Sunday, October 5, 2014

Be Yourself?

This post contents too many rude words, don't read it before it's too late.










Kalau kata bang Azhar Nurun Ala, penulis buku Ja(t)uh, Tuhan Maha Romantis dan Seribu Wajah Ayah, menulis adalah ritual untuk menasihati diri sendiri. Bagi saya, menulis itu seperti menciptakan panggung sendiri untuk melepaskan beban-beban yang selama ini menggumpal di sudut-sudut otak dan minta di keluarkan, berekpresi, berkontemplasi, apalah nanti akhirnya yang jelas, pada akhirnya yang ditemukan dalam tulisan saya adalah saya sendiri.

            Seruwet itukah urusan tulis menulis? Ah tidak juga, mungkin memang hanya saya yang mematok standard tinggi untuk sebuah aspek “kepenulisan”, karena banyak di antara kita entah di sudut bumi sebelah mana yang menjadikan dirinya pelacur tulisan, iya, pelacur. Menulis untuk sesuatu yang sebenarnya bukan dirinya, tetapi untuk suatu kebutuhan entah ekonomi atau citra, tetap juga dilakukan.

            Jadi pelacur itu bukan hanya untuk mereka yang menjajakan tubuhnya di tempat-tempat prostitusi? Ah menurut saya tidak juga, untuk mereka yang tidak bisa menjadi dirinya sendiri atas nama citra juga sama halnya dengan mereka, hanya saja dalam bentuk lain.

...

Haha sudah-sudah misuh-misuhnya. Sebenarnya itu tadi bentuk kekesalan saya yang sudah naik ke tahun ke-2 di masa perkuliahan, lihat betapa cepatnya waktu berlari, entah seberapa cepat kita mencoba menyamakan kecepatan dengannya seolah terus saja kita ada di belakangnya. Bukan kesal pada waktu, tapi kesal pada respon orang dalam menyikapi kenaikan tingkat itu sendiri.
            “Udah semester 3 lho... udah punya adik..”
Kemudian dilanjutkan dengan kalimat ini,
            “Harus bersikap, harus jaga image, behave dong...” dan lain sebagainya dan yang lebih parah,
            “Boleh sikap kayak gitu, tapi kalo di depan adik-adiknya jangan kayak gitu...”
Bukannya saya menolak untuk melakukan itu semua, toh memang sangat diperlukan, tetapi, untuk apa membangun citra diri bahwa kita adalah orang yang dewasa saat otak dan hatinya bahkan belum sampai ke sana. Katanya setiap orang punya prosesnya masing-masing? Katanya disuruh menikmati proses? Katanya jadi dirimu sendiri? Lha kok ini malah dilimit?

Bukankah alangkah lebih baik jika kita mengenalkan diri kita sebagai diri kita  sendiri? Mengenalkan diri sebagai sesama teman yang masih berproses dan sama-sama dibetulkan jika salah? Karena akan sangat aneh, saat kita tahu seseorang dengan wibawa dan bijaksananya, kemudian kita tahu bagaimana aslinya saat bukan di muka umum, dan memunculkan statement,
“Oh, kayak gitu aslinya...”

Ada lagi yang bilang ke saya “Kamu masih suka nonton *mention film anak-anak*?” saya jawab “suka..” dijawab “ya harus dikurangin, nanti nggak dewasa-dewasa.” Sedikit jengah sih, tapi saya tanya lagi, “Emang dewasa itu gimana?” dijwabnya, “Ya dikurang-kurangin yang seperti itu, kan pikiran kita dikontruksi oleh buku yang kita baca, film yang kita tonton, musik yang kita dengar, ...” Pernyataan tersebut memang benar, saya pun setuju tapi, what is grown up actually? Is it something that you can see only by the look? Or what? Cause for me, maturity is on your mind, and is about experience you’ve taken, not about the way you dress, the way you laugh or talk(I talked about “the way” not “something you brought in your words”), cause everyone fake it these days, and maturity doesn’t define it.

Jadi ya gitu, saya biasa diperlakukan sebagai teman bukan sesuatu yang ada tingkatannya even my mother, and father, and the whole family treat me so, except for some important cases. No wonder, saya memperlakukan adik-adik saya juga selayaknya saya berteman dengan mereka, kami sebaya dan lain sebagainya, akan terasa bedanya, saat adik kita misalnya, mengerjakan sesuatu saat kita meminta bantuan atas dasar “patuh” atau “dengan senang hati membantu temannya.”

Kembali ke dunia kampus, saat saya dengan bercanda bilang “hahaha gue gagal branding”, saya jadi berpikir sekarang, sebenarnya apa yang saya ingin mereka lihat tentang saya? AHA! Sekarang saya punya jawabannya, saya ingin teman-teman saya melihat saya sebagai diri saya, bukan orang lain, sebagai anak rantau yang juga sedang berproses, yang kadang masih salah, kadang juga benar karena nggak selamanya kan orang salah terus atau benar terus, tapi tetap terus belajar, sebagai amphibi di dunia pergerakkan mahasiswa, dakwah dan dunia seni, sebagai orang yang nggak malu jadi dirinya sendiri, karena di dunia perkuliahan saat bahkan kita tidak menentukan di mana kita berpijak, habislah kita tenggelam kena hempasan ombak entah pergaulan atau ideologi.


PS. Jangan bilang-bilang ya saya buat tulisan ini.