Monday, March 24, 2014

Setelah Berpindah-Pindah

Buku catatan di tangan telah dipenuhi dengan rangkaian kata tegak bersambung semaunya, di tengah malam ini, sepertinya waktu juga telah mengizinkanku untuk menyambangi Ms. Word lagi untuk sekedar cipika-cipiki berbagi cerita tentang apa saja yang sudah aku lewatkan selama ini saat meninggalkannya.

Sambil membersihkan sarang laba-laba yang hinggap di pojok-pojok blog, aku berpikir tentang ke mana saja aku pergi selama ini. Hingga akhirnya jurnal ini terbengkalai. Teman, selama ini aku pergi ke tempat-tempat di mana amanah dititipkan di tangan ini, kaki ini, mata ini, diri ini-lah. Akhir-akhir ini aku baru merasakan yang namanya hidup sebagai sebuah kumpulan perpindahan. Iya, kumpulan perpindahan. Karena di dalamnya kita tidak akan pernah bisa tinggal di satu rumah, di satu tempat. Kita terus menerus melakukan perpindahan untuk menjalani hidup itu sendiri, tak pernah berhenti. Proses yang ada membuat kita terus berpindah, sampai proses itu dihentikan oleh Yang Punya Hidup itu sendiri. Hidup pada akhirnya tentang bagaimana perpindahan-perpindahan itu mampu membentuk pribadi kita saat ini. Saat seseorang menjadi baik, saat seseorang menjadi jahat, jangan tanyakan apakah dia saat itu, tanyakan bagaimana prosesnya dalam berpindah selama ini.

Tak perlu jauh-jauh sampai harus pindah rumah, keluar dari zona nyaman. Karena, perpindahan bahkan terjadi di dalam zona-zona nyaman kita sendiri. Sebagai contoh, cukup dengan keberadaan kita di dalam sebuah kelompok-kelompok terdekat yang kita ikuti, yang notabene memiliki karakter berbeda antara satu sama lain.

Saya ingat beberapa waktu lalu saya mengikuti grand opening sebuah program asistensi keagamaan, hampir semua orang dalam kegiatan tersebut sepakat mengatakan bahwa tempat yang baik adalah tempat yang memang terkondisikan baik, tempat di mana kita bersama mereka yang akan membersamai kita mewujudkan impian kita bersama, masuk syurga(aamiin). Tetapi otak ini seakan punya antitesis untuk pernyataan tersebut. Eh, tidak se-ekstrim kedengarannya, intinya otak ini seperti ingin mengatakan sesuatu yang lain dari konsep itu. Suatu konsep yang jika diungkapkan mungkin aku akan dipencelengi seisi ruangan saat itu. Tetapi, selama hak untuk mengeluarkan pendapat masih tercantum di Undang-Undang, akhirnya otak ini mendapatkan apa yang ia mau, saat ini.

Kita semua setuju bukan bahwa baik dan buruk adalah suatu hal yang sangat relatif. “Baik”, kata itu memiliki kriterianya masing-masing di benak kita masing-masing. Orang baik adalah orang yang tidak mencontek, orang yang baik adalah orang yang selalu menebar senyum, orang yang baik adalah blablabla dan lain sebagainya. Lalu jika dikaitkan dengan tempat yang baik, apakah tempat yang baik itu?
Tempat yang baik adalah tempat yang senantiasa membuat kita belajarAnindya Roswita

Dunia yang kita tempati ini, harus kita akui bahwa tidak semua orang yang menempatinya adalah orang-orang yang baik. Karena kenyataannya orang yang(katanya) tidak baik pun banyak, ada dinamikanya-lah. Sementara itu, dari umur masih sebesar pithik(bukan secara harfiah) dan ternyata sampai kita duduk di bangku kuliah, kita masih terus diajarkan bahwa untuk belajar itu harus kepada orang-orang (yang menurut masyarakat) baik, dengan segala kriteria yang ada. Nah ini salah satu poin yang akan membuatku dipencelengi bahkan sama ibu sendiri, bukan berarti kita harus terus berkumpul dengan orang-orang yang baik untuk terus belajar. Karena toh, tanpa adanya nilai keburukan tentu tidak ada nilai kebaikan. Nilai keburukkan ada sebagai pembanding sebagai penyeimbang, seperti Ying dan Yang. Mereka yang kita pandang buruk, bukan berarti tidak bisa dijadikan tempat tujuan untuk berpindah, siapa bilang dari sana kita tidak bisa belajar? Siapa bilang belajar harus terus menerus dari sekumpulan orang yang berada di dalam mushola atau kepada bapak ibu dosen di dalam kelas. Sesungguhnya teman, belajar bisa dilakukan di mana saja, bahkan dari orang yang terburuk sekalipun(walau saya yakin, tidak ada orang terburuk, karena Tuhan telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk). Kenapa tidak kita belajar dari preman pasar? Dari mereka kita belajar mengapa mereka bisa menjadi demikian, bagaimana untuk tidak ikut-ikutan, dan yang paling penting, bagaimana caranya menanamkan nilai-nilai kebaikan pada sesuatu yang sudah diberi label buruk oleh masyarakat. Tidak ada sesuatu pun yang mutlak di dunia ini, setidaknya itu yang aku percayai. Tidak ada yang mutlak buruk, karena pasti masih ada kebaikan dalam diri seseorang walau hanya setitik.
Saya pernah mendiskusikan ini dengan Presiden BEM yang pada hari itu juga memberikan sepatah dua patah kata untuk acara grand opening asistensi tersebut. Beliau mengatakan, tentang anjuran untuk berkumpul dengan orang-orang baik yang juga ada di kitab suci Al-Quran, juga menganalogikan tentang wangi tubuh kita yang berkaitan langsung dengan kepada siapa kita berteman, apakah tukang parfum atau tukang ikan?

Aku memiliki suatu pandangan yang berbeda tentang hal ini, iya kalian boleh mencelengiku lagi. Menurutku, tentang bagaimana aroma tubuh kita adalah soal persepsi. Ya, lagi-lagi soal persepsi. Baik dan buruk adalah soal judgement, relatif. Dan disukai atau tidak, kita hidup berdasarkan judgement-judgement yang diberikan orang-orang di sekitar kita. Hanya saja, judgement telah diartikan sebagi sesuatu yang berkonotasi negatif, padahal saat seseorang memberikan pujian tentang kebaya yang kita pakai pun juga merupakan bagian judgement yang bersifat positif. Dan pada akhirnya, bukan soal bagaimana kita membuat tubuh kita sewangi mungkin dengan berkawan dengan tukang parfum, tetapi bagaimana kita bisa menyerap manfaat sebanyak-banyaknya dari tukang ikan juga tukang parfum.
 Pada diskusi kala itu, aku menemukan kalimat yang menjadi semangat untuk terus meelakukan apa yang aku kerjakan, untuk bekerja sesuai dengan passion dan menyerap manfaat dari tempat-tempat aku berpindah dan menebarkan inspirasi sebisa dan semampuku.
Jadilah seperti ikan, mereka bisa menyerap apa-apa saja yang mereka terima, mengambil sebanyak-banyaknya manfaat dan membuang setiap hal buruk yang ada pada suatu tempat−Siswandi

Pada akhirnya, apa-apa yang kita lakukan saat ini bukanlah untuk sebuah jabatan, kekayaan, pangkat atau prestige yang mungkin akan didapat, melainkan untuk mendapatkan ridho Allah. Setiap jalan hidup yang bersilangan dengan jalan hidup yang kita tapakki saat ini pasti bagian dari rencanaNya, termasuk saat ternyata kita harus berada di tempat yang kata orang merupakan tempat yang tidak baik itu. Justru disitulah kita diuji keistiqomahan kita dalam mengemban suatu amanah, suatu tanggung jawab. Apa yang aku yakini adalah, Allah tidak akan menguji manusia yang ingin menjadi dermawan dengan kelimpahan harta, namun dengan segala kekurangan.
Belajar bukan hanya saat kita menerima, tetapi juga saat kita memberi−Titis Sekti Wijayanti

Kadang orang lupa, karena mereka fokus ingin menerima saja atau tahunya memang seperti itulah belajar. Padahal tidak, saat kita memberi dan memberi kita ikut belajar tentang hal-hal sekitar tentang pendapat-pendapat lain yang muncul saat kita sedang memberi, tentang bagaimana kita harus tetap berpikiran terbuka dengan segala kemungkinan yang ada.

Aku menulis untuk berbagi, karena aku rasa otakku akan overloaded saat pikiran-pikiran macam ini tidak dituangkan. Aku tidak meminta teman-teman lantas langsung berpendapat sama seperti apa yang aku pikirkan, toh setiap orang memiliki ruangnya masing-masing. Aku hanya mencoba melihat suatu keburukkan dari kacamata yang berbeda. Sebenarnya apa yang membuat beberapa orang diberi label buruk? Apakah karena mereka berbeda dengan pribadi kita sendiri? Apakah kita sudah cukup baik untuk mengatakan orang lain tidak baik?

Mari berproses J