Wednesday, February 4, 2015

Merekam (1)

"Hari ini kita jalan-jalan ke Kali Pepe di deket Solo Balapan ya..."
"Hayo, saiki mangan sik..."
"Mengko ngomonge ngene 'kok dijupuk to?' "
"Mbak, aku mlakune sko kene? Ora sko kono wae?"
"Adek capek?"
"Mbak, mulihe kapan?"
"Kui mimikku!!!" *banting tas*
"Aku Poca** Sw***, Mbaaaak!"
"Njaluk!!!"
...

Dan potongan-potongan percakapan lainnya yang terekam di otak saya dan kedua sahabat saya dalam proses pembuatan film untuk anak. Sempat diikuti rasa was-was mengingat ini kali pertama kami membuat sebuah film pendek dan juga di waktu yang sama kami melibatkan anak-anak.

Acara Sharing for Caring bersama Mbak Yua dan Mbak Deka beberapa hari yang lalu sangat membantu kami hari ini, walau pada akhirnya kami bertiga tetap harus semangat untuk menciptakan sebuah film untuk anak. Saling bahu membahu, menyemangati dan juga panik-panikan bareng, akhirnya tiba juga harinya di mana kami melakukan proses shooting untuk hari pertama. 

Hari Kesatu

Siang yang terik, tapi pukul 12.30WIB sambil menunggu anak-anak berkumpul, kami sudah siap di Pucangsawit dengan membawa peralatan seperti tripod, kamera dan logistik untuk di tempat pengambilan gambar. Sebelum pergi ke tempat pengambilan gambar, kami menunggu talent-talent cilik kami ini untuk mengganti pakaian seragam merah putih dan makan siang. Salah satu celetukan Tasya setelah mengganti pakaiannya adalah, "Bar sekolah, sekolah meneh (Habis sekolah, sekolah lagi)". "Nggak sekolah kok, ini jalan-jalan", sahut Yanna. Makan sudah selesai, setiap anak sudah kenyang, sudah semangat lagi untuk kegiatan selanjutnya, yak, shooting time!

TKP

Adegan demi adegan berganti. Ada juga yang beberapa kali harus diulang, ada yang karena kesalahan saya yang suaranya masuk ke zoom, ada juga yang karena lupa harus bicara apa, ada yang harus diulang karena tidak bisa menahan tawa, atau justru ada kontak mata ke kamera. Ini melelahkan, tidak bisa dipungkiri, tapi melihat adik-adiknya malah menertawakan kesalahan mereka sendiri justru menjadi pompa semangat tersendiri untuk saya pribadi. Sesekali bermain tebak-tebakkan, atau salah satu dari anak yang belum kebagian giliran untuk pengambilan gambar menaiki motor Cesar dan bergaya bak seorang pembalap, ada juga yang malah menggoda anjiing dengan meniru suaranya, memancing si anjing dengan gonggongan yang lebih keras, hayo siapa yang dulu waktu kecil pernah melakukan hal yang sama? Senangnya bersama anak-anak, mereka sangat jujur dengan apa yang mereka rasakan, sehingga tidak memerlukan kode-kode rahasia yang kadang bisa diterjemahkan, tapi kadang berakhir dalam diam. 
"Mbak, awake kapan mulih?"
"Tasya kesel?"
Dia hanya menjawab dengan anggukan pelan.
Ya, sejujur itu, dan saat itu juga, kami memutuskan untuk menghentikan proses pengambilan gambar, dan pulang. Ada lagi yang lucu, saat berkemas, kedua anak laki-laki yang ikut justru berebut minta diboncengi Cesar dengan motor besarnya.
"Aku sing ning ngarep."

"Moh, akuuuuuu!"

 Rekaman

Jika ini adalah sebuah lagu, maka lagu ini akan menjadi salah satu lagu yang saya putar terus menerus. Karena tak terhitung banyaknya pelajaran yang ada di dalamnya. Saya lupa siapa yang pernah mengatakannya tetapi sepertinya benar, "jika ingin belajar tentang kehidupan, belajarlah dari anak-anak", hari itu, saya belajar entah banyak atau sedikit tapi ada bagian-bagian yang saya garis bawahi, jika itu adalah sebuah bait lagu. Seperti misalnya, saya yang katany belajar ilmu komunikasi ini ternyata belum tentu bisa memahami bagaimana berkomunikasi dengan baik, terlebih karena saya terbiasa menjadikan anak-anak sebagai partner bermain dan belajar, ya walau mungkin setahun belakangan ini saya tidak aktif di dusun-dusun binaan yang ada di kampus, tapi kira-kira seperti itu saya memperlakukan adik saya dan ke-tujuh kurcaci saya saat kami berkumpul bersama. Beberapa saya merasa tidak enak saat meminta adik-adik ini untuk berperan dengan gestur A atau B, mengatakan C atau D, saya merasa saya tengah mengeksploitasi mereka, walau sebenarnya tidak juga, mengingat kami juga tetap memperhatikan kebutuhan dan keadaan mood teman-teman kecil kami ini.
Di sini saya belajar untuk lebih peka untuk merasakan kondisi psikis anak-anak dan mengkomunikasikan apa yang saya maksud kepada mereka. Saya jadi geli sendiri terhadap diri saya, kenapa bisa saya bingung tentang bagaimana mengkomunikasikannya kepada anak-anak, padahal anak-anak adalah masa yang dulu pernah saya lewati, haha "lucu" sekali.
Sensasi membuat film anak memang bukan main rasanya, setiap momennya pasti ada saja hal baru yang kami temukan. Dari sini, entah muncul dari mana, tapi semangat untuk membuat film pendek untuk anak semakin terpatri dalam hati. Harapan saya hanya sesederhana, kelak anak saya nanti, dapat menikmati film-film atau tayangan yang memang cocok untuk usianya, setidaknya itulah hal yang membuat saya tidak ingin berhenti di sini atau nanti setelah film pendek perdana tim kami selesai. Semoga ini bukan yang terakhir.

Untuk Petra, Tasya dan Tegar

Petra. Tasya dan Tegar sayang, Terima kasih sudah mengajarkan apa-apa yang mbak Anin selama ini belum dapatkan di bangku kuliah mbak, di ruang rapat organisasi mbak atau di ruang makan keluarga mbak. Terima kasih sudah menjadi inspirasi baru untuk mbak ya sayang. Terima kasih telah menularkan semangat-semangat untuk lebih berkontribusi lewat jalur ini ya sayang. Semoga kalian tumbuh menjadi anak yang pintar dan berani mewujudkan jejak-jejak mimpi kalian sebagai anak negeri.

Potret

Proses Reading sebelum pengambilan gambar "Kok Dijupuk to?" Kata Tasya.

Tasya sedang latihan untuk dialog selanjutnya nih


"Diulang meneh, diulang meneh" kata Petra, tapi tetep aja masih semangat buat ngulang adegan yang ini.


Petra dari awal tertarik banget sama kamera, mungkin saat dia sudah besar nanti bisa jadi fotografer handal di National Geographic.

"Okesip, kereen!" Kata Mbak Rahma utnuk talent cilik kita tiap pengambilan gambarnya sukses


Taken by: Enggak Tau Siapa, dapet aja pose kayak gini, ngaso bentar ya, naroh dagu di atas Tripod


Halo dari pinggir Kali Pepe!



Saya sadar,
saya bukan ahli film,
saya hanya seorang mahasiswa,
seorang kakak dan juga seorang perempuan,
yang punya mimpi bahwa adik atau anaknya kelak,
bisa punya tontonan yang layak untuk ditonton oleh anak-anak seusianya

Terakhir, semangat ya untuk sineas-sineas di luar sana yang tengah memperjuangkan dan mengusahakan film-film untuk anak, saya sekarang sedikit tahu bagaimana prosesnya, :')
Bravo Film Anak Indonesia!