Thursday, November 12, 2015

2 Telur Asin

“Nin, mbah titip nanti kalo pulang bawakke telor asin 2”

Begitu sms dari Mbah. Di usianya yang hampir menginjak kepala 7, beliau masih suka smsan, telponan, bahkan gonta-ganti ringtone hp sampai dua kali dalam satu hari.
Malam itu, Mbah menyuruhku membeli 2 telor asin. Mbah memang suka nitip ini-itu saat aku berada di luar.Tak apalah nitip beli makan dari pada nitip dibawakan calon suami (untukku). Malam itu aku hanya cukup bersyukur Mbah hanya menitip 2 telor asin, karena tandanya aku tidak perlu melepas helm saat membelinya, yang artinya tidak perlu waktu lama untuk membelinya, dan akhirnya aku bisa pulang sesegera mungkin, maklum akhir-akhir ini waktu tidurku maju jadi jam 10 malam, macam anak SD yang besok piket kelas.
“Pak, telor asin 2” 
Tanpa kata dijawab dengan bapak yang segera mengambil plastik. Sambil menunggu Si Bapak, aku mendengar obrolan bapak-bapak yang sedang ngopi sambil makan gorengan tentang Habibie dan Orde Baru. Tak banyak yang aku dengar, dan tak paham pula karena tak tahu arah pembicaraannya pergi ke mana sedari tadi sebelum aku datang. Si Bapak segera memberi telur asin dan uang kembalian, sehingga tak ada lagi alasan agar aku bisa berlama-lama di angkringan, lebih tepatnya menguping pembicaraan bapak-bapak ini.

Di sisa perjalanan menuju rumah, aku jadi merasa rindu ke angkringan (yang bukan berada di sekitaran kampus). Anak muda yang ke angkringan di sekitar kampus cenderung membicarakan hal yang sama. Iya, organisasi(mereka). Bukannya jelek, tapi cukup membosankan.
Aku rindu saat berjalan atau naik motor ke angkringan Pak Lodhang. Pesan kopi atau teh anget tawar, dan dua atau tiga tahu bacem yang dibakar lagi. Duduk manis, makan dengan nikmat dan hikmat. Mendengarkan ibu-ibu atau bapak-bapak yang ngobrol tentang banyak hal. Ada yang mulai dengan hal-hal remeh temeh seperti cara menghilangkan bau daging sampai ke perbandingan harga gas LPG 3kg dari warung etan dan warung kulon. Ada juga yang lebih serius, ngomongin kebijakan pemerintah dan tren apa yang sedang dikembangkan Syahrini. Eits, itu juga penting, sebagai prediksi, kata-kata hits apa yang akan ditiru masyarakat 1 bulan mendatang. Angkringan yang jauh dari kampus itu menurutku lebih nyata dibandingkan dengan yang ada di sekitar kampus. Nggak hanya tempat untuk bertemu wajah, tapi temu pikiran dan permasalahan yang lebih real. Apa saja, dari Rukun Tetangga sampai Rumah Tangga bisa dibicarakan di sini. Coba saat ke kampus, mana ada anak muda ngumpul-ngumpul untuk rembugan soal RT-nya di sana?
Ah gara-gara telur asin aku jadi rindu angkringan gini.




No comments:

Post a Comment