Tuesday, February 11, 2014

Harga Sebuah Telor Mata Sapi

Kepada Solo malam hari yang dingin

Kepada angin yang menelisik kerah jaket, menusuk pori-pori kulit
Kepada ratusan lampu yang menyoroti Jalan Slamet Riyadi
Tahukah kalian harga sebuah telor mata sapi?
Jelas tidak tahu, mereka benda mati. Mencicipinya saja pasti belum sama sekali.
Lalu aku bertanya lagi
Kepada tukang parkir yang ada di persimpangan Paragon arah Kalitan
Kepada pengendara yang bertarung dengan waktu dan bertaruh keselamatan untuk sampai di rumah
Kepada seorang manusia setengah baya yang tiap pagi membuatkan telor mata sapi untuk si cucu tercinta
Dan kepada si cucu yang tidak pernah memakan telor mata sapi setiap kali dibuatkan.
Tahukah kalian harga sebuah telor mata sapi?
Telor mata sapi. Sunny side up. Jenis makanan yang biasa dimakan di pagi hari, kadang menjadi pengganti daging untuk sandwich, kadang menjadi teman sepiring nasi goreng, kadang juga dengan percaya dirinya tampil sendirian di atas piring tanpa makanan lain sebagai pendamping untuk dilahap oleh yang punya saluran pencernaan saat hampir terlambat.
10 Februari, akhirnya kembali lagi aku ke gedung oranye yang terletak di sudut universitas negeri di Surakarta. Kembali memeluk rutinitas-rutinitas di dalamnya, berusaha berdamai dengan maereka agar paling tidak......semuanya bisa beres sampai di penghujung semester nanti, dengan output yang bagus dan tidak kekurangan sesuatu apapun seperti kadar kewarasan misalnya.
10 Februari, mulai lagi berangkat ngampus pukul tujuh dan (harapannya maksimal) sampai rumah pukul sepuluh walau kenyataannya sampai pukul sebelas, atau dua belas, tidak pernah lebih. Asal positif, bermanfaat dan tetap bertanggung jawab, kenapa tidak? Aku pikir, lebih baik berada di luar rumah, berkumpul dengan teman-teman yang menginspirasi, bergerak, melakukan sesuatu yang bermanfaat ketimbang di rumah, duduk di depan laptop, online sosial media atau parahnya sampai menghabiskan waktu panjang masa mudamu dengan nonton acara joget haha-hihi.
Lalu apa yang salah dari pulang jam sekian kalau memang kegiatan yang diikuti positif? Kali ini urusan perut. Bukan yang kumaksud bukan tentang survey burjo dengan Magelangan terenak di sekitar kampus atau tentang harga ayam penyet di warung makan Sinar lebih mahal daripada di warung makan Kilat.

Cerita kali ini tentang dua mangkuk sayur bayam yang berturut-turut tidak dimakan dan sebuah telor mata sapi yang akhirnya teronggok dingin dan dipencloki lalat. Bukan, ini tentang mubadzir atau hukum agama lainnya, fokusku bukan ke sana sekalian ngingetin diri sendiri biar nggak salah fokus.
Cerita kali ini tentang seorang wanita setengah baya yang bangun pagi-pagi walau udara dingin menelisik pori-pori daster merah muda yang  ia kenakan, walau dengan susah payah ia berjalan menuju tukang sayur dengan kaki yang sering keram saat berjalan jauh hanya untuk mencari 1 ikat bayam segar dan seperempat kilo telur ayam untuk dimasak dan dihidangkan di meja makan yang umurnya mungkin juga setua dirinya, untuk siapa lagi kalau bukan untuk cucunya tercinta.
Cucunya sedang mandi, sedangkan si wanita separuh baya itu memasak bayam tadi menjadi sayur bayam−seperti kesukaan cucunya, sambil mendengarkan lagu-lagu yang dilantunkan cucunya dari dalam kamar mandi, tetap didengarkan walaupun ia tak mengerti apa yang dinyanyikan, lagu-lagu yang asing dari telinganya. Tapi ia senang, setidaknya cucunya itu tidak kesiangan bangun, masakannya akan dimakan kali ini, setidaknya begitu yang ia percayai.
Si cucu keluar dari kamar mandi, setengah berlari lalu masuk ke kamar. Bersiap-siap. Setengah jam kemudian, cucunya keluar kamar, dengan headset, kaus tangan dan kaki serta jaket yang sudah terpakai rapi di badannya. Sambil menggenggam handphone dengan kabelnya yang terjuntai dan terselip dibalik kerudung merah marunnya.
“Aku berangkat ya Mbah.”
Yo sarapano sek
“Ini udah telat.”
Aku wis masak ket wingi ora dipangan, mbok yo dihargai ngono nek aku masak.”
Si cucu terdiam.

Be grateful for the home you have, knowing that at this moment, all you have is all you need Sarah Ban Breathnach
Berapa banyak waktu yang sudah kau habiskan di luar, dengan teman-teman, dengan organisasi, dengan berbagai macam kegiatan yang katamu positif, dan segala kesibukkan lainnya yang tak dimengerti orang tua di rumah?
Berapa lama dalam seminggu ini kau habiskan waktu untuk sekedar nonton televisi, rebutan channel, ngeteh atau ngopi bersama ayah?
Berapa piring masakan ibu yang kau habiskan minggu ini?
Apakah rumah kali ini benar-benar hanya menjadi tempat tidur?
Bukankah mereka yang selama ini memberi tempat tinggal, makan, bahkan hingga sikat gigi?
Lantas tak berhakkah mereka atas waktu bersama kita yang katanya aktivis kampus, yang katanya mahasiswa kura-kura, yang katanya orang-orang yang akan berdiri di garda depan untuk membela rakyat, barang tiga puluh menit untuk sekedar makan bersama?
Terbayarkah telor mata sapi buatan ibumu dengan hidangan burjo di dekat kampus atau mungkin dengan canda dan tawa dari teman-teman?



Malamnya, si cucu pulang lebih awal, minum teh hangat tawar sambil melihat wanita setengah baya itu melahap martabak manis coklat sambil menonton acara joget haha-hihi, kesukaan si wanita setengah baya itu.