Tuesday, January 21, 2014

Secangkir Kata

Waktu sudah menunjukkan pukul 00.44 waktu Indonesia bagian barat. Liburan sudah sukses memutar balikkan jam biologis tidurku. Suatu hal yang biasa. eh iya kan? 

Lorde dengan sangat indah menyanyikan lagu demi lagu dari albumnya Pure Heroin yang aku download secara ilegal lewat internet gratis rumah Om beberapa hari yang lalu. Sayup-sayup suara rintik hujan yang sedari tadi masih juga mengguyur wilayah perbatasan Jakarta dan Tangerang terdengar, ikut menyemarakkan Selasa dini hari ini. Makin syahdu dengan secangkir teh anget tawar, yang tiap kali aku pesan saat makan bersama teman-teman selalu memunculkan respon "ih kayak bapak-bapak", "ckck... kayak mbah-mbah" atau yang lebih parah "lo diabetes?" yang cuma bisa pasrah aku jawab dengan "karena hidup itu udah manis, nggak perlu ditambah pemanis lagi"ngeles tingkat entah

Jurnal yang lama akhirnya dibuka lagi. Kawan, akhirnya aku menulis lagi.

Writer's block.
Ya kawan, aku mengalami writer's block tingkat entah. Masih bertanya-tanya apa itu Writer's Block? Writer's Block adalah suatu kondisi di mana kita tidak bisa mengeluarkan suatu kata pun untuk ditulis, kondisi di mana kita tidak fokus, kondisi di mana kita tidak bisa menulis. Kondisi paling aku benci saat otak terus saja memutar pengalaman indah, buruk, menyenangkan, menyedihkan hingga ke menjijikan, saat otak kanan terus menerus berseru semua bahan sudah cukup untuk menjadikannya satu atau dua artikel atau pos atau tulisan lainnya. Tapi di sana lah otak kiri menjalankan niat jahatnya untuk menumpulkan jariku, menutup rapat mataku dan membenamkan kepalaku dalam kubangan writer's block. Menyedihkan memang.

Expectation Vs Reality
Sekarang seakan semua yang ada di otak, tentang bagaimana tulisan yang harusnya aku tulis menjadi seperti apa, hanya sekedar omong kosong yang bahkan tidak akan menjadi nyata. Harapannya pupus begitu saja saat aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Payah. Ekspektasi dari seorang penulis blog amatir sebenarnya cukup sederhana, menulis apa saja yang aku pikirkan tanpa ada intervensi dari luar, itulah kebebasan yang sesungguhnya. Tetapi ternyata hal itu tidak semudah hanya sekadar bermimpi, bahkan orang yang ingin bermimpi juga harus berusaha terlebih dahulu; tidur.
Belum lagi pikiran-pikiran jahil Si Otak Kiri dan kekhawatiran berlebihan dari Si Golongan Darah A yang selalu berpikir kualitas tulisan yang tak cukup layak untuk dipublikasikan, tulisan yang dihasilkan hanya akan dijadikan bahan tertawaan, atau juga gelengan dari banyak orang karena kualitas tulisan adalah standar anak SMA yang masih labil--bahkan anak SMA bisa melakukannya lebih baik lagi, yang ternyata ditulis oleh mahasiswi dari salah satu universitas ternama--universitasku ternama kan? Semua pikiran yang dibentuk oleh otak kiri dengan maksud baik untuk merasionalkan ekspektasi yang dibentuk oleh otak kanan sudah berhasil ditangkap salah sehingga pada akhirnya, aku tidak menuliskannya. Sungguh dosa besar bagi para penulis baik yang sudah expert ataupun yang masih amatir.

The X Factors
Bukan, ini bukan soal Fatin yang salah lirik atau bintang lainnya yang kini mulai tak terdengar kabarnya. Untuk menulis kadang butuh beberapa Faktor X untuk mendukung kelancaran dalam menulis itu sendiri. Kali ini, aku tidak sedang membicarakan tentang datang ke dukun membawa kembang tujuh rupa atau ritual penyembelihan ayam jantan hitam dan betina hitam atau semacamnya. Tidak tentu tidak, jurnal ini bersih dari hal-hal berbau gaib dan akan aku pertahankan ke depannya. Ok balik ke topik. The X Factors. Cara setiap orang yang menulis untuk keluar dari kubangan Writer's Block dapat bermacam-macam, seperti misalnya, mendengarkan musik, ngopi--yang akhir-akhir ini tidak aku lakukan karena tentu saja, Si Ibu melarang atas alasan maag yang sudah semakin sensitif dengan makanan-makanan pemicunya #halahmalahcurhat #lhakanpancencurhat, keluar dari rumah, jalan-jalan... Semua kegiatan yang menyuruhmu menjauhi laptop, buku catatan, Microsoft Word, Open Office dan lain sebagainya. Dan masalahku adalah,aku sering kali kebablasen, akhirnya melupakan tujuanku untuk melakukan X Factors-ku dan melupakan tujuan awalku, menulis. Lagi, dosa terbesar lainnya bagi para penulis.

Tuliskan dengan Jujur
Aku tidak mengerti lagi kenapa aku kehilangan semangat untuk menulis, untuk mempublikasikan mimpi, untuk memberitahukan dunia bagaimana aku melihat sesuatu dari mataku, bagaimana aku merasakannya. Resah sekali rasanya saat melihat teman-teman dengan tulisan-tulisannya yang berbobot dengan bahasa ilmiah mereka,kutipan-kutipan mereka yang menunjukkan betapa.....entah kata apa yang pantas untuk menggambarkan mereka, intelek, keren, kece, ah apalah, yang jelas mereka sangat menginspirasi. Pada akhirnya aku menginginkan kemampuan untuk bisa menulis seperti mereka, aku berpikir, apa saja yang aku lakukan selama ini? Menulis di blog personal dengan cerita-cerita seorang mahasiswi yang baru saja mentas dari masa-masa remaja ababil, aku merasa aku berada ribuan langkah jauh di belakang mereka. Gelisah, sangat. Malam ini aku melakukan percakapan singkat dengan salah satu kakak kelas waktu SMA kemarin, seorang yang sangat menginspirasi baik track record hidupnya, organisasinya, kecintaannya kepada anak-anak, juga usahanya hingga sekarang ia didaulat sebagai Pimpinan Umum PERSMA di kampusnya, siapalagi kalau bukan Mbak Irma. Waktu aku menceritakan keluh kesahku tentang kesulitanku untuk menulis ini, dia menjawab dengan jawaban yang sangat sederhana tetapi cukup untu membuatku menulis pos ini dan pos-pos selanjutnya--semoga istiqamah. 
"gak usah mikir ini itu, ungkapin yang ada di otak saat itu juga, gak usah liat dan hapus kalimat yang usah ditulis sampai kamu merasa cukup
"ungkapkan dengan bahasa sederhana


"gak semua hal harus dibahasakan ilmiah to"
Percakapan singkat yang nggak ada 15 menit ini sangat berharga. Kenapa? Karena aku lagi-lagi diingatkan hal yang tanpa sadar aku lupakan. Aku lupa menulis dengan jujur. Aku lupa menulis dengan bebas tanpa ada patokan apapun--kecuali menulis makalah atau paper untuk dosen. Aku terlalu sibuk celingak-celinguk melihat contoh sana-sini tetapi lupa, setiap orang punya gaya mereka masing-masing untuk menulis. Aku juga terlalu sibuk mengagumi tulisan sana-sini, menginginkan kemampuan untuk menulis seperti mereka tetapi lupa berlatih--hah keledai. Aku terlalu khawatir dengan hasil tulisanku yang bisa saja dinilai orang lain tulisan terburuk sepanjang abad, padahal setiap orang punya prosesnya masing-masing. Ya, aku lupa menulis dengan jujur.

Is it Writer's Block?
Pada akhirnya aku berani menyimpulkan bahwa apa yang terjadi bukanlah writer's block. It's my fault, cause I worried to much. Ini bukan writer's block, karena sebenarnya yang bermasalah adalah kepercayaan diri(ku) untuk merangkai kata demi kata. Bukan kawan, ini bukan writer's block, karena masalahnya adalah aku tidak fokus dengan apa yang akan aku tulis, terlalu banyak ekspektasi yang tidak aku susun dengan apik, akhirnya berantakan dan membuyarkan titik fokus. Now, It's not.

Jam dinding menujukkan pukul 2.21 waktu Indonesia  bagian barat. Sisa teh di dalam cangkir sudah tak lagi hangat. Jurnal hari ini sukup sampai di sini, mari ditutup namun jangan terlalu rapat. Karena esok pasti akan ada lagi masanya si Jari untuk bersilat.