Monday, December 8, 2014

Indah.

Sekarang rata-rata orang bilang keunikan sebagai sebuah keindahan. Menilai sesuatu yang indah dengan hanya terfokus sama hal-hal "unik", Yang "nyeleneh", "beda dari yang lain".
Suara gemericik air panas yang dituang ke dalam gelas sudah dianggap nggak indah, kalah sama suara "jedag-jedug" dan gaya-gaya "jumpalitan".
Anak-anak main ujan-ujanan sambil main bola di lapangan luas udah dianggap nggak indah lagi, kalah sama iPhone keluaran terbaru yang dimainkan di dalam rumah, di atas sofa nyaman.
Wangi rerumputan yang menguar saat sedang dipangkas juga kalah sama wangi tanah basah saat hujan, petrichor kata anak muda jaman sekarang.




Tuesday, November 4, 2014

Biarkan Saya Takut

Saya takut
Dan biarkan saya takut
Agar saya tahu di mana hati ini seharusnya terpaut
Bukan di bumi atau di laut
Tapi kepada Dzat yang membuat saya sebegini takut.

...

Kala si Merah Jambu mulai merebak
Setan dalam hati seakan terbahak
Melihat kita yang mulai terjebak
Menikmati cinta yang masih belum hak,

Coba diingat lagi,
Saat Si Merah Jambu membuat kita cemburu dengannya
Pernahkah berpikirbahwa itulah caraNya
untuk mengingatkan kita bahwa ada Dzat 
di mana di sanalah kewajibanmu untuk memberikan waktu bahkan diri

Coba diingat lagi,
Saat Si Merah Jambu membuat kita berkata
"dia-lah yang menempati singgasana hati"
Lalu di hati sebelah mana Dia kau tempatkan?

Coba diingat lagi,
Saat kau merasa nyaman ada di dekatnya
kapan dan berapa lama terakhir kamu berlama-lama di rumahNya?

Bahkan saat kau menangisinya
coba diingat lagi
kapan terakhir kau menangis untukNya? Di hadapanNya?

Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati,
biarkan ketakutan ini membuat Kau saja yang ada di hati,
Biar aku nikmati indahnya menanti,
untuk dia, sahabat terpilih sampai mati.





Monday, October 20, 2014

Ironi

ungkin dia kedinginan dengan balutan kaos ketat dan celanan super pendek jauh di atas lutut. Mungkin dia sebenarnya penat dengan hiruk pikuk tawa teman-temannya atau pisuhan teman-temannya. Mungkin dia sebenarnya sesak dengan asap rokok teman-temannya. Mungkin dia sebenarnya ingin pulang, tidur nyenyak dengan selimut tebal, di kamarnya yang nyaman, bukan di sini di bawah sorotan lampu jalan yang mengekspos bagian-bagian tubuhnya yang diumbar percuma, di pinggir jalan. Mungkin jauh di dalam lubuk hatinya, dia mengharapkan jalan yang lain..

Wajah sedih itu mewarnai malam kota Solo. Diam-diam menjadi perhatian saya yang sesekali melirik ke arahnya. Wajah sedih itu, apa artinya? Ingin bebas dari tuntutan atau perbudakan uang? Atau wajah kerinduan dengan kekasih? Atau lelah? Atau penat? Atau saya saja yang malam ini terlalu melankolis lantas meng-hiperbola-kan semua yang saya lihat?

Malam ini saya melihat wajah lain Solo pada malam hari. Saya pernah menulis tentang keindahan Solo di malam hari, tentang bagaimana indahnya melewati jalan Slamet Riyadi saat sudah lewat dari jam sepuluh, di bawah sorotan lampu jalan, atau semberibit angin malam. Malam ini saya namakan wajah sedih itu, ironi.

Ironi di siang hari, melihat pusat-pusat peribadatan yang menjamur, bapak-bapak bersarung rapi dan berjalan menuju masjid yang tengah manggaungkan adzan, atau ibu-ibu yang setengah berlari menyebrangi jalan raya memeluk bible baru saja selesai kebaktian di gereja.

Ironi juga ada di pasar-pasar, tebar senyum sana-sini, ramah perangainya, bersahabat dengan siapa saja yang baru dikenalnya. Ironi yang jadi representasi. Untuk sebuah kota kecil yang kaya akan budaya dan seni. Untuk kuliner dan tradisi. Ironi hari ini.

Matahari kembali ke tempat tidurnya, dan  Ironi berbeda dengan yang siang hari. Ironi kali ini ada di tempat-tempat yang paling gelap hingga di bawah selimut, sampai di bawah sorotan lampu yang paling terang. Ada di tempat yang paling sunyi  di dalam kamar, hingga paling hingar bingar dengan musik yang berdentum.

Itulah ironi kota kecil ini. Di mana tempat peribadatan, kelompok-kelompok agama mampu berkembang dengan pesatnya, tetapi ternyata tempat dan tindak prostitusi tidak juga mampu dilibas habis? Pertanyaanya, sudah sampai sejauh manakah kekuatan dakwah setiap agama yang berkembang di kota ini? Karena itulah ironi, di mana protitusi dan religiusitas berjalan berdampingan, saat di buku-buku teori, ada hal-hal yang mampu menjadi kontrol bagi hal lainnya, dalam kasus ini, Agama yang mengkontrol prostitusi. Inilah ironi, saat keduanya seakan memiliki jalannya masing-masing, berjalan berdampingan, tidak saling menggangu, bahkan menjaga masing-masing pihak.

Ironi, itulah wajahmu hari ini. Basuh wajahmu, hapus make up dan lekas tidurlah, Sayang. Hidup memang berat, namun itulah gunanya ber-Tuhan, agar pundakmu terus dikuatkan.


Ironi, tidurlah, Sayang..





Sunday, October 19, 2014

Angkringan dan Lamunan

Setelah kurang lebih 45 menit perjalanan dari kampus ke rumah dan berkontemplasi tentang di mana aku harus makan, akhirnya pilihanku jatuh ke Pak Lodhang. 

"Jahe ya pak."
 Iya jahe saja, malam ini aku ingin tidur cepat.

"Minum sini apa bungkus?"
Tumben Pak Lodhang menanyakan hal ini, padahal ini sudah lebih dari pukul dua puluh.

"Sini, Pak"

Ada dua orang bapak-bapak yang duduk di sisi barat gerobak kecil Pak Lodhang. Banyak juga yang mereka obrolkan. Sambil mengambil nasi teri, satu buah tahu bacem untuk malam ini tanpa dibakar, diam-diam aku ikut mendengarkan obrolan si Bapak dengan peci hitam, umurnya kurang lebih sudah empat puluhan tahun.

"Yo, uripke gur sarana dinggo mengko ning akhirat."
Ya, hidup itu hanya sarana untuk nanti di akhirat.
Si Bapak yang omongannya diiyakan Pak Lodhang dan satu rekan di sebelahnya sampai mengulangi kalimat ini tiga kali.

Sederhana sebetulnya, pun diajarkan di sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Tapi itulah angkringan. Keserdahanaannya memang tak pernah tak istimewa. Ingat postingan saya tentang angkringan? Ya, lagi-lagi angkringan membuat kita lebih dekat lagi dengan keadaan sosial masyarakat. Bahkan dalam posisi tidak terjun langsung ke dalam percakapan tersebut, Hanya menjadi pendengar yang budiman pun angkringan mampu mengajak siapa saja untuk membentuk satu frame yang "satu", kira-kira begitu kalau kata anak-anak organisatoris.

Sambil mengambil satu buah sate telur pindang, saya berpikir. bagaimana jadinya kalau nanti, anak-anak muda hanya menjadikan angkringan sebagai sarana untuk mencari makanan murah bukan untuk mengetahui apa saja yang tengah hangat dibicarakan di tengah masyarakat kita? Bagaimana jadinya jika nanti angkringan kita digantikan coffee shop("warung kopi" dalam versi yang lebih mewah,katanya)? Obrolan kita digantikan deretan kata di layar laptop atau suara kucuran air panas ke dalam gelas digantikan dengan musik jazz atau lagu-lagu top 40?

Akankah angkringan kita bertahan di tengah gerusan jaman?

Semua bisa hangat dengan kopinya atau dengan tehnya atau dengan coklatnya, segala minuman yang tidak hanya dijual di angkringan. Tapi, angkringan menyediakan satu yang tidak dijual di coffee shop manapun, obrolan.


Malam.





Tuesday, October 14, 2014

Allah Tahu Lelahmu

Judul pos ini dipopulerkan oleh salah satu kakak, teman, inspirator saya di BEM UNS, Mbak Titis, Menteri SOSMA, yang ceria, suka naik gunung tapi juga ukhti yang sholehah. Sampai saat saya benar-benar lelah, saya Cuma ingat kata-kata ini saja dalam hati. Makasih Mbak Tis.
Perjalanan selama dua hari di Segorogunung untuk kegiatan LDK di Fakultas saya memang tidak biasa. Banyak sekali nilai plus-plus yang saya dapatkan dari sana, teman-teman baru dari angkatan 2014, target baru untuk dicapai, pelajaran-pelajaran baru, atau hal-hal remeh lainnya seperti “asiiik gue bisa nih naik di jalanan kayak gini pake rok” atau “karena gue gak boleh muncak, ini jadi simulasi muncaknya Anin ajalah.”
Kata Bang Azhar, menulis itu merapikan kenangan, kini saya tambahkan lagi definisi saya tentang menulis. Menulis itu melampiaskan rasa lelah. Semoga pos ini tidak semelelahkan kelihatannya.

...

            Kemudian saya merebahkan badan saya di atas rerumputan, menghadap ke langit dengan dipayungi pohon-pohon yang menjulang tinggi di atas saya. Subhanallah, akhirnya bisa kayak gini, melihat ke langit luas, mengagumi karyaNya, dan berkumpul dengan saudara-saudara demi mempererat ukhuwah.
            Saya suka langit, dia terlihat kuat, perkasa, tapi juga lembut dan meneduhkan. Tapi entahlah, saya belum lihat langit saat sedang ada Tornado, jadi saya belum tahu saya masih akan menyukainya atau tidak nanti. Entah berapa kali theme song kebanggaan saya saat melihat langit dengan pohon-pohon atau gedung-gedung yang saya tangkap menjadi lebih indah lagi dengan lagu itu, Sweet disposition dari The Temper Trap.





            Melihat langit dan memandanginya itu seperti melepaskan segala kelelahan yang selama ini bergelayut di pundak-pundak saya. Seperti mempertemukan mata dengan Tuhan di atas sana dan bercerita tanpa banyak kata dan membiarkan hati yang berbicara, “Ya Allah, Anin capek.” Beauty heals. Memang sepertinya sepele, tetapi belaian angin sore, empuknya rerumputan, suara serangga hutan yang serupa dengan yang ada di film Petualangan Sherina saat pencarian Saddam dan Sherina, dan segala keindahan lainnya yang tak akan mampu saya sebutkan semuanya. Rasa lelah itu pergi dibawa angin yang membelai kerudung, meresap jauh ke dalam tanah saat kita merebahkan diri di atas rerumputan, menguap oleh sinar matahari, dan rontok melalui kepala pada sujud-sujud kita setiap sholat.

            Lelah itu hilang saat kita bersyukur−Anindya Roswita

            Setelahnya adalah tentang permainan pola pikir dalam menyikapi lelah. Terkadang kondisi sangat rumit untuk disiasati, dan akhirnya adalah memang pikiran kita yang harus disiasati. Untuk saya, berpikir positif adalah salah satu siasat untuk mengelabuhi logika yang mengatakan berkali-kali “koe ki lelah, lereno.” Semacam kata-kata yang memanjakan siapa saja kalau saya boleh bilang. Saya menolak untuk berhenti, setidaknya untuk saat ini. Menurut saya ini bukan waktu yang tepat untuk berhenti. Boleh lah, duduk sebentar sambil ngupi-ngupi, tapi tidak lama. Saya ingat kalimat teman saya, Desta; inspirator lainnya dalam hidup saya, pernah mengatakan, “Semangat ya teman-teman, kita nanti istirahatnya di surga aja :)” Sederhana tapi mengena. Setiap perjuangan yang kita lakukan di dunia ini pasti akan ada imbalannya, entah itu hal yang baikkah atau hal yang burukkah, Allah juga sudah menerangkannya di Al Quran. Segala bentuk kelelahan kita dalam jalan dakwah, jalan kebaikan, pasti akan diberi imbalan yang setimpal sesuai dengan niat awal kita, untukNya, untuk kepentingan umatNya, untuk beribadah kepadaNya.
            Saya pribadi, saya tidak pernah berpikir bahwa apa yang saya lakukan adalah sebuah kesibukkan. Karena kesibukkan itu sendiri identik dengan seuatu hal yang memberatkan, penuh dengan tekanan, sesuatu yang tidak menyenangkan. Saya lebih suka menyebutnya “mengisi waktu luang.” Kenapa? Coba ingat-ingat lagi kegiatan-kegiatan yang kita lakukan untuk mengisi waktu luang, pasti hal-hal yang memang menyenangkan, santai, atau terdengar lebih bersahabat. Lelah itu ada dua, lelah fisiknya dan lelah pikirannya. Jika sugesti kita tentang menghadapi rasa lelah itu berhasil, kita sudah bisa mengurangi kemungkinan kelelahan pikiran bukan? Sedangkan kelelahan secara fisik bisa disembuhkan in shaa Allah dengan tidur cukup, makan makanan yang bergizi, atau dengan mengkonsumsi vitamin.
         
Selamat pagi, selamat melanjutkan perjuangan
Ingat, peluh yang kita keluarkan itu kadang godaan
Jangan takut untuk merasa lelah





Tujuan Awal

          Dari sebuah sekre kecil penuh melodi, petikan gitar, tabuhan kajoon, dan suara merdu dari seorang vocalist, di sudut sebuah kampus , mari merapikan kenangan. Menulis dan menikmati keindahan. Tentang persahabatan.

          Pagi itu saya meluncur dari tempat saya menuntut ilmu, sekitar 30an kilometer ke tempat di mana tidak ada satupun sinyal operator yang sampai di sana. Ke sebuah tempat yang menurut saya sudah jadi obat muncak untuk saya yang sudah punya KTP tapi tidak juga boleh muncak sama ibunda di rumah. Tempat saya  berkumpul dengan para sahabat yang berada di jalan yang sama, dengan semangat pembelajar yang sama, untuk agamaNya. Bismillah.

          Untuk saya pribadi, dua hari yang katanya disebut MAKRAB untuk Keluarga Muslim FISIP itu tidak hanya sekedar makrab, itu lebih dari Makrab, dua hari itu adalah dua hari penuh pelajarandan hari-hari di mana saya bisa introspeksi tentang bagaimana saya selama ini baik di organisasi, di lingkungan atau di keluarga saya.

...

          Pertanyaan pertama, kenapa sih kamu berorganisasi?
Pertanyaan yang biasa ditanyakan saat kita inteview di open recruitement suatu organisasi. Dan kira-kira begini motivasi saya waktu mendaftar ingin menjadi salah satu anggota BEM FISIP UNS,




Dari yang saya dengar dari pemateri saat itu, beliau mengatakan ada 3 motivasi yang biasa disebutkan oleh orang-orang yang sedang interview, mengapa ingin masuk ke organisasi tersebut? Jawabannya, yang pertama adalah; mencari ilmu, lalu mencari jaringan, kemudian mencari pengalaman. Bisa dibilang betul juga, saat saya beberapa dihadapkan dengan beberapa teman yang saya screening untuk masuk ke sebuah kegiatan kebanyakan itu tujuan-tujuan yang ingin mereka capai saat masuk ke sebuah organisasi.
          Tetapi ternyata kata pembicara saat itu yang mana adalah ketua LDK Tingkat Universitas tidak perlu masuk Organisasi kalau yang ingin dicapai adalah hal-hal itu saja. Kalau dipikir, betul juga, lantas saat kita sudah merasa cukup dengan ilmu kita tentang ke-organisasi-an, atau kita sudah memiliki cukup teman, atau sudah harus loncat ke organisasi lain agar, karena jaringan yang kita bangun dari organisasi tersebut sudah banyak dan mulai harus membangun, atau alasan lain yang sifatnya bisa habis, bisa hilang, bisa sajakita tinggalkan sewaktu-waktu.

                         Jangan tanyakan apa yang negara berikan padamu, tanyakan apa yang sudah kau berikan pada negara! –John F. Kennedy

Kadangkala, entah siapa, tau mungkin saya sendiri, lebih sering menuntut organisasi saya menjadi A atau B, tapi lupa, tujuan awal saya yang ada di atas tadi, ingin menjadikan organisasi ini lebih baik dan lingkungannya lebih baik juga. Padahal jika kita membuat sebuah daftar tentang apa saja yang sudah saya lakukan untuk organisasi saya mungkin saya akan kebingungan untuk menuliskan apa saja yang sudah saya berikan untuk organisasi saya.
    Kalau keinginan kita timbul tenggelam, mimpi kita kadang terasa blur dan kita merasa berat untuk merealisasikannya, pasti ini saatnya untuk menggantungkan impian kita untuk organisasi yang kita ikuti lebih tinggi dari sekedar awan-awan di langit, lebih indah dari birunya langit, lebih jauh dari matahari atau Pluto sekalipun. Pastii ini saatnya untuk saya dan teman-teman untuk memberikan menitipkan mimpi-mimpi saya kepada Allah, untuk digenggam, untuk dijadikan pengingat bagi kita, agar saat kita lelah, kita kembali lagi padaNya, kembali mengingat kenapa kita memulai jalan yang ini, dengan tujuan akhir tentu untuk mendapatkan ridhaNya.






        

Tuesday, October 7, 2014

Mengingat Jakarta

sumber : images


“Sounding like another cliche...”

Langit Solo sore ini sudah tak lagi sebiru tadi siang, warnanya... jingga? Nila? Orange? Ah entah namanya. Segelas jus mangga dengan warna senada dengan Si Langit mantap berdiri di samping laptop, berkali-kali menggoda perhatian saya yang mencoba fokus ke tulisan ini. Di waktu yang bersamaan semua orang terlihat berbicara dalam diam di hadapan saya, suara mereka redam dan digantikan oleh suara Danny O’ Donnough yang menyanyikan No Words dan menambah kesyahduan versi saya sore ini. Kau tau apa ini? Indah.

Indah. Itu juga yang saya tau saat beberapa waktu lalu saya ada di tengah kemacetan di kota Jakarta di jalan Melawai menuju rumah Bunda, atau sore lainnya di Mampang di tengah kemacetan menuju rumah Tante, suara musik dari headset yang saya kenakan saat itu beradu dengan suara pengamen dengan ketipung atau gitarnya yang bersahut-sahutan dari kursi ketiga pintu depan dan kursi kedua pintu belakang, masih ditambah dengan bapak-bapak yang membawa kantung plastik penuh dengan bungkusan tissue, atau bapak lainnya yang membawa ember sambil teriak “mijon mijon, mijon!” Belum lagi bapak yang menggantikan bapak yang lain, dengan strategi marketing yang dipelajari secara otodidak, menawarkan barang mulai dari alat menjahit portabel, buku resep, sampai jepit rambut. Atau dua orang yang tengah kasmaran, si wanita menyandarkan kepalanya di pundak si laki-laki, tanpa malu tanpa ragu memamerkan kemesraan, sepertinya memang benar ungkapan “saat jatuh cinta, dunia milik mereka berdua, yang lain cuma ngontrak.” Indah memang melihat mozaik-mozaik kehidupan orang Jakarta lewat bus kota, karena selalu ada saja yang bisa dipetik untuk menjadi cerita di sebuah postingan blog.


Indah juga saat aku terjebak di dalam 7-Eleven menikmati segelas machiatto, dengan buku catatan kecil souvenir  pernikahan entah siapa, dan memperhatikan anak kecil di seberang meja dengan umm.. sepertinya segelas coklat panas bersama ayahnya yang sesekali sibuk dengan laptopnya. Hujan tak kunjung reda hingga gelas kedua, Coklat panas. Indah memang, Jakarta selalu punya tempat untuk menyepi di tengah hiruk pikuknya.

Sedih tapi tetap indah juga, saat melihat anak-anak kecil dengan payung-payung besar, bermain di bawah hujan lebat, tak takut dengan suara guntur yang terdengar sesekali, menjemput satu per satu ibu-ibu kantor dari satu sisi ke sisi lainnya, lumayan, goceng kalau beruntung ceban. Kedinginan, tapi tetap senang juga mereka, melihat tawa mereka itu ummm menyenangkan tapi menghadirkan rasa getir juga di hati, harusnya mereka ada di dalam rumah, membaca buku atau bobok siang.                                                                                                                           

Indah juga saat iseng naik Transjakarta ke mana saja untuk membunuh kebosanan. Kemudian berbagi tempat duduk untuk ibu hamil atau ibu yang membawa anak kecil, melihat seulas senyum darinya, tidak perlu kenal, tidak perlu lebih banyak percakapan, hanya senyum saja cukup, sudah terasa indah dan meneduhkan.

Atau di Metromini 610 jurusan Blok M-Pondok Labu, bertemu dengan sekumpulan anak punk di jalan Melawai yang meminta uang dengan sebelummnya mengutarakan One Minute Talk tentang bagaimana mereka meminta uang tanpa harus ada yang kena jambret dll, secara halus, untuk pertama kalinya saya berpikir “ih ngancem-ngamncem tapi minta duit, kerja kali bang”.  Indahnya perbedaan dan perihnya kesenjangan kalau saya bisa bilang.

Saya pernah dengar, beberapa teman yang tidak suka Jakarta, terlalu bising, terlalu tidak produktif, terlalu tidak kondusif, dan terlalu-terlalu lainnya yang mengarah pada hal-hal negatif. Dalam pos ini, saya ingin mengingat Jakarta lagi, lewat memori saya saat ada di dalam bis, di dalam Transjakarta, menikmati langit sore Jakarta. Jakarta tidak seburuk itu bagi saya. Jakarta yang katanya kejam itu, selalu punya tempat untuk siapa saja yang ingin berusaha. Jakarta yang katanya keras itu, punya orang-orang yang tahan banting dengan daya survival yang tinggi. Jakarta yang katanya tidak kondusif itu selalu memberikan pelajaran di setiap tempatnya. Setiap orang di dalamnya punya cara yang berbeda untuk mencintai kota ini, kota megapolitan atau megapolutan? Ini masih PR untuk siapa saja yang menginjakkan kakinya di tanah Ibu Kota.

Jakarta yang indah, seindah saat saya tiba-tiba teringat tentang dirinya di belahan dunia lain, menatap langit yang sama, entah tengah bertabur bintang atau diterpa sinar matahari terbit atau juga langit sore yang menyamankan seperti langit sore Jakarta kala itu.

Jakarta, saya rindu.






Sunday, October 5, 2014

Be Yourself?

This post contents too many rude words, don't read it before it's too late.










Kalau kata bang Azhar Nurun Ala, penulis buku Ja(t)uh, Tuhan Maha Romantis dan Seribu Wajah Ayah, menulis adalah ritual untuk menasihati diri sendiri. Bagi saya, menulis itu seperti menciptakan panggung sendiri untuk melepaskan beban-beban yang selama ini menggumpal di sudut-sudut otak dan minta di keluarkan, berekpresi, berkontemplasi, apalah nanti akhirnya yang jelas, pada akhirnya yang ditemukan dalam tulisan saya adalah saya sendiri.

            Seruwet itukah urusan tulis menulis? Ah tidak juga, mungkin memang hanya saya yang mematok standard tinggi untuk sebuah aspek “kepenulisan”, karena banyak di antara kita entah di sudut bumi sebelah mana yang menjadikan dirinya pelacur tulisan, iya, pelacur. Menulis untuk sesuatu yang sebenarnya bukan dirinya, tetapi untuk suatu kebutuhan entah ekonomi atau citra, tetap juga dilakukan.

            Jadi pelacur itu bukan hanya untuk mereka yang menjajakan tubuhnya di tempat-tempat prostitusi? Ah menurut saya tidak juga, untuk mereka yang tidak bisa menjadi dirinya sendiri atas nama citra juga sama halnya dengan mereka, hanya saja dalam bentuk lain.

...

Haha sudah-sudah misuh-misuhnya. Sebenarnya itu tadi bentuk kekesalan saya yang sudah naik ke tahun ke-2 di masa perkuliahan, lihat betapa cepatnya waktu berlari, entah seberapa cepat kita mencoba menyamakan kecepatan dengannya seolah terus saja kita ada di belakangnya. Bukan kesal pada waktu, tapi kesal pada respon orang dalam menyikapi kenaikan tingkat itu sendiri.
            “Udah semester 3 lho... udah punya adik..”
Kemudian dilanjutkan dengan kalimat ini,
            “Harus bersikap, harus jaga image, behave dong...” dan lain sebagainya dan yang lebih parah,
            “Boleh sikap kayak gitu, tapi kalo di depan adik-adiknya jangan kayak gitu...”
Bukannya saya menolak untuk melakukan itu semua, toh memang sangat diperlukan, tetapi, untuk apa membangun citra diri bahwa kita adalah orang yang dewasa saat otak dan hatinya bahkan belum sampai ke sana. Katanya setiap orang punya prosesnya masing-masing? Katanya disuruh menikmati proses? Katanya jadi dirimu sendiri? Lha kok ini malah dilimit?

Bukankah alangkah lebih baik jika kita mengenalkan diri kita sebagai diri kita  sendiri? Mengenalkan diri sebagai sesama teman yang masih berproses dan sama-sama dibetulkan jika salah? Karena akan sangat aneh, saat kita tahu seseorang dengan wibawa dan bijaksananya, kemudian kita tahu bagaimana aslinya saat bukan di muka umum, dan memunculkan statement,
“Oh, kayak gitu aslinya...”

Ada lagi yang bilang ke saya “Kamu masih suka nonton *mention film anak-anak*?” saya jawab “suka..” dijawab “ya harus dikurangin, nanti nggak dewasa-dewasa.” Sedikit jengah sih, tapi saya tanya lagi, “Emang dewasa itu gimana?” dijwabnya, “Ya dikurang-kurangin yang seperti itu, kan pikiran kita dikontruksi oleh buku yang kita baca, film yang kita tonton, musik yang kita dengar, ...” Pernyataan tersebut memang benar, saya pun setuju tapi, what is grown up actually? Is it something that you can see only by the look? Or what? Cause for me, maturity is on your mind, and is about experience you’ve taken, not about the way you dress, the way you laugh or talk(I talked about “the way” not “something you brought in your words”), cause everyone fake it these days, and maturity doesn’t define it.

Jadi ya gitu, saya biasa diperlakukan sebagai teman bukan sesuatu yang ada tingkatannya even my mother, and father, and the whole family treat me so, except for some important cases. No wonder, saya memperlakukan adik-adik saya juga selayaknya saya berteman dengan mereka, kami sebaya dan lain sebagainya, akan terasa bedanya, saat adik kita misalnya, mengerjakan sesuatu saat kita meminta bantuan atas dasar “patuh” atau “dengan senang hati membantu temannya.”

Kembali ke dunia kampus, saat saya dengan bercanda bilang “hahaha gue gagal branding”, saya jadi berpikir sekarang, sebenarnya apa yang saya ingin mereka lihat tentang saya? AHA! Sekarang saya punya jawabannya, saya ingin teman-teman saya melihat saya sebagai diri saya, bukan orang lain, sebagai anak rantau yang juga sedang berproses, yang kadang masih salah, kadang juga benar karena nggak selamanya kan orang salah terus atau benar terus, tapi tetap terus belajar, sebagai amphibi di dunia pergerakkan mahasiswa, dakwah dan dunia seni, sebagai orang yang nggak malu jadi dirinya sendiri, karena di dunia perkuliahan saat bahkan kita tidak menentukan di mana kita berpijak, habislah kita tenggelam kena hempasan ombak entah pergaulan atau ideologi.


PS. Jangan bilang-bilang ya saya buat tulisan ini.






Sunday, September 21, 2014

Saya Dalam 'Perjalanan'

"Jangan bohongi proses" (heard somewhere)
"Nikmati saja prosesnya" (heard somewhere)
Dan kalimat-kalimat lainnya yang secara random saya dengar entar di mana atau siapa saja yang membicarakannya. Semuanya membicarakan tentang proses. Bagaimana pun saya percaya, life is a never stop learning phase. Dan selama itulah fase proses akan selalu ada. 

Pernah satu waktu saya bercerita tentang adik yang coba saya arahkan untuk berpakaian seperti layaknya muslimah. Saya merasa memiliki tanggung jawab yang besar untuk mendidik adik apalagi setelah perginya Si Bapak. Tapi murobbi saya hanya menjawab "Kita memang harus tetap menuntun, tapi biarkan dia pada prosesnya." Saya lupa, beberapa tahun yang lalu bagaimana saya berpakaian atau bersikap. Yang bebal menolak menggunakan kerudung lah, atas alasan prinsip, dan lain sebagainya, now I see, it takes a perfect time to face the process itself. Semoga saya tetap menjaga hidayah yang sudah diberikanNya. 

Ya, menjaga hidayah. Seringkali saya mendengar orang-orang berkata "belom dapet hidayah nih" atau "nunggu hidayah dulu lah". Saya tidak setuju dengan kalimat-kalimat itu, walau mungkin dulu saya juga yang mengatakan salah satu di antaranya. Saya hanya tersadar saja, selama ini saya telah salah pikir, ini lebih parah dari sekedar salah fokus, karena salah pikir bisa membuat kitta memiliki prinsip yang salah pula.
Hidayah itu dijemput, bukan ditunggu. Kalau udah dapat, ya dijaga. Kalau tidak, bisa hilangAnindya Roswita
Melihat fenomenanya, terang saja banyak orang yang tadinya berhijab kemudian melepasnya, atau orang yang punya jabatan tinggi atas kerja kerasnya justru terjerumus dalam liang korupsi, dan lain sebagainya. Itulah, mengapa  hidayah harus dijaga, seperti benih yang ditanam, harus terus disirami agar ia tumbuh subur dan memberi manfaat kepada banyak orang. Dijaga dengan terus mencari illmu, dengan terus mendekatkan diri padaNya, dengan terus mensyukuri nikmatNya dan senantiasa beristighfar atas segala kesalahan yang entah sadar atau tidak kita lakukan.

Saya cukup menyesal karena tidak benar-benar mempelajari Islam dengan benar, mengingat saya terlahir sebagai muslim seharusnya saya sudah paham tentang banyak hal, tapi bahkan saya baru menutup aurat setelah berumur 17 tahun, astagfirullah :( Tapi, semangat untuk tidak ingin menjadi saya yang dulu itulah langkah awal untuk memulai perjalanan proses saya. Semangat berproses, memperbaiki diri, mencari jati diri, mencari alasan, dan......memantaskan diri(?)

Beberapa minggu yang lalu saat Denali, salah satu sahabat saya di Cawetranger datang ke rumah Mbah Uti di Solo. Dia mengatakan betapa berubahnya saya semenjak terakhir dia melihat saya saat Acara Wisuda SMA. Diakui atau tidak, fakta bahwa perubahan saya bukan yang tentang saya lebih menggelembung, memang tidak bisa dipungkiri. Dari dulu saya yang tidak pernah memakai rok kecuali untuk sekolah, atau pakai selembar kerudung paris yang saya selampirkan di pundak, atau tetap saja misuh-misuh kalau kesal melanda. Manusia yang paling merugi adalah manusia yang mendapati dirinya hari ini sama seperti dirinya yang kemarin, semoga saya tidak salah kutip. Itulah saya, saya ingin menjadi orang yang lebih baik dari hari kemarin. 

Saya ingat kata Mama liburan kemarin, "Anin sekarang kerudungnya dobel? Udah seneng pake rok? Pake kaos kaki juga? Bagus nin, cantik." Namanya perempuan, tetap saja tersanjung kalau dibilang cantik sama siapapun, tak terkecuali dari ibu sendiri. Yang lebih membahagiakan, walau Mama tidak seperti ini, paling tidak beliau menerima saya yang seperti ini. 

And tell the believing women to reduce [some] of their vision and guard their private parts and not expose their adornment except that which [necessarily] appears thereof and to wrap [a portion of] their headcovers over their chests and not expose their adornment except to their husbands, their fathers, their husbands' fathers, their sons, their husbands' sons, their brothers, their brothers' sons, their sisters' sons, their women, that which their right hands possess, or those male attendants having no physical desire, or children who are not yet aware of the private aspects of women. And let them not stamp their feet to make known what they conceal of their adornment. And turn to Allah in repentance, all of you, O believers, that you might succeed. (Q.S An-Nur:31)
Perintah untuk menutup aurat itu turunnya langsung dari Allah SWT, lantas yang membuat saya berpikir adalah, kenapa dulu sangat keukeuh dengan prinsip saya yang jelas-jelas menentang kewajiban dari-Nya? Siap atau tidak, kewajiban tetaplah kewajiban, dan menutup aurat adalah kewajiban. Seharusnya kita para muslimah merasa beruntung karena bebas memakai kerudung karena agama Islam diakui dan kebebasan beragama tidak juga dibatasi oleh pemerintah. bagaimana jika kita ada di Paris yang dibebani pajak lebih mahal bagi mereka yang mengenakan kerudung? Jalani saja prosesnya, dimulai dari membiasakan diri menggunakan celana panjang dan baju longgar, kemudian celana diganti rok panjang, kemudian berkerudung, kemudian menurunkan kerudung hingga ke dada, dan terus mempelajari Islam from time to time. Jalani saja prosesnya, rasakan nikmatnya berproses, cepat atau lambat, pastikan kita tahu apa alasan kita dalam melakukan sesuatu. Lagi pula, kenapa harus berpikir beribu-ribu kali untuk menutup aurat? Padahal maksud dari kesemuanya tidak lain dari menjaga kita, calon bidadari Surga.

Sempat saya ditanyakan oleh teman saya di telpon, kurang lebih tentang "apakah kamu tidak takut dicap sebagai pemeluk agama yang fanatik terhadap agamanya?" Saya tersenyum memandang langit-langit kamar saya sambil sesekali membenarkan posisi headset, sambil mengingat-ingat apakah selama ini saya pernah takut?

"Fanatik itu seperti kamu yang suka musik jazz, kamu pelajari segala intrumennya, kamu pelajari gaya-gaya bermain genre jazz dengan intrumen itu, kamu tahu semua penyanyi jazz dari lokal hingga internasional, kamu dengarkan musik-musik jazz sampai di handphonemu hanya ada musik jazz, hanya jazz. Kamu nggak mau nerima jenis musik lain, kamu nggak mau menganggap mereka ada. Itu Fanatik menurut aku. Tapi selama ini, yang aku dapatkan nggak seperti itu, kakak-kakak di organisasiku juga nggak begitu. Mereka yang katamu terlihat fanatik tetap memperjuangkan nasib golongan yang bukan dari golongannya. Aku malah jadi bingung kenapa bisa terlihat fanatik saat ternyata toleransi mereka juga sama besarnya, bahkan mungkin lebih peka terhadap sekitar. Itulah mengapa Islam itu menyeluruh, karena semuanya mendapat berkah dari Allah, hanya saja, ada yang berkahnya hanya sampai di bumi, tapi ada yang terus sampai nanti di kehidupan setelah ini. Islam kan juga mengajarkan kita untuk punya hubungan yan baik nggak hanya ke Allah tapi juga ke sesama manusia, that's why."

Dan ia bilang "Kamu banyak berubah nin, dan aku seneng sama perubahanmu.." Kita memang harus berubah sob, kita nggak boleh jadi manusia yang sama kayak kemarin tanpa progress, kita harus jadi kepompong yang siap jadi kupu-kupu, dan sekarang ini tahap persiapannya. Di tengah itu semua, saya juga masih belajar, saya tetap bertanya tentang hal-hal yang mungkin akan sangat sepele bagi beberapa orang, saya ingin terus mencari alasan-alasan lainnya yang akan membuat saya dekat denganNya..

Jangan beri tahu alasan kenapa seseorang harus melakukan sesuatu, tapi bantu mereka menemukan alasan kenapa mereka harus melakukan sesuatu-Anindya Roswita
Pos ini cukup tentang saya saja yang selama ini telah lama meninggalkan tab "Entri Baru"..
Pos ini biarkan blog saya menjadi panggung saya sendiri..
Pos ini memang tentang saya yang sedang dalam perjalanan menuju ridhoNya..

Selain karena saya ingin berdamai dengan Tab "Entri Baru" yang terus-terusan membuat saya gelisah karena tidak juga menulis di malam-malam sendiri atau di waktu-waktu senggang saya, tulisan ini juga bermaksud untuk menjadi pengingat saya di waktu lain entah kapan, boleh juga untuk sekedar sharing dengan teman-teman semua, jika ada bagian-bagian yang menyinggung, maafkan saya ya :)


Selamat Malam Menjelang Pagi Kawan dalam Perjalanan





Friday, August 15, 2014

Si Aktor



For others, midnight means a time when we could leave it all and get some rest, while for some people, midnight means, life is about to start...

Kejamnya media akhir-akhir ini sebenarnya membuat saya terkurung di dalam kontemplasi saya sendiri, apakah saya harus memajangnya di blog atau tidak, bukannya berpikir hal apa saja yang nantinya akan saya jelentrehkan. Tapi, sambil mikir, lebih baik saya tuliskan...

Beberapa hari lalu saya mendengar kabar, seorang aktor, komedian, inspirator, pemenang penghargaan bergengsi di dunia perfilman akhirnya menutup usia, Robin Williams, siapa lagi. Si Aktor, salah satu faktor kenapa masa kecil saya begitu menyenangkan lewat film-filmnya yang tak bosan-bosannya saya tonton hingga sekarang saya menginjak angka 24 di bulan ke tujuh untuk yang ke sembilan belas kalinya. Di tengah prestasi dan kebahagiaan yang terlihat di mata kamera dan paragraf-paragraf pemberitaan tentang dirinya, sungguh sangat disayangkan, aktor ini justru mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri karena depresi yang dideritanya. Diketahui beberapa kali, Si Aktor juga keluar masuk panti rehab akibat ketergantungannya terhadap alkohol. Dan akhirnya Si Aktor menutup usia di umurnya yang ke-63 yang diduga karena asphixia, atau kekurangan asupan oksigen ke otak.

Kali ini saya tidak ingin membahas detail tentang kematian si aktor. Bagaimana kondisi istri dan keluarga setelah ditinggalkan, apa tanggapan pengacaranya, bagaimana perasaan teman-temannya, bagaimana prosesi pemakamannya, siapa saja yang hadir di pemakamannya, jika anda menginginkan berita tentang itu silahkan ketik Robin Williams suicide atau apalah di search engine anda masing-masing, atau tonton saja infotainment dengan presenter haha-hihinya.

Saya menyadari suatu ironi yang justru hadir di tengah hal ini. Tentang bagaimana sikap beberapa orang di media sosial beberapa hari ini setelah kepergiannya. Ada yang meledak-ledak sedih akan fakta kepergiannya, ada yang respect dengan karya-karyanya, ada juga yang memilih untuk mengabaikannya begitu saja.

Namun, yang menjadi ironi adalah saat entah berapa ribu orang di dunia ini, yang meregang nyawa di rumah sakit; yang bergulat dengan kanker bertahun-tahun berperang dengan kematian, siapa tahu Tuhan berbelas kasih kepadanya lantas memberinya kesempatan lagi untuk hidup and makes everything’s right; anak-anak jalanan menyanyikan lagu orang dewasa yang tak mereka tahu esensinya demi sebungkus nasi yang dimakan bersama 10 temannya; anak-anak korban perang, anak-anak penderita busung lapar; atau siapa saja di belahan bumi lainnya yang sedang berperang dengan masalahnya masing-masing untuk bertahan dan mendapatkan tempat entah di sudut bagian mana di bumi ini. Sayang sekali, perhatian untuk mereka ini teralih oleh seseorang yang bisa dibilang punya segalanya, harta, keluarga, istri yang mencintainya, orang-orang di dunia ini yang menyayanginya lewat karya-karyanya, dan lain sebagainya, tapi tidak menghargai anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepadanya, hidup.

Suicide is never an option for those who’s facing any problems. I can’t even think to myself why, how sad it is to make some people choose ‘it’ to be something like, the way out of their probs? Maybe it’s true, we never know how it feels if we never stand on someone’s shoes. But, that’s why it’s so much important to have God inside of our hearts, to fulfill some empty parts of it, to ease every sadness, to give us lots of positive thoughts that everything will be alright, to keep us going, to give us faith and belief.

I ever met that one problem that brought me down to the deepest sadness in my life. That was when I lost my dad. I was thinking that my life is over, I thought that it’s a kind of curse that God gave me, I thought He’s cruel, I thought He’s unfair, and stuffs. I know right, I was too labile that time. But... something has brought me to the new point of life, I even forgot what or where or when exactly it happened. And yes, for the first time, I believe that everyone has their own turning point.

And now, I have an analogy for a problem whenever I get it, it’s like, a bell that’s rang by your Mom, when you’re playing too far from home. It’s something that God gives us whenever we almost cross the line, it’s something like a reminder for us to go back home, to go back to God. That’s just how I see it now.

Life is a playground, you can play whatever you want, but still remember the rules,  don’t get lost and don’t forget to go back home Anindya Roswita

Ah tau apa saya soal hidup, kalian yang membaca pasti tau lebih banyak soal hidup. Bagi saya hidup adalah soal penghargaan, penghargaan kita untuk Dia yang memberikan kita hidup, penghargaan untuk mereka yang membuat kita hidup, penghargaan untuk diri sendiri yang terus berjuang untuk hidup.

Semoga kita yang disuguhi berita tidak hilang arah atau larut akan kesedihan karena ditinggalkan Si Aktor, semoga kita tetap bisa membuka mata untuk mereka yang masih memperjuangkan hidup.

Untuk Si Aktor,

            Sing me to sleep
Sing me to sleep
And then leave me alone
Don’t try to wake me in the morning
‘cause I will be gone
Don’t feel bad for me
I want you to know
Deep in the cell of my heart
I will feel so glad to go
(Asleep-The Smiths)

yang menabur semangat kepada mereka untuk hidup,
yang mungkin kala itu lupa betapa berharganya kesempatan untuk hidup.
Selamat jalan, Genie, Mrs. Doubtfire, Robin Williams, ...







Friday, August 8, 2014

Tentang Pak Lodhang, Kopi dan Perempuan

Langit masih sore, tapi sudah terasa sangat larut bagi saya, yang rencananya berantakan, sementara bayangan akan duduk manis di kereta, melanjutkan Jakarta Kafe-nya Tatyana, mendengarkan Sweet Disposition-nya The Temper Trap, duduk bersama teman-teman Rohis semasa SMA, lalu lalang bergentayangan di langit-langit otak saya, mencemooh pemiliknya.

Untung saja, nasi sambel teri, tahu bacem yang dibakar lagi serta segelas kopi hitam dari Angkringan Pak Lodhang sedikit mengobati rasa kesal saya yang rencananya porak poranda. Tapi, untuk apa saya saat ini menulis kalau tidak ada yang menarik, acara ngupi-ngupi malam hari itu memang selalu memberikan pencerahan untuk pikiran saya, sekeruh apapun keadaannya. #tsaah

Baik, pertanyaannya berawal saat tadi saya sampai di Angkringan Pak Lodhang yang hanya berjarak kurang lebih 100 meter dari kediaman Si Mbah. Hanya ada seorang bapak yang duduk di angkringan malam ini, sambil terus membicarakan Liga Champion dari tahun ke tahunnya, sedikit teriris saat jadi pendengar rahasianya karena ia tak juga menyebutkan tim dari Liverpool, tapi bukan di situ fokus saya. Selagi Pak Lodhang membakar tahu bacem saya lagi agar lebih kering, saya terjebak dalam sebuah kontemplasi apakah jahe hangat atau kopi hitam yang akan saya pilih untuk menghabiskan malam saya. Setelah dikira cukup kering, Pak Lodhang memasukkan tahu-tahu enak bacem, dan barulah saya akhirnya bertitah menambah pesanan “Kopi item juga ya pak...” dengan wajah keheranan dan mengulang kata “kopi item?” untuk memastikan yang ia dengar memang benar. Selesai dibuat di gelas besar, macam gelas-gelas yang dipakai untuk iklan minuman pembangkit energi dengan almarhum juru kunci satu gunungnya, tanpa bertanya lagi kepada saya, Pak Lodhang langsung memasukkan kopi saya ke dalam plastik dan mengikatnya rapat. Kenapa beliau bahkan tidak menanyakan “minum sini atau bawa pulang?” ?

Orang tua pasti menjawab “udah malem, ora elok cah wedok mbengi-mbengi metu omah”, atau “udah jam malam, nggak baik, bahaya, banyak cowok nggak jelas.” Ah jadi kesal, laki-laki yang nggak jelas, jadi perempuan yang repot, padahal tau sendiri, kopi panas yang sudah campur plastik dan di bawa pulang kan rasanya tidak sedap. Faktor budaya juga? Wah bisa jadi. Saya tinggal di tanah yang mayoritas penduduknya adalah suku jawa yang sangat menjaga kaum perempuan, yang pamalinya seabrek untuk perempuan yang keluar malam hari. Lalu, pikiran saya terbang ke kota-kota besar, di mana semalam apapun perempuan ingin membeli makanan atau minuman dari kedai mereka masih diberi pertanyaan “makan di sini atau take away?” Bukan iri. Justru saya takut. Takut, kalau-kalau stereotype yang berkembang selama ini bahwa kota besar yang identik dengan modernitas dan gaya hidupnya yang sudah jauh temponya dari kehidupan kami-kami ini yang di desa, membuat entah berapa banyak dari kita berpikir bahwa “jangan pulang malem-malem” sebagai ungkapan posesif tak berdasar, bukannya protektif.  Padahal, modern atau tidak, bukan berarti mengabaikan kepentingan perempuan itu sendiri, yaitu dijaga. Ada lagi yang aneh, iya ini tentang laki-laki yang aneh yang mengatakan “perempuan katanya ingin emansipasi, tapi kalo nggak dapet tempat duduk di bis aja ngedumelnya ampun-ampun deh sama laki-laki yang duduk”, haha pernah dengar itu? Saya pernah. Emansipasi itu tentang persamaan hak, agar perempuan dapat merasakan hak untuk berpendidikan, dianggap sebagai manusia yang merdeka selayaknya laki-laki, namun tetap mengakui keberadaan dan kodrat bahwa memang laki-laki terlahir untuk memimpin perempuan,eh ini menurut saya ya, boleh juga dibetulkan, saya juga masih belajar. Opini saya, soal tempat duduk, itu sih tentang kesadaran si laki-laki tentang kelaki-lakiannya sih, karena mau disamakan seperti apa, fisik perempuan memang tidak sekuat laki-laki, itulah salah satu fungsi laki-laki, menjadi proteksi bagi perempuan, dalam kasus tempat duduk di bis tadi, mendahulukan perempuan bisa jadi salah satu cara laki-laki menjalankan fungsi proteksi bagi perempuan.

Lucu sekali malam ini. Saya kesal-kesal, sedikit bicara dari sore sampai malam begini, tapi ternyata berjalan sedikit ke Angkringan Pak Lodhang mampu membuat saya menuangkan kopi pikiran saya di program Word yang setiap malam selalu saya buka, kalau-kalau ada hal yang tiba-tiba ingin saya tulis, sayang sekali lebih sering saya biarkan kosong. Memang lucu dan macam-macam Allah memberikan obat hati bagi umatNya...

Kopi di gelas sudah hampir setengah, tiba-tiba muncul satu lagi pertanyaan saya sesaat sesudah saya menyeruput kopi saya barusan. Kenapa ya perempuan selalu diberikan hidangan kopi kontemporer sedangkan laki-laki identik dengan kopi-kopi konvensional seperti black coffee, long blackk coffee atau espresso di hampir setiap novel atau cerpen yang saya baca? Apa karena Latte, Machiatto, atau Capuccino dianggap lebih soft, kadar kafeinnya tidak sekuat grup kopi yang saya sebutkan sebelumnya, sehingga dianggap lebih cocok untuk perempuan dilihat dari karakternya? Jangan-jangan di masa depan akan ada kategori feminin dan maskulin untuk kopi? Bahaya sekali itu, saya jadi membayangkan, nanti saya tidak bisa menikmati Kopi Jahe favorit saya. Atau memang itu faktanya? Perempuan memang lebih tertarik menikmati kopi-kopi ‘cantik’ dengan topping yang bervariasi atau foam menjulang yang lebih unik untuk dijadikan post di Instagram atau Facebook? Bagaimana menurut kamu, wahai perempuan?

Dan ingatlah pesan sang surya
Pada manusia malam itu
Tuk mengingatnya di saat dia tak ada
Tuk mengingatnya di saat dia tak ada
Tuk mengingatnya di saat dia tak ada
Esok pasti jumpa
−Banda Neira(Kau Keluhkan(Esok Pasti Jumpa))

Eh, ternyata sudah tiris rasa kesal saya. Pasti ada hari lain untuk merencanakan ulang apa-apa saja yang tertunda, semoga.

Terakhir
Selamat malam para perempuan dalam penjagaan
‘Jangan pulang malam’ itu bentuk perhatian

Sekian





Monday, August 4, 2014

Pergi

Pergi
Pergilah yang jauh
Agar kau tau ke mana kau harus kembali

Pergi
Pergi yang jauh
Agar kau tau untuk siapa kau akan kembali

Pergi
Pergi yang jauh
Agar pertemuan-pertemuanmu memiliki makna yang berarti

Pergi
Pergi yang jauh
Agar kau tau bagaimana caranya mensyukuri

Pergi
Pergi yang jauh
Agar kau tau alasan untuk mencintai

Sekarang pergi...





Sunday, August 3, 2014

Ibu Kota Mimpi

Satu orang tengah duduk di bawah kanopi sebuah minimarket dengan cabang-cabangnya yang tersebar ke penjuru dunia. Ia memilih macchiato, seharga dua belas ribu, untuk menemani sorenya yang sedikit mendung dan pengap. Di pinggir bangunan hijau, salah satu ikon ibu kota, tempat pertama kali bagi beberapa orang turun untuk menginjakkan kakinya untuk dengan sejumput asa di bumi Ibu Kota.

Di bawah kanopi ini, entah darimana saja kalangan mereka menikmati apa yang tersaji di meja mereka, sambil asyik menyelami dunia mereka sendiri, lewat alunan-alunan musik yang telah di atur sedemikian rupa playlistnya. Ada yang memilih segelas plastik kopi, atau coklat, ada juga yang meminum es serut segala rasa, kata beberapa orang itu seni menikmati hidup.

Here comes the questions. Apakah masih bisa kita menikmati hidup saat di tengah menyesap that heavenly taste of coffee or somewhat, tiba-tiba ada dua orang anak yang datang ke meja kita, yang satunya menanyakan apakah sepatunya ingin disemir sambil menggenggam alat perangnya, dan satunya lagi dengan umur yang lebih muda, menengadahkan tangan, bukan untuk berdoa kepada Tuhannya, tapi untuk memohon belas kasih demi satu atau dua keping rupiah? Apakah masih bisa menikmati hidup saat dua belas ribu yang kita pakai untuk membeli secangkir kopi ternyata bisa mengganjal lapar yang maha, untuk belasan anak kecil dengan profesi yang sama?

"Bersama Ibu Kota semua bisa, semua ada. Kamu ngapain aja bisa jadi duit!" 

Betulkah? Apakah kalimat itu juga dipersembahkan untuk adik adik kecil kita yang seharusnya sedang belajar membaca atau menonton serial kartun anak di televisi? Apakah benar yang di kata orang, "Ibu Kota lebih kejam dari Ibu Tiri?" Sementara di saat yang bersamaan, kalimat "Hanya yang berusaha dengan giat yang akan memetik hasil" seolah menjadi pembenaran atas segala ketimpangan sosial yang terjadi di depan mata kepala setiap anak-anakmu, Ibu..
Taukah kau Ibu, Kau dikata orang sebagai tempat menaruh harap, memupuk asa, memetik buah segar setelah ditanam baik-baik. Tapi, anak-anakmu, melihat seorang ibu yang menggendong anak di dalam bis saja malah pura-pura tidur dan tidak dengar dengan headset tersumpal di telinga. Lalu, asa siapa yang kau dekap, Ibu?

Itu hanyalah sebuah cerita seseorang yang saat ini gelasnya sudah kosong, tak banyak, hanya seujung kuku jari kelingking fenomena yang diceritakannya. Tetapi tetap juga ditulisnya, takut fenomena yang tak sebesar jempol ini akan terlupa dan tak pernah terselesaikan. 

Atau kami memang tinggal di Ibu Kota Mimpi?







Friday, July 25, 2014

Sembilan Belas

Terima kasih kepada angin pembawa kabar gembira..
Terima kasih kepada air pembasuh lara..
Terima kasih kepada matahari yang menjadi pelita...
Terima kasih kepada api penyala asa..
Terima kasih kepada tanah pengubur luka..
Terima kasih kepada Allah Sang Pencipta segala...

Dua puluh empat di bulan ketujuh memang bukan tanggal biasa untuk makhluk yang menuliskan ini. Di mana sembilan belas tahun yang lalu dengan susah payah dilahirkan oleh seorang ibu dengan mempertaruhkan nyawa dan rasa sakit yang katanya seperti ditusuk seribu jarum itu.

Kata Mama, tak mudah membesarkan anak kecil seperti saya, dari sering menangis melebihi kebiasaan anak bayi biasa menangis, katanya diikuti oleh seseorang dari lain alam, step berkali-kali yang hampir melemahkan otak, atau entah berapa kali nyemplung di got depan rumah karena nekat main sepeda saat hari sudah gelap. Ah, masa kecil.

Sekarang yang menulis sudah berumur sembilan belas tahun, tapi seperti baru kemarin saja lahir ke dunia, bukan maksud sok imut, tapi lebih ke.....belum terlihat apa-apa hasil karya yang sudah ditorehkan dengan tinta emas, atau memegang bendera merah putih di tengah podium, entah podium mana. Belum, tetapi akan.

Sembilan belas adalah satu tahun sebelum akhirnya kepala saya tumbuh satu lagi. Terhitung satu tahun lagi untuk saya menyiapkan hati dan pikiran untuk menyambut masa dengan dua kepala kepala dua. Sebelum akhirnya masuk ke masa transisi dari remaja ke dewasa.

Sembilan belas menyuruh saya untuk melihat lagi daftar target yang saya tulis, memilah milihnya, melihat lagi mana yang sudah dicoret, mana yang belum, mana yang harus direvisi, mana yang harus diprioritaskan dan mana yang boleh dinomor duakan. Ibarat orang berlari, saat ini pemberi aba-aba sudah mengatakan “Siap...” sebelum mengatakan “Mulai...” Ya, sembilan belas memang angka siap-siap.

Sembilan belas, katanya saya harus dewasa. Tapi, umur tidak mendeskripsikan bagaimana tingkat kedewasaan seseorang. Toh faktanya, semakin kita tua, kita akan kembali lagi pola pikirnya seperti anak-anak. It’s about life cycle, in my opinion. Dewasa bukan saat kita berhenti menonton Petualangan Sherina, dan mulai menonton film-film fiksi ilmiahnya Tom Cruise, it doesn’t depend on what you put your interest to. Ini bukan pembelaan dari betapa saya menyukai Petualangan Sherina sampai teman-teman di sekitar jengah mendengar saya terus-terusan meng-impersonate seluruh karakter sampai suara backsound film tersebut ya. Dewasa itu tentang pola pikir, tentang bagaimana kita merespon suatu hal, tentang manajemen emosi, dan lain sebagainya, anda yang membaca pasti punya definisi tentang dewasa juga bukan? Boleh juga ditambahkan di kolom komentar. Bukan bermaksud nyinyir, tapi jaman sekarang hanya melihat sikap, once or twice lantas memberikan judgement bahwa seseorang itu dewasa sama saja hanya melihat apa yang dia pakai di luarnya. Sikap itu bisa diatur, tapi apa yang ada di dalamnya, that’s what matters the most. Sembilan belas, apa ini pelajaran pertamanya? Don’t judge the book by its cover?

Sembilan belas, ternyata sudah 5 tahun saya mengulang tanggal dua puluh empat tanpa kehadiran Bapak. Lama tapi tak terasa. Tapi, tahun ini tidak sesedih tahun-tahun sebelumnya. I try to keep my balance, cause falling for the same reason that won’t come back is wasting, and there’s a lot of things that we could do to make that-one-who-won’t-come-back proud. Tidur tenang di sana ya, Pak.

Sembilan belas, sampai di sini saja, saya mau siap-siap.


Selamat siap-siap.





Tuesday, July 15, 2014

Media di Tengah-Tengah Pemilu

“The mass media become the authority at any given moment for what is true and what is false. What is reality and what is fantasy, what is important and what is trivial.”
Ben H. Bagdikian dalam The Media Monopoly

Pesta Demokrasi yang biasa diselenggarakan setiap 5 tahun sekali, hajat paling krusial pada sebuah negara yang lumayan menguras APBN dalam penyelenggaraannya. Pemilihan Umum Presiden tahun 2014 adalah sebuah pertarungan terbuka bagi dua pasang yang diusung, dijagokan untuk menjadi orang paling nomor satu(dan nomor dua) di Indonesia.
Janji menyejahterakan, memperkuat pertahanan nasional, memberi pelayanan kesehatan yang terbaik hingga ke pelosok negeri, menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang kuat, dan janji-janji lainnya yang beberapa hari terakhir sudah seperti makanan sehari-hari bagi penulis. Bukan suatu hal yang salah, toh memang itulah saatnya untuk mengkampanyekan apa-apa sajja yang akan mereka lakukan untuk rakyat dan mengabdi kepada tanah air.
Yang menjadi masalah adalah saat proses kampanye yang dilakukan ternyata menggunakan sesuatu yang mana adalah milik rakyat secara cuma-cuma dan besar-besaran. Media. Media dewasa ini tidak hanya memiliki fungsi informatif sebagaimana pada mulanya media ditemukan. Media saat ini, telah beralih fungsinya menjadi suatu alat komunikasi bagi beberapa golongan untuk mencapai kepentingannya. Hal tersebut dapat dilihat pada media-media swasta Indonesia yang mulai secara terang-terangan menampakkan afiliasi instansi medianya dengan suatu partai atau suatu golongan tertentu. Pemberitaan-pemberitaan yang tidak berimbang, negative atau bahkan black campaign yang senantiasa mewarnai layar kaca pemirsa-pemirsanya di ruang keluarga. Mengutip salah satu kalimat dari Jim Morrison, Whoever controls the media, controls the mind”. Kalimat tersebut bisa dibilang cukup relevan jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, karena tidak sedikit orang yang  terjebak dalam opini-opini dapur redaksi yang dianggap sebagai sebuah kebenaran walau kenyataannya apa yang diberitakan adalah apa yang media ingin rakyat tau, sehingga kualitas berita yang disiarkan saat ini cenderung tendensius dan tidak cover bothsides. Hal tersebut diperparah dengan tingkat pendidikan yang rendah dalam masyarakat masih menduduki strata pertama dalam segi kuantitasnya, sehingga tak heran budaya membaca, literasi media pun masih teramat jarang berkembang di masyarakat kita, hal tersebut yang menyebabkan mudahnya informasi yang masuk ke dalam pikiran audiensnya tanpa adanya tedheng aling-aling atau filter di tengah serbuan informasi yang minta dilahap oleh audiensnya.
Di saat seperti ini, kita diajak untuk kembali lagi membuka buku lama kita dan mengingat-ngingat 9 elemen jurnalisme yang seharusnya dijunjung tinggi oleh instansi-instansi media kita. Seperti pada elemen ke-empatnya, yaitu Jurnalis harus menjaga independensi dari obyek liputannya. Independen di sini berarti independen atas orang-orang yang diliputnya sehingga berita yang diliput pun tidak berat sebelah. Instansi media sudah seharusnya memisahkan program-program yang berdasarkan opini-opini dari ruang redaksi dengan fakta-fakta untuk disiarkan di layar kaca kata. Karena inilah yang akhirnya terjadi, masyarakat dibuat bingung tentang mana berita yang fakta dan mana yang hanya sekedar opini. Dari elemen ke-empat berkaitan erat dengan elemen ke-lima, yakni “Memantau kekuasaan dan menjadi penyambung lidah mereka yang tertindas”. Lewat tulisan, liputan dan produk-produk jurnalisme lainnyalah jurnalis menyuarakan hak-hak rakyat yang tertindas. Bukan menyembunyikan fakta-fakta di lapangan untuk memperkokoh kursi penguasa. Sehingga media benar-benar dapat dijadikan rujukan.
Saya merasa prihatin atas perkembangan media di era teknologi seperti pada masa sekarang ini. Merupakan suatu hal yang ironis memang, saat teknologi berkembang pesat namun, justru informasi-informasi yang beredar tidak bisa kita konsumsi dengan baik. Seperti itulah gambaran masyarakat hari ini di tengah banjir informasi dari instansi-instansi media yang berafiliasi. Beberapa dari masyarakat kita bahkan merasa bangga dan merasa paling benar saat mengungkapkan sesuatu yang tidak bisa diidentifikasi apakah hal tersebut adalah fakta atau opini, padahal kita semua tahu siapa orang-orang yang ada di balik instansi media tersebut.
Dalam Pemilu Presiden 2014 ini, media menjadi alat komunikasi paling efektif bagi para Timses dan Jurkam dari masing-masing calon. Hal tersebut tidak bermasalah saat instansi media masih mengindahkan elemen-elemen jurnalisme yang seharusnya ada dalam setiap pemberitaan. Namun, hari ini kita terus disuguhkan berita-berita dari televisi yang dipolitisasi dan dikonglomerasi untuk kepentingan beberapa golongan saja, termasuk capres dan cawapres yang akan berlaga di Pilpres 2014. Sehingga tak jarang dari berita-berita yang tendensius pada sebuah instansi media menciptakan iklim fanatisme pendukung yang akhir-akhir ini justru memecah persatuan antar sesama pendukung, sungguh hal yang sangat disayangkan.
Harapan penulis untuk siapapun Presiden terpilih nantinya adalah mampu mengembalikan kekuatan media, serta mampu mempertegas regulasi-regulasi pada sektor komunikasi dan informasi di Indonesia. Karena bagaimanapun juga salah satu faktor dari tumbangnya rezim Orba disebabkan oleh media, walaupun beberapawaktu sebelumnya media di Indonesia sempat mendapat julukan “Anjing Ompong” oleh para wartawan asing. Namun, bagaimana dengan saat ini? Anjing yang dulu Ompong, kini telah berubah menjadi “Anjing Bergigi Emas dan Tersumpal Gulungan MoU Golongan dengan Media”.

Refrensi:
Harsono, Andreas. 2014. A9ama Saya Adalah Jurnalisme. Yogyakarta: Kanisius.
Ibrahim, Idy Subandy. 2011. Kritik Budaya Komunikasi, Budaya, Media dan Gaya Hidup Dalam Proses Demokratisasi Di Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra.


Anindya Roswita
Staff of Ministry of Foreign Affair, Division of Strategic Studies

BEM FISIP UNS





Saturday, July 12, 2014

Lembayung Lagi

"Kopi Jahe deh, Mas..."
Lagi, setelah 5 bulan berpisah akhirnya kami dipertemukan kembali di bawah sebuah kedai dengan suasana syahdu di temani hawa dingin semberibit Yogyakarta sehabis disiram hujan sore tadi.

Kami bersebelas duduk di meja yang sama dengan beberapa gelas kopi tubruk yang hanya tinggal sisa ampasnya, piring roti bakar, beberapa gelas tinggi yang memesan kopi 'kontemporer' macam capuccino atau latte, korek dan bungkus rokok, tapi dengan kesibukkan yang berbeda. Satunya sibuk mendengarkan musik lewat headsetnya setelah frustrasi menunggu orang di meja depan yang tak kunjung selesai meminjam gitar, dua orang yang matanya terpaku pada layar laptop dan jemarinya yang lincah menari di stick, main PES, dua yang lain ngobrol soal kota baru tempat menuntut ilmu di mulai dari karakteristik orang, harga barang hingga ke peluang usaha, tiga yang lain membantu mendesain Poster teman yang PKMnya lolos sambil sesekali melihat palet warna dari tab sebelah, satu lainnya pamit pulang dulu untuk mengaji, dan aku multitasking antara membalas chat, melihat timeline dan bersyukur, pada hari ini kami masih dipertemukan dalam keadaan sehat walafiat.

Tidak begitu mengerti apa yang aku ingin ceritakan. Antara rasa bersalah dan bersyukur kembali lagi ke halaman ini, setelah perjalanan jauh dan melelahkan mencoba bertahan dari segala macam deadline, hingga hampir saja aku lupa pulang ke halaman ini.
Setiap tempat punya cerita. Setiap sesap kopi mengandung banyak arti
−Anindya Roswita
Jika ditanya, what keeps you going so far? Maka aku akan menjawab, my faith to God, my spirit for Mom, my optimism for my nation and my sincerity for my religion. Lanjut pertanyaan selanjutnya, "what makes you going?" Then I'll answer it, short and crystal clear, "coffee".


...


Pukul 11.48 Waktu Indonesia bagian Barat. Sebenarnya masih di bawah pengaruh kopi jahe yang aku pesan semalam. Kopi yang ampas kopinya bahkan hampir setengah gelasnya, ditambah beberapa potong jahe yang ditumbuk. Cukup untuk membuat siapa saja yang menegaknya terjaga hingga pukul lima. Semacam uji nyali untukku yang punya maag  dan meminum kopi dicampur jahe, efek hangat yang jika maagku kambuh juga akan terasa efek "membakar"nya di lambung. Tapi, nikmat itu memang tidak bisa dibohongi, saat disodori list menu di daftar kopi aku seakan tidak memiliki pilihan lain untuk meminum kopi macam lainnya. Sudah cinta sepertinya.

Kopi dan sahabat mereka sama halnya dengan rumah. Tempat kita pulang dan beristirahat saat kita sudah pergi terlalu jauh. Saat kita mulai hilang arah. Sebagai pengingat akan mimpi-mimpi yang pernah tertuang di cangkir kopi kita masing-masing. Sebagai cambuk yang tak segan menampar kita saat kita sudah tersasar terlalu jauh. Sebagai cermin diri di mana kita tak akan ragu menjadi manusia merdeka seutuhnya.

Sesederhana kopi tubruk. Sehangat jahe tumbuk. Itulah sahabat. Tak perlu kriteria A-Z untuk mendapatkan sahabat seperti kesepuluh orang yang tadi malam duduk di depanku. Orang-orang yang selalu menerima kita dengan hangat dengan tawa renyah dan ramah sejauh dan selama apapun kita pergi. Lembayung sekali lagi membuatku berfilosofi dalam tawa sahabat, dalam iringan musik yang tumben nggak genah, dalam dinginnya Kota Yogyakarta malam itu.


Lembayung, nanti aku datang lagi
Masih dengan Kopi Jahe untuk yang kesekian kali






Saturday, June 21, 2014

Berbagi Rasa

Hujan. Malam itu hujan gerimis mengguyur Kota Solo.
Dingin. Hangatnya Solo tak terasa, entah pergi ke mana.
Rapat. Kurapatkan lagi sweater yang kupakai, memanjangkan lengannya hingga menutupi jemariku.

Tapi, di sini berbeda dengan di luar.
Di mana ratusan orang berdiri berhimpitan, memandang satu panggung yang bermandikan cahaya lampu sorot berwarna-warni.
Ada yang berdiri, tertawa haha-hihi dengan sahabat sejawat.
Ada pula yang menikmati romantisme konser kecil, bergandengan tangan walau tidak ingin menyebrang dengan kekasih tercinta.
Ada lagi yang berdiri sendirian di tengah keramaian, gegap gempita, suara riuh rendah, menikmati setiap bait lirik yang dinyanyikan, menyelami dirinya sendiri, bahagia sendirian.



Tak perlu tertawa atau menangis
Pada gunung dan laut
Karena gunung dan laut
Tak punya rasa

Bukan lagu pertama yang dimulai malam itu. Bukan lagu yang dinyanyikan paling keras juga pada malam itu. Bukan lagu yang paling terkenal juga saya rasa, mengingat single pertama yang dikeluarkan adalah “Angin Pujaan Hujan”, yang menurut penilaian pribadi, adalah lagu yang dinyanyikan paling keras malam itu.

Cerita Tentang Gunung dan Laut mengingatkanku dengan teman-teman, tidak-tidak, hanya diriku sendiri. Seringkali saat aku bersedih, merasa bahagia, bersemangat, atau merasa penat dengan segala rutinitas yang selama ini membelenggu, yang ingin aku lakukan adalah pergi ke manapun, asal jauh dari tempat di mana aku melakukan segala kegiatanku, laut misalnya(hanya ke laut, karena sampai detik ini Mama belum juga memberikan izin untuk pergi ke gunung).  

Di sana di bibir pantai, kadang aku hanya duduk saja memandang laut, memandang langit, memandang anak-anak kecil yang asik bermain pasir. Di sana di bibir pantai kadang aku hanya bermain di pinggir pantai, membiarkan jilatan-jilatan ombak menggelitik permukaan kulit kakiku, melangkah dari karang ke karang hingga tanpa kusadari, aku telah jauh dari bibir pantai kemudian kembali ke tempat awal. Di sana di bibir pantai, kadang aku hanya mengambil beberapa foto, foto pasir, foto kerang, foto pecahan karang yang terbawa ke pasir pantai, foto sandal, foto orang , foto langit, foto selfie...

Tapi, biarlah, abaikan apa-apa yang aku lakukan, toh setiap orang pasti punya cara-caranya masing-masing untuk menikmati tempat-tempat terbaiknya. Payung Teduh dengan lagunya yang malam itu menggema ke penjuru Gor Manahan membawaku ke sebuah pertanyaan, 

“Mengapa kita harus susah-suah pergi ke suatu tempat yang jauh dari kehidupan kita, ke gunung atau ke laut untuk melepaskan apa yang selama ini membebani?”

Sebelumnya, inilah hasil interpretasiku soal lagu, kalau memang dangkal atau bahkan salah kaprah, tulis apa dan bagaimana seharusnya di kolom komentar, ajari aku. Kritik atau hina juga boleh, yang penting jangan biarkan aku salah berlama-lama.

Malam itu, “Cerita Tentang Gunung dan Laut” membuat pertanyaan yang tadi sudah aku lontarkan tadi bergema berkali-kali di pikiranku.

“Mengapa kita harus susah-suah pergi ke suatu tempat yang jauh dari kehidupan kita, ke gunung atau ke laut untuk melepaskan apa yang selama ini membebani?”

 Aku mempertanyakan kebiasaanku atau kita atau bolehlah hanya aku saja, yang suka sekali berlari ke tempat-tempat itu, untuk bercerita. Kita menangis, kita tertawa, kita menjerit, kita terbahak-bahak seakan mereka punya rasa, seakan mereka tahu bagaimana rasanya menjadi kita kala itu.

Aku mempertanyakan kebiasaanku atau kita atau bolehlah hanya aku saja, yang senang sekali menyampaikan apa-apa yang kita rasa, menceritakan soal rasa, mengutukki rasa, semua soal rasa, kepada sesuatu yang tak punya rasa.

            Gunung dan laut mereka tak punya rasa, tetapi kenapa kita masih saja mendatanginya untuk berbagi rasa? Aku berpikir, apakah kala itu kita lupa bahwa tak perlu jauh-jauh hingga ribuan meter di atas permukaan laut atau berkilo-kilometer ke pelosok negeri, mencari hingga dibalik perbukitan untuk menemukan ujung dari sebuah daratan dan bercerita, karena sesungguhnya ada di sana, selembar sajadah yang hanya terhitung 3 langkah dari di mana aku menulis pos ini, yang siap menjadi alas sujudku saat berbagi rasa kepada Dia yang menciptakan rasa, yang mengendalikan rasa, yang menghapus rasa. Kenapa harus berkilo-kilometer jauhnya untuk merasakan kedekatan spiritual tertinggi saat sesungguhnya Dia berada sangat dekat, lebih dekat daripada urat nadi kita sendiri?

Aku tak pernah melihat gunung menangis
Biarpun matahari membakar tubuhnya
Aku tak pernah melihat laut tertawa
Biarpun kesejukkan bersama tariannya

Malam itu ditutup dengan sepotong tahu bacem, setengah gelas kopi hitam dan rasa syukur kepadaNya atas makna yang selama ini aku tangkap di waktu-waktu yang tak pernah bisa aku duga. Dia memang selalu saja punya cara-cara istimewa untuk mengingatkan hambaNya.