Monday, January 18, 2016

Cerita Si Calon Tukang Roti

Inget nggak jaman alay dulu? Jaman di mana banyak orang laki atau perempuan memberikan kata ordinary sebagai deskripsi masing-masing dari mereka di setiap social media mereka, ya tidak semua sih, tapi banyak, dan ada.

Mungkin nggak to orang-orang itu memang “biasa” saja atau hanya berusaha menjadi biasa? Mau nggak sih sebenarnya di antara kita ini disebut biasa dalam apa yang tengah kita lakukan? “Dia mah emang biasa aja!”, “Eh kamu biasa aja!” eh, contoh yang kedua salah konteks. Tentu hal ini sangat berkebalikan ya sama sifat manusia yang katanya itu sudah dari sananya, alias gawan bayi, alias bawaan orok kalau kita ini diciptakan sebagai makhluk yang tidak pernah puas dan selalu meminta lebih.

Ditemani satu mug teh hangat tawar, di Minggu malam, di mana lingkungan saya jadi nyenyet lebih awal, karena besok mulai beraktvitas lagi, saya mulai lagi bertanya, “Mimpi kamu apa,Nin?”

Saya ingat, bagaimana dulu kawan-kawan saya di bangku Taman Kanak-kanak selalu berteriak, mau jadi pilot, mau jadi perawat, pramugari, bos, ada juga yang mau jadi Presiden, sementara saat giliran saya yang ditanya sama Ibu Guru−Ibu Ida di bangku kelas A, dan Ibu Ibeth dan ditemani Ibu Tatik di bangku kelas B, saya selalu menjawab dengan lantang, “ANIN MAU JADI TUKANG RISOL, NANTI PESEN KUENYA SAMA ANIN YAA!”  dan itu masih menjadi cerita yang diceritakan dari tahun ke tahun oleh Si Mama, setiap ada siapa saja yang datang.

Lalu masihkah saya memimpikan hal yang sama? Ah tentu saja, hanya namanya saja yang berubah jadi lebih keren, “Punya Toko Roti yang namanya diambil dari nama Mama”. Dari Tukang jadi Owner. Saya sendiri membayangkan nantinya toko itu akan memanjakan indera penciuman kita dengan aroma kayu manis, dengan warna cat yang bernuansa karamel, lalu.....di mana saya berada? Bukan, bukan dibalik meja menghitung laba dan rugi, saya sedang berada di dapur dengan apron yang terkena noda coklat di beberapa tempat dan tepung tipis yang hinggap di hijab, tengah menguleni adonan roti. Saya benar-benar menjadi Tukang Roti yang punya Toko Roti. Ah bahagia.

Tidak tahu sejak kapan saya jadi senang memasak, karena jika diingat lagi dulu saat Si Bapak menyuruh saya memasak untuk menggantikan Si Mama yang sedang sakit, saya selalu menolak dan memilih pergi untuk beli makan di luar. Tetapi ternyata masak itu asik−ya walau saya masih ndak bisa bedain makanan mana yang basi dan masih oke untuk dikonsumsi, kita bisa eksperimen rasa, subtitusi bahan kalau bahan A nggak ada, semacam mencari strategi lagi gimana caranya biar itu makanan minimal bisa diterima sama lidah dan nggak mubazir.

Selama di rumah, saya bolak-balik buka Cookpad.com sampai akhirnya download aplikasinya di telepon pintar saya, ditaroh di dapur. Ya betul, berbekal resep yang ada di Cookpad ini saya memasak beberapa makanan yang belum pernah saya coba sebelumnya, layaknya abang Go-jek yang ke mana mana bawa henpon buat lihat GPS agar bertemu customer, sampai tak jarak hpnya terkena debu, ya, sama kayak saya yang hpnya kadang jadi terasa berminyak dan kata Si Adik, bau ayam.

Seiring beranjaknya usia kita, cita-cita kita juga berkembang, nggak usah heran, ini semua karena pola pikir kita yang terus menerus dibuat mikir. Kayak manusia purba dulu yang tadinya hanya berburu sampai akhirnya mereka berpikir untuk bercocok tanam. Ada yang mimpinya jadi lebih spesifik, ada juga yang mimpinya malah jadi “banting setir” saat sadar minatnya nggak mengarahkan dia ke mimpinya dulu waktu kecil. Nggak ada yang salah dengan itu. Yang salah itu kalau kita bahkan nggak punya mimpi sama sekali. Hidup itu memang fleksibel, tapi ia nggak semudah baca-baca quotations di Tumblr, kadang kita bisa ngikutin arus, tapi kadang kita juga harus bisa nentang arus. Nah apa tuh yang bisa bikin kita nentang arus? Motivasi! Dan motivasi nggak akan hadir kalau nggak ada yang ingin kita kejar. Apa yang kita kejar inilah yang kita sebut dengan mimpi.

Saya menolak untuk bilang mereka yang punya mimpi adalah mereka yang ordinary alias biasa aja. No way. Bilang diri kita sendiri biasa aja itu sama kayak nge-mubazir-in diri sendiri. Duh aneh dan maksa banget ya bahasanya. Kenapa? Karena Allah sudah menciptakan kita dengan segudang potensi yang bahkan mungkin kita sendiri nggak tau itu apa, all we need to do is get that ass off and find out!

Jadi semangat gini ya kalau kita nulis sebagai catatan untuk diri sendiri, haha.
Intinya, nggak ada langit yang terlalu tinggi, dan langit yang terlalu rendah, karena Allah udah menciptakan awan-awan di langit-langit kita masing-masing, sebagai tempat untuk kita melempar mimpi-mimpi kita ke langit sana.





Calon Tukang Roti yang punya Toko Roti,