Sunday, October 14, 2012

Hei CANTIK!


Setiap ada cowok yang dapet pertanyaan,
“Lo mau punya pacar yang cantik nggak?”
Jawabannya bisa berupa,
“Iyalah! Iya banget malah!”
Atau mungkin malah ada yang
“Cantik tuh relatif kali”
Atau malah…………..
“Hmmm, gue lebih suka cowok macho” rrrrrr #salahfokus

Cantik.
Satu kata yang ngegambarin cewek dalam versi “hampr” sempurna. Kalo lo yang baca ini adalah seorang cewek, keinginan menjadi seorang pribadi yang cantik, pasti pernah lah ya terbesit di pikiran lo semuanya. Bahkan sampe ke cewek-cewek yang nggak terlihat feminin sekalipun, keinginan untuk menjadi cantik itu  tetap ada, cuma, ya frekuensinya nggak sesering cewek-cewek yang lainnya.
Karena “cantik” sendiri masih sangat luas maknanya, orang jadi ngasih kategori-kategori tersendiri untuk orang-orang yang bisa masuk ke dalam klasifikasi orang cantik. Ada yang bilang cantik itu dilihat dari hatinya, ada juga yang lebih condong ke kepandaiannya, terus keimanannya, dan yang paling dangkal penafsirannya adalah cantik yang dilihat dari physically-nya aja.
Seperti yang terjadi sama banyak remaja cewek di lingkungan gue(sekolah, dll). Mereka nggak secara verbal bilang “Iya aku cantik” tapi mereka bilang “Tuhkan aku jelek” atau “Aku jelek, soalnya aku *nyebutin kekurangan-kekurangan mereka satu-satu*”. Gue sebagai perempuan merasa tergengges terganggu sama pernyataan-pernyataan ini jujur aja. Alasan mereka untuk bilang diri mereka itu jelek, menurut gue sangatlah amat tidak masuk akal.
Emang sih, ini berhubungan erat sama yang namanya mind-set seseorang, tapi mau sampe kapan mereka hidup dengan mind-set yang bahkan malah nyiksa (batin) mereka dan sulit membuat untuk merasa bersyukur?
Sebagai contoh ya, ada seorang anak yang bernama X, setiap hari dia melihat dirinya di cermin dan merasa tidak senang dengan kulitnya yang gelap. Dia ingin sekali memiliki kulit yang putih dan berpori-pori kecil seperti artis-artis yang selalu muncul untuk beberapa detik di banyak commercial-break. Dia mengeluh, dia tidak bersyukur, ia ingin bisa merubah warna kulitnya. Akhirnya dia membuang uangnya hingga ratusan ribu untuk membeli produk perawatan wajah, ke salon untuk perawatan, sampai melakukan bleaching macam baju cucian, untuk mendapatkan kulit yang putih itu. Setelah kulitnya berubah menjadi lebih putih bersinar, ia berharap setiap orang akan memuji kecantikannya, setiap lelaki akan tertarik kepadanya.
Dari contoh di atas, sempet nggak terbesit di pikiran kalian kalo si cewek ini juga sebenernya adalah korban? Gue dengan mantap bisa bilang dia adalah korban. Korban dari iklan-iklan yang dia tonton setiap hari, yang tanpa dia sadarai udah ngebangun semacam dunia yang penuh sama kesempurnaan di alam bawah sadarnya, sehingga dia jadi termotivasi untuk mendapatkan semuanya dengan “sempurna”, bahkan walau itu harus ngubah dirinya sendiri. Terus dari pola pikirnya si X yang secara tersirat bilang kalo “kulit putih itu lebih baik daripada yang berkulit gelap”, gue inget waktu guru geografi gue, yang juga wali kelas gue, yang juga gue anggep sebagai mama gue di sekolah, beliau pernah kasih intermezzo sedikit tentang warna kulit itu tadi. “Kalian nggak sadar aja, sebenernya adanya persepsi yang timbul di antara orang-orang kita yang bilang ‘kulit putih itu lebih baik dari pada kulit yg gelap atau hitam’ itu ada pengaruhnya sama masa penjajahan pada waktu itu. Terjadi pengkastaan, di situ penjajah yang berkulit putih, menempati strata tertinggi, sedangkan pribumi yang berkulit lebih gelap menempati strata paling rendah. Nah, ini loh yang harus dihillangkan, jejak jejak feodalisme yang kayak gini ini yang seharusnya udah kita hapus dari pikiran kita.” Dan pada waktu itu juga, gue langsung berpikir, “hmmm, masuk akal juga sih”.
Selain dampak yang udah gue sebutin sebelumnya, dampak lain yang ditimbulkan adalah pembentukan pribadi yang konsumtif. Udah kebayangkan berapa banyak uang yang dikeluarin si X untuk ngebeli produk-produk kecantikan itu, nah hal itu tuh yang bikin orang jadi konsumtif tanpa mereka sadari. Tapi, hal semacam itu nggak bakal kejadian kalo kitanya juga mandang secara luas tentang apa yang dimaksud dengan “kecantikan” itu. Kalo kecantikan diartikan secara lebih dalam tentu cewek-ceweknya juga bakal lebih cantik yang nggak hanya luar tapi juga dalamnya.
Mungkin, untuk beberapa orang akan menganggap, untuk di jaman sekarang ini, peracaya akan inner beauty itu adalah sebuah bentuk kenaifan. Kalo dianalogi-in ya, kecantikan yang datangnya hanya dari luarnya aja itu kayak air dengan plastik, bahkan dia cuma ada permukaannya, nggak mampu meresap ke dalam. Begitu juga cewek yang cantik fisiknya aja, tebalnya riasan baik di wajah atau rambut atau mewahnya pakaian yang mereka pakai, nggak akan bisa menembus hati mereka, cantik yang membosankan. Beda dengan orang yang punya inner beauty, mereka ibarat air dengan kain. Air tadi selalu bisa meresap/merembas ke permukaan kain. Begitu juga cewek-cewek ini, mereka justru punya pancaran kecantikan datang dari dalam diri mereka. Entah itu datang saat mereka berbicara, saat mereka tertawa, saat mereka mendengarkan, saat mereka menyelesaikan masalah, bahkan sampai mereka tidur dengan mulut terbuka, orang-orang itu tetap orang-orang cantik.
Tapi, gue pribadi, masih bahkan sangat percaya akan inner beauty itu tadi. Menurut gue, orang-orang yang cantik itu adalah orang-orang yang punya intelligence, kemampuan untuk berbaur dengan orang banyak, professional, punya prinsip, loyal, hubungannya dengan Tuhan juga deket banget, terus dia bisa menguasai emosinya. Dan nggak lupa, orang yang cantik itu menurut gue adalah orang yang bersyukur atas apa yang dia miliki, gimana keadaannya, dan bahkan tetep bisa nonjolon kelebihannya dengan segala kekurangan yang dia miliki.
Kalo lo gendut, item, pendek terus kenapa? Terus lo mau berhenti makan? Diet mati-matian biar lo kurus? Berenang terus-terusan biar lo tinggi? Rajin absen ke salon-salon kecantikan biar putih? *hmmm, sebenernya nggak gini-gini amat sih*
BUT COME ON GIRLS!
LIFE’S TOO SHORT TO THROUGH IT IN FRONT OF THE MIRROR
JUST GO OUT AND DANCE
CAUSE YOURE JUST EFFORTLESSLY BEAUTIFUL!

Well, gue harap, semua cewek yang baca ini, yang mungkin di antara mereka pernah ber-mind-set kayak si X, bisa lebih sadar akan kecantikan dalam dirinya yang mungkin sering terlupakan akibat ketutupan make up J
Satu hal girls, Kalian udah diciptakan sebagai seorang manusia yang cantik. Kalian cantik.