Wednesday, January 2, 2013

Aku. Cinta. Kopi.



#nowplaying James Morrison-You Make It Real
Sets: My room. January 2, 2013. 03:15pm GMT+7
Beberapa kali lampu LED blackberryku menyala 
Warna pink untuk notifikasi dari Twitter 
merah dari Facebook 
dan biruah broadcast message lagi!

            Sore ini, aku mengambil resiko(lagi). Aku berspekulasi dengan caraku sendiri. Hanya sesederhana meminum 1 mug coffeemix buatanku sendiri. Katakanlah sudah kurang lebih sebulan aku berhenti meminum minuman keparat ini. Semenjak penyakit maagku kian memburuk, entah telah sejauh mana ia menggerogoti lambungku. Karena, hari demi hari harus kulewati dengan kambuhnya penyakit ini. Promag atau Mylanta sudah seperti camilan sebelum makan untukku, 2 tablet sebelum makan. Sial.
            Tapi sore yang dingin ini, aku baru saja meneguk 1 mug berisi coffeemix panas. Aku sadar betul tentang apa yang aku lakukan, seperti bunuh diri memang, dan……..ah persetan dengan kesehatan, aku ingin ketenangan, yang dulu dengan mudah aku dapatkan, hanya dengan beberapa tegukan.
            Dan yang sekarang aku rasakan, aku merasa jauh dari pijakan. Aku bisa melihat semua hal yang telah aku lakukan atau imajinasi-imajinasi yang selama ini terus berputar di otakku, lebih detail dan lebih menyeluruh. Apa sih ungkapan yang biasa orang sebut untuk orang yang merasa seperti ini? “Sakaw”? Ah, kurasa tidak. Tapi, yang jelas, kepalaku terasa lebih ringan dan jariku seperti tidak terkontrol. Dengan cepatnya ia menari di atas keyboard, seperti tak lagi berpikir apa yang harus ia tulis setelah menyelesaikan satu kata. Aku bertanya-tanya, dari mana inspirasi datang? Bagaimana bisa? Dahsyatnya.
Oh Tuhan, banyak sekali potongan peristiwa yang aku lihat! Salah satunya adalah tentang kau. Iya kau. Kau pikir siapa lagi selain kau? Hei kau! Tahukah kau apa yang aku pikirkan tentang kau? Terakhir aku pikir, kau itu sama halnya dengan kopi! Setiap inchi tentang kau tidak ada bedanya dengan setiap tegukan kopi yang aku minum.

Sementara itu, aku berteriak kepada otakku,“ARGH! Apa lagi ini?! Bisa kah kalian tenang sedikit. Jangan bodoh! Aku tidak bisa menuliskan kalimat sebanyak itu dalam satu waktu. Satu satu mengerti?!”

Aku menyukaimu seperti aku menyukai aroma kopi yang masih hangat. Menenangkan. Menghirup aromanya merupakan terapi tersendiri untukku. Begitu pun saat aku mencium aroma pakaian, jas, jaket atau apalah yang kau pakai saat itu. Sama menenangkannya seperti saat aku menghirup aroma kopi. Karena aku tahu, pasti kau ada di sekitarku.
Setiap momen saat meneguk kopi adalah momen yang harus dinikmati. Begitu pula saat aku meneguk tegukan pertamaku. Saat itu aku merasakan zat cair itu memasuki mulut untuk beberapa detik menggoda lidah dengan rasanya yang tak dapat dideskripsikan sebelum akhirnya cairan hangat itu memasuki kerongkongan, menghangatkan leher sampai dada dan ulu hati, sebelum akhirnya masuk ke lambung dan hilang sudah kenikmatan yang beberapa detik lalu aku rasa. Saat itu, aku menginginkan tegukan lainnya.
Tegukan kedua, ketiga, keempat… Ah sungguh nikmat. Hei! Aku tiba-tiba ingat bagaimana beberapa orang pernah mencibir rasa kopi. Pahit, tidak enak, dan lain sebagainya. Memang setiap orang memiliki opininya sendiri, tetapi sejauh ini, aku tetap menyukainya. Sejauh ini, rasa pahitnya kopi masih dicintai lidahku. Aku tidak berusaha mengubahnya, membiarkannya tidak begitu manis, tapi setidaknya itulah kopi yang sebenarnya. Aku memang membiarkan rasa aslinya mempengaruhi kerja otakku. Sama seperti kau, aku menginginkanmu berlakus seperti bagaimana kamu yang sebenarnya, tanpa ada pencitraan, atau kamuflase-kamuflase yang pada akhirnya menjadikan citramu buruk.
Aku tak tahu sejak kapan aku mulai meminum kopi. Yang pasti, sejak saat itu aku tahu, tegukan pertamaku telah membuatku jatuh cinta. Bukankah sama seperti kau yang membuatku akhirnya memberanikan diri untuk jatuh? Sejak mengetahui siapa kau, bagaimana kau, ya, saat itulah perasaan itu muncul dan mulai tumbuh. Dan saat itu juga aku sadar, kalian adalah dua hal yang sama! Kalian sama-sama memiliki bahan adiktif yang tidak pernah bisa benar-benar aku tolak. Dan itulah yang membuat aku akhirnya gila.
Ya, aku gila. Aku pikir aku akan terus merasa tenang saat aku meminum kopi. Untuk itu, saat aku merasa tertekan atau dunia tak lagi menampakkan keramahannya kepadaku, aku akan membuat secangkir kopi. Berharap akan “ketenangan” dan “kejernihan berpikir’ akan ia beri. Tak sadar, lambung yang dulu aku abaikan, ternyata tak lagi mampu menanggung perbuatanku yang egois dan tamak terhadap diriku sendiri. Ia tak lagi mampu mengolah zat yang menurutku membawa ketenangan itu. Medis biasa bilang itu adalah penyakit maag. Kian lama kian memburukk. Dan Saat itu, aku hanya bisa berseru, “Kau bodoh!” kepada diriku sendiri.
Sadarkah kau itu sama sepertimu? Dulu kau yang biasa aku jadikan tempat ke mana aku berlari saat dunia ini berubah menjadi penjara, dan orang-orang berlaku seperti sipir-sipir, ternyata salah. Kau juga mampu melukai, menyakiti, dan menghempaskan aku ke jurang tak berdasar. Lagi, aku berseru pada diriku sendiri, “Kau bodoh!”
“Berhenti minum kopi.” “Jangan kopi lagi.” “Harus stop kopi ya” atau kalimat-kalimat lainnya yang intinya menyatakan aku-harus-berhenti-minum-kopi. Tahukah kau apa yang baru saja aku pikirkan?
Lambungku dengan kopi yang senantiasa melukainya, kapanpun aku meneguknya. Namun, hal itu tidak terjadi terhadap beberapa orang yang juga meminum kopi. Lambung mereka bahkan baik-baik saja. Entah bagaimana, beberapa lambung seperti memang diciptakanNya tidak untuk mengonsumsi kopi. Dan aku jadi berpikir, apakah mungkin antara kau dan aku sama seperti lambungku dan kopi?


Refrensi Gambar