Saturday, June 22, 2013

Kid's Dream


Saya bukan seorang penggemar program-program di televisi, bukan penikmat sinetron, atau ftv-ftv. Tapi semenjak libur sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan, hampir setiap pagi saya pasti menonton televisi, kenyataan ini diperparah dengan rusaknya Sang Laptop yang membuat saya tidak punya pilihan lain selain, menonton televisi.

Pagi ini, seperti biasa saya bangun tidur dan langsung bergegas ke dapur, melakukan ritual pagi—minum 2 gelas air mineral setelah bangun tidur, membuat secangkir kopi hitam dan menyalakan televisi di ruang keluarga. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 09.30 WIB, mata saya terpaku pada layar televisi dengan satu tangan kanan yang memegang cangkir kopi dan tangan yang lainnya memegang remote dan dengan lihai mencari stasiun televisi yang programnya ‘memungkinkan’ untuk saya tonton.

Sempurna. Semua stasiun televisi sedang menyiarkan commercial break. Akhirnya pilihan saya jatuhkan ke salah satu stasiun televisi swasta, yang sedang memulai sebuah iklan. Sepertinya iklan baru, karena potongan-potongan scene-nya yang masih anyar di mata saya.

Tokoh-tokoh yang dimainkan dalam iklan ini teryata adalah anak-anak kecil, dan tibalah saat satu per satu dari mereka mulai memainkan perannya. Setiap anak bicara sebanyak satu kalimat yang masing-dan begini dialognya;

“Kalo aku udah gede, aku mau jadi ex-mud”
“Mau jadi boss”
“Sehari-hari ngomong camur bahasa Inggris”
“Tiap Jumat pulang kantor, nongkrong sama sesama ex-mud, ngomongin proyek besar, biar keliatan sukses”
“Suaranya agak digedein, biar kedengeran cewek di meja sebelah”
“Kalo weekend sarapan di cafe sambil laptopan”
“Pesen kopi secangkir 40ribuan...”
“...minumnya pelan-pelan, biar tahan sampai siang demi wi-fi gratis”
“Kalo tanggal tua pagi, siang, malam, makannya mie instan”
“Kalo mau nelpon bisanya Cuma misscall”
“Jadi orang gede menyenangkan, tapi susah ngejalanin”

Sederhana, berharga namun sering dilupakan. Itu kesan pertama setelah saya mendengar dialog yang ada dalam iklan ini. Siapapun orang dibalik iklan ini, dia adalah orang yang cerdas, menggunakan anak-anak—sosok yang masih polos dan frontal dalam mencerna dunia, sebagai pemain lakon.
Ada lagi yang menyentil saya diawal dialog, yaitu saat dua anak kecil yang menceritakan cita-cita mereka, yang satu ingin menjadi Executive Muda sedang yang lainnya ingin menjadi Boss. Saya teringat tweet saya sekitar 4 hari yang lalu,




Sepolos itulah seorang anak kecil sehingga mereka tinggal menyebutkan saja seperti apa mereka ingin menjadi saat sudah besar nanti. Mereka gantungkan saja mimpi mereka di langit tertinggi, untuk apa peduli rasanya sakit jika nanti jatuh, apa itu prospek, apa itu gaji, apa itu realistis, mereka memang belum mengerti, tapi hebatnya seorang anak kecil adalah mereka berani bermimpi tinggi sekali hingga menembus lapisan eksosfer, sedangkan kita para orang dewasa, sepertinya selain dituakan oleh waktu, waktu juga sudah berhasil memagari angan-angan besar, mimpi-mimpi tinggi dan menaruh kita di semacam tempurung sampai akhir nyawa terlepas dari raga dengan mimpi yang akhirnya tak sempat melambung ke angkasa. 

Bermimpilah seperti anak kecil, dan bertindaklah seperti seorang laki-laki.



No comments:

Post a Comment