Saturday, April 20, 2013

Magic in a Cup of Coffee I

Matahari mulai beranjak dari singgasananya, berjalan perlahan ke peraduannya. Lelah mungkin, seharian ini mengawasi manusia dan kegiatannya yang membosankan. Sekarang ia merajuk pada bulan, minta digantikan. Si Bulan berjanji akan muncul setelah maghrib. "Langit akan kosong, dunia tidak akan lengkap, manusia manusia ini butuh cahaya" sergah matahari. "ah! Santai sedikit. Aku tengah berdandan, nanti malam manusia manusia ini harus melihat kecantikan dari Sang Dewi Malam" kata bulan seraya menyapukan bedak di wajahnya. "ayolah, kau sudah cantik" rayu matahari. "AH! KAU TAK TAU! AKU TIDAK BISA SEPERTIMU YANG SETIAP PAGI KELUAR DARI TEMPATMU MENDENGKUR HANYA DENGAN DIKOKOKI AYAM TANPA PERSIAPAN APAPUN!" "Aku..." "DIAM! AKU BELUM SELESAI! SEDANGKAN AKU, AKU HARUS MEMBERI ALAS BEDAK UNTUK MENUTUPI PERMUKAAN KULITKU YANG TIDAK RATA! KAU TAK TAU KAN!" nafas si Bulan masih naik turun. "oke, maaf... Aku mau tidur" kata matahari seraya melanjutkan perjalanan ke tempat tidurnya sambil berkata "ah sedang datang bulan mungkin"

Senyum menyembul dari bibir tipisku. Percakapan Matahari dan Bulan itu memang hanya ditemukan di otak seorang penulis buku dongeng anak-anak dan terkesan tidak masuk akal, tapi mereka hidup di sana, di otakku yang mulai sulit mengingat di mana aku menaruh gula, apakah di rak sebelah kanan atau rak sebelah kiri.

Suara pagar yang bergesek nyaring merusak keindahan soreku. Ah pagar sialan! Aku harus mencari tukang untuk membenahinya. Tapi sosok yang baru saja masuk dapat dengan segera mengembalikan kebahagianku.
Zahira. Cucu pertamaku datang berkunjung. Senyumnya yang memperlihatkan giginya yang putih, rambut hitam dan lebatnya yang melambai lambai dibalik pundaknya. Aku seperti melihat bidadari yang melintas di taman depan rumahku.

"eyang, kok masih di luar?" tanyanya. "sorenya bagus, kemari nak..." kataku kepada cucuku. Zahira duduk di sampingku, sambil membelai rambutnya "Kepiye mama sama papamu? Baik-baik semua to?" "baik-baik kok yang, zahira mau nginep rumah eyang, kangen sama eyang ndak apa apa kan yang?" katanya sambil mengeluarkan gorengan "yo nggak apa-apa, sing suwe sisan, nemenin eyang" kataku sambil menyeruput minuman hangat berwana hitam pekat di cangkir keramik bermotif bunga-bunga di tanganku. "haha nanti yang kalo udah libur panjang, zahira bobok di sini yang lama" katanya sambil menyenderkan kepalanya di pundakku.

Hening.

Sambil merasakan hangatnya kopi yang menjalar ke sela sela jemariku, menatap langit-langit, menerawang, seperti ada film yang sedang diputar di atas sana. Senyum kecil muncul menghiasi wajahku yang sudah dihiasi dengan kerutan-kerutan. Tak kusangka, waktu bisa memakan usia lebih cepat dari yang aku bayangkan.
"eyang mau cerita Za" kataku memecah keheningan sore itu. "cerita apa yang?". Tanya Zahira dengan wajah penasarannya.


»»bersambung««