Friday, August 8, 2014

Tentang Pak Lodhang, Kopi dan Perempuan

Langit masih sore, tapi sudah terasa sangat larut bagi saya, yang rencananya berantakan, sementara bayangan akan duduk manis di kereta, melanjutkan Jakarta Kafe-nya Tatyana, mendengarkan Sweet Disposition-nya The Temper Trap, duduk bersama teman-teman Rohis semasa SMA, lalu lalang bergentayangan di langit-langit otak saya, mencemooh pemiliknya.

Untung saja, nasi sambel teri, tahu bacem yang dibakar lagi serta segelas kopi hitam dari Angkringan Pak Lodhang sedikit mengobati rasa kesal saya yang rencananya porak poranda. Tapi, untuk apa saya saat ini menulis kalau tidak ada yang menarik, acara ngupi-ngupi malam hari itu memang selalu memberikan pencerahan untuk pikiran saya, sekeruh apapun keadaannya. #tsaah

Baik, pertanyaannya berawal saat tadi saya sampai di Angkringan Pak Lodhang yang hanya berjarak kurang lebih 100 meter dari kediaman Si Mbah. Hanya ada seorang bapak yang duduk di angkringan malam ini, sambil terus membicarakan Liga Champion dari tahun ke tahunnya, sedikit teriris saat jadi pendengar rahasianya karena ia tak juga menyebutkan tim dari Liverpool, tapi bukan di situ fokus saya. Selagi Pak Lodhang membakar tahu bacem saya lagi agar lebih kering, saya terjebak dalam sebuah kontemplasi apakah jahe hangat atau kopi hitam yang akan saya pilih untuk menghabiskan malam saya. Setelah dikira cukup kering, Pak Lodhang memasukkan tahu-tahu enak bacem, dan barulah saya akhirnya bertitah menambah pesanan “Kopi item juga ya pak...” dengan wajah keheranan dan mengulang kata “kopi item?” untuk memastikan yang ia dengar memang benar. Selesai dibuat di gelas besar, macam gelas-gelas yang dipakai untuk iklan minuman pembangkit energi dengan almarhum juru kunci satu gunungnya, tanpa bertanya lagi kepada saya, Pak Lodhang langsung memasukkan kopi saya ke dalam plastik dan mengikatnya rapat. Kenapa beliau bahkan tidak menanyakan “minum sini atau bawa pulang?” ?

Orang tua pasti menjawab “udah malem, ora elok cah wedok mbengi-mbengi metu omah”, atau “udah jam malam, nggak baik, bahaya, banyak cowok nggak jelas.” Ah jadi kesal, laki-laki yang nggak jelas, jadi perempuan yang repot, padahal tau sendiri, kopi panas yang sudah campur plastik dan di bawa pulang kan rasanya tidak sedap. Faktor budaya juga? Wah bisa jadi. Saya tinggal di tanah yang mayoritas penduduknya adalah suku jawa yang sangat menjaga kaum perempuan, yang pamalinya seabrek untuk perempuan yang keluar malam hari. Lalu, pikiran saya terbang ke kota-kota besar, di mana semalam apapun perempuan ingin membeli makanan atau minuman dari kedai mereka masih diberi pertanyaan “makan di sini atau take away?” Bukan iri. Justru saya takut. Takut, kalau-kalau stereotype yang berkembang selama ini bahwa kota besar yang identik dengan modernitas dan gaya hidupnya yang sudah jauh temponya dari kehidupan kami-kami ini yang di desa, membuat entah berapa banyak dari kita berpikir bahwa “jangan pulang malem-malem” sebagai ungkapan posesif tak berdasar, bukannya protektif.  Padahal, modern atau tidak, bukan berarti mengabaikan kepentingan perempuan itu sendiri, yaitu dijaga. Ada lagi yang aneh, iya ini tentang laki-laki yang aneh yang mengatakan “perempuan katanya ingin emansipasi, tapi kalo nggak dapet tempat duduk di bis aja ngedumelnya ampun-ampun deh sama laki-laki yang duduk”, haha pernah dengar itu? Saya pernah. Emansipasi itu tentang persamaan hak, agar perempuan dapat merasakan hak untuk berpendidikan, dianggap sebagai manusia yang merdeka selayaknya laki-laki, namun tetap mengakui keberadaan dan kodrat bahwa memang laki-laki terlahir untuk memimpin perempuan,eh ini menurut saya ya, boleh juga dibetulkan, saya juga masih belajar. Opini saya, soal tempat duduk, itu sih tentang kesadaran si laki-laki tentang kelaki-lakiannya sih, karena mau disamakan seperti apa, fisik perempuan memang tidak sekuat laki-laki, itulah salah satu fungsi laki-laki, menjadi proteksi bagi perempuan, dalam kasus tempat duduk di bis tadi, mendahulukan perempuan bisa jadi salah satu cara laki-laki menjalankan fungsi proteksi bagi perempuan.

Lucu sekali malam ini. Saya kesal-kesal, sedikit bicara dari sore sampai malam begini, tapi ternyata berjalan sedikit ke Angkringan Pak Lodhang mampu membuat saya menuangkan kopi pikiran saya di program Word yang setiap malam selalu saya buka, kalau-kalau ada hal yang tiba-tiba ingin saya tulis, sayang sekali lebih sering saya biarkan kosong. Memang lucu dan macam-macam Allah memberikan obat hati bagi umatNya...

Kopi di gelas sudah hampir setengah, tiba-tiba muncul satu lagi pertanyaan saya sesaat sesudah saya menyeruput kopi saya barusan. Kenapa ya perempuan selalu diberikan hidangan kopi kontemporer sedangkan laki-laki identik dengan kopi-kopi konvensional seperti black coffee, long blackk coffee atau espresso di hampir setiap novel atau cerpen yang saya baca? Apa karena Latte, Machiatto, atau Capuccino dianggap lebih soft, kadar kafeinnya tidak sekuat grup kopi yang saya sebutkan sebelumnya, sehingga dianggap lebih cocok untuk perempuan dilihat dari karakternya? Jangan-jangan di masa depan akan ada kategori feminin dan maskulin untuk kopi? Bahaya sekali itu, saya jadi membayangkan, nanti saya tidak bisa menikmati Kopi Jahe favorit saya. Atau memang itu faktanya? Perempuan memang lebih tertarik menikmati kopi-kopi ‘cantik’ dengan topping yang bervariasi atau foam menjulang yang lebih unik untuk dijadikan post di Instagram atau Facebook? Bagaimana menurut kamu, wahai perempuan?

Dan ingatlah pesan sang surya
Pada manusia malam itu
Tuk mengingatnya di saat dia tak ada
Tuk mengingatnya di saat dia tak ada
Tuk mengingatnya di saat dia tak ada
Esok pasti jumpa
−Banda Neira(Kau Keluhkan(Esok Pasti Jumpa))

Eh, ternyata sudah tiris rasa kesal saya. Pasti ada hari lain untuk merencanakan ulang apa-apa saja yang tertunda, semoga.

Terakhir
Selamat malam para perempuan dalam penjagaan
‘Jangan pulang malam’ itu bentuk perhatian

Sekian