikatnya laki-laki dan perempuan memiliki peran sosial masing-masing yang diemban di pundaknya. Tuhan pasti punya maksud kenapa kemudian Dia menciptakan dua makhluk yang berbeda, hal tersebut karena baik perempuan dan laki-laki memang dimaksudkan untuk saling melengkapi. Jika terus menerus disamakan, mengapa kemudian Tuhan tidak ciptakan saja satu homogenitas agar sama antara hak, kewajiban maupun peran sosialnya di masyarakat.
Saya ingat bagaimana beberapa waktu yang lalu membuat sebuah Essai tentang perkembangan film-film Princess Disney yang setiap peluncurannya ternyata mengundang banyak protes dari kaum femine. Mereka menuntut Disney untuk menampilkan tokoh-tokoh putri yang tidak didominasi oleh laki-laki, atau tidak berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan domestik sampai puncaknya di mana putri-putri ini akhirnya menjadi role model pemimpin di atas laki-laki. Yang cukup menarik sekaligus mengusik saya adalah bagian adanya pandangan tentang penempatan perempuan dalam pekerjaan domestik di sini dianggap sebagai sebuah langkah untuk merendahkan harkat dan martabat perempuan, karena sejatinya mereka percaya bahwa perempuan juga punya kesempatan yang sama untuk bekerja di luar rumah layaknya laki-laki. Akhirnya muncul figur-figur kartun seperti Mulan yang menyelamatkan pangeran, Pocahontas yang memilih jalan hidupnya sendiri, Merida yang memilih untuk tidak menikah, Rapunzel yang menyelamatkan Finn, atau Elsa yang menjadi pemimpin di kerajaannya.
Berkat pergeseran interpretasi akan emansipasi pula akhirnya framing media menjadi bergeser ke titik di mana Kartini masa kini merupakan perempuan-perempuan yang saat ini bekerja di ranah pekerjaan yang pada umumnya dikerjakan oleh laki-laki.
Untuk saya, kesetaraan itu bukan berarti menempatkan perempuan dan laki-laki pada pos ataupun level yang sama. Kalimat saya sebelumnya seakan menggambarkan kalua saya tidak menyetujui perempuan juga bisa, sungguh pembaca yang budiman, saya pun perempuan, saya percaya akan #GirlPower, percaya bahwa jadi perempuan di zaman millennial seperti ini tidak boleh lembek, harus tahan banting, jangan terlalu “baperan” dan jangan malu untuk menunjukkan kemampuan kita. Because we can! But then again, hak yang terus dituntut tanpa adanya pelunasan kewajiban juga sama dengan naif.
Masalah lainnya media saat ini terlalu sering mengaburkan fakta yang sebenarnya. Wanita yang bekerja di sektor-sektor di mana lazimnya laki-lakilah yang bekerja di pos tersebut dianggap sebagai Kartini baru karena dianggap sebagai pendobrak stereotip. Tapi untuk saya yang sering melihat kuli bangunan wanita yang ikut mengeruk semen atau mengangkut batu bata, bercampur dengan kuli laki-laki lainnya di Solo ataupun di Jogja, hal tersebut menjadi hal yang biasa jika dilihat oleh masyarakat, because they got no other way, namun saat kemudian hal tersebut sampai ke media, dan mendapat framing lagi sebagai seorang Kartini di zaman millennial ini, saya jadi berpikir ulang, benarkah hal tersebut termasuk dalam semangat Kartini? Atau media hanya sedang mencoba me-maskulinisasi tokoh-tokoh perempuan ini lalu memberikannya wajah baru yaitu “emansipasi” yang kemudian dimanfaatkan oleh kaum feminis. Hal tersebut pernah mendorong saya untuk bertanya kepada salah satu ibu yang bekerja sebagai kuli bangunan di jam makan siangnya. Kebetulan waktu itu sekolah saya yang lagi punya hajat bangun saluran air. Apakah si ibu melakukan pekerjaan ini karena memang panggilan hati sebagai seorang kartini atau mungkin ada alasan lain? Nope. Turns out, they prefer something they can do in the house, something that can be done while they could take care of their children. Berbeda dengan Kartini yang dengan secara sadar melakukan perubahan karena memang dia menginginkan itu, dan hal tersebut tertanam di pola pikirnya. It was like, she would keep doing it even if it hurts her, until she could reach what she dreamed about. Berbeda dengan Ibu yang saya ajak bicara, yang menyatakan bahwa dia akan berhenti saat kemudian keadaannya sudah membaik karena basically she didn’t want it, she didn’t do it for equality, she do it for the sake of financial. Perjuangannya untuk membantu suaminya ini yang justru menggambarkan betapa besar nilai afeksi yang beliau miliki untuk keluarganya. Beliau menyadari dirinya sebagai support system bagi suaminya, bukan untuk menyamakan level dengan suaminya. Pernah dengar kata-kata “she’s gotta do, what she’s gotta do” kan? Kurang lebih, itulah yang dilakukan Ibu ini.
 So, being Kartini here, is not only about having thing that people might see you break the stereotype, it’s about the thought you have about things you really want to do or you really want to give or bring to people surround you. Dengan segala jenis propaganda tentang “Menjadi Kartini Millenial” yang identik dengan menjadi wanita karier or simply do your passion, apakah juga mengakomodir keinginan Ibu Kuli Bangunan ini yang ingin di rumah saja, mengurus anak dan menaruh baktinya kepada suami? Apakah betul pekerjaan di ranah domestik ini benar-benar menurunkan derajat perempuan? Padahal pekerjaan domestik yang selama ini dianggap sebagai pekerjaan yang merendahkan perempuan dapat menjadi ladang untuk membangun generasi-generasi dengan semangat Kartini selanjutnya. Walau kegiatan didik-mendidik anak bukan hanya kewajiban ibunya saja, atau bapaknya saja. Tapi, saya percaya, ada pos-pos dalam kegiatan mendidik di mana hanya ibu yang bisa berikan. And that’s just the thing, femine can’t change when they ask her husband to just stay at home and take care of their babies.

Antara Passion dan Kodrat
Memang makin ke sini, makin terasa blunder. Kalau sudah begini, mulai terasa kabur juga di mana kesalahan bisa ditemukan, di mara rantai yang selama ini berjalan. Masalahnya adalah saat jargon kebanggaan “Chase your Dream” atau “Do it with passion” ini tidak diimbangi dengan kebutuhan perempuan akan informasi tentang urgensi keberadaan mereka untuk berada di rumah. Jargon-jargon tadi seringkali kemudian membuat posisi Ibu rumah Tangga menjadi hal yang dianaktirikan di sini. Sehingga tidak heran jika semakin sulit menemukan perempuan yang mengatakan cita-citanya adalah sebagai ibu rumah tangga. Terang saja, selama ini menjadi ibu rumah tangga dianggap sebagai akhir dari karier, akhir dari masa-masa berkarya, ataupun pintu gerbang ketidak produktifan.
Dengan pernyataan-pernyataan saya sebelumnya, bukan berarti kemudian saya tidak setuju dengan para perempuan-perempuan yang tetap mengejar passionnya. Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Toh perempuan juga merupakan makhluk sosial yang tetap butuh sarana bersosialisasi dan juga aktualisasi diri. Dan mengejar mimpinya adalah salah satu cara yang paling efektif. Namun yang perlu diingat adalah bagaimana menjadi Ibu rumah tangga bukan hanya dipikir berdasarkan pekerjaan domestik saja yang akan diurus oleh Ibu. Karena di dalam rumah, ayah boleh yang memegang kendali akan kapal, tapi Ibu lah yang akan mendidik generasi selanjutnya agar dapat menjadi awak kapal yang tangguh dan kuat. Kita semua sepakat bukan anak yang punya akhlak yang mulia lahir dari keluarga khususnya ibu yang juga memiliki sikap yang sama pula, dan jangan seharfiah itu menelannya, akhlak ini lahir dibentuk dari bagaimana lingkungan si anak, bukan lahir secara harfiah dari Rahim saja. Walaupun jika ditelisik lagi sebenarnya pendidikan bagi anak sudah dimulai sejak anak-anak masih berupa janin di dalam rahim perempuan.

Emansipasi Kartini (Millenial)
Tentu kita semua sudah sadar, bahwa untuk memaknai hari Kartini bukan hanya lewat kebaya atau sanggul yang kita gunakan, bukan pula dengan mengagungkan wanita-wanita yang bekerja di ranah maskulin saja sebagai pendobrak stereotype ataupun sebagai pejuang emansipasi di masa millennial ini, tetapi dengan mengembalikan makna dari kesetaraan hak maupun kewajiban antara perempuan dan laki-laki itu sendiri, tanpa mencederai pihak manapun. Memaknai hari Kartini berarti mengembalikan wanita kepada porsinya, menjadikannya pribadi yang adil bahkan sejak dalam pikiran dalam menunaikan hak dan kewajiban, namun tetap mendorongnya untuk mengejar mimpi, memberinya asupan otak maupun ruhiyah yang terbaik sebagai bekal untuk melahirkan generasi-generasi terbaik di masa yang akan datang. Lagi pula, tidak mau juga kan kita sebagai wanita, lebih pintar menggambar alis daripada burung camar yang terbang di pantai di buku gambar anak kita kelak?







Ibu Kartini, terima kasih,