Friday, February 13, 2015

Tempat untuk Pulang

@ Sebuah Convenience Store di bilangan Senayan

RegularHot Chocolate2 x Hazelnut
1 x Vanilla
1 x Caramel

Jauh atau dekat saat itu keluar dari rumah, saya anggap sebuah perjalanan, karena kita tidak akan pernah tahu, berapa langkah kita dari rumah dan akan bersimpangan dengan jalan orang lain tau takdir-takdir lainnya.

Saya suka berjalan di trotoar , berjalan di jalan yang sudah hak saya. Seperti saya punya kesempatan untuk melihat lebih dekat dan lebih detail. Pantas saja, Pak Endar, ayahnya Denali suka sekali naik motor pelan-pelan, katanya agar tahu apa saja yang ada di sepanjang jalan. Kalimat bukan tentang seberapa cepat kita bisa sampai tujuan, tetapi bagaimana kita bisa menikmati sebuah perjalanan pun jadi terasa realistis. 

Saya juga suka berjalan di trotoar Jakarta, iya saya suka, hanya jika saya mengesampingkan suara mesin kendaraan yang menderu, atau asap knalpot yang mengepul, semuanya saya lewati dengan as simply as putting my headset on, enjoy the song and the memories of people that comes after the lyric. 

Selimut mendung dan Jalan MH. Thamrin


Makin indah kalau sedang mendung-mendung syahdu,  Langit bak tengah menggoda siapa saja untuk tetap di rumah, menyembunyikan kaki di bawah selimut atau sandal tidur hangat di temani teh atau kopi hangat, sambil menonton Tv Series atau sekedar scroll media sosial juga boleh.

Tapi hari ini, saya tengah duduk di salah satu Convenience Store, menunggu hujan reda, setelah berada di bis kota yang mengantarkan saya dari bawah Patung Dirgantara ke Slipi dan beralih ke bis lainnya yang akhirnya menurunkan saya di depan sebuah Mall besar kesekian yang ada di ibukota. Memandang langit, memandang billboard di jalanan, mendengar Geronimo-nya Sheppard, diselingi dengan suara pluit dari Tukang Parkir di bawah, atau klakson dari mobil mewah nan mengkilap. Saya tengah mencoba mencintai kota ini lagi, kota yang kata saya dulu adalah rumah, dan sekarang membuat saya bertanya apakah Jakarta masih bisa dibilang rumah untuk saya?  Tapi, bagaimanapun kota ini pernah membesarkan saya sampai empat belas tahun, hingga kemudian saya memutuskan untuk memenuhi janji, untuk merantau. Entah akan berakhir di mana , saya pikir , kota ini akan tetap menjadi tempat ke mana saya akan pulang. Sehingga tidak mungkin saya hanya mencintai kemudahan aksesnya, kedekatan untuk menjangkau segala tempatnya, kegigihan orang-orangnya untuk bertahan kalau saya tidak mencintai macetnya, banjirnya, kerasnya kota ini. 

Saya tengah mencoba mencintai kota ini sembari mengingatkan diri, di balik macetnya jalanan ada kewajiban sholat 5 waktu yang harus tepat waktu, dibalik mahalnya harga satu kali makan jika dibandingkan di kota kota lain, ada kewajiban untuk bersodaqoh di setiap Rupiah yang kita punya dan bahkan dari remahan makanan yang kita punya, di balik tangis dan tawa yang tersebar, ada harap dan do'a dari mereka yang selama ini gigih berusaha.


Dari orang lain yang datang dan pergi,
di Jakarta.