Sunday, November 10, 2013

Ekspektasi Minggu

Minggu kedua di bulan November. Masih dengan salah satu ekspektasi(tiap minggu) yang masih belum kelakon

Jadi gini ekspektasinya.
Melaksanakan tugas suci untuk menyenangkan diri sendiri, dan menjadi pribadi introvert untuk beberapa jam dari siang sampai malam, ngeluyur ke coffee shop, dengan modal dompet, handphone, headset, buku catetan, laptop dan chargernya. Klasik banget kedengarannya. Bikin post-post santai, sedikit foto-foto dari kamera handphone, editing, tambahin quote, post di instagram atau tumblr. Pesan Machiatto atau Kopi Lampung juga boleh lengkap sama croissant atau sandwich. Dengerin Maroon 5 sambil ngeliatin setiap orang lalu lalang di balik jendela kaca, atau waitress yang ngelayanin pelanggan lain, atau pengunjung cafe yang sibuk sama laptop masing-masing. That's what I call with "A little heaven in a Su(ck)nday".

Tapi realita berkata lain.
Dari kelaperan karena nggak ada sarapan di rumah, nyari tukang bubur ayam sampai ngelilingin Makam Haji dan ternyata si tukang bubur ada di dekat rumah, mampir beli cakwe dan kue bantal(kalau di Solo ini di bilang Gembukan), sampai di rumah, makan sama Simbah(harus pake 'h'), dan.............setelahnya ketiduran sampai jam setengah 12 siang. Masih lanjut lagi, setelah absen sama Allah, pindah ke ruang tamu, standby laptop, handphone dan buku Pengantar Ilmu Politik untuk ngerjain tugas tentang good governance dan segala paradoksnya di era orde baru(bagian ini sebenarnya bisa juga masuk di ekspektasi), tapi akhirnya walau udah ngejogrog 2 jam sepatah katapun belum keluar buat sekedar latar belakang. Yang dilakuin udah ketebaklah, dari browsing artikel sampai video yang akhirnya cuma jadi intermezzo dan gak ada hubungannya sama si tugas.

  I could stay awake just to hear you breathing
  Watch you smile while you are sleeping
  While you're far away and dreaming
  I could spend my life in this sweet surrender

Akhirnya giliran Aerosmith nyanyiin I Don't Wanna Miss A Thing. Dan Blog jadi pelarian dari segala unspoken words yang ada di otak. Berharap juga habis cerita satu atau dua paragraf di sini bisa lebih ngayemke pikir, dan melanjutkan memulai tugas pengantar ilmu politik.

Sekarang aku ngerti apa itu yang dimaksud pelarian. Mau gimana juga konteksnya, toh spertinya kita memang butuh pelarian. Paling nggak untuk menyiapkan diri ke hal lain yang bahkan belum kita tau di depan.