Tuesday, March 4, 2014

5 Menit untuk 5 Tahun

Kamu bisa membeli banyak jam tapi kamu tidak akan bisa membeli waktu−Triana Rahmawati
     Setiap detik punya momennya masing-masing. Bahkan tak jarang setiap detiknya dapat berlangsung lebih dari satu momen sekaligus. Saat setiap orang ingin menikmati setiap momen yang ada, mengapa kita tidak menjadi orang-orang yang membuat momen itu sendiri? Berada di posisi pemain yang proaktif dan inovatif, tidak hanya menjadi penonton yang tidak melakukan apapun kecuali memuji dan mengkritisi tanpa mencemplungkan diri menjadi salah satu bagian dari gerakan.

Akan banyak momen penting di tahun 2014 ini. Salah satu yang paling penting adalah adanya PEMILU 2014. Tahun inilah setiap partai yang ada di negeri menyodorkan jago-jagonya ke hadapan rakyat, bergaya di panggung politik dengan make up cantik dari para konsultan politik mereka, berlenggak-lenggok dengan retorika yang menyerukan ‘Pemimpin Pro Rakyat’, memberikan janji-janji agar anak di rumah tak kebingungan mencari sekolahan, agar ibu di pasar tidak pusing dengan harga belanjaan, dan ayah di lapangan mudah dapat kerjaan.

2014  tahun yang penting dan krusial. Kenapa? Mudah saja, karena pada tahun ini, Indonesia akan menyongsong gerbang bernama Pemilu untuk memilih kepala keluarga negara dan pemerintahan untuk memimpin selama 5 tahun ke depan, menggantikan pemimpin terdahulu yang sudah berlaga selama dua periode. Di sinilah rakyat kembali menjadi sasaran bagi partai-partai yang akan berlaga, mencari dukungan dan memastikan dukungan mereka terealisasikan dengan tinta merah yang ditorehkan di selembar surat suara saat Pemilu nanti.

Di tengah isu media mainstream yang terus menggembar-nggemborkan kebobrokan, keburukkan dan ketimpangan yang berdampak pada coreng-morengnya citra pemerintah di hadapan rakyat, efek lainnya yang berdampak langsung bagi rakyat terutama pemudanya adalah timbulnya apatisme. Hal ini membuat mereka semakin jauh dari pemerintah, tidak peduli dengan berbagai kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan untuk minimal dikritisi atau diberikan saran agar lebih baik ke depannya; juga membuat mereka kehilangan rasa memiliki dengan negara mereka. Hari ini berarti 37 hari menuju momen penting itu, Pemilu 2014. Mereka yang membuka mata pasti akan mulai browsing track record para calon yang wajahnya akan mewarnai surat suara, mulai sharing-sharing terkait pemilu dan calon-calonnya atau minimal membuat tulisan untuk dipublish di media sosial atau blog  untuk memblow up momen super penting ini sebagai reminder bagi mereka yang mungkin lupa.

Beberapa waktu lalu saya menggunakan hastag di Twitter #FISIPAntiGolput  untuk pemilihan presiden BEM periode 2014/2015, kebetulan saya adalah salah satu panitianya yang juga diberi mandat untuk terus meramaikan Timeline dengan tweet ajakan untuk mencontreng dan menjauhkan warga Fisip dari apatisme. Walaupun hanya di skala kecil, yaitu kampus, saya merasa hal ini memiliki pengaruh yang besar terhadap pola pikir saya tentang pemilihan umum.

Ada satu jargon yang saya gunakan waktu itu, “No Vote No Complain!” Nggak milih nggak komplen. Kira-kira seperti itu jika dialih bahasakan. Saat kamu tidak menggunakan hak suaramu, saat itulah kamu tidak bisa mengkritisi. Mereka yang golput adalah mereka yang tidak punya rasa tanggung jawab bahkan atas suaranya sendiri. Mereka yang golput adalah mereka yang masuk ke golongan orang paling labil se-Indonesia Raya. Bagaimana tidak? Saat memiliki kesempatan untuk memilih satu orang untuk memimpin atau untuk mewakilkan suaranya di kursi parlemen, mereka tidak menggunakan suaranya, namun saat wakil terpilih atau pemimpin terpilih melakukan suatu kesalahan, mereka yang berkoar-koar dengan suara paling keras, padahal saat di dalam bilik, bahkan mereka tidak memihak satu pemimpinpun yang masih pro rakyat.

Kemudian ada lagi mereka yang masih mengatakan “suara gue nggak ngaruh”. Hal ini benar-benar salah dan di luar logika. Bagaimana mungkin suara anda tidak berpengaruh? Saya teringat dengan proses penghitungan surat suara untuk Pemilihan Umum yang dilakukan FISIP beberapa hari yang lalu, bahkan suatu pemilihan umum dapat diulang jika ada kesalahan dalam pencatatan DPT atau jumlah surat suara yang ternyata tidak sinkron antara kotak suara satu dengan kotak suara lainnya. Dan dengan bukti itu semua, masih juga ada yang mengatakan “suara gue nggak ngaruh”? Think Twice, think three times, think thousand times! Jangan hanya sibuk berkoar-koar tentang ‘dream nation’ dan hal-hal dengan idealisme tinggi lainnya namun enggan untuk terjun langsung untuk merealisasikannya menjadi bagian dari gerakan perubahan! Ikut andil dalam Pemilu adalah momen di mana kita mulai melangkah.
Bangun, karena saat kamu bangun yang lain masih tidur. Berjalan, karena saat kamu berjalan yang lain baru saja bangun. Berlari, karena saat kamu berlari yang lain baru mulai berjalan. Triana Rahmawati

Sekarang suara-suara “suara gue nggak ngaruh” sudah mulai memudar, digantikan “gue kuliah dan gue ngekost, gue cuma kedaftar di TPS di alamat rumah gue, dan rumah gue jauh, harus naik mobil 8 jam, naik kereta 12 jam, naik pesawat, naik kapal, naik roket, naik kapal selam...modal gede banget kalo pulang, bukan nggak mau milih tapi nggak mau rugi.” Tenang-tenang, semua harap tenang!
No Sacrifice no victoryArchibald Witwicky(Transformers)

Tidak ada satu hal pun hasil yang dapat dipetik di dunia ini tanpa melalui sebuah proses, tanpa sebuah usaha. There’s no such thing as magic. Magic itu hanya ada di acara hipnotis yang itu juga settingan−fixed, berarti itu bukan magic. Bahkan orang yang ingin bermimpi(harfiah) harus tidur dulu. Bahkan orang yang ingin merealisasikan mimpi mereka, harus bangun dulu. Hal tersebut juga berlaku untuk mengurus segala persyaratan untuk ikut berkontribusi dalam memperbaiki Indonesia lewat Pemilu 2014, pasti ada step-step yang harus dilalui dulu.

Untuk kalian yang memang kuliah di daerah asal atau TPSnya masih bisa ditempuh dengan waktu yang singkat dari tempat kost atau kampus, berbahagialah, karena proses yang kamu lalui berarti lebih pendek. Sebelumnya, untuk tahu di TPS mana kamu mendaftar silahkan cek di http://www.kpu.go.id.

Untuk bagian ini kalian yang merasa anak rantau benar-benar harus mencermatinya poin demi poin agar dapat memilih di kawasan sekitar kampus atau kost, caranya :
Ø  Cek nama kamu di https://data.kpu.go.id Jika namamu sudah terdaftar di TPS tempat tinggal asalmu, segera urus pindah TPS dengan langkah sebagai berikut: 
1. Datang ke Kelurahan tempat kamu terdaftar sebagai pemilih dengan membawa KTP dan KKyang ini boleh diwakilkan.
2. Mintalah permohonan pindah pilih ke panitia PPS di kelurahan/desa mu
3. Bawa surat pindah PPS dari daerah asalmu berupa surat A5 beserta stempel PPS daerah asalmu untuk diajukan ke PPS di kota kamu merantau, kalau kamu anak UNS, berarti ke PPS Soloyaiyalah.
4. Petugas PPS setempat akan menginput data kepindahan dan memasukkan kamu sebagai Daftar Pemilih Tambahan.
5.  Jika tidak sempat mudik, mintalah keluarga/kerabat dekat untuk mengurus di daerah asal.

Ø  Jika belum terdaftar di DPT daerah asalmu:
1. Datangi Ketua RT di sekitar daerah kost atau kampus.
2. Katakan/buktikan bahwa kamu belum terdaftar di DPT manapun dengan mencocokkan KTPmu dan hasil di web KPU.
3.  Mintalah surat untuk menerbitkan nama kamu di DPT sekitar daerahmu sekarang.
4. Jangan lupa surat harus diketahui oleh Ketua RW setempat.


Ini alur yang bisa kamu ikutin khusus dibuat untuk kamu anak rantau yang mau 'nyontreng' di daerah sekitar kost atau kampus. Kamu juga bisa follow akun twitternya atau Page FB BEM UNS untuk tau info-info lain seputar PEMILU 2014 :)

     Jadi udah nggak ada lagi alasan untuk nggak milih di Pemilu 2014. Ingat! 5 MENIT UNTUK 5 TAHUN! Ayo gunakan hak pilihmu, dan #AmbilBagian untuk perbaikan Indonesia!
Jangan tanyakan apa yang negara sudah berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang sudah kau berikan untuk negaraIr. Soekarno