Thursday, October 18, 2012

Sebuah Potret Pendidikan

Tahun ini adalah tahun terakhir saya di jenjang Menengah ke atas. Orang-orang di sekliling saya pun mengatakan bahwa tahun terakhir itu tidak boleh banyak menyia-nyiakan waktu yang ada. Ya, untuk menyiapkan diri menghadapi Ujian Nasional katanya. 

Tidak bisa dipungkiri, Ujian Nasional memang masih menjadi momok yang menyeramkan di kalangan pelajar dan dunia pendidikan di Indonesia. Ujian Nasional bagai pertaruhan hidup mati seorang pelajar utnuk setiap mata pelajaran yang pernah dipelajarinya selama 3 tahun di jenjang SMP maupun SMA. 

Kali ini saya akan berbagi tentang 4 bulan pertama saya sebagai kakak kelas 12 di sekolah saya. Pada awalnya memang saya sangat bersemangat untuk mengejar segala ketinggalan saya di kelas 10 dan kelas 11 yang lalu. Maklum, saya pada masa kelas 10 dan 12 saya salah satu anak yang banyak mendapat dispensasi, bahkan hingga 2bulan berturut-turut. Untuk kelas 12 saya tidak ingin main-main. Namun sayang, kenyataan berkata lain.

Pada awal bulan, yakni bulan pertama sampai kedua, saya masih harus disibukkan dengan dispensasi yang saya dapat untuk mengurus organisasi yang ada di sekolah, mengisi acara untuk dinas pendidikan kabupaten, bahkan mentutori kelompok debat hingga harus memotong jam kbm(untuk yang terakhir, berkat negosiasi, akhirnya saya hanya mentutori setelah jam kbm).

Pada bulan ketiga sampai keempat, sekolah saya mulai menggalakkan kegiatan Pendalaman Materi 2 jam selama 4 hari berturut-turut, setiap setelah jam kbm. Kegiatan ini sangat efektif menurut saya pada awalnya, sekaligus saranapenyegaran untuk otak tentang materi-materi lama. Namun, masalah datang saat kami harus menyiapkan senam untuk ujian praktek. Seminggu 3 kali kami latihan untuk membuat gerakan baru dan menghafal serta membuat musik senan, tentu jangan lupa untuk membuat formasi senamnya. 

Yang awalnya terasa menyenangkan, efektif dan kondusif. Akhir-akhir ini menjadi tidak demikian. Pertama saya rasakan apa yang terjadi dalam diri saya. Sampai di rumah setiap pukul 19.00 WIB dengan keadaan tenaga yang sudah terkuras habis membuat saya dengan keinginan yang masih memiliki keinginan besar untuk belajar, menjadi tidak bisa belajar karena otak seakan tidak bisa menerima segala informasi yang saya baca. Saya sudah mencoba beberapa metode untuk mengatasinya, seperti tidak langsung belajar, melainkan bersantai sejenak selama 30 menit hingga 1 jam baru belajar dan tidur dan dilanjutkan belajar pada pukul 03.00/04.00 WIB, atau saya langsung tidur dan bangun pada dini hari dan belajar hingga pukul 04.00 WIB. Tetapi belakangan kegiatan itu tidak dapat saya lakukan, Saya terlalu lelah untuk belajar pada malam hari dan menjadi terlalu sulit untuk bangun dari tempat tidur saat pagi. Tidak seperti biasanya.

Saat saya tidak belajar saya menggunakan waktu yang terbuang itu dengan online dan chatting dengan beberapa orang dari beberapa negara dan menanyakan bagaimana mereka mendapatkan pendidikan di negara mereka. Ada Carina, teman saya yang pindah ke Belanda, hanya mendapatkan 4 atau 6 mata pelajaran yang ia pilih. Ada Humza dari Australia, yang mendapat 6 mata pelajaran yang terkait dengan Fisika. Ada Wan Luqman orang Malaysia yang tinggal di Qatar mempelajari TIK. Serta Tom dari Fairfield USA yang hanya mendapatkan 6 mata pelajaran tentang Psikis. Saat ditanya tentang libus, Tom dan Humza sedikit bingung dengan saya, saat saya mengatakan "Saya libur selama 2 minggu untuk setiap kenaikan semester" atau "Saya masuk sekolah jam 7.00 hingga jam 16.00". Terakhir saya browsing tentang sistem pendidikan di Indonesia, faktanya memang Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki jam kbm yang tinggi diantara negara lainnya selama 7 hari.

Saya jadi berpikir, sistem yang seperti ini sebenarnya juga tidak bisa dikatakan sistem yang benar. Pelajar terforsir untuk belajar dengan kbm yang lama selain itu dengan kurang lebih 18 mata pelajaran yang harus dipelajari setiap pelajar, membuat pelajar itu sendiri menjadi tidak terfokus langsung ke bakat yang ia miliki. Memang di Indonesia khususnya jenjang SMA sudah ada pejurusan, apakah seoarang pelajar akan memilih IPS atau IPA atau Bahasa untuk program yang akan ditempuh, namun, penjurusan sesuai bidang itu justru menjadi kasta-kasta tersendiri antar jurusan, di dalam program tersebut juga pelajar masih harus mempelajari  pelajaran yang bahkan tidak ia minati. Hal ini membuat pelajar memiliki motivasi yang rendah dalam pelajaran tersebut, seperti target pencapaian yang rendah, misal, hanya untuk melampaui KKM, bukan untuk mendapatkan hasil yang terbaik di kelasnya atau area yang lebih luas. Hal tersebut diperparah dengan orientasi setiap orang terhadap "nilai" yang masih menganggap itu sebagai sebuah "prestige" dan bukanlah hasil dari sebuah "proses" sehingga tidak heran jika ditemukan kasus "menyontek" di kalangan pelajar dan dunia pendidikan di Indonesia.

Memang, berada di sebuah sistem dan memiliki pandangan yang sedikit berbeda dengan mayoritas orang di sistem itu sendiri, bukanlah perkara mudah. Kita tidak bisa lantas memaksakan mereka tetang pandangan kita yang dirasa lebih baik. Perlu adanya pendekatan-pendekatan dan agar setiap orang mengerti tentang apa yang sebenarnya kita maksud. 


Pertanyaannya adalah:
Berani atau tidakkah kita 
untuk bergerak melawan arus?