Saturday, February 1, 2014

Secangkir Kopi. Sahabat. Lembayung.

Pasti akan tiba masanya, saat rambut hitam ikalku berubah menjadi putih, keriput yang muncul berbarengan dengan gelambir-gelambir akibat lemak-lemak yang malas aku bakar saat masa muda dulu, atau saat kaki yang mulai gemetar untuk melangkah hingga akhirnya aku harus bertumpu pada tongkat penyangga atau bahkan kursi roda. Siapa yang akan tahu masa depan? Saat itulah aku akan mengingat tentang sebuah malam bersama sahabat.

Malam itu, pukul dua puluh satu, suhu udara kota Jogja mulai berangsur-angsur menurun. Namun, tdak juga menyurutkan niatku untuk menikmati malam bersama sahabat sambil ngopi-ngopi atau hanya sekedar memanfaatkan sinyal wifi
"Cobain nih, enak!" Kata seoarang sahabat sambil menyesap cairan hitam pekat yang memenuhi cangkir beling di hadapannya.
Baiklah, berkat rekomendasi sahabat, dengan sedikit gaya bintang iklan yang tengah menikmati secangkir kopi, malam ini pilihanku jatuh kepada secangkir Kopi Jahe untuk menemaniku bersenda gurau dengan sahabat-sahabat lama. Kubiarkan 'Cut Nyak Dhien' yang menyelesaikan urusan transaksi antara aku dan Si Empunya Warung Wedangan. Tak lama kemudian, secangkir kopi hitam dengan jahe bakar yang digeprek sudah dihidangkan oleh seorang pelayan di hadapanku. 

Anggaplah ini sebagai saran dari seorang kawan, jangan terburu-buru menenggak kopimu. Minum kopi adalah seni menikmati hidup. Hirup aromanya, biarkan setiap asap yang kau hirup masuk ke dalam hidung, menggoda dan bermain-main dengan indera penciumanmu, mengisi setiap relung di pau-parumu dan menari-nari di pikiranmu. Sesap perlahan, saat otak dan indera penglihatanmu dipenuhi akan bayangan kenikmatan sekaligus kepahitan akan rasa kopi atau semerbak aromanya yang bagai tak kenal lelah menari-nari di pikiranmu, sejujurnya kawan, sesapan pertama itulah momen krusialnya. Karena kala itu, kau akan merasakan pahit dan manis yang entah berkat Tuhan yang mana yang dapat membuat dua rasa yang saling berlawanan ini bersanding dalam satu minuman yang tumpah di waktu yang bersamaan di dalam mulutmu. 
“It doesn't matter where you're from - or how you feel... There's always peace in a strong cup of coffee.” ― Gabriel BáDaytripper
Hal ini mengingatkanku tentang hidup. Bagaimana terkadang kita mendapatkan hal-hal pahitmenyakitkan bahkan, jika itu adalah sebuah rasa dan jika kita memiliki kesempatan untuk memuntahkannya, pasti akan kita lakukan; saat kita sedang menikmati masa-masa manis membahagiakan yang membuat kita ingin terus tinggal di dalamnya.

Kopi adalah kopi. Beberapa orang menyebutnya minuman pahit, tidak enak dan pembawa penyakit. Sedangkan beberapa yang lain menyebutnya gerbang menuju ranah inspirasi, a taste of heaven, bahkan yang lain telah mengatakan betapa sulitnya mereka untuk menikmati hidup tanpa setetespun kopi mengisi hari mereka. Tak masalah, ini soal selera.
Malam ini, secangkir kopi jahe panas ini menjadi saksi bagaimana aku dan sahabat bukan lagi mereka yang masih mengenakan seragam putih abu-abu, sekumpulan bocah ingusan yang selalu menyempatkan diri untuk berkumpul di kantin Ibu Tukino untuk sekedar memesan kopi(aku lebih suka menyebutnya susu, karena aku bahkan tidak merasakan kopi saat menenggaknya) Goodday, atau bocah-bocah ini yang selalu meneriakiku untuk tidak memesan Coffeemix hangat tanpa tambahan gula di gelas kecil sambil mengingatkan maag atau migrain yang kapan saja mengintai kesehatanku. 

Malam ini kami berkumpul di sebuah Warung Wedangan. Lembayung namanya. Cocok dengan suasana ruangan yang diciptakan, dengan duduk lesehan, lampu remang yang memancarkan warna kuning kemerahanterutama yang outdoor. Menikmati kopi kami masing-masing, mengenang masa lalu, membicarakan masa kini dan menerka sambil melempar harap untuk masa depan menjadi kegiatan yang kami lakukan malam itu. Pukul dua puluh dua, terasa masih sangat sore untuk Jogja malam ini. Kami masih membicarakan harapan yang belum terkabul, filosofi hidup kami, mimpi kami, negara kami, hingga pemerintahannya.
“Coffee - the favorite drink of the civilized world.” ― Thomas Jefferson
Membaca kutipan dari Thomas Jefferson buatku sebagai peminum kopi tingkat awal menjadi bangga. Hal ini menjadi mungkin saat mungkin orang-orang di luar di sana membutuhkan kadar kafein lebih di dalam darahnya untuk menjernihkan pikirannya dan menajamkan fokusnya untuk berpikir lebih banyak untuk orang-orang sekitarnya, lingkungannya bahkan negaranya. Kopi telah lama menjadi sebuah pemantik semangat untuk terjun aksi, menyalakan semangat dan memulai untuk merubah dunia. Bayangkan saja jika tokoh-tokoh dunia yang namanya kini seharum aroma kopi itu tidak menenggak scangkir kopinya pada masa itu, aku tak yakin akan ada orang-orang seperti mereka walau mungkin nanti akan muncul generasi peminum teh, susu atau air mineral. Tengok saja David Lynch, seorang yang sangat diapresiasi karya-karyanya dalam bidang perfilman, seni visual dan musik ini menganggap kopi merupakan sebuah "seni kehidupan". Baginya, kopi telah menjadi sumber inspirasi dan perangsangnya untuk berpikir. Kopi memang minuman yang membuat siapa saja yang menyesap pahit-manisnya berpikir.

Kembali ke salah satu meja lesehan di Warung Wedangan Lembayung, dengan 4 orang sahabat lainnya. Kopi Jahe untukku dan dua sahabat lainnya. Dan 1 Kopasus(Kopi Pake Susu) untuk 1 orang sahabat sisanya. Sedang sahabat lainnya cukup puas dengan mencicip kopi milik kami, terlanjur memesan Es Tape katanya. Dengan segelas kopi di muka masing-masing dari kami, topik demi topik kami bicarakan. Kali ini aku tidak bisa menentukan, apakah memang perbincangan yang terus mengalir ini disebabkan oleh kopi yang kami tenggak ataukah memang rasa rindu kepada masing-masing dari kami yang akhirnya dapat diluapkan di tengah syahdunya malam di kota Jogja. 
"Good communication is just as stimulating as black coffee, and just as hard to sleep after."Anne Morrow Lindbergh 
Renyahnya tawa, sarkasme yang dilontarkan masing-masing dari kami, kritik, saran, pendapat, rindu, semua lebur, tumpah ruah, mengisi ruang kosong di dalam hati kami yang telah lama menginginkan masa-masa ini, wajah-wajah ini mengisinya sampai tak ada ruang kosong lagi yang tersisa. Sahabat-sahabat yang kini duduk di hadapanku ini, mereka adalah kopi hitamku. Sederhana dan apa adanya. Tidak seperti Cappucino yang tampil menawan dengan pemanis, gula dan susu, tak cukup dengan itu, masih ditambah kayu manis sebagai toping; atau Macchiato yang punya paten kesempurnaan dalam tata cara menghidangkannya ke meja pelanggan, 4:1 antara espresso dan susu rebusnya; namun di sinilah si Kopi Hitam, tanpa banyak embel-embel, sangat percaya diri bahwa kesederhanaan yang dimiliki tetap dapat  menunjukkan sisi kecantikkan bagi siapa saja para pencintanya. Itulah mereka, sahabat-sahabat yang saat ini duduk menikmati kopi mereka masing-masing, sangat percaya dengan kualitas diri mereka masing-masing, kepercayaan diri mereka tentang mendapatkan seorang atau sekelompok sahabat dengan sifat khas mereka yang lebih senang berbicara kejujuran walau meyakitkan daripada memberi sweetener untuk menambal boroknya kebohongan. 
"Kopi Hitam adalah tentang kejujuran dan kepercayaan diri. Dan bagiku, itulah orang-orang yang kini duduk di hadapanku."―Anindya Roswita
Aku bukanlah seorang fanatik kopi yang mungkin sempat terlintas di pikiran kalian saat kalian membaca post ini. Bukan pula seorang ahli dalam hal kopi yang tahu bagaimana kopi yang sempurna dan kopi yang sangat buruk dan tidak layak dinikmati bagi mereka pecinta kopi. Aku bahkan tidak memiliki spesifikasi khusus untuk setiap kopi yang aku tenggak. Menurutku itu semua soal selera. Dan skala 1-10 setiap orang pastilah berbeda. 

Sejujurnya, aku hanyalah seseorang yang penasaran, mengapa Sang Ayah selalu menyeduh 1 bungkus kopi di pagi hari sebelum beliau berangkat ngantor dan malam hari setelah ia pulang. Aku hanyalah seseorang yang jatuh cinta dengan rasa unik yang tercipta di dalamnya, paduan antara pahit dan manis, sesuatu yang kontras namun nyatanya tetap juga bisa disatukan. Aku hanyalah seseorang yang heran dari mana datangnya inspirasi-inspirasi yang hadir di setiap teguknya. Aku hanyalah seseorang yang mencintai filosofi-filosofi di balik satu cangkir yang selalu mengharapkan kehadiran bibir ini kembali di lain hari. 
“Even bad coffee is better than no coffee at all.”―David Lynch
Pukul dua dini hari, Warung Wedangan Lembayung sudah sejak dua jam yang lalu menutup kiosnya. Kopi yang kami pesan kini hanya meninggalkan ampas di dasar cangkirnya. Sudah waktunya pulang. Saat aku melangkahkan kaki keluar dari warung itu, aku tahu karena aku yakin, suatu saat nanti aku akan kembali ke sini, bernostalgia dengan rasa.