Sunday, April 27, 2014

Berbagi Peran

Kapan terakhir saya menulis? Barusan? Ya barusan. Menulis di kolom “What’s Happening?” di Jejaring Sosial Twitter. Tapi, kapan terakhir saya menulis di blog ini? Lihat saja debunya sudah di mana-mana. Tidak lihat? Sama, sebenarnya saya juga tidak bisa melihatnya.

Baru kemarin, saya datang ke acara organisasi tempat saya berkecimpung di dalamnya. Acara yang diadakan selepas Adzan Isya’ itu bertajuk “Malam Cerita Solid Berkarya”. Acara yang di dalamnya ada peluncuran perdana logo kabinet beserta masing-masing kementriannya, video profil, pemaparan program kerja dan dengan acara puncak, Mengadili BEM. Sangar ya? Tentu saja, bagaimana tidak? Di acara tersebut mahasiswa diberi keleluasaan untuk menghakimi, memberikan kritik maupun saran mengenai 100 hari kepengurusan BEM setelah 100 hari bekerja sebagai pelayan Mahasiswa dan masyarakat.

Romantisme dan kehangatan menyambut siapa saja yang hadir malam itu dengan nyala lilin yang berpendar di sisi-sisi jalan menuju teras Porsima. Indah sekali, sampai-sampai saya berpikir nanti saat saya menikah salah satu satu hiasannya harus ada banyak lilin−hush mulai ngelantur. Sampai acara berlangsung pun tetap diikuti dengan tamu undangan yang terlihat excited dengan rangkaian acara yang kami berikan. Melihat mereka menikmati acaranya, tanpa terasa telah memunculkan senyum di wajah saya. Memang benar, bahagia itu sederhana.

Acara ditutup dengan refleksi untuk staf BEM, tentang segala kekurangan-kekurangan yang masih ada, juga semangat dan doa untuk melihat squad kami yang akan lebih solid lagi kedepannya dan menjadikan kampus tercinta juga Indonesia lebih baik lagi.

“Yang putri naik ke atas, kita tidur di Aula!” Seru salah seorang penanggung jawab memberi instruksi. Tanpa saya sadari, ternyata malam itu diinstruksikan bagi setiap putri untuk menginap di Porsima. Respon saya saat itu? Panik. Bagaimana tidak? Saya tidak mengetahui adanya informasi untuk menginap malam itu juga.


Berbagi Peran

Akhirnya saya berusaha untuk bernegosiasi dengan panitia dan penanggung jawab lainnya untuk izin tidak menginap malam itu. Bukan karena tidak nyaman, tetapi karena saya memang hanya izin sampai pukul 22.00 WIB dengan Si Mbah di rumah. Selain itu, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk berbagi peran.

Berbagi peran sebagai mahasiswa, sebagai staf di sebuah organisasi juga sebagai cucu yang baik. Saya sadar betul, dalam 24jam, hanya beberapa persen yang dapat saya habiskan bersama keluarga di rumah. Itupun sudah dikurangi dengan waktu-waktu privat seperti mandi, mengerjakan tugas dan tidur.

Jujur saja, saya bukan orang yang banyak bicara di rumah dengan Si Mbah, namun, naluri orang tua memang tidak pernah bisa ditutupi, saya melihat Si Mbah saya yang mudah sekali overthinking, menjadi lebih tenang saat saya ada di rumah dibanding saat saya ada di luar. Posesif? Ya, mungkin bisa dibilang begitu, tetapi saya rasa semua orang tua pasti menginginkan hal yang sama, ingin lebih dekat dengan anak yang dulu sangat dekat dengannya saat anak-anak mereka masih kecil seiring bertambahnya umur mereka.

“Pulang malam bahaya untuk perempuan”. Ya mungkin seperti itu. Setiap peraturan pasti menjaga siapa saja yang diatur agar tidak terjerumus ke dalam suatu bahaya. Namun, bagaimana jika kita meninggalkan seorang tua di rumah sendirian. Apakah masih ingin anda meninggalkannya sendirian barang semalam kecuali jika ada yang menemaninya? Saya pikir, anda akan berpikir dua kali untuk melakukannya. Itulah salah satu alasan saya untuk selalu pulang ke rumah, selarut apapun urusan saya di kampus, sebanyak apapun orang yang melarang saya pulang karena alasan bahaya. Bagi saya, ada beberapa hal yang pantas untuk diperjuangkan, walau berisiko tinggi, dan salah satu dari hal itu adalah keluarga. Niat saya baik, untuk itu saya yakin, tangan Allah menjaga saya sepanjang jalan menuju rumah.

Saya pernah meninggalkan rumah sangat lama. Saat saya terlalu sibuk dengan dunia luar, saya berpikir keluarga saya akan baik-baik saja di rumah. Apasalahnya melakukan hal-hal baik dengan teman-teman seorganisasi, se-komunitas, dan sedikit bersenang-senang dengan mereka sampai pada akhirnya, saya dipanggil kembali ke rumah karena Ayah harus pulang. Di sana saya sadar, keluarga saya punya batas waktu yang hanya Allah tahu. Dan yang tidak saya inginkan adalah, penyesalan seperti 4 tahun lalu, di mana saya sadar bahwa saya tidak menggunakan waktu saya dengan baik dengan keluarga saat saya dan keluarga sama-sama masih diberi waktu untuk berkumpul bersama di atap yang sama.




Segerakan pulang selagi luang.