Wednesday, November 27, 2013

Tuesday: The Timelines, The Clocks and The Words

20.20 WIB waktu Auditorium UNS.
Masih dengan celana jeans hitam, kaos merah dan cardigan--pakaian ngampus hari ini(pakaian kebangsaan saat malas kuliah). Kuliah hari ini sebenarnya tidak terlalu memberatkan, Bapak Dosen I, seperti hari Selasa biasanya...

.
.
.
.
.
.

21.30 WIB waktu Kamar Anindya.
..., seperti hari Selasa biasanya, beliau memberi petuah-petuah, esensi-esensi tentang media dan pandangan-pandangannya bagaimana manusia harusnya hidup. Lalu Bapak Dosen II, dengan gelagatnya yang lucu dan suaranya yang selalu tidak dihiraukan penduduk belakang. Hari ini aku datang terlambat di kedua mata kuliah, karena terlalu santai dan hujan....
  
   "ah hujan untuk hari ini aku tidak menemukan sedikitpun romantisme dari kehadiranmu." 

Masih bersyukur karena tidak melanggar batas waktu yang telah ditentukan walau pada akhirnya duduk di barisan paling belakang untuk mata kuliah Bapak Dosen II. 
   
   "Maafkan mahasiswamu ini ya, Pak. Yang sedari tadi malah sibuk whatsappan sama nggambar-nggambar gak genah."

.
.
.
.
.

Dan aku ketiduran. Jam dinding menunjukkan waktu 23.10 WIB

.
.
.
.
.

Lanjut garap tugas lagi, lihat jam lagi kyaaaaa udah jam 23.40 WIB masih ditempat yang sama. 

    "Kampret ke mana aja seharian ini, meh jam 12, meh hari Rabu, njuk piye daily post-ku?"

Mungkin kalau hati bisa menjerit, itulah yang akan aku dengar detik ini juga. Bahkan di detik-detik di mana aku merangkai setiap huruf ini, aku masih tidak tahu poin apa yang akan aku tulis. Ngalor ngidul ngetan ngulon, nggak ada juntrungane.

Lihat post-post yang aku buat akhir-akhir ini, siapa tahu dapat inspirasi nulis, eh malah jadi mikir, kenapa sekarang suka masukkin kata-kata bahasa Jawa ke dalam postingan ya? Hahaha aneh memang, tapi sepertinya bukan orang bergolongan darah A sejati rasanya kalau nggak punya lasan di setiap tindakan yang dilakukan. Menulis dengan menyisipkan bahasa Jawa di tengah pergumulan kata-kata dalam teks berbahasa Indonesia memang akan terdengar aneh, nyeleneh juga, atau bahkan ngece pemuda yang waktu itu mengikrarkan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 lalu. Mungkin juga orang akan menganggap ini sebagai sebuah gaya kepenulisan, dan nggak ada yang salah tentang ini.

Tapi aku sendiri punya gagasan. Menulis itu bukan soal bagus atau tidaknya sebuah karya di mata mereka yang menilai. Biarkan penilai tenggelam dalam pergulatan pikiran mereka sendiri untuk menentukan bagus atau tidaknya tulisan ini. Aku tidak peduli. Karena menulis lebih dari sekedar menyenangkan orang lain. Menulis itu tentang rasa. Dan kata-kata basa jawa yang aku masukan di postinganku, adalah sebuah rasa yang tidak bisa digantikan dengan bahasa apapun.

.
.
.
.
.
.

23.56 WIB waktu kamar Anindya.
Akhirnya postingannya selesai dan nemu juga poinnya!

Selamat malam dunia :)