Sunday, March 16, 2014

Tiga Puluh Delapan

Untuk Kawan-kawan LDR yang luar biasa,
Untuk Yanna Uzlifa yang sudah menjadi editor untuk tulisan ini..

Mereka bilang better late than never, jadi inilah sepatah dua patah kata tentang 38 tahun Universitasku berdiri, seminggu setelah hari jadinya.

UNS yang sering dikira Universitas Negeri Solo atau Universitas Negeri Surakarta, atau Universitas Negeri Sebelasmaret, atau yang paling parah, Universitas Negeri Semarang, sebenarnya adalah Universitas Sebelas Maret. Adalah sebuah Universitas muda yang baru saja menginjak umur ke-38 pada tanggal 11 Maret, kemarin.
Usia 38 adalah usia di mana seseorang sudah berusia matang dan tentunya telah aktif dan produktif dalam menelurkan karya-karyanya. Begitu juga dengan UNS di usianya yang ke 38, sudah banyak lulusan-lulusan yang berkiprah di berbagai bidang di Indonesia. Di usianya yang ke 38, sudah sekitar 26% dari prodi-prodi yang ada di UNS mendapat predikat A dan terus meningkatkan kualitasnya.  Di usia ke 38 juga Bapak Rektor mengumumkan wacana besar yang akan digerakkan oleh UNS, yaitu pembangunan perpustakaan senilai 70 milyar, pembangunan rumah sakit UNS serta peningkatan tunjangan dosen non PNS agar lebih setara dengan dosen PNS.
Pada Dies Natalis ke-38 ini UNS mengusung tema “Akselerasi Peran UNS Dalam Menyongsong Era Asia. Tema tersebut memiliki arti tersendiri bagi beberapa mahasiswa yang Rabu itu berkumpul untuk sekedar ngobrol dan menuangkan gagasan-gagasannya tentang UNS saat ini dan ke depannya. Beberapa orang menganggapnya sebagai sebuah kemunduran karena jelas sebelumnya UNS telah mengusung tema yang bertajuk “Akselerasi Internasionalisasi Melalui Pemberdayaan Keunggulan UNS”. Internasionalisasi yang berkonotosi kepada cakupan yang luas kepada seluruh dunia kini disempitkan lagi menjadi kawasan Asia. Hal ini dianggap bukan lagi sebuah kemunduran karena, dengan fokus terhadap detail-detail yang ada di regional Asia diharapkan kondisi kita sudah benar-benar prima dan siap untuk hadir di kancah internasional dan benar-benar pantas berpredikat “World Class University”. Selain itu, Asia kini tampil sebagai naga yang mulai bangun dari tidur panjangnya dan mulai memperlihatkan kekuatan-kekuatannya yang kini terpendam baik dari segi ekonomi, budaya ataupun politik. Kawasan Asia menarik banyak perhatian dunia Barat dikala dunia Barat tengah dilanda kebingungan lantaran ekonomi yang anjlok, perekonomian Asia tetap memperlihatkan kestabilannya. Asia dinilai sebagai belahan dunia lain yang akan tampil sebagi role model bagi negara-negara lainnya sehingga jika kita mulai serius untuk memperbaiki hal-hal yang terdapat di sekitar kita di kawasan Asia, justru akan memperkuat posisi Indonesia kelak, dan tentu saja tujuan akhirnya adalah menjadikan UNS sebagai kampus yang menjadi role model bagi kampus-kampus di kawasan ASIA lainnya yang melahirkan akademisi-akademisi dengan kualitas nomer satu yang turut berperan aktif dalam membangun negara.

Refleksi 38 Tahun UNS
            Mari kita lihat dari sisi birokrasi yang ada di jajaran pusat hingga ke jajaran terbawah. Ada sebuah ketidaksinkronan antara birokrat satu dengan yang lainnya. Hal inilah yang akhirnya membuat suatu perdebatan, misskomunikasi ataupun missunderstanding yang membuat mahasiswa-mahasiswa maupun jajaran dosen ataupun staff kekurangan informasi contohnya saja seputar beasiswa ataupun event-event kampus lainnya. Sebagai contoh kecil adalah saat diadakan upacara dies natalis ke-38, ada beberapa jurusan yang meliburkan kegiatan perkuliahan hingga pukul 12.00 WIB, namun ada pula yang tetap melakukan kegiatan perkuliahan. Hal tersebut terjadi karena adanya suatu alur birokrasi yang ruwet dan tidak tegas dalam penyampaian informasinya. Sehingga sudah seharusnya diberikan suatu garis komando yang jelas dan tegas dari rektorat hingga staff terbawah untuk melaksanakannya. Namun, dari segi birokrasi juga mengalami peningkatan dalam hal pengisian KRS bagi setiap mahasiswa di awal semester. Sistem terbaru yang digunakan UNS adalah memungkinkan mahasiswa untuk mengisi KRS secara online, hal ini tentu sangat membantu mahasiswa daripada harus mengisi KRS secara manual. Ini menjadi sinyal bahwa UNS tengah menyiapkan diri untuk menjadi salah satu Universitas yang diperhitungkan di wilayah Asia, sebagai universitas yang berbasis teknologi.
            Kemudian mengenai branding yang selama ini diciptakan oleh UNS. Tanpa maksud merendahkan pihak manapun, saya ingin bertanya, apa yang tercetus di benak anda saat mendengar kata UNS? Anda bisa menanyakan teman-teman anda tentang pertanyaan tersebut, kemudian dengarkan jawaban-jawaban mereka. Adakah salah satu diantara mereka yang menyebutkan tentang salah satu hal yang erat kaitannya dengan kampus kita? Akronim UNS yang selalu diartikan sebagai Universitas Negeri Solo atau bahkan Universitas Negeri Semarang sesungguhnya merupakan sebuah arti bagi kita bahwa branding UNS di tengah masyarakat kurang begitu terpatri sehingga, bahkan kesalahan dalam menyebut kepanjangan dari UNS pun terjadi. Dalam hal ini, pihak kampus yang senantiasa dibantu oleh jajaran staf serta mahasiswa seharusnya membuat sesuatu entah itu berupa tempat atau ikon yang akan mengingatkan siapa saja yang melihat atau mendengarkannya pada UNS itu sendiri. Ambil contoh saat kita mendengar tentang “Perpustakaan Terbesar Se-Asia Tengggara” kita akan teringat tentang Universitas Indonesia di Depok, atau saat kita mendengar “Graha Saba Pramana” maka kita akan teringat Universitas Gajah Mada di Yogyakarta. Lalu bangunan atau kegiatan atau ikon apa yang telah kita buat yang mampu mengingatkan kita pada UNS? Ini tentunya merupakan sebuah "PR" yang harus dituntaskan oleh Warga UNS.  Bagaimana caranya membangun sebuah brand untuk UNS agar UNS dapat lebih melesat namanya dan kejadian salah sebut nama tidak akan terulang lagi.
            Selanjutnya mengenai keberlanjutan progaram Green Campus yang kurang lebih telah dicanangkan UNS selama 1 tahun terakhir. Dari boulevard sudah terlihat betapa rindang dan nyamannya UNS dengan pohon-pohon Angsana yang ada di sisi-sisi jalan. UNS dengan Ruang Terbuka Hijau lainnya memang memberikan pandangan tentang kampus hijau yang ramah lingkungan. Sebelumnya saya ingin bercerita tentang pengalaman saya mengikuti suatu kegiatan di Auditorium. Satu waktu saat saya ingin membuang sampah permen dan gelas air mineral, saya tidak menemukan satu pun tempat sampah di sekitar saya. Hingga akhirnya saya harus mengelilingi Auditorium hanya untuk menemukan tempat sampah, walau sebenarnya bisa saja saya membuang sampah saya di dalam tas seperti biasa, namun, kali ini saya juga penasaran, ingin menghitung ada berapa tempat sampah di auditorium sebuah kampus yang melabel dirinya sebagai Green Campus. Sungguh ironis saat saya harus bersusah-susah menemukan tempat sampah di sekitar auditorium, sementara UNS sendiri memiliki titel sebagai kampus yang ramah lingkungan. Apakah dengan budget setahun yg berlimpah seperti itu, UNS sampai-sampai tidak bisa mengakomodir tempat sampah di setiap sudut, yang per satuannya hanya berapa ribu perak? Ya, contoh sepele seperti langkanya tempat sampah, atau penggunaan AC yang memang merupakan fasilitas di setiap ruangan kegiatan perkuliahan yang bahkan penggunaannya sudah jauh dari konsep ramah lingkungan itu sendiri. Sehingga muncul kembali pertanyaan dalam diri kita,  pantaskah kampus kita disebut sebagai Green Campus? Walaupun tidak bisa dipungkiri, pencanangan UNS sebagai Green Campus juga merupakan suatu kemajuan yang pesat dari perkembangan UNS sebelumnya, seperti pengadaan trotoar untuk pejalan kaki dan tempat sampah di sepanjang tortoar tersebut. Namun, dengan kemajuan-kemajuan tersebut jangan sampai membuat kita bangga hingga lupa untuk terus meningkatkan kualitas kampus dan sumber dayanya. Karena berkaca kepada kampus tetangga, Universitas Diponegoro, sejak dicanangkannya Universitas tersebut sebagai Green Campus yang waktunya hampir bersamaan dengan UNS, ternyata sekarang telah mengalami peningkatan menjadi Riset Univesity. Lalu bagaimana dengan UNS?
Selain itu, pengoperasian Bis Kampus yang belum begitu efektif karena banyak dari warga kampus yang menggunakan kendaraan bermotor. Sementara itu lahan UNS yang tidak stabil masih menjadi alasan pertama mengapa mahasiswa merasa malas untuk berjalan kaku ataupun naik sepeda. Sehingga cita-cita pengadaan “bicycle station” bagi para mahasiswa yang ingin menggunakan sepeda sebagai alat mobile di UNS juga sedikit terhambat. Di sinilah peran mahasiswa dan rektorat untuk terus berinovasi agara cita-cita ini dapat terealisasikan.
Sampai saat ini, saya juga melihat kurangnya dukungan kampus terhadap komunitas-komunitas kampus yang bergerak pada sektor lingkungan.  Sehingga komunitas-komunitas tersebut dapat lebih terakomodasi dan dapat lebih berkembang dan membawa nama baik untuk UNS.
           
Penutup

            Pada akhirnya segala bentuk tujuan yang ingin kita capai ataupun segala bentuk refleksi yang kita lakukan guna mengevaluasi program-program yang sudah berjalan tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya semangat untuk merealisasikannya. Selain itu, untuk merealisasikan harapan yang tergambar pada tema yang diusung, yaitu “Akselerasi Peran UNS Dalam Menyongsong Era Asia” tidak hanya diperlukan pembangunan di bidang infrastruktur saja, namun juga pembangunan karakter dan peningkatan sumber daya manusia yang dimiliki oleh UNS. Dengan mimpi besar dan semangat membangun dengan memberi solusi dan tak hanya sibuk mengkritisi, saya optimis akan kemampuan UNS untuk berlaga di kancah Asia bahkan Internasional sehingga UNS dapat menjadi pusat penelitian-penelitian berpengaruh di dunia lahir serta menjadi kiblat baru dari kawasan Asia.