Thursday, April 4, 2013

"YATIM!"

-->
Dan kami sampai di titik ini



Saat akhirnya tubuh si ibu tumbang

Di atas kasur tua yang entah masih empuk ia rebahkan tubuhnya

Ia tarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya

Ia pejamkan mata selagi ribuan memori seperti sedang menghujani dirinya

Penuh. Sesak. Berdesakkan.

Ingin diraihnya. Satu saja.

Sayang, tak sampai.

Di sanalah ia terjebak dalam ruang bisu memori.

Si Bocah Kecil, Si Sulung, Si Bapak dan dirinya sendiri.

“Anakku….yatim?”

Lantas tertidur.



Lain lagi si bocah kecil

Di atas tanah lapang

Bermain berkejaran

Berlari ke sana ke mari

Mengejar matahari

Menangkap bayangan

Berhenti

Ia teriak. Menangis. Melempar semua yang ada di dekatnya.

Mata merah. Umpatan. Kejaran penuh dendam kepada teman kecilnya

Satu penyebab. Satu kata. “YATIM!”

Lantas berlari ke pelukan Ibu.



Lalu apa kabar Si Sulung?

Duduk. Diam. Dengan headset terpasang.

Musik mengalun. Semesta berdendang

Ia tersenyum. Tertawa terbahak-bahak.

“Semua akan baik-baik saja” Kata makhluk kecil bersayap di sebelah telinga kanannya.

“Optimis dan Sinting itu beda tipis!” kata makhluk bertanduk di sebelah telinga kirinya.

Dia tidak menangis.

Dia tidak mau dan tidak sudi bersedih untuk hal-hal kecil.

Bukan karena dia tidak tau bagaimana caranya.

Ada semacam parameter di otaknya.

Yang tersedih adalah tentang kehilangan.

Yang tersedih adalah saat kau tak lagi bisa lihatnya

Tertawa, tersenyum, bahkan sampai memarahimu.

“AH YATIM!”

Lantas pergi.