Wednesday, May 15, 2013

Aku dan Perjalanan: Kopaja 616

Matahari bersinar dengan gagahnya di langit biru sana. Mengamati setiap kegiatan manusia yang hiruk-pikuk, lalu-lalang di bawahnya. Deretan panjang kendaraan beroda empat(atau lebih) yang seakan tak ada putusnya mengisi setiap jalan-jalan ibu kota. Belum lagi puluhan motor yang menyeinap celah demi celah yang tersisa, menyalip ke kanan, banting ke kiri, putar lagi ke kanan, begitu terus hingga mereka sampai di tujuan. Ada juga beberapa pedagang asongan yang menyerbu kendaraan yang berhenti di lampu merah, mereka yang beroda dua menutup helm rapat-rapat, mereka yang beroda empat, menutup kacanya tanpa celah sedikitpun, mungkin menganggap mereka yang berpanas-panas di luarnya itu tidak ada.

Aku? Aku sibuk mengamati makhluk-makhluk Tuhan ini dari dalam balok oranye yang diberi roda, mesin rongsok yang jika dinyalakan akan mengeluarkan bunyi yang maha dahsyat dan asap hitam tebal, bertuliskan "Metromini". Ya, disitulah aku, duduk di barisan kedua di belakang Pak Supir, yang berkalung handuk putih "Good Morning" di lehernya. Syukurlah aku duduk di dekat jendela, jendela besar yang berlapis entah berapa centimeter debu ini seperti sumber kehidupan untuk para penumpang di dalamnya.

10 menit sebelum aku menaiki kendaraan sejuta umat ini, aku sempatkan kakiku melangkah ke dalam ruko yang disulap menjadi sebuah minimarket yang di dalamnya menjual banyak makanan kecil hingga besar, minuman, dan perlengkapan lainnya. Aku sengaja berlama-lama di dalamnya, ah sejuk sekali di sini, andai jalanan bisa sesejuk ruangan ini. Menit setelahnya aku sudah berdiri di depan Espresso Machine. Mataku mulai terpaku kepada kolom tulisan yang ada di atas mesinnya. Kopi apa yang akan aku minum ya, Kopi Hitam, Kopi Susu, Cappuccino, Macchiato, Coffee Latte, atau malah beralih ke mesin satunya di mana aku bisa mengambil satu cup coklat panas? Tapi tidak, ternyata mataku menangkap mesin yang ada di sebelah mesin coklat, ya, pilihanku jatuh kepada Choco Latte. Bungkus.

Akhirnya, di sinilah aku. Duduk di dekat jendela dengan satu cup choco latte di tangan kananku, dan headset yang terpasang sempurna di kupingku yang tertutup hijab bermotif tribal pemberian tante. 16 kilometer lagi, menurut Google Maps, aku bisa mencapai tujuanku selama 30 menit, tapi.....Ya, ini Jakarta, kota di mana kamu hanya bisa mengenderai kendaraanmu sampai 10-20 km/jam. Ajaib.