Sunday, November 3, 2013

We Should've Loved it


Siang itu posisi matahari tergak lurus dengan bumi Solo. Terik. Sangat terik. 28 derajat Celcius tapi sudah terasa di padang pasir, ya terima kasih padatnya lalu lintas, minimnya ruang terbuka hijau, terima kasih karenanya Solo menjadi berkali lipat panasnya. 

Sementara itu, aku berlari-lari dengan tas punggung orange yang sudah menemaniku hampir 5 tahun terakhir menuju ruang tunggu Stasiun Balapan untuk menemui Yanna yang sudah menanti dengan dua tiket yang sebelumnya sudah ia beli.

"Anin! Akhirnya dateng juga, nih tiketnya, keretanya udah dateng, masuk yuk." Katanya sambil memberikan selembar tiket Kerete Prameks jurusan Solo-Jogja dengan keberangkatan pukul 13.00 WIB, tepat 10 menit sebelum keberangkatan.

Naik ke gerbong kereta, sempat celingak-celinguk mencari tempat duduk yang mungkin masih kosong, benar saja, semua tempat telah terisi. 

"Yah, bener nggak ada tempat duduk nih."
"Yaudahnanti kalo udah jalan kita duduk aja."
"Beneran?"
"Iya beneran, nanti malah bisa selonjor haha"

Singkat cerita, Kereta kami akhirnya melaju, jugijagijugijagijug jangan bayangkan kereta tercepat di Jepang, karena Prameks...yah sangat jauh dari kereta yang itu, namun setidaknya dengan ini, aku bisa lebih memperhatikan hal-hal di sekitarku. Melihat pemandangan, hamparan sawah luas, siluet Gunung (entah gunung apa) di kejauhan, rumah warga yang tersusun agak berantakan di pinggir pinggir rel, lewat kaca lebar kereta ini.

Stasiun Klaten sudah dilewati, aku mulai bosan. Perjalanan kali ini sungguh berbeda dengan perjalananku yang biasanya. Orang-orang di kereta ini tampak lebih sibuk dengan gadget mereka masing-masing, ada yang main game, mendengarkan musik, bahkan salah seorang penumpang di sebelahku yang juga mahasiswa, membaca materi untuk UTS dari tabnya. Mungkin karena penumpangnya yang mayoritas adalah anak muda sehingga tidak heran jika dari awal masuk ke gorbang yang ingin ditemukan adalah "Me-Time", Berbeda halnya dengan orang-orang tua yang aku temui, mereka cenderung lebih responsif dan kepo dengan orang-orang yang baru saja mereka kenal. Pada saat itu, untuk pertama kali aku rindu naik bis. Karena tak ada lagi yang bisa dilakukan, akhirnya aku memasang headset, dan mulai menshuffle playlist yang ada di telepon genggam kecil ku ini, Nokia 101/ HP Cawetrangers.

  My head is stuck in the clouds
  She begs me to come down
  Says, "Boy, quit foolin' around"
  I told her, "I love the view from up here
  Warm sun and wind in my ear
  We'll watch the world from above
  As it turns to the rhythm of love"


Perlahan, dengan mantap suara Tom Higgenson mulai menyanyikan Rhythm of Love. Angin berdesir dari jendela kecil di atas kepalaku. Rumah-rumah warga yang ada di depan pandanganku seakan berlomba, berkejaran dengan kereta yang aku naiki siang itu. Syahdu.

"PRAAAAAAK!"

Tiba-tiba ada bunyi memekakkan telinga di bagian lain tempat duduk, di gerbong yang sama yang aku naiki. Seketika itu pula, para penumpang berdiri, ekspresi kaget terlihat dari setiap penumpang. Aku juga merasakan hal yang sama. Masih mencari sumber suara, pihak keamanan kereta pun datang ke gerbongku. Rupanya ada yang melempari kereta kami dengan batu. 

"Oh, dilempar batu, biasanya anak-anak sih kayak gitu." Kata penumpang di sebelahku yang menanggapainya seakan itu merupakan hal yang sudah sangat biasa terjadi,lalu kembali ke tab dan materi UTSnya.

Kini Tom tak lagi terdengar di telinga. Otak ini sibuk merekonstruksi kejadian yang baru saja terjadi. Seorang anak memang mungkin saja melakukan hal itu, namun, apa motifnya? Iseng? Penasaran? Entah apa motifnya, aku pribadi menyimpulkan ini bukan saja tentang keisengan anak-anak untuk melakukan pengrusakkan atas fasilitas umum, namun lebih karena tidak adanya kesadaran dalam diri anak-anak untuk menjaga fasilitas umum, tidak adanya kesadaran bahwa fasilitas ini adalah milik bersama, untuk kepentingan bersama yang harus dijaga bersama. Terlepas darisiapa yang bersalah atas kejadian ini, kembali ke lembaga-lembaga di masyarakat terkait yang bertanggung jawab atas perkembangan anak-anak untuk dapat menanamkan rasa kecintaan dan kesadaran akan fasilitas-fasilitas umum, bukankah akan indah jika setiap orang menjaga, merawat dan mencintai fasilitas umum seperti mereka memperlakukan itu kepada diri mereka sendiri?

Kemudian petugas keamanan menyapu pecahan kaca, dan setiap orang kembali duduk ke tempat semula. Kembali memasang heaadset mereka, mendengarkan musik mereka, memasang sekat tinggi dan sulit dipanjatb atau diruntuhkan, kembali masuk ke dalam dunia mereka masing-masing. Sampai tiba di stasium istimewa, Stasiun Tugu.