Monday, October 20, 2014

Ironi

ungkin dia kedinginan dengan balutan kaos ketat dan celanan super pendek jauh di atas lutut. Mungkin dia sebenarnya penat dengan hiruk pikuk tawa teman-temannya atau pisuhan teman-temannya. Mungkin dia sebenarnya sesak dengan asap rokok teman-temannya. Mungkin dia sebenarnya ingin pulang, tidur nyenyak dengan selimut tebal, di kamarnya yang nyaman, bukan di sini di bawah sorotan lampu jalan yang mengekspos bagian-bagian tubuhnya yang diumbar percuma, di pinggir jalan. Mungkin jauh di dalam lubuk hatinya, dia mengharapkan jalan yang lain..

Wajah sedih itu mewarnai malam kota Solo. Diam-diam menjadi perhatian saya yang sesekali melirik ke arahnya. Wajah sedih itu, apa artinya? Ingin bebas dari tuntutan atau perbudakan uang? Atau wajah kerinduan dengan kekasih? Atau lelah? Atau penat? Atau saya saja yang malam ini terlalu melankolis lantas meng-hiperbola-kan semua yang saya lihat?

Malam ini saya melihat wajah lain Solo pada malam hari. Saya pernah menulis tentang keindahan Solo di malam hari, tentang bagaimana indahnya melewati jalan Slamet Riyadi saat sudah lewat dari jam sepuluh, di bawah sorotan lampu jalan, atau semberibit angin malam. Malam ini saya namakan wajah sedih itu, ironi.

Ironi di siang hari, melihat pusat-pusat peribadatan yang menjamur, bapak-bapak bersarung rapi dan berjalan menuju masjid yang tengah manggaungkan adzan, atau ibu-ibu yang setengah berlari menyebrangi jalan raya memeluk bible baru saja selesai kebaktian di gereja.

Ironi juga ada di pasar-pasar, tebar senyum sana-sini, ramah perangainya, bersahabat dengan siapa saja yang baru dikenalnya. Ironi yang jadi representasi. Untuk sebuah kota kecil yang kaya akan budaya dan seni. Untuk kuliner dan tradisi. Ironi hari ini.

Matahari kembali ke tempat tidurnya, dan  Ironi berbeda dengan yang siang hari. Ironi kali ini ada di tempat-tempat yang paling gelap hingga di bawah selimut, sampai di bawah sorotan lampu yang paling terang. Ada di tempat yang paling sunyi  di dalam kamar, hingga paling hingar bingar dengan musik yang berdentum.

Itulah ironi kota kecil ini. Di mana tempat peribadatan, kelompok-kelompok agama mampu berkembang dengan pesatnya, tetapi ternyata tempat dan tindak prostitusi tidak juga mampu dilibas habis? Pertanyaanya, sudah sampai sejauh manakah kekuatan dakwah setiap agama yang berkembang di kota ini? Karena itulah ironi, di mana protitusi dan religiusitas berjalan berdampingan, saat di buku-buku teori, ada hal-hal yang mampu menjadi kontrol bagi hal lainnya, dalam kasus ini, Agama yang mengkontrol prostitusi. Inilah ironi, saat keduanya seakan memiliki jalannya masing-masing, berjalan berdampingan, tidak saling menggangu, bahkan menjaga masing-masing pihak.

Ironi, itulah wajahmu hari ini. Basuh wajahmu, hapus make up dan lekas tidurlah, Sayang. Hidup memang berat, namun itulah gunanya ber-Tuhan, agar pundakmu terus dikuatkan.


Ironi, tidurlah, Sayang..