Wednesday, March 28, 2012

After Exams

1tahun itu terdiri dari 12 bulan. Bener kan ya? Bener kan dong?
Nah selama 1 tahun sekolah ini, kita(pelajar) punya agenda kayak gini,

  • 4 kali ulangan harian
  • 2 kali ulangan mid semester(ulangan tengah semester)
  • 2 kali ilangan umum, yang pertama ulangan semester gasal, yang kedua, ulangan kenaikan kelas.
  • PR dan tugas? tiap hareeeeeeee
Waktu-waktu yang paling melelahkan itu adalah waktu menjelang (dan sesudah) ulangan. KENAPA? Karena pada waktu itu, kita para pelajar, secara tidak langsung mendapat pressure dari mana-mana. Apa-apa aja sih yang bikin pelajar merasa tertekan waktu menjelang ujian/ulangan?
  • Asumsi orang tua untuk mendapat nilai bagus. Gak akan bisa dipungkiri kalo semua orang tua pasti mau anaknya mendapat dan menjadi yang terbaik. Hal ini yang membuat anak-anak sekolah jadi terpacu buat dapet nilai bagus. Satu sisi emang bagus sih, jadi siswa dipacu buat bermental juara, tapi dampak negtif yang mungkin didapat adalah, kalau si siwa ini berusaha dengan jalan yang tidak sehat, hanya karena ingin menyenangkan orang tuanya. Menurut saya pribadi, untuk kasus ini, orang tua harus benar-benar mengerti kemampuan si anak jadi, anak itu pun nggak cenderung dipaksakan dalam melakukan apa yang dia kerjakan.

  • Prestige atau gengsi. Tiap anak pasti punya yang namanya gengsi. Baik itu dari segi barang-barang yang dipakai, dari baju, sepatu, sampai gadget. Dan nilai juga nggak luput dari selubung gengsi. Awalnya memang disebabkan sama perasaan malu mendapat nilai jelek, namun, lama-kelamaan bukan lagi rasa malu, tapi gengsi. Dan lama-kelamaan, pemacu seorang anak untuk belajar bukan lagi untuk mencari ilmu, tapi untuk mencapai titik prestigenya, dan yang menekan anak pada akhirnya adalah ketakutannya sendiri dalam menghadapi nilai-nilai yang mungkin lebih tinggi darinya. Dan hal ini yang dapat memicu anak menjadi pribadi yang egois dan tidak realistis, karena, nggak semua hal bisa dikuasai anak tersebut.



Kalo dua hal tadi bisa masuk ke kategori yang membuat anak menjadi tertekan, sekarang gimana kalo ceritanya selesai ulangan? Kira-kira wajah-wajah kayak apa yang bisa ditemuin?

Kayak gini?
Kayak gini?
Kayak gini?

Atau malah kayak gini?

Untuk 3 gambar sebelumnya, udah jelas banget kan wajah-wajah orang frustrasi yang pasti dapet nilai jelek. Tapis menurut gue, 3 gambar sebelumnya itu nggak harus ada kok. semua tergantung gimana kita melihat suatu hal. Gimana kita lihat suatu kegagalan itu sendiri. Kalo kita berlarut-larut, sedih terus membahas hal tadi hanya dari sisi jeleknya aja, ya sampailah kita di titik tersedih kita sendiri.

Tapi, gue sediri punya cara sendiri gimana biar kita nggak berlarut menerima nilai jelek, hehehe, berasa udah expert banget ya di bidang ini-_-
  1. FLASHBACK. Coba ingat, bagaimana kamu belajar? Bagaimana kamu mengerjakan ulangannya? Sudah maksimalkah? Kalo kiranya belum, kamu jadi sadar kan apa kesalahanmu? Dan kalau kamu udah bisa sadar, harusnya bisa terima itu, dan nilai jelekmu itu, atas kesalahanmu sendiri yang nggak maksimal dalam belajar bukan karena pengawasnya bikin kamu grogi apalagi karena nggak ddapet contekan dari temanmu. 
  2. UBAH PERSEPSI. Jangan liat suatu usaha hanya dari hasilnya aja, coba liat proses yang udah kamu lewatin.
  3. GET UP AND MOVE ON! Jangan terus terpaku sama hal buruk, in this case ya nilai mu yang lagi jelek itu. Ambil itu sebagai pelajaran. Pelajaran untuk lebih disiplin. Pelajaran untuk lebih menghargai waktu. Pelajaran untuk lebih berusaha dalam belajar. BANGKIT! Nggak boleh STUCK di KOLAM KESEDIHAN. DAN FOKUS SAMA APA YANG ADA DI DEPAN! BUAT APA YANG ADA DI DEPANMU ITU BAIK BAHKAN LEBIH BAIK.
Aku harap, tulisanku kali ini, bisa kasih kalian sedikit pencerahan untuk melakukan yang terbaik :)