Friday, January 10, 2014

Get Lost II : Tilik Museum

Follow my blog with Bloglovin
#latepost

Sedikit sedih karena post ini harus ditunda selama 1 malam. Terima kasih serangan migrain dan radang tenggorokkan akibat kebodohan sendiri meminum softdrink dingin di hari yang panas. Jalan-jalan kemarin disponsori oleh kegabutan mahasiswa di tengah liburannya. Begini ceritanya...

Pukul 7 pagi, saya masih di rumah, menerka-nerka kegiatan apa saja yang mungkin bisa saya lakukan hari ini, yang pasti tidak akan seperti kemarin, akibat jogging tanpa pemanasan sebelumnya, jadilah kaki dan badan sakit semua—I’m wondering when was the last time I do this kind of activity, alhasil hanya membunuh waktu dengan membaca novel, online, membaca novel di kamar—persis seperti babi.

Pukul 8 pagi, selesai mandi, sarapan, ngelenong, dan aktivitas tak terduuga lainnya, seperti mencari headset dan buku catatan. Yang terakhir saya harus berterima kasih kepada adik tercinta yang meminjamnya dan entah ditaruh di mana setelahnya. 8.15 WIB saya baru meninggalakan rumah, berbekal handphone plus headset Sang ibu, dompet, novel yang sedang saya baca, buku catatan, pulpen, payung, dompet recehan—kita tidak akan pernah tau kan berapa banyak pengamen di Metro Mini nanti, dan last but not least  mukenah—jangan sampai jalan-jalan yang maksudnya ingin memuji kebesaran Yang Menciptakan justru membuat kita lupa absen denganNya.

Perjalanan pertama dimulai dengan menaiki Angkutan Kota berupa Minkrolet atau biasa disebut dengan Angkot dari gang depan rumah sampai ke Jalan Raya Ciledug. 8.30 WIB, asar Kreo masih saja ramai pengunjung, ibu-ibu yang keluar masuk pasar dengan teng-tengan kanan-kiri dan peluh yang menetes di dahi mereka, tetap tidak menghentikan langkah mereka untuk belanja kebutuhan hari ini, mungkin juga besok.

15 menit menunggu datangnya Metro Mini 69 yang akan membawa saya hingga Terminal Blok M. Jarang sekali, perbandingannya1:10 untuk mendengarkan kata, “silahkan mbak yang duduk” kecuali di situasi tertentu, seperti saat modus misalnya, dari seorang laki-laki yang duduk di bangku penumpang menawarkan tempat duduknya untuk wanita di depannya yang berdiri. Beruntung saya masih mendapat tempat duduk di bari belakang, walau bukan barisan favorit. Saya duduk dengan seorang laki-laki berumur sekitar 50an. Scanning. Saya rindu naik bis di jalanan Jogja sampai Solo yang biasa saya lakukan saat saya ingin ke jogja atau sebaliknya. Di mana, saya masih bisa bertegur sapa dengan penumpang lainnya, di sini semua orang seakan memasang plang dengan tulisan besar-besar “JANGAN GANGGU AKU” dengan telinga yang tersumpal headset mereka masing-masing, entah musik apa. Oh, mungkin begini memang wajah ibukota, kata saya sambil memasang headset, The Temper Trap menyemarakkan imajinasi dengan Sweet Disposition-nya.

Sesaknya Metro Mini pagi ini.
No matter you're a female or male, when you don't get a seat. It means you DON'T get a seat.

Terminal Blok M, pukul 9.00 WIB. Dan saya masih belum tahu harus ke mana. Ikuti saja ke mana kakimu melangkah, katanya Si Hati. Masuk ke terminal bawah tanahnya, saya membeli tiket Transjakarta. Perjalanan pun di mulai. Sedikitmerasa bersyukur, karena setidaknya kaki saya tidak melangkah keluar terminal untuk menuggu Bis P.125, Jakarta pagi ini macet, seperti biasa. Sedikit tips, jika anda ingin berjalan-jalan di Jakarta, asumsikan anda sedang berada di kota di mana jalur transportasinya tidak hanya macet tetapi macet banget, sehingga anda akan memulai perjalanan lebih pagi lagi.

Halte Masjid Agung, terlihat beberapa pekerja proyek yang sedang menggali tanah untuk proyek besar Bapak Gubernur untuk mengeluarkan warga Ibukota dari masalah macet. Semoga bisa cepat rampung dan nggak hanya sampai tiang-tiang bernilai miliaran yang tidak genah apa fungsinya akibat mandeknya proyek tersebut. Transjakarta memang alat transportasi umum bebas macet, jelas karena angkutan umum ini memiliki jalan khusus bebas hambatan, belum lagi alat transportasi ini sudah terintegrasi dengan bis-bis dari luar-dalam kota, semakin mudahlah akses warga Ibukota, rasanya sudah tidak ada lagi alasan untuk menggunakan kendaraan pribadi, stuck di tengah macet berjam-jam untuk sampai ke tempat tujuan. Kalau kita naik angkutan umum, kita juga bisa mengurangi kemacetan kan? Udah 2014 nih, udah nggak jaman lagi, kita mikir naik mobil bakal keliatan mentereng dll. Karena akan percuma saat kita menuntut Pemerintah untuk mengurangi kemacetan tetapi dari warganya sendiri nggak bersinergi dengan regulasi yang dikeluarkan pemerintah.

Balik lagi ke cerita.
15 menit kemudian Transjakarta telah sampai di halte Monumen Nasional. Saya turun di sana, setelah duduk sebentar, dan membuka aplikasi Google Maps, melihat tempat-tempat menarik terdekat yang dapat saya sambangi. Ada Museum Nasional dan Monumen Nasional, akhirnya pilihan jatuh di Museum Nasional. Lampu hijau untuk pejalan kaki sudah menyala, dengan buru-buru saya melintasi zebra cross, namun masih saja ada pengendara yang menyerobot lampu merah saat lampu hijau pejalan kaki belum juga berganti merah.

10.30 WIB, dengan hanya merogoh kocek sebesar Rp 5000,- saya sudah dapat berkeliling Museum Nasional. Museum yang lahir pada tanggal 24 April 1778 ini memiliki koleksi Arca, hasil-hasil kebudayaan dari suku-suku yang ada Indonesia dari Barat hingga ke Timur, melihat hasil kerajinan tekstil, keramik, dan lain sebagainya.

Interior dan isi dari Museum Nasional ini emang keren banget. Di dalam juga tempatnya adem, nyaman pula dan yang paling penting, benar-benar bikin saya bangga dengan Indonesia akan hasil kebudayaan, keberagaman dan keunikan masing-masing suku yang benar-benar menggambarkan Indonesia adalah negeri yang kaya akan budaya.

Saat itu saya sedang berada di tempat kebudayaan Suku Asmat. Tiba-tiba ada serombongan pengunjung warga negara asing yang datang dengan didampingi oleh pemandu wisata. Saat itu juga saya sadar, sedari tadi hanya saya satu-satunya pribumi yang ada di ruangan saat itu, sedang 3 orang lain pribumi lainnya baru saja keluar ruangan. Dan lainnya adalah warga negara asing. Bahkan kemirisan negeri dapat dilihat dari Museum. Entah sudah berapa banyak uang yang dikeluarkan pemerintah untuk membagun, memperbaiki dan mempercantik Museum agar diminati oleh setiap masyarakat. Miris saat melihat ternyata warga negara asing lebih mengapresiasi benda-benda yang ada di Museum, selain itu secara tidak langsung pemerintah hanya menggelontorkan dana miliaran rupiah hanya untuk menyenangkan para turis saja. Ke mana para pribumi? Apa kita sudah sangat percaya diri akan segala budaya yang kita miliki? Tetapi jika kita bahkan tidak mengenalnya, bagaimana cara kita mengapresiasinya? Sekarang menjadi wajar saat ada kasus pencurian barang-barang berharga Museum, mungkin saat itu pencurinya berpikir, “Jika saya mencuri ini, mereka juga tidak akan tau. Mereka kan tidak peduli, jadi tidak akan ada bedanya antar ada dan tidak adanya barang ini.”

Dan ini beberapa yang bisa saya tangkap dari kamera telepon genggam sederhana saya

Deretan Arca yang ada di depan Taman Musium Nasional

Sepanjang lorong ini diisi dengan peninggalan arca-arca dari jaman kerajaan Hindu dan Budha

Beberapa koleksi Arca lainnya

Salah satu relief yang ada di Museum Nasional

Taman di Museum Nasional

Seperangkat Gamelan Bali

Kalung Gigi, hasil kebudayan masyarakat Dayak

Ayo berkunjung ke Museum!

11.30 WIB saya keluar dari Museum Nasional. Duduk di halte sebentar untuk memikirkan lagi ke mana lagi saya akan pergi. Terima kasih atas segala pelajaran yang tersampaikan lewat bahasa bisu, semoga bisa jadi bekal untuk diturunkan ke anak cucu.


Kaki, ke mana lagi sekarang? Saya belum ingin pulang.