Wednesday, January 8, 2014

Get Lost I: MeRaya ke Jakarta

Setelah 1 semester pertama akhirnya terselesaikan juga pergulatan tahap 1 dengan para dosen, mata kuliah, jadwal yang saling bertubrukan dan tugas-tugas yang berkembang biak bagai Amoeba. Akhirnya aku meRaya ke Jakarta. Ibu, aku pulang. Ke tempat penuh sesak, ramai, di mana kesenjangan sosial sangat terlihat jelas, dengan Gubernur baru yang tengah membenahi sistem dan infrastrukturnya dengan kekompleksan warganya, namun tetap saja aku panggil tempat ini rumah. Jakarta adalah sebuah rumah, bagiku dan bagi 9,6 juta manusia lainnya. 

Kali ini aku tidak sendiri. Tidak-tidak, maksudku bukan hanya dengan musik, atau cemilan atau air mineral atau imajinasi, tetapi benar-benar dengan seseorang. Nenek atau Eyang atau Simbah tolong jangan hilangkan H-nya. Beliau yang kali ini menemani perjalananku. Sedikit ralat, kali ini aku yang menemani perjalanannya. Pertama kalinya, aku harus berpergian jauh dengan orang tua yang notabene berumur puluhan tahun dan hanya berdua. Ini merupakan sesuatu yang baru bagiku. 

Jujur saja, aku sedikit menggerundel dalam hati saat melihat atau mendengar bagaimana sikap beliau. Baik saat persiapan--Beliau ingin membawa segala barang untuk oleh-oleh anak tersayang katanya. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan beliau, entah tentang kekhawatirannya tentang bagaimana jika nanti di Jalan akan ada A atau B atau C atau abjad-abjad lainnya. Juga pertanyaan-pertanyaan retoris beliau yang selalu hadir di setiap menit perjalanan.

Butuh waktu sekitar seperempat perjalanan di atas bis Raya yang terus melaju di jalanan Solo menuju Semarang untuk memahami ini. Aku tipikal orang yang tidak ingin diganggu saat sedang memasang headset, mendengarkan White Shoes And The Couples Company dan membaca buku di sepanjang perjalanan, tiba-tiba harus menjawab pertanyaan-pertanyaan retoris yang, jika beliau berumuran sebaya sepertiku, aku mungkin akan menjawabnya dengan, "Yaelah Sob, gitu aja ditanyain."

Siang itu juga, aku sempat mengirim sms untuk Ibu di Jakarta, mengabarkan kami sudah dalam perjalanan sekaligus bilang kegusaranku atas ini. Namun, jawaban Ibu kali ini berbeda, dengan tawa renyahnya iya bilang, "Kamu jangan gitu... Nanti juga ngerasain, jalanin aja, berbakti sama Simbah..."

Sederhana memang, tetapi cukup membuatku terdiam sejenak dan berpikir tentang apa yang aku pikirkan selama ini. Kata-kata Ibu "nanti juga ngerasain..." awalnya aku telan mentah dan sukses mendapat respon dari otak "Idih ogah amat jadi kayak gitu..." Tetapi soal situasi di depan sana, siapa yang tahu, masih ada waktu yang kapan saja bisa merubah, dan ada Dia yang dapat membolak-balikkan segala keadaan.

Aku jadi berpikir, mungkin memang begitu siklusnya, menjadi seorang bayi yang baru dilahirkan, menjalani proses sosialisasi, menerima bantuan entah berjalan atau makan atau buang air kecil dan besar, menjadi balita, anak-anak, tumbuh menjadi seoarang remaja, menjadi orang dewasa dan setelahnya waktu berhasil mengubahmu menjadi manusia tua dengan uban dan keriput, mungkin juga tongkat atau alat bantu lainnya. Mungkin memang begitu prosesnya, semakin kita tua, tanpa kita sadari kita kembali menjadi anak-anak, raga yang sebelumnya gagah, kuat, independen kembali lagi menjadi raga layaknya bayi saat kita tua nanti, rapuh, renta, tergantung kepada bantuan orang lain(atau alat lain).

Perjalanan kali ini mengajak aku berpikir kembali tentang bagaimana seharusnya kita memperlakukan dan berpikir tentang orang tua. Karena bagaimanapun juga, mereka(orang tua) yang berjalan lambat di depan kita dengan tongkat, rambut yang memutih, kulit yang keriput dan tubuh yang menggelambir, mungkin adalah gambaran dari kehidupan masa tua kita nanti. Who knows.